
Nia tampak serius mendengarkan penjelasan dari guru les stirnya, Zaim. Berkat penjelasan Zaim yang mudah dipahami, kini Nia sudah tahu di mana letak rem, gas, dan gigi pada sebuah mobil matic. Ternyata hanya perlu sedikit sentuhan jempol kaki untuk menjalankan kendaraan sebesar apapun. Namun tentu saja yang paling diperlukan adalah, keberanian! Sudah dua puluh menit berlalu, tetapi mobil sedan putih itu masih bergeming di bahu jalan raya.
"Ayo jalan."
Nia menoleh pada Zaim. "Tapi kayanya ini terlalu cepet deh. Maksud aku, masa latihannya langsung di jalan raya?"
"Gak dong. Kita latihan di lapangan dulu."
"Ya ini apa?" Nia menunjuk jalan raya yang ramai lancar.
"Gak apa-apa. Buat pemanasan."
"Tapi aku beneran baru pertama pegang stir loh."
"I know," balas Zaim. "Makanya ayo jalan."
Nia kian merasa ragu, dan ekspresi wajah Zaim yang terlalu santai membuatnya tak bosan bergelut dengan keragu-raguan. Bagaimana tidak? Tak peduli setajir melintir apapun seorang Zaim Alfarezi, bukankah terlalu berlebihan menggunakan mobil seharga triliunan untuk latihan menyetir? Keberanian Nia yang tak ada seujung kuku pun makin menciut karena fakta menohok itu. Namun perlahan, jempol kaki Nia mulai beraksi. Sedan putih itu akhirnya melaju.
"Good. Pertahanin kecepatan segini aja."
"Tapi bukannya ini kepelanan ya?" Nia melirik kaca spion di sisi kanan.
"Aman kok. Jalan terus aja."
"Tapi dari tadi aku diklaksonin loh."
"Biarin aja. Tetep fokus." Zaim menunjuk lurus. "Abis lewatin lampu merah itu tambah kecepatan. Terus puter balik dan belok ke kiri."
"Ih, gak bisa. Kamu kan belom ngajarin aku belok-belok gitu."
"Kan ada aku," jawab Zaim. "Kamu gak percaya aku?"
Nia menggeleng mantap, membuat Zaim hanya bisa terbahak. Dan akhirnya, mobil mewah yang melaju seperti bayi siput itu tiba di lampu merah yang dimaksud Zaim. Namun ketika hendak berbelok untuk putar balik, Nia mengalami serangan panik karena terus diklaksoni oleh mobil-mobil lain. Nia tak bisa mendengar nasihat Zaim untuk tetap tenang dan refleks menginjak gas. Segera Zaim pun melepas sabuk pengaman Nia dan melompat ke kursi sopir, mengambil alih.
"Eh?"
"Diem." Zaim menekan lampu hazard dan memamerkan skill menyetirnya yang tak kalah dengan Ananda Mikola.
"Tapi ini posisinya kaya agak gimana gitu deh."
"Ini kan bukan yang pertama."
Nia berdeham, "Yaiya tapi ini sempit."
__ADS_1
"Madep aku biar gak sempit."
"Mana bisa?"
"Tinggal muter."
"Aku mau turun aja," sahut Nia.
"Gak bisa dong. Aku kan lagi konsentrasi."
Nia menghela napas sambil berbalik menghadap Zaim. "Oke. Kamu yang nyuruh ya."
Jantung Nia tiba-tiba berdetak semaunya, ketika tanpa sengaja memandang wajah sang kekasih. Tampan. Seperti gambaran tokoh utama pria dalam dunia webtoon yang tak memiliki cacat. Bukan hanya gambaran rupanya, bahkan status sosial pun isi dompet Zaim benar-benar sama persis dalam webtoon bergenre CEO. Sepertinya di kehidupan lalu Nia adalah pahlawan suatu negara, itulah mengapa di kehidupan ini dirinya dihadiahi seorang Zaim Alfarezi.
"Jangan cuma diliat aja. Dipegang juga boleh kok," ujar Zaim tanpa menoleh pada Nia.
"Cuma perasaanku aja atau emang semakin ke sini mulut kamu semakin gak ada rem?"
Zaim tertawa. "Lagian ngeliatin aku kaya ngeliatin si–"
"Kamu tuh gak boleh serakah," sela Nia. "Kalo udah seksi di sini." Nia menyentuh rambut Zaim. "Di sini harusnya biasa aja." Nia berganti menyentuh bibir Zaim. "Apalagi yang di sini. Harusnya jangan dibikin makin seksi." Sentuhan Nia berakhir di dada Zaim. "Iya kan?"
