
KLEK
"Bau parfum lima belas ribuan iyuh." Bunga sengaja terbatuk berulang kali.
Bunga semakin dalam memasuki kamar tidur Nia. Melihat-lihat, menyentuh segala perkakas dengan jijik, dan yang tak pernah ketinggalan, mencaci! Seolah amnesia dengan yang namanya sopan santun, Bunga tanpa ragu membuka lemari pakaian Nia. Bunga pun mulai memotret pakaian Nia yang rata-rata memang sudah ketinggalan zaman. Bahkan Bunga juga memotret pakaian dalam Nia yang dianggapnya memiliki motif kekanakan.
"Fix bakal rame nih grup penggemarnya Zaim Alfarezi." Bunga cekikikan sambil terus memotret.
Setelah puas mengacak-acak isi lemari pakaian Nia, Bunga lalu beralih menuju meja rias. Namun kali ini respon yang ditunjukkan Bunga berbeda dengan sebelumnya. Bunga tampak jengkel melihat deretan makeup berharga fantastis yang tertata asal-asalan di atas tatakan kaca itu. Merasa tak ada yang bisa dipotret, Bunga pun melangkah menuju meja belajar Nia. Bunga yakin pasti ada sesuatu di sana yang bisa membuktikan bahwa Nia berotak udang.
"Nah kan, bener." Bunga tersenyum puas, sambil memotret kertas ulangan matematika Nia yang mendapat skor empat puluh. "Udah gue duga itu anak cuma menang cakep."
Bunga pun berniat mencari hasil ulangan Nia yang lain, berharap ada skor yang lebih jeblok dari itu. Skor nol misalnya. Tetapi yang pada akhirnya ditemukan Bunga malah buku harian Nia. Bunga kembali memamerkan seringai seramnya, seolah tak sabar untuk membaca isi buku harian itu. Namun selembar foto langsung terjatuh, saat Bunga hendak membuka lembar pertama buku harian Nia. Bunga berjongkok, memungut foto usang tersebut, dan kembali menyeringai.
"Masa ini foto kecilnya si Nia?" Bunga membekap mulutnya. "Anjir jelek banget kaya gak keurus. Kaya penyakitan. Kaya kurang gizi …"
Bunga tampak semakin bersemangat mencari-cari aib Nia yang lain. Namun suara gerbang yang dibuka membuat Bunga seketika menyudahi aktivitas kurang ajarnya itu. Bunga langsung keluar dari kamar Nia dan berlari tunggang langgang untuk kembali ke ruang tamu sambil mengantongi ponselnya asal-asalan. Meski sangat panik, beruntungnya Bunga berhasil kembali ke ruang tamu sebelum Ikbal masuk ke dalam rumah.
KLEK
"Loh kok kamu?"
"Oh. Hai, Kak Bunga." Vina tersenyum paksa. "Ikbal ada di depan, Kak. Lagi ngangkat telfon."
"Oh. Iya. Tapi Nia gak ada loh. Dia mau makan malem sama Kak Zaim katanya."
Vina menjatuhkan tubuhnya di sofa. "I know, Kak. Aku mah kan emang selalu nginep di sini tiap malem jumat. Demi menghindari acaranya Bu Rt."
"Gitu ya. Tapi kok kamu bisa bareng sama Ikbal?"
"Dia kan sekarang main warnetnya di sekitaran rumah aku, Kak."
Bunga mengangguk-angguk, lalu menoleh ke arah pintu masuk. "Tapi kok lama banget ya si Ikbal? Lagi telfonan sama siapa sih?" Bunga beranjak. "Oh itu dia. Bal, aku mau ngomong sa–"
"Maksud lu apaan ngirimin foto-foto begini ke Falah?" Ikbal menunjukkan chat roomnya dengan Falah, sahabat kecilnya.
