
"Padahal gue sama Ninya udah beli baju renang samaan buat snorkling*. Tapi endingnya dia malah gak ikut study tour."
*Kegiatan berenang dengan tubuh berada di permukaan air laut. Snorkeling bisa dilakukan oleh semua orang, termasuk yang tidak mahir berenang. Alat bantu yang biasa digunakan untuk snorkeling adalah tabung oksigen kecil, baju pelampung, baju selam, snorkel, kaki katak, masker selam dan lain-lain.
"Dia butuh waktu sendiri. Dia pasti shock banget denger berita kecelakaan kakeknya Kak Zaim," balas Ikbal pada Vina.
"Iya juga sih."
"Makanya. Udah jangan monyong mulu bibir lu. Kan masih bisa snorkling sama Sekar atau Cindy. Atau sama gua."
"Gak akan sih kalo sama lu. Mending gak usah snorkling selamanya." Vina masuk ke dalam bis setelah menjulurkan lidahnya pada Ikbal.
Ikbal ikut masuk ke dalam bis, mengejar Vina. "Lu pikir gua serius ngomong barusan hah? Gua cuma gelay aja liat lu monyong …"
Vina dan Ikbal masih seru berdebat, bahkan di sepanjang perjalanan yang memakan waktu berjam-jam itu, mereka tak kehabisan kata untuk berdebat. Mereka berdebat sembari mengasihani satu sama lain akan sebuah rahasia. Vina berpikir Ikbal pasti tidak tahu jika Nia absen dari kegiatan study tour bukan karena shock semata melainkan juga karena rasa bersalah sudah memasang Pongpong* di mobil Zaim yang dikendarai Al Hakam.
*Perekam video mini yang diklaim bisa merekam apapun karena memiliki fitur tembus pandang. Pongpong juga bisa menjangkau seluruh ruangan meskipun hanya dipasang satu buah saja. Pongpong terhubung dengan aplikasi bernama serupa. Melalui aplikasi ini, pengguna Pongpong bisa memantau semua yang berhasil terekam. Kemudian hasil dari rekaman tersebut akan otomatis terunduh ke gallery dengan kualitas 1080p.
"Ya kali gue ngomong. Sekali pun si Pithecanthropus Erectus adeknya Ninya juga gue gak boleh ngomong. Gue kan udah janji," batin Vina.
Sementara Ikbal, berpikir Vina pasti tidak tahu jika Nia absen dari kegiatan study tour bukan karena shock semata melainkan juga karena rasa dilema. Dilema antara harus memelototi layar televisi yang memberitakan topik yang sama sepanjang hari atau bergegas pergi ke rumah sakit dan menerjang lautan wartawan demi menjenguk Al Hakam yang diam-diam tidak merestui jalinan asmaranya dengan Zaim.
Ikbal melirik Vina seraya membatin, "Kalo sampe si kutu kucing ini tau Pak Hakam gak ngerestuin hubungan Nia sama Kak Zaim sekarang, bisa berantakan nih study tour."
Pada akhirnya Vina dan Ikbal memutuskan menjaga rahasia masing-masing, dan pergi study tour meski dengan perasaan semrawut. Sementara Nia, sudah dua hari ini hanya berdiam diri di kamar. Nia enggan beranjak dari ranjangnya jika bukan untuk pergi ke toilet atau membukakan gerbang untuk kurir *G*food*. Nia benar-benar tidak hanya shock, merasa bersalah atau dilema, tetapi juga terombang-ambing dalam stres!
"Masa dia online dua hari yang lalu sih. Duh, gimana nih? Apa gue telfon aja ya? Tapi takutnya ganggu. Atau, gue samperin aja? Enggak-enggak. Dia pasti ada di rumah sakit. Gue belom siap ketemu Kakeknya. Ya terus gue ha–"
Gumaman Nia terjeda, karena bel kediamannya yang tiba-tiba berdering. Nia pun langsung melompat dari ranjang, berlari tunggang langgang menuruni lantai satu, dan bergegas membuka pintu.
KLEK
"Selamat sore, Mbak Yesenia."
"Pak polisi yang di sidang Om Bagas waktu itu kan ya?"
Sobari mengangguk sambil tersenyum. "Saya Sobari, Mbak. Maaf telat memperkenalkan diri."
"Waktunya gak pas, Pak, bukan telat." Nia membuka lebar gerbang kediamannya. "Silahkan masuk dulu, Pak."
"Makasih, Mbak."
"Kalo boleh tau ada perlu apa ya, Pak?"
"Saya dikirim Pak Zaim buat mastiin kondisi …"
__ADS_1
Bohong. Sobari tidak datang atas perintah Zaim. Perusahaan yang dipegang Zaim bertambah satu, jadi mana sempat dirinya memikirkan perintah di luar ranah? Sobari datang untuk mencari tahu kenapa perekam suara yang dipasangnya di kamar tidur Nia tiba-tiba saja tidak berfungsi. Dan setelah diperiksa, ternyata perekam suara yang di pasang di langit-langit laci meja rias itu mati karena ketumpahan minyak telon. Pantas!
" … Kalo gitu saya permisi ya, Mbak Yesenia."
Nia mengangguk. "Ati-ati ya, Pak. Tolong sampein sama Zaim buat ngehubungin saya kalo lagi luang."
"Siap-siap, Mbak."
Sobari pun pergi, meninggalkan Nia yang masih terombang-ambing dipermainkan stres. Esoknya, bel kediaman bernomor delapan tersebut kembali berdering. Namun berbeda dengan kemarin, Nia begitu santai membukakan pintu untuk si tamu. Itu karena Nia sudah tahu siapa tamunya. Benar, kurir G*food yang mengantar nasi kapau untuk makan malam Nia. Namun tak lama setelah kurir G*food pergi, bel di kediaman Nia lagi-lagi berbunyi.
