HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
GAYA 27


__ADS_3

Vina masih melambaikan tangannya ke arah mobil Zaim meski lampu rem belakang mobil tersebut bahkan sudah terlihat samar. Sungguh, Vina turut berbahagia melihat kebersamaan sang sahabat dan Zaim. Akhirnya bertambah lagi orang yang mencintai Nia dengan tanpa embel-embel selain Vina, Ushi serta Ikbal. Vina tenggelam dalam kebahagiaan itu, tanpa peduli pada apa yang menantinya di belakang sana.


Benar, sekumpulan orang beraneka jenis dan usia yang sedari tadi menontoni Kasih yang mengamuk di salah satu cabang gerai minuman milik Zaim Alfarezi yang baru diresmikan dua belas hari lalu, kini tidak lagi menujukan perhatiannya pun kamera ponselnya pada gerai minuman bercat merah fanta tersebut melainkan pada Vina, dan pada perempatan lampu merah di mana saat ini mobil Zaim sedang berhenti.


"Itu tadi temen Mbaknya kan ya? Jangan-jangan dia cewek yang ada di foto sama Zaim Alfarezi?"


"Kayanya iya deh. Bentuk badannya sama kaya di foto. Kecil-kecil gitu. Warna kulitnya juga sama. Model rambutnya juga."


"Fix kalo gitu. Wah, gak nyangka ternyata seleranya Zaim Alfarezi anak yang belom mateng. Anak Lentera Dunia bukan sih Mbaknya?"


"Gimana, Mbak? Bener gak temen Mbak yang tadi itu cewek yang fotonya kesebar di medsos?"


Sementara Vina tengah tertekan diberondong tanya dari manusia-manusia kepo, Nia pun tak kalah tertekan darinya. Bagaimana tidak? Pacar online Nia, Duplikat L.K, tidak, Zaim Alfarezi, tiba-tiba memasukkannya paksa ke dalam mobil dan pergi begitu saja. Dan kini, Nia sedang melafazkan doa perlindungan berkali-kali sebab sang pacar yang mengemudikan mobilnya di atas kecepatan 250 km/jam. Gila!


Dan yang lebih gilanya lagi, saat ini mobil tanpa suara tersebut tengah melaju memasuki lobby utama sebuah hotel bintang enam. Apa-apaan? Ingin rasanya Nia melontarkan sepatah kata itu, namun waktu seolah berjalan terlampau cepat. Hingga tanpa Nia sadari, dirinya sudah ada di dalam kamar hotel super mewah. Ini benar-benar yang pertama Nia berada di dalam kamar hotel bersama pria selain Ikbal dan almarhum sang ayah.


"Duduk."


Nia tak menjawab, hanya refleks menuruti perintah Zaim untuk duduk di sofa yang ditunjuknya.


"Buka," imbuh Zaim.


"Hah? M-maksudnya?"


"Buka."


Nia menelan salivanya sebelum menjawab Zaim, "M-maksudnya b-buka a–"


"Sepatu kamu. Ganti pake sandal hotel. Biar kamu nyaman. Soalnya ada banyak yang mau saya omongin sama kamu."


"Oh, sandal." Nia tersenyum paksa. "Oh iya-iya oke, Kak, oke."


"Terus saya mau berendem."


Spontan Nia mengurungkan niatnya untuk beranjak. Nia bingung harus menjawab apa, sebab menurutnya, Zaim baru saja mengatakan sesuatu yang sangat amat ambigu. Apakah itu murni pernyataan? Atau sebaliknya, sebuah tawaran? Dan haruskah Nia menunggu dengan tenang di sofa yang sangat empuk itu? Atau, ikut berendam saja?


"Kalo gak, emosi saya gak akan reda. Sekitar 15 menit. Bisa nunggu kan?"


Nia mengangguk menanggapi Zaim. Dan ketika Zaim sudah dipastikan masuk ke kamar mandi, Nia langsung berlari tunggang langgang menuju pintu keluar kamar berhias lampu gantung mewah tersebut. Namun sial, kunci kamar hotel bintang enam itu sangat jauh berbeda dengan kunci kamar hotel yang Nia tahu. Tidak bisa lewat pintu, maka itu artinya Nia harus lewat jendela. Tetapi lagi-lagi, sial. Kamar hotel itu berada di lantai dua puluh!


"Anjir," gumam Nia sembari memandangi ketinggian.


"Itu ungkapan kagum, atau?"


Spontan Nia berbalik, dan mendapati Zaim yang basah kuyup itu sudah berada tepat di belakangnya bahkan meski belum genap enam puluh detik!


"Atau?" tanya Zaim lagi.