Bunga melotot, kaget setengah mati. Bagaimana bisa hasil potretan aib Nia bisa ada pada Falah? Bunga pun memikirkan kemungkinan yang paling mendekati meski enggan. Dan benar saja. Saat Bunga memeriksa ponselnya, dirinya memang mengirim semua foto yang tersimpan di gallery ponselnya pada Falah. Semua itu pasti terjadi karena Bunga yang panik dan asal mengantongi ponselnya tanpa menekan tombol kunci terlebih dahulu.
"Itu, aku, gak bermaksud ja–"
"Apus gak?" sela Ikbal sembari menarik kerah kemeja Bunga.
"Bal, dih! Apaan sih kok kasar gitu sama cewek?" Vina refleks beranjak dan mencoba melepaskan cengkeraman tangan Ikbal dari Bunga. "Lepasin gak? Apa gue aduin ke Tante?"
Ikbal pun melepas cengkeramannya, dan membuat Bunga seketika jatuh terduduk.
"Duh, Kak Bunga gak apa-apa?" Vina buru-buru berjongkok. "Bisa bangun kan, Kak? Kasar banget sih lu anjir."
__ADS_1
Ikbal mengatur napasnya. "Lu kalo gak tau apa-apa mendingan diem. Atau pulang aja deh sono."
Vina beranjak. "Ya jelas gue gak taulah. Orang gak ada yang ngasih tau. Makanya kasih tau gue biar gue gak kaya kambing conge."
Ikbal enggan merespon Vina, hanya kembali mengatur napasnya.
"Kenapa sih anjir." Vina kembali berjongkok. "Kak, kenapa, Kak? Cerita dong sama aku. Kenapa Kakak nangis? Kenapa Ikbal semarah itu? Ke–"
Ucapan Vina terjeda, karena Ikbal yang tiba-tiba memberikan ponselnya. Vina pun langsung menyabet ponsel Ikbal. Terlihat dalam room chat Ikbal dan Falah, Falah mengirim enam puluh lima foto yang tujuh belas di antaranya tidak asing bagi Vina. Vina memperbesar satu per satu foto yang menurutnya tampak tidak asing itu. Dan setelah yakin jika itu adalah foto-foto Nia, Vina pun langsung menerkam Bunga, menjambak serta mencercanya habis-habisan!
"Itu foto-foto Nia ya anjir! Mau lu apaan hah? Mau lu sebar? Biar apaan hah? Biar apa?" Vina meneriaki Bunga sambil terus melancarkan jambakan murkanya.
"Woy-woy, lepas. Bisa botak anjir anak orang. Lepas cepetan." Ikbal ikut berteriak.
"Gue tau apa tujuan lu mau nyebarin foto-fotonya Nia. Biar semua orang tau kalo baju-bajunya Nia ketinggalan tren kan? Kalo nilai akademiknya ancur? Dan kalo masa kecilnya kaya gembel? Emang lu tau apa alesan dibalik semua itu hah? Gak kan? Jadi apus sebelom gue bilang ke Zaim Alfrezi semua kebusukan lu!"
HAH
HOSH HOSH HOSH
"Kak Bunga mimpi buruk?"
Spontan Bunga yang baru saja terbangun dari tidurnya itu terlonjak saat mendapati Nia yang memandang wajahnya terlalu dekat.
"Aku ambilin minum dulu ya, Kak." Nia beranjak.
"Hai, Kak Bunga."
Vina mengangguk ragu. "Iya, Kak. Ini aku. Tapi aku kenapa ya, Kak?"
"Oh, enggak-enggak. Gak apa-apa. Kakak mau ke toilet dulu." Bunga berjalan setengah berlari meninggalkan ruang tamu.
"Mimpinya jelek banget apa ya sampe mukanya sepucet itu? Lu sama Zaim ninggalin Kak Bunga kelamaan sih."
"Apa iya ya? Sampe ketiduran di sofa gitu. Tapi bukannya yang salah si Ikbal ya? Serius tadi dia cuma nganterin lu ke sini terus cabut lagi? Ke mana …"
Bunga menguping pembicaraan Nia dan Vina, sambil merasakan degup jantungnya yang tak karuan. Setelahnya Bunga pun buru-buru mencari ponselnya di dalam tas. Dengan tangan gemetar Bunga mengetuk ikon gallery, dan betapa terkejutnya Bunga saat mengetahui bahwa dirinya yang masuk ke kamar tidur Nia secara diam-diam untuk memotret ini itu bukanlah mimpi! Bunga pun langsung menghapus hasil potretannya tersebut.
"Anjir. Mimpinya serasa beneran," gumam Bunga seraya mengusap peluh di dahinya.
...•▪•▪•▪•▪•...
Terlihat seorang wanita pemilik studio foto berjalan setengah berlari menghampiri Ushi yang kini tengah sibuk merias pelanggan. Wanita paruh baya yang akrab disapa Madam itu langsung membisiki Ushi sesuatu. Madam mengatakan jika Al Hakam tiba-tiba datang ke studio foto untuk menemui Ushi. Ushi pun buru-buru meletakkan palet eye shadow, dan bergegas menyamakan langkah dengan Madam menuju ruang tunggu studio foto.
"Kalo bisa jangan lama-lama ya, Shi. Hari ini kan kita lembur," bisik Madam.
"Siap, Madam."
__ADS_1
"Yaudah masuk gih cepetan." Madam membukakan pintu ruang tunggu untuk Ushi.
KLEK
"Pak Hakam?"
Hakam menoleh pada Ushi. "Sebelumnya saya minta maaf karna udah dateng tanpa pemberitahuan dan nyita waktu Bu Ushi seenaknya."
"Gak apa-apa, Pak. Tapi ada perlu apa ya?"
Hakam diam sesaat sebelum melanjutkan, "Soal berita yang baru-baru ini viral di media sosial."
"Oh, berita yang saya ikut kencan sama Nia sama Zaim malem minggu kemaren itu ya?"
"Iya. Jujur aja saya keganggu sama itu. Soalnya jadi banyak wartawan yang dateng ke kantor saya nanyain hal yang sama sekali gak penting."
"Nanya apa emang, Pak, kalo saya boleh tau?"
"Mereka nanya perihal restu saya."
"Iya terus masalahnya di mana, Pak? Kan tinggal dijawab aja."
Hakam kembali diam. "Masalahnya kan saya gak ngerestuin hubungan mereka."
Mendadak Ushi mulai naik darah, pun mulai salah paham. Ushi berpikir jika alasan Hakam tidak memberikan restunya untuk hubungan Nia dan Zaim pastilah karena status yang berbeda. Orang kaya memang terlalu akrab dengan gengsi! Mungkin Hakam belum tahu jika Nia adalah cucu mantan Raja Malaysia. Ya, meski hanya cucu yang tak dianggap. Namun tetap saja ada darah mantan Raja Malaysia di tubuh Nia. Tidak bisa dibiarkan. Mode songong Ushi pun aktif!
"Pak Hakam gak mungkin gak tau saya ini siapa kan?"
Hakam tersenyum. "Saya tau. Saya udah cari tau walopun tanpa izin Bu Ushi. Saya minta maaf lagi untuk itu."
"Gak apa-apa. Tapi terus gak ngerestuinnya karna apa?"
"Saya gak yakin bisa ngasih tau Bu Ushi."
"Aduh, Pak Hakam. Gak usah berbelit-belit deh. Pak Hakam pasti sibuk kan? Sama saya juga."
"Saya punya masalah sama Safi."
"Masalah apa ya, Pak?" tanya Ushi ragu.
"Cucu pertama saya, Zain Elfatih, dibunuh sama orangnya Safi. Tapi semuanya udah clear kok. Safi udah ngakuin perbuatannya, dan orangnya udah dihukum gantung."
DEG
"Coba posisiin diri Bu Ushi di posisi saya," imbuh Hakam seraya beranjak. "Bu ushi pasti bakal ngelakuin hal yang sama."
DEG DEG
__ADS_1
Hakam masih melanjutkan, "Gak akan ada keluarga yang mau nerima anggota keluarga baru yang punya hubungan darah sama pembunuh keluarganya kan?"
DEG DEG DEG