HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
CATET!


__ADS_3

Lampu mobil Nisma yang baru saja dikunci itu berkedip. Meski demikian Nisma tak bergegas memasuki restoran bintang lima tersebut, tempat dirinya dan Bastian membuat janji untuk bertemu. Nisma bergeming, merasakan pikiran buruknya yang semakin liar. Kenapa Zaim tahu jika Bastian ingin menyampaikan sesuatu? Lantas jika Zaim memang tahu, kenapa tidak dirinya saja yang menyampaikannya? Apa ini soal fanbase Zaim? Atau, soal Bunga yang akhirnya ketahuan berpura-bura menjadi Adelweiss?


"Kalo ngikutin pikiran gue mah yang ada cuma bengong doang di sini sampe besok."


Nisma pun meninggalkan tempat parkir, dan berjalan dengan langkah enggan memasuki pintu utama restoran langganan orang-orang dengan uang tanpa seri itu. Namun pikiran buruk Nisma seketika lenyap, digantikan rasa tak karuan. Suasana restoran yang terlewat sepi, lagu romantis yang didendangkan sesaat setelah Nisma memasuki ruangan, dan Bastian yang buru-buru beranjak sambil menyembunyikan buket bunga mawar di punggungnya. Itu semua, bukankah sudah jelas apa artinya?


"Sia-sia gue nethink. Ternyata Pak Bastian mau nembak gue. Duh, jawab apa ya? Mana gue lagi gak mood pacaran," batin Nisma.


"Hai, Nis."


Nisma tersenyum menanggapi Bastian. "Halo, Pak. Maaf saya telat. Saya sengaja gak lewat tol karna liat tol macet tapi ternyata jalan biasa lebih macet."


"Santai aja, Nis. Yang penting kamu dateng. Sayang soalnya udah nyewa restoran." Bastian menyodorkan buket bunga mawar pada Nisma. "Sama sayang udah beli ini."


"Makasih, Pak."


"Sama Zaim aja makasihnya."


"Ya?"


Bastian menunjuk bunga mawar merah yang baru saja dihirup Nisma. "Itu dari Zaim. Resto ini juga Zaim yang nyewa. Tapi kalo jas yang saya pake inisiatif saya sendiri. Soalnya saya abis kondangan."


DEG


"Jadi gini, Nis," imbuh Bastian. "Langsung aja sebelom kamu makin salah paham ya. Saya di sini karna misi saya udah selesai."


"M-misi apa ya, Pak?"


"Misi nyelidikin gerak-gerik aneh kamu waktu itu. Inget gak? Yang ..."


Nisma tak merespon, sibuk memaksa otaknya untuk mengobrak-abrik laci ingatan yang dimaksud Bastian.


*FLASHBACK ON*


" ... ke Taiwan ya, Nis."


Nisma mulai mencatat. "Buat kapan, Pak?"


"Sesuaiin aja sama jadwal saya yang agak longgar. Buat dua orang ya. Saya sama Bastian."


Nisma mengganguk. "Segera saya urus ya, Pak."


"Oya, kemaren kamu mau ngomong apa?"


"Ya, Pak?"


Zaim menoleh pada Nisma. "Iya apa? Kemaren kamu kan gak jadi ngomong karna si Hendri tiba-tiba dateng."


"Oh itu." Nisma melirik Bastian dan Sobari. "Duh, jawab apa ya? Mana ada Pak Bastian sama Pak Sobari lagi. Masa iya gue jawab jujur? Kalo adek gue malak penggemarnya Zaim di instagr*m? Gimana nih?" batin Nisma.

__ADS_1


"Nis?"


"Oh iya, Pak. Itu bukan soal yang penting kok, Pak." Nisma tersenyum paksa. "Kalo gitu saya urus makan siang Pak Bastian sama Pak Sobari dulu ya, Pak."


*FLASHBACK OFF*


" … Tapi endingnya saya malah jadi tau semuanya. Soal fanbasenya Zaim yang dipegang adek kamu. Sama soal adek kamu yang pura-pura jadi Adelweiss."


"S-saya, s-soal itu, m-maaf ta–"


"Sorry saya potong, Nis. Kamu gak usah takut. Zaim gak berniat ngambil tindakan apa-apa soal ini. Tapi masalahnya adek kamu bisa kena hukum pidana."


"Cuma karna pura-pura jadi Adelweiss bisa kena hukum pidana?" Nisma menggeleng-geleng. "Kayanya gak mungkin deh, Pak. Pasti ada ca–"


"Malaknya yang saya maksud," potong Bastian lagi. "Adek kamu malakin penggemarnya Zaim di instgr*m kan? Udah ngaku aja, Nis. Biar saya bantu ringanin hukuman adek kamu."