Nia tersenyum paksa. "Kagum dong, Kak. Viewnya bagus ba–"


"Saya bukan Kakak kamu. Tapi pacar. Clear?"


"Clear," sahut Nia akhirnya, setelah berhasil mengalihkan pandangannya dari baju mandi Zaim yang kependekan.

__ADS_1


"Saya serius mau nikahin kamu, tapi nanti kalo umur kamu udah 20. Clear?"


Nia melotot, dan refleks membuang wajahnya saat Zaim semakin mendekat.


"Clear?" tanya Zaim lagi.


"Clear."


"Dan mulai hari ini, kita pacaran pake gaya 27 taun. Clear?"


"G-gaya d-dua p-puluh t-tujuh t-taun?"


Zaim mengangguk. "Clear?"


Nia menggeleng ragu. "C-contohin d-dulu."


Zaim menatap Nia, pun sebaliknya, Nia. Itu adalah permintaan yang berbahaya jika gaya pacaran 27 tahun yang ada dalam bayangan Zaim sama dengan yang ada dalam bayangan Nia. Namun tentu saja, sangat berbeda dan sangat jauh berbahaya. Perlahan, Zaim meraih sebelah tangan Nia yang sedari tadi mencengkeram pinggiran jendela. Zaim lalu mengecup punggung tangan Nia sambil sesekali mendaratkan gigitan kecil di sana.


"Clear?" Zaim mengulang tanyanya, untuk yang ketiga kali.


"Clear tapi tangan aja."


"Kening?"


"Ya, mmm, boleh." Nia berdeham.


"Pipi?"


Nia berdeham lagi, "Mmm oke. Boleh."


Nia melotot. "Enggak."


"Leher?"


"Udah gila ya?"


"Da–"


"Stop." Spontan Nia membekap mulut Zaim.


"Oke. Clear." Zaim tersenyum seraya mengecup bergantian kedua telapak tangan Nia. "Sekarang soal Kasih, kakak ipar aku."


Nia kembali berdeham, "Aku." Nia tak henti berdeham, "Maksudnya, aku udah tau cukup banyak soal itu."


"Ada yang kamu gak tau." Zaim menghela napas. "Aku sempet disuruh gantiin Zain nikahin Kasih tapi aku nolak. Jadi sampe anak Kasih lahir, aku disuruh berperan sementara jadi Zain. Abis itu Kasih bakal dikirim buat perawatan ke luar negri, dan anaknya sepakat dirawat dua keluarga."


Nia tak merespon.


"Why? Is anything wrong?"


"Aku jelesan," balas Nia.


Spontan Zaim tertawa. "Karna udah aku kasih tau, bisa kamu kurangin kan?"

__ADS_1


...•▪•▪•▪•▪•...


Bastian menghela napas sambil beranjak kesal. Itu sudah yang keenam kalinya Bastian mencari tempat duduk baru. Jika diteruskan, rasanya Bastian akan menduduki setiap kursi di kafe yang terkenal dengan lemon meringue pienya tersebut. Semuanya karena Zaim, lebih rincinya karena Bastian sedang melakukan video call dengan Zaim yang saat ini tengah berolahraga dengan hanya mengenakan celana ketat pendek.


Bastian bisa mendengar teriakan tertahan serta bisik-bisik erotis pengunjung kafe lain yang rata-rata wanita itu dengan sangat jelas. Jadi, kenapa tidak sedari tadi Bastian mengubah panggilan video itu menjadi panggilan telepon? Agar dirinya tak perlu repot berkeliling kafe untuk mencari tempat duduk baru. Dan terutama, agar tak ada celah untuk sekumpulan wanita kesepian itu mengintip Zaim yang setengah telanjang!


Bastian menempelkan ponselnya di telinga. " ... Gua ketangkep orang-orangnya bapaknya Ushi Widhiani pas lagi ngintai di stasiun. Terus ada orang lu tiba-tiba nongol nolongin gua."


"Namanya Jani. Mantan polisi militer. Tapi filenya diapus dari kesatuan."


Bastian diam, bersabar menanti penjelasan selanjutnya dari Zaim yang terdengar sedang setengah mati mengangkat barbel.


"Komandannya ngelecehin dia. Dan detik itu juga, dia nembak komandannya, dua puluh kali," imbuh Zaim.


"Tapi kok dia bisa bebas?"


"Bisalah. Emang apa yang gua gak bisa?"


Bastian mengeleng-geleng. "Terus kenapa lu gak nyuruh dia aja buat nguak masa lalunya Ushi Widhiani? Dia detektif swasta lumayan terkenal loh di sini."


"Kan lu yang butuh duit."


Bastian mengatur napasnya, mulai emosi. "Oke. Jadi ada dua informasi yang gua dapet selama di sini. Satu, ternyata lokernya Ushