HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
BAWANG LAGI


__ADS_3

Bukit yang terletak jauh dari ingar bingar Kota Jakarta itu benar-benar menyihir mata. Di puncak bukit tersebut, segala yang ada di bawah sana seakan terlihat seperti gambar pemandangan yang dibuat oleh anak sekolah dasar. Namun ketika malam datang, gambar pemandangan itu seakan berubah menjadi gambar sekelompok kunang-kunang beraneka warna yang dibuat khusus oleh pelukis tersohor yang kesepian.


Bukit itu adalah hadiah ulang tahun Nia yang kedelapan belas dari Zaim. Nia tidak tahu apa yang Zaim pikirkan sampai memberikannya sebuah bukit sebagai hadiah. Saat Nia menanyakannya, Zaim memberikan jawaban yang luar biasa mencengangkan. Kalo kita nikah kan bisa dipake buat lokasi resepsi. Pasti seru karna bakal banyak tamu yang nyeker atau malah pulang. Kan kalo gak ada tamu kita bisa cepet-cepet honeymoon.


“Mikirin apa?”


“Eh?” Nia terkejut dan refleks menoleh pada Zaim yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.


“Mikirin resepsi apa honeymoon?”


“Dih apaan sih.”


Zaim tertawa. “Terus mikirin apa?”


“Banyak.”


“Bagi ke aku dong.”


Nia berganti tertawa. “Yaudah ayok sambil makan. Aku laper banget ...”


Sambil melahap makan siang yang terlambat, Nia pun menepati janjinya untuk membagi apa yang dipikirkannya pada sang kekasih. Masa lalu. Ya, masa lalu Nia yang berniat dikuburnya sampai mati itu faktanya berakhir menjadi sekadar niat. Sebab membongkar masa lalu itu tak ubahnya seperti menggaruk luka yang belum benar-benar kering. Namun apa boleh buat jika Tuhan menghendakinya seperti itu.


“Kamu tau masa lalu aku sampe mana?”


“Sampe kamu dipukulin, dikasih makanan basi, sama dititipin di rumah duda kesepian.”


Kunyahan lahap Nia mulai melambat. “Iya. Tapi udah aku maafin kok.” Nia diam cukup lama sebelum melanjutkan, “Tapi ada yang belom bisa aku maafin sampe sekarang.”


“Tell me, Sayang*.”


*Kasih tau aku.


“Dia begituan sama duda kesepian itu di samping Ayah yang lagi sakit. Waktu itu ...”


*FLASHBACK ON*


“Makasih ya, Sus.” Nia langsung memeluk selimut yang diberikan seorang suster padanya.


Suster itu mengangguk sambil mengusap air matanya cepat. “Besok lagi kalo dipukul Mamah kamu jangan diem aja. Nangis aja yang kenceng ya?”


“Enggak mau. Nanti Ayah denger.”


“Justru biar Ayah kamu denger, Nia. Kalo gak gitu Mamah kamu bakal mukulin kamu terus.”


Nia menggeleng. “Ayah pernah bilang kalo aku harus nurut sama Mamah. Mamah kan udah ngelahirin aku. Apapun yang Mamah lakuin pasti buat kebaikan aku.”


Suster itu memalingkan wajahnya, menahan tangis. “Ini buat kamu beli jajan. Disimpen ya. Jangan kasih tau Mamah kamu.” Si suster menggenggamkan empat lembar uang lima puluh ribu pada Nia.


“Iya. Makasih lagi ya, Sus.”


“Yaudah sekarang tidur ya. Udah malem. Besok kita ketemu lagi ya.”


Nia hanya mengangguk menanggapi suster yang meninggalkan kamar rawat Burhan dengan langkah setengah berlari. Sejak Burhan jatuh sakit dan diharuskan menjalani rawat jalan, Nia mengangkut semua pakaiannya dan tinggal di rumah sakit. Tidak hanya suster, dokter bahkan pengunjung rumah sakit pun banyak yang bersimpati pada Nia. Wajar. Kala itu Nia masih belia, tetapi sudah harus menanggung ujian yang berat.


Beruntung Burhan dirawat di rumah sakit yang terkenal sering memberi keringanan pada pasien yang kesulitan membayar biaya perawatan. Para penghuni rumah sakit pun sudah menganggap Nia seperti darah daging sendiri, meski tak bisa berbuat apa-apa saat Nia dipukuli Nila. Sungguh malang. Di saat anak yang lain sibuk bermain dan bermanja-manja, Nia malah sibuk merawat sang ayah dan luka-luka lebamnya.


“Ke rumah aku ajalah, Nil. Masa di sini?” Si duda kesepian, Ferdi, menunjuk Nia yang tertidur di samping Burhan. “Tuh liat ada anak kamu.”


“Halah biarin aja. Cepetan. Mau gak?” Nila melucuti pakaiannya sendiri.


“Bukannya gak mau. Nanti kalo anak kamu bangun gimana? Terus kalo tiba-tiba ada suster atau dokter yang dateng ngontrol si Burhan?”

__ADS_1


“Banyak ngomong banget sih kamu. Kalo gak mau yaudahlah.”


Ferdi menahan Nila yang hendak membenahi pakaiannya. “Mau-mau. Yaudahlah yuk satu ronde aja. Abis itu ke rumah aku ya ...”


Meski tak tahu pemandangan apa yang kini tengah tersaji di depan matanya, entah kenapa air mata Nia menetes. Nia berusaha tidak bersuara, pun bergerak. Karena hanya pukulan, jambakan atau tendangan yang akan didapatkan Nia jika sampai mengganggu sang ibu yang tengah berahi itu. Dan di saat tangis Nia tak berhasil dikontrolnya, tangan berhias selang infus itu menutup kedua matanya dengan lembut.


Nia yang sadar jika sang ayah telah terganggu dari istirahatnya pun seketika tenang, bahkan terlelap dengan cepat. Namun dalam lelapnya Nia bersumpah untuk tidak akan lagi mematuhi Nila! Dan benar saja, esoknya Nia tiba-tiba saja menangis histeris meski Nila tidak memukulnya. Para penghuni rumah sakit yang merasa diberi kode oleh Nia pun langsung berbondong mendatangi kamar Burhan dan mengusir Nila.


*FLASHBACK OFF*


“ ... Dan aku rasa yang bikin dia kabur ke Taiwan tuh bukan cuma utang aja tapi karna diancem sama penghuni rumah sakit. Sama Kak Denar juga.”


Zaim mengernyit. “Denar?”


“Iya. Kak Denar bilang dia punya rekaman pas aku dipukulin. Terus ngerekamnya pas banget pas aku dipukulin sampe mimisan lagi.” Nia tertawa. “Kak Denar ngancem bakal bawa rekaman itu ke polisi.”


Zaim membisu, dan semakin mengernyit.


“Kak Denar tuh bukan cuma penghibur tapi penyelamat aku juga. Tiap aku dipukulin, Kak Denar selalu nolongin aku. Tiap aku dikasih makanan basi, Kak Denar selalu dateng bawain aku susu coklat sama nasi warteg. Bahkan Kak Denar langsung bawa aku kabur tiap aku dititipin ke rumah duda kesepian itu.”


Zaim masih membisu, perasaan campur aduk mulai menggerayanginya.


“Bahkan Kak Denar juga bantu bayar biaya perawatan Ayah diem-diem.” Nia tersenyum. “Aku baru tau pas Ibu lunasin biaya perawatan Bapak. Sisa biayanya tinggal sedikit. Tapi kasir rumah sakit kekeh gak mau ngasih tau identitas orang itu karna udah janji.”


“Terus kamu tau dari mana kalo yang bayar dia?”


“Aku gak sengaja liat absensi pengunjung. Walopun gak ada namanya, aku apal tanda tangan Kak Denar. Bahkan aku tau cara bikinnya.” Nia menoleh pada Zaim. “Jadi intinya, masa lalu aku gak sekelam itu kok.”


Zaim tak merespon Nia. Perasaan Zaim semakin bertambah campur aduk. Antara geram, iri, dan cemburu level maksimum!


"Karna aku belom bisa maafin dia, aku gak mau bahas dia dulu. Aku harap ini yang terakhir kita bahas dia."


Zaim menghela napas. "As you wish, Sayang*."


"Makasih ya. Terus soal Kak Monica." Nia diam sesaat. "Posisinya rumit, jadi aku bisa maklum. Kamu juga tolong maklumin."


"Aku cuma maklumin dia selama seminggu."


"Hm? Maksudnya?" tanya Nia.


"Aku feeling aja kamu belom bisa maafin Nila. Makanya aku nyuruh dia balik ke Taiwan. Tapi dia kekeh. Jadi aku kasih waktu dia seminggu buat keluar dari Indonesia."


"Kalo udah lewat seminggu?" tanya Nia lagi.


"Aku mau rekrut dia jadi karyawan Zet tapi gajinya di bawah UMR."


Spontan Nia tertawa, diikuti Zaim setelahnya.


"Tapi, Sayang. Sekarang penghibur sama penyelamat kamu aku ya bukan Denar," imbuh Zaim seraya meraih tangan Nia. "Jadi jangan inget-inget lagi masa lalu kamu sama dia, fokus aja sama masa depan kamu sama aku. Hm?" Zaim mengecup punggung tangan Nia.


...•▪•▪•▪•▪•...


KLEK


SRUK


"Hi, Za."


Zaim hanya menoleh pada Jani yang tiba-tiba masuk ke ruang kerjanya dan menjatuhkan diri di sofa.


"Gua mau laporan."

__ADS_1


"Gak usah dilaporin kalo gagal," sahut Zaim akhirnya.


"Iya juga ya." Jani diam cukup lama, tetapi kemudian beranjak dari sandaran putus asanya. "Apa jangan-jangan Bagas Prasetyo sama temennya yang editor film wikwik itu diumpetin sama Safi?"


"Bisa jadi. Tapi abis diumpetin pasti diabisin. Skandalnya si Bagas kan bikin skor pemungutan suara Safi anjlok."


"Oh iya lupa gua. Sekarang di Malaysia kan lagi musim pemilihan raja." Jani kembali ke posisi duduk putus asanya. "Tapi sumpah itu sampah dua biji kaya ilang ditelen bumi. Gua udah ngacak-ngacak Jepang bahkan sampe ke Aokigahara* tapi tetep gak nemu."


*Sebuah hutan yang terletak di sebelah Barat Laut Gunung Fuji, yang membentang dari Kota Kawaguchiko hingga Desa Narizawa, Prefektur Yamanashi, Jepang. Aokigahara mendapat julukan "hutan lautan pohon" dan "lautan pohon Gunung Fuji". Dijuluki demikian karena jika angin meniup pepohonan di sana akan terlihat seperti ombak di laut. Usia hutan ini diperkirakan sekitar 1200 tahun. Hutan ini dikenal sebagai tempat bunuh diri populer di Jepang.


Zaim melepas kacamata bacanya sembari beranjak. "Yaudah keluar aja dari misi. Tapi catet kalo Bagas sama temennya berpotensi bikin ulah di masa depan. Dan lu yang harus nuntasin itu."


"Oke-oke." Jani menerima botol air mineral kecil dari Zaim. "Gua denger Pak Bastian udah balik dari Minnesota?"


"Iya. Lokasi misinya ganti di rumah Kasih yang di sini."


"Apa gua join Pak Bastian aja biar cepet kelar?"


Zaim menggeleng. "Gua ada misi lain buat lu …"


Jani mendapat misi baru untuk melindungi Nia secara diam-diam dari Monica. Zaim memberitahu identitas Monica serta tujuan kedatangan Monica ke tanah air secara singkat namun rinci sehingga Jani bisa langsung mengerti. Meski sedikit, Zaim tetap merasa khawatir jika Monica akan membawa paksa Nia ke Taiwan. Mengingat sifat Monica yang adalah anak berbakti berkepala batu, kekhawatiran Zaim bisa saja benar-benar terlaksana.


" … Tapi jangan sampe Nia tau kalo lu lagi dalem misi ngelindungin dia."


"Oke," sahut Jani. "Berarti bokapnya cewek yang namanya Monica ini cukup berkuasa ya di Taiwan sana?"


"Iya. Sekarang bokapnya jualan Gua Bao*. Tapi dulunya dia mantan tangan kanan gangster. Katanya dia tobat setelah nikah."


*Gua Bao mirip dengan sandwich, hanya saja isinya daging rebus yang sudah dibumbui. Daging yang biasanya digunakan untuk isian adalah daging babi. Namun ada juga isian daging sapi, ayam, telur atau ikan. Gua Bao disajikan dengan tambahan acar sawi, daun ketumbar, kacang tanah, dan mustard. 


Benar. Menurut informan bayaran yang disewa Zaim untuk menggali informasi pribadi Monaco, ayah Monica, Monaco menjadi pemeluk agama Konghucu yang taat setelah berhasil selamat dari sebuah kecelakaan pesawat. Hanya Monaco dan seorang wanita yang saat ini menjadi istrinya yang selamat dari kecelakaan tersebut. Setelahnya mereka pun menikah, dan memiliki seorang anak yang lahir cacat. Anak itu adalah adik Monica yang saat ini berusia empat tahun.


"Kalo Monaco sampe turun tangan, lu keabisan orang, Za."


"Kata siapa? Bukannya gua cuma perlu turun tangan juga ya?" Zaim menyeringai.


"Terus Kakek lu turun tangan juga. Si Hendri juga. Semuanya udah turun tangan. Perang deh tuh."


Zaim tertawa. "Kakek gak bakal ikut-ikutan kali ini."


KLEK


"Pak, ini baju Bapak udah saya ambil dari laundry." Nisma muncul dan langsung menggantungkan pakaian Zaim di standing hanger.


Zaim beranjak. "Thanks, Nis. Kamu pulang aja. Schedule terakhir biar saya yang urus. Soalnya barusan Pak Jefri telfon katanya pesawatnya delay. Jadi meet upnya belom pasti jam berapa."


"Baik, Pak."


"Bantu saya prepare aja. Tolong dasi sama jam tangan yang kemaren ya, Nis."


Nisma mengulang ucapannya untuk menanggapi Zaim dan langsung bergegas memasuki walk in closet*.


*Ruangan untuk menyimpan pakaian, sepatu, dasi, ikat pinggang, perhiasan, dan lainnya. Ruangan ini juga bisa menjadi tempat untuk berpakaian dan merias wajah.


"Mau ke mana lu? Eh, ntar dulu. Itu tadi maksudnya Kakek gak bakal ikut-ikutan apaan?"


"Kan hubungan gua sama Nia gak direstuin sama Kakek. Jadi apapun masalah gua katanya dia udah gak mau tau," jawab Zaim pada Jani. "Dia juga udah gak nganggep gua cucu."


"Berat-berat. Terus lu mau ke mana?"


Zaim menghentikan kesibukannya berganti pakaian. "Lu gak dapet email undangan emang? Hari ini kan hari eksekusinya Umar Zakawat …"

__ADS_1


Sementara Zaim dan Jani terus berbincang, Nisma yang sengaja berlama-lama di dalam walk in closet itu ternyata sedang menguping perbincangan Zaim dan Jani.


"Ya ampun. Sampe rela gak dianggep cucu demi anak SMA itu. Seru nih kalo grup penggemarnya Zaim Alfarezi sampe tau. Sayang, gue masih cinta kerjaan gue," batin Nisma seraya keluar dari walk in closet.


__ADS_2