Nisma hanya mengangguk berat.


"Coba ceritain ke saya lebih detil gimana awal mulanya."


Nisma mengangguk lagi. "Bunga suka banget sama Zaim, Pak. Terus yaudah saya kirimin dia foto sama video Zaim yang saya ambil diem-diem pas di kantor. Saya gak tau kalo ternyata foto sama video itu dia buat malak penggemarnya Zaim. Mana kebetulan dia admin fanbase terbesar Zaim kan, Pak."


Bastian ikut mengangguk-angguk. "Jujur aja saya belom laporan sama Zaim soal fanbase itu."


"Beneran, Pak? Yaudah, Pak Bastian, tolong banget jangan dilaporin. Tolong maafin Bunga sekali ini aja, Pak. Ya, Pak?"


"Oke. Tapi ada syaratnya. Apus fanbase itu. Terus kamu sama adek kamu pindah dari Jakarta."


" … Terus kata si Zaim mau liburan ke mana?"


"Bukit Pelangi, Bu," jawab Nia pada Ushi.


Ushi mengangguk-angguk sembari membantu Nia memasukkan barang-barang ke dalam koper. "Mau berapa hari liburannya?"


"Paling tiga sampe empat harian."


Ushi kembali mengangguk-angguk. "Ngomong-ngomong kamu sama Zaim udah pernah ngapain aja?"


Spontan Nia menoleh pada Ushi. "Apanya, Bu?"


"Ya pacarannyalah. Masa …"


Nia seketika mengernyit memikirkan jawaban yang pas sembari menanti Ushi membubuhkan tanda titik pada kalimatnya yang sepanjang kereta. Arah pertanyaan Ushi jelas ke sana. Benar, kontak fisik. Jika ditanya perihal itu, tentu saja tidak ada jawaban yang pas. Meski kontak fisik yang dilakukan Nia dan Zaim masih tergolong wajar bagi sebagian pasangan yang tengah dijangkiti virus bucin, tetap saja hitungannya sudah keluar dari jalur!


" … Remes-remesan tangan pasti sering. Peluk-pelukan juga udahlah ya pasti," imbuh Ushi. "Kalo ciuman?"


"Enggak."


"Enggak sepuluh kali apa enggak dua puluh kali?"

__ADS_1


"Dih, Ibu!" seru Nia.


"Sebenernya gak apa-apa ciuman kalo cuma cipika-cipiki. Yang gak boleh tuh ciuman yang hot banget kaya di drakor-drakor." Ushi menghela napas. "Malah yang lebih bener tuh gak usahlah pacar-pacaran. Karna yang rugi tuh …"


Kaum perempuan! Ya, terdengar seperti menyalahkan kaum laki-laki secara sepihak memang. Padahal fenomena pacaran kebablasan yang sangat marak terjadi tidak sepenuhnya salah kaum laki-laki. Kadang kaum perempuanlah yang lebih dulu memberi celah. Seperti sengaja mengenakan pakaian terbuka saat berkencan, bersedia diajak bertemu kapan dan di mana saja, tidak memiliki batas kontak fisik, dan lain sebagainya.


" … Amit-amit misal kamu hamil duluan nih. Ibu gak akan sepenuhnya nyalahin Zaim. Karna ya ini, kamu mau diajak liburan sampe berhari-hari. Bahkan sering nginep di rumah Zaim. Iya kan?"


Nia beranjak, berganti mengemas alat make up. "Mukanya Zaim emang brengsek, Bu, tapi bener-bener cuma mukanya doang kok."


"Ya syukur kalo gitu. Tapi apa gak mendingan kamu nyari cowok lain aja? Ibu pusing nih mikirin hubungan kalian ke depannya. Pasti ribet deh. Kalo Pak Hakam sampe tau siapa yang masang Pongpong* di mobilnya Zaim gimana coba?"


*Perekam video mini yang diklaim bisa merekam apapun karena memiliki fitur tembus pandang. Pongpong juga bisa menjangkau seluruh ruangan meskipun hanya dipasang satu buah saja. Pongpong terhubung dengan aplikasi bernama serupa. Melalui aplikasi ini, pengguna Pongpong bisa memantau semua yang berhasil terekam. Kemudian hasil dari rekaman tersebut akan otomatis terunduh ke gallery dengan kualitas 1080p.


