
Ushi tampak cekatan merias wajahnya, bukan untuk memamerkan skill make upnya yang memang sudah tingkat dewa, melainkan karena kesiangan. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lima belas, dan ada empat jadwal photoshoot wisuda yang akan dimulai tepat pada pukul sembilan. Ushi benar-benar harus menggunakan jasa transportasi ojek atau komuter jika tidak ingin hari ini menjadi hari terakhirnya memegang kuas blush on.
"Duh segala kesiangan sih." Ushi beranjak.
TUK
"Ini lagi. Segala jatoh juga sih." Ushi menunduk, dan terpaksa berjongkok demi mencari gincunya yang jatuh.
DEG
Namun kesibukan Ushi menggerayangi lantai terhenti, sebab baru saja tersadar jika ada barangnya yang hilang. Benar, kunci loker yang sengaja dijadikannya pengganjal itu tak lagi ada di tempatnya. Spontan Ushi pun menggeser meja riasnya, berharap pengganjal itu sembunyi di kaki meja rias yang lain. Tetapi nihil. Meski begitu Ushi masih berusaha mencari, sambil mengacuhkan waktu yang tak pernah sudi menunggu.
"Apa di sini ya?" Ushi meraih vas bunga, membuang isinya dan menjungkirbalikkannya tanpa ragu. "Gak ada lagi. Duh, di mana ya?"
"Nyari apaan, Bu?"
Spontan Ushi menoleh ke asal suara. "Bukan apa-apa. Kamu udah mau jalan sekolah?"
Ikbal mengangguk menanggapi Ushi. "Barang Ibu ada yang ilang ya?"
"Iya nih. Bukan barang penting sih."
"Kalo bukan barang penting mah Ibu udah jalan kerja dari tadi." Ikbal memungut selembar foto yang tertelungkup di lantai. "Ini bukan yang lagi Ibu cari?"
"Apa tuh?"
Ikbal tak menjawab, hanya menghadapkan foto tersebut pada Ushi.
"Oh, gak. Bukan itu." Ushi membuang wajahnya, melanjutkan pencariannya.
"Ini suami pertama Ibu?" Ikbal memandangi foto berukuran 4R di tangannya.
"Pacar."
"Serius pacar? Tapi bukannya ini Ibu lagi hamil ya? Eh, ntar dulu. Aku punya Kakak dong harusnya?"
Ushi tersenyum, namun sudut-sudut matanya mulai digenangi air mata. "Harusnya, kalo Kakak kamu gak meninggal."
"Oh, mmm, maaf ya, Bu."
Ushi hanya mengusap kepala Ikbal.
"Terus pacar Ibu di mana sekarang?"
"Udah meninggal lima taun lalu," balas Ushi.
__ADS_1
Ikbal menyerahkan foto itu pada Ushi. "Mmm maaf lagi ya, Bu."
"Minta maaf mulu padahal mau minta uang jajan kan?" Ushi tertawa.
Ikbal ikut tertawa. "Oh iya, Bu. Nia udah cerita belom sama Ibu kalo dia pacaran sama Zaim Alfarezi?"
...•▪•▪•▪•▪•...
Nia dan Vina buru-buru keluar dari angkot, begitu pula dengan beberapa anak berseragam sekolah lainnya. Bagaimana tidak? Dua orang penumpang bahkan sudah bergelantungan di pintu angkot seperti simpanse, tetapi tetap saja sang sopir selalu menginjak rem ketika melihat ada penumpang lain yang melambaikan tangan. Gilanya, penumpang tersebut tak peduli meski tahu tak ada lagi tempat tersisa untuknya bahkan di lantai angkot sekali pun.
Ya, angkot bernomor cantik tersebut memang langka. Tetapi tak peduli selangka apapun itu, manusia bukanlah seikat bayam! Tak jarang banyak yang memilih turun di tengah perjalanan, sebab tidak sanggup lagi menanggung mual dan sesak napas. Salah duanya adalah Nia dan Vina. Sesaat setelah melompat dari angkot dan melemparkan dua lembar uang dua ribuan pada sang sopir, Nia dan Vina langsung berlari saling mendahului memasuki ind*maret.
"Anjir, berasa punya asma gue tiap naek angkot yang itu."
Nia tak menanggapi Vina, sibuk menenggelamkan kepalanya di dalam kulkas minuman.
"Biasanya kan kita bisa bertahan sampe lampu merah. Ini beneran parah banget anjir."
"Mana masih jauh lagi ke lampu merah." Nia menutup kulkas minuman sembari menghela napas lega. "Btw, ada apaan tuh rame-rame?"
Spontan Vina menoleh ke luar. "Oh iya. Ada apaan tuh? Eh tunggu, Itu bukannya cabang es bobanya Zaim Alfarezi yang baru buka?"
Benar, keramaian itu terjadi di salah satu cebang gerai minuman boba milik Zaim yang baru buka dua belas hari ini. Tetapi keramaian itu tidak terjadi karena diskon dan sejenisnya melainkan karena Kasih, kakak ipar Zaim. Menurut cerita dari orang-orang yang ada di tempat kejadian, Kasih tiba-tiba saja datang ke gerai minuman tersebut untuk meminta penjelasan pada suaminya, Zain Elfatih, perihal siapa wanita yang malam minggu lalu bersama Zain di sebuah mall.
"Namanya juga sakit jiwa. Jadi katanya, kakak iparnya Zaim Alfarezi nih nganggep dia kaya suaminya. Ya emang sih. Mereka kan mirip banget. Kasian ya, Zaim Alfarezi. Gara-gara kakak iparnya dia gak nikah-nikah ampe sekarang."
"Gue rasa sampe kakak iparnya lahiran pun si Zaim Alfarezi gak bakal bisa nikah. Mana ada cewek yang mau berurusan sama kakak iparnya yang serem begitu? Belom lagi keluarganya yang katanya ketat banget milih mantu."
Vina melirik Nia yang sedari tadi hanya diam mendengarkan obrolannya dan orang-orang di dalam kerumunan. "Terus kenapa segala ada ambulans di sini?"
"Kakak iparnya Zaim Alfarezi ngamuk pas karyawannya bilang suaminya udah meninggal. Terus dia teriak-teriak sambil lempar-lempar barang gitu."
"Iya. Denger-denger ada beberapa pengunjung yang luka."
Vina kembali melirik Nia. "Terus Zaim Alfarezinya di mana?"
"Ada di dalem. Baru dateng sepuluh menitan yang lalu."
Vina berdeham, "Tapi btw, dari mana kakak iparnya Zaim Alfarezi tau kalo dia malem mingguan sama cewek?"
"Kan fotonya kesebar di medsos."
"Demi apa? Di mana? Fac*book, t*ktok, instagr*m?" tanya Vina antusias.
"Semuanya ada."
__ADS_1
Spontan Vina merogoh ponselnya dari saku telinga ranselnya, lalu buru-buru membuka aplikasi yang paling sering digunakannya, instagr*m. Vina langsung membekap mulutnya saat halaman utama instagr*m itu menyuguhinya potret sang sahabat yang sedang berjalan bersama dengan Zaim Alfarezi di sebuah mall. Beruntung wajah Nia dalam foto tersebut diblur, andai saja tidak, hancur sudahlah masa muda sahabat sehati sesanubarinya itu.
"What? Serius Zaim Alfarezi nyewa mall, ngasih duit gope ke semua pengunjung yang diusir, dan nanggung pendapatan minimum semua toko?" Vina menoleh pada Nia.
"Mana gue tau." Nia berlalu.
"Eh? Oh iya juga ya. Emang lu siapanya Zaim Alfarezi? Kalo gitu kita duluan ya, Sista." Vina tersenyum paksa menanggapi tiga orang gadis yang sedari tadi mengobrol dengannya dan buru-buru mengejar Nia. "Serius lu gak tau, Nya?"
"Tau. Tapi gue gak tau kalo waktu itu reservasi yang dia maksud tuh reservasi mall. Padahal jelas-jelas mallnya sepi." Nia tiba-tiba menghentikan langkahnya, lalu menoleh menatap Vina. "Emang gue beneran gak sepeka itu ya?"
Vina hanya mengangguk mantap menanggapi Nia.
"Terus apalagi? Maksudnya kejelekan gue?"
"Banyaklah. Tapi yang paling ngeselin ya itu, keenggakpekaan lu yang naudzubillah," jawab Vina.
"Gitu ya."
"Gak usah sedih gitu dong, Kakak. Biarpun kejelekan Kakak banyak, tapi ketutup kok sama muka Kakak yang good looking." Vina merangkul Nia. "Terus sekarang gimana? Maksud gue kelanjutan hubungan lu sama Zaim Alfarezi?"
"Gue gak berencana buat lanjut. Lagian cuma pacaran online ini. Gue bakal mutusin dia gimanapun caranya demi idup tanpa keviralan."
"Tapi, Nya, Zaim Alfarezi kayanya serius banget loh sama lu. Kalo gak ngapain dia seberusaha itu cuma buat malem mingguan sama lu kemaren? Secara pasti cewek yang lebih-lebih dari lu ada banyak di sekitar dia dan bisa dia dapetin segampang ngupil. Iya kan? Tapi dia milih lu lo, Nya."
"Lu gak denger tadi orang-orang bilang apa? Kakak iparnya sakit jiwa, dan dia udah ngebuktiin itu lewat sms anceman. Terus keluarganya yang pemilih itu gak mungkin milih gue dong? Dan prioritas gue tuh idup tenang, Vin. Jadi gak mungkin juga dong gue sama Zaim Alfarezi yang adalah pusat keviralan itu. Iya dong?"
"Tapi, Nya, me–"
"Stop," sela Nia. "Gue udah ambil keputusan. Gue bakal mutusin dia. Serius, Vin, gue gak mau buang-buang waktu, pikiran, dan kuota buat hubungan asmara yang endingnya bakal gagal. Jadi kalo lu gak setuju sama keputusan gue, mending lu gak usah komen apa-apa. Oke?"
"Gak oke." Vina menunjuk sesuatu di belakang Nia. "Zaim Alfarezi lagi jalan kesini dan mukanya gak oke banget."
Spontan Nia menoleh, dan benar-benar mendapati pacar onlinenya itu tengah berjalan dengan langkah penuh amarah, pun dengan ponsel yang ditempelkan di telinga seperti sedang mendengarkan sesuatu. Tentu saja Nia berniat kabur, namun apa daya, sepatunya seperti dilumuri lem K2. Ada yang salah. Benar, tapi apa? Nia tak henti mempertanyakan tanya yang sama dalam hati, sampai Zaim berdiri tepat di hadapannya dan menjawab tanya itu.
"Coba ulangin yang kamu omongin barusan."
DEG
"Gue udah ambil keputusan. Gue bakal mutusin dia. Terus? Lanjutin coba," imbuh Zaim sambil mengambil ponsel Nia dari saku roknya.
DEG DEG
"Serius, Vin, gue gak mau buang-buang waktu, pikiran, dan kuota buat hubungan asmara yang endingnya bakal gagal." Zaim menunjukkan ponsel Nia yang entah bagaimana sudah bertelepon dengan Zaim selama satu setengah jam. "Kamu beneran mau saya seret ke KUA ya?"
DEG DEG DEG
__ADS_1