Zaim tak merespon, sibuk mengalihkan sesuatu yang mendidih dalam dirinya dengan mencengkeram kemudi kuat-kuat. Cengkeraman Zaim pada kemudi itu sampai terasa kebas, karena Nia yang tak kunjung menyudahi sentuhannya. Zaim pun membanting kemudinya ke bahu jalan, ketika rasa mendidih itu semakin menjadi. Setelah kembali menekan lampu hazard, Zaim langsung menarik Nia mendekat, berniat melepaskan rasa mendidih itu melalui ciuman.
"Tunggu." Nia membuang wajahnya. "Ada yang mau aku tanyain."
*Simpan saja untuk makan siang.
"Gak bisa. Mumpung inget."
Zaim menghela napas. "Oke. Apa?"
"Kamu yang mecat Om Bagas kan? Terus kamu juga yang ngeluarin Kinan, Mbak Kantin, dan guru-guru yang waktu itu ngebully aku? Iya kan?"
"Iya."
"Terus kamu juga kan yang bikin email sama instagr*m aku jadi gak beres?" Nia mendorong Zaim. "Aku gak suka. Itu privacy aku tau."
"Kenapa tiba-tiba kamu bahas ini?"
"Kamu sendiri kenapa tiba-tiba ngusik privacy aku?"
Zaim menghela napas lagi. "Apa yang lagi kamu pikirin sekarang, sama sekali bukan maksud tujuan aku ya–"
__ADS_1
"Pokoknya aku gak suka." Nia memelototi Zaim.
"Aku juga gak suka ada yang ngusik milik aku." Zaim kembali menarik Nia mendekat. "Apalagi bikin milik aku sedih." Zaim menyentuh kedua wajah Nia. "Aku gak peduli sekali pun itu privacy, bakal aku terjang buat ngelindungin milik aku."
CUP
...•▪•▪•▪•▪•...
KLEK
Zaim tampak cukup terkejut, meski hanya segelintir orang yang bisa membacanya, salah satunya sudah pasti sang kakek, Al Hakam. Jarang sekali Hakam mendatangi kantor Zaim tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Biasanya Zaim penasaran dengan maksud kedatangan Hakam hingga kehilangan napsu makan, namun kali ini dirinya sudah tahu.
Zaim menggantung jasnya di stand hanger, melonggarkan ikatan dasi merah mudanya, dan mengangguk merespon sekretarisnya, Nisma, setelah wanita dengan jumpsuit ketat itu melaporkan schedule Zaim selanjutnya serta menu makan siangnya hari ini. Hakam tak melirik Zaim, pun sebaliknya. Keduanya hanya sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Terlihat Hakam tengah menyeruput teh melatinya sambil memandang ke luar jendela. Sementara Zaim, langsung duduk di seberang Hakam dan menyantap makan siangnya. Zaim tak berniat memulai obrolan, sebab rapat setelah jam makan siang jauh lebih penting. Hakam yang benci berbasa-basi pasti akan memulai obrolan terlebih dulu. Dan benar saja.
"Gimana hubungan kamu sama Yesenia Eve?"
Zaim membuka botol air mineral. "Makin harmonis, romantis, erotis."
"Ati-ati. Jangan bikin malu. Gak lucu."
Zaim tak menjawab, mulai sibuk menyendok nasi padangnya.
"Hendri ada nemuin kamu?"
"Iya, beberapa hari lalu," jawab Zaim akhirnya.
"Kakek nyuruh dia nyari latar belakang Yesenia Eve. Tapi sampe sekarang belom ada kabar. Tumben banget itu anak kerjanya lelet."
"Udah dapet kok dia." Zaim kembali menyendok nasi padangnya. "Tapi kayanya dia gak ada di pihak Kakek."
"Kalo gitu bener dong, kalo Yesenia Eve anak kandungnya Ushi Widhiani."
"Iya. Fair kan?" Zaim membalas tatapan Hakam. "Kakek kan juga gak bilang kalo penyebab utama Zain meninggal bukan karna kecelakaan aja tapi dibunuh. Dan dalang di balik itu tuh bawahannya Sayfudin Qazzafi."
"Ngasih tau kamu tuh bukannya untung tapi malah buntung."
"Lagi aku kuak."
Hakam memandang ke luar jendela. "Sekali pun berhasil kamu kuak, Kakek gak mau punya hubungan sama pembunuh itu atau keluarganya. Gimana dong?"
"Udah aku prediksi sih."
__ADS_1
Hakam kembali menatap Zaim. "Terus? Mau tetep lanjutin hubungan kamu yang harmonis, romantis dan erotis itu?"
"Aku gak mau jadi cucu durhaka, tapi aku juga gak mau lanjutin keturunan di keluarga kita selain sama Nia. Gimana dong?"