Nia menghela napas. "Ya udah jelas kan, Bu. Pak Hakam bakal makin gak ngasih restunya buat aku sama Zaim."


"Ya itu dia. Masa kalian mau pacaran sampe kakek nenek."


"Mau gimana lagi."


"Ih Ibu gak rela. Mending putus aja kamu sama Zaim. Kaya cowok yang bibit bobot bebetnya oke cuma dia aja. Pokoknya kalian putus atau paksa si Zaim nikahin kamu tanpa restu dari Pak Hakam."


Nia menghela napas lagi. "Bu, ntar aja ngomongin nikahnya. Masih lama tau gak."


"Masih lama gimana. Orang lulus nanti umur kamu udah dua puluh." Ushi menghampiri Nia dengan terburu. "Kalo Pak Hakam tau pas kalian belom nikah sih bodo amat. Tapi kalo dia tau pas kalian udah nikah dan posisinya kamu lagi hamil gimana? Pak Hakam pasti nyuruh Zaim nyeraiin kamu."


Nia terdiam, benar-benar kehabisan kata tangkisan!


"Jadi orangtua tunggal tuh gak gampang. Apalagi orangtua tunggalnya masih anak kemaren sore. Lah kalo Ibu mah siap-siap aja ngurusin cucu Ibu. Tapi kan Ibu cuma ngurus ala kadarnya. Karna yang harus bertanggung jawab ngurus semuanya tuh kamu," tambah Ushi.


"Iya sih. Tapi aku mau belajar dari pengalaman, Bu."


"Maksudnya? Belajar dari pengalamannya siapa? Ibu? Ih idup Ibu mah gak ada yang bisa dijadiin bahan belajar. Idup Ibu mah salah kaprah ga–"


"Bukan, Bu, bukan," sela Nia. "Maksud aku belajar dari pengalaman kita." Nia menoleh pada Ushi. "Tapi kayanya Ibu yang harus belajar ekstra."


Ushi tak menjawab, hanya menunjuk dirinya sendiri. Nia pun mengangguk dan langsung menjelaskan maksud ucapannya. Zaim sangat mencintai Nia, ini adalah pelajaran yang Nia maksud. Meski tahu orang yang memiliki ikatan darah dengan Nia yakni Safi merupakan dalang dibalik kematian sang kakak, pun meski tahu keluarga satu-satunya yakni Al Hakam hampir kehilangan nyawa karena kecerobohan Nia, Zaim tetap datang pada Nia.


Bayangkan jika pria lain yang ada di posisi Zaim? Bukankah mereka sudah memiliki alasan yang lebih dari cukup untuk menjauhi Nia sejauh-jauhnya? Jadi meski kelak Hakam tahu siapa orang yang hampir membuatnya celaka adalah Nia, sudah bisa dipastikan Zaim akan berdiri di sisi siapa, bukan? Alih-alih menceraikan Nia karena pinta terakhir sang kakek yang seperti dalam adegan sinetron, bisa jadi Zaim malah mengirim Hakam ke Masalembo!


" … Itu namanya cinta, Bu."


Ushi mendecak, "Cinta-cinta. Emang cinta bisa nyetok isi kulkas? Bisa G*foodin kamu ayam geprek tiap hari hah?"


"Ih Ibu mah matre."


"Ya haruslah. Perempuan yang mikirin masa depan tuh pasti matre. Nih ya, misal si Zaim bukan crazy rich, mau kamu nangis sampe ngesot-ngesot juga gak bakal Ibu restuin. Ya ngapain? Udah kere, Kakeknya gak ngasih restu pula. Masa udah ngurus cucu masih harus ngurus suami kamu juga? Bikin …"


Di sela bincang Ushi dan Nia yang kian memanas, Sobari yang ada di balkon rumah aman* mendadak dikungkung rasa dilema. Sobari yang masih dalam misi melindungi Nia secara gerilya, hampir setiap hari bergelut dengan teropong dan headsetnya. Jangankan pembicaraan receh Nia dan Vina, pembicaraan sensitif seperti yang barusan saja sudah biasa bagi Sobari. Tetapi perlukah pembicaraan sensitif kali ini dilaporkan pada Zaim?

__ADS_1


*Rumah yang dibeli Zaim untuk kepentingan misi. Rumah aman terletak tepat di seberang rumah Nia.


"Jadi masalah gak ya kalo dilaporin ke Pak Zaim? Laporin ajalah. Mandatnya kan emang gitu," gumam Sobari sambil merogoh ponselnya. "Tapi kok ragu ya."


__ADS_2