KLEK
"Eh?"
Zaim tersenyum. "Kenapa? Kok kaya kaget gitu aku dateng? Lagi ada siapa di dalem?"
"Gak ada siapa-siapalah."
"Kebetulan banget. Soalnya aku lagi butuh dopamin*."
*Zat kimia di dalam otak yang bisa meningkat kadarnya saat seseorang mengalami sensasi yang menyenangkan. Contoh dari aktivitas yang menyenangkan tersebut adalah mengonsumsi makanan enak, bepergian, melakukan aktivitas seksual dan lain-lain.
Nia memiringkan kepalanya. "Dopamin?"
Zaim membantu Nia mengunci gerbang. "Iya. Dopamin. Dopamin instan."
"Kaya gini," balas Zaim sembari mengecup bibir Nia tiba-tiba.
"Dih. Kalo ada yang liat gimana?"
"Kan tinggal pindah ke dalem."
"Tunggu-tunggu." Nia menutup bibir Zaim yang mulai hilang kendali. "Bukan waktunya kita kaya gini tau. Ada banyak yang mau aku tanyain sama kamu."
"Aku gak bisa jawab sebelum dapet dopamin." Zaim kembali mengecup bibir Nia. "Kasih aku dopamin dulu. Yang banyak."
...•▪•▪•▪•▪•...
Sengatan mentari yang menyambut Nia yang akhirnya terbangun itu terasa sedikit berbeda. Ya, tidak terasa panas melainkan sebaliknya, teduh. Apakah hari ini cuaca kembali bertingkah seenak jidat? Tampak gundukan selimut di ranjang berukuran sedang itu bergerak, dan perlahan menampakkan apa yang ada di baliknya. Nia muncul dari balik selimut tersebut dengan kepingan kesadaran yang belum sempurna.
Sambil memandang tirai kamarnya yang menari-nari dihempas angin, Nia mengingat aktivitas menggebunya dengan Zaim semalam. Mengingat itu kesadaran Nia seketika langsung sempurna. Nia meyelisik kamarnya, mencari keberadaan Zaim. Tidak ada. Nia pun melanjutkan pencariannya di ruang tamu. Namun tetap saja, tidak ada. Dan pencarian Nia terhenti saat melihat seporsi nasi goreng di meja makan, berikut sebuah pesan manis.
"Kok ada ya cowok paket komplit gini? Seksi ples uwuw. Duh," ujar Nia kegirangan. "Kayanya enak." Nia menyendok nasi goreng. "Ternyata gak paket komplit."
Nia segera menyambar tisu, dan menyeka mulutnya yang baru saja merasakan sesendok nasi goreng yang sangat-sangat asin. Tidak bisa. Sekali pun itu nasi goreng buatan seorang Zaim Alfarezi, Nia tidak bisa menelannya lagi! Dengan berat hati Nia pun merevisi nasi goreng yang tak selezat tampilannya itu. Tetapi bel kediaman Nia berbunyi, ketika Nia tengah berkonsentrasi menyelamatkan nasi goreng buatan Zaim.
__ADS_1
KLEK
"Jadi bener kamu gak ikut study tour. Ibu pi–"
"Bau apa nih kok kayanya enak?" sela Edo pada Ushi. "Kamu lagi masak ya?"
Nia hanya mengangguk menanggapi Edo, dan kemudian berlalu menuju dapur.
"Kebetulan banget Om belom makan nih. Kalo Ibu kamu mah udah makan apa tau di pesawat," imbuh Edo. "Oh iya Om ada oleh-oleh buat kamu. Bentar Om cari dulu."
"Kamu belom makan emang?"
"Belom."
"Itu bibir kamu kenapa kok kaya bengkak gitu?" tanya Ushi lagi sambil menunjuk bibir Nia.
"Emang bibir aku kaya gini."
"Gak ah. Ka–"
"Nah ini oleh-olehnya," sela Edo lagi, pada Ushi. "Dream catcher* no kw-kw. Om pasang di pintu kamar kamu ya?"
*Dream catcher atau penangkap mimpi merupakan benda kepercayaan suku Indian, penduduk asli Amerika. Benda ini dipercaya bisa menangkap mimpi baik dan membuang mimpi buruk.
Nia kembali mengangguk. "Makasih, Om."
"Eh, siapa bilang gratis? Upahnya itu yang di wajan ya." Edo berlalu.
"Tapi ini gak enak ba–"
"Enak kok. Cuma keasinan dikit." Ushi meraih botol kecap. "Ibu kejebak badai salju di Droseros makanya baru bisa pulang hari ini. Harusnya mah Ibu udah pulang dari tiga hari yang lalu."
"Oh."
Ushi menghela napas. "Kamu masih marah sama Ibu?"
Nia tak menjawab, namun tentu saja itu menjadi jawaban tak langsung yang artinya iya!
"Oke-oke. Ibu bakal kasih tau kamu alesan Ibu tiba-tiba pengen pindah rumah. Ibu juga bakal kasih tau Zaim. Ntar malem Zaim ke sini. Ibu udah janjian sama dia."
Nia masih membisu, meski cukup terkejut.
Ushi masih melanjutkan, "Tapi kamu harus janji satu hal sama Ibu."
"Janji?"
__ADS_1
Ushi mengangguk. "Misal Zaim mutusin kamu setelah tau alesan Ibu, kamu harus lupain kehidupan kamu di sini, dan pindah selamanya ke Droseros. Janji?"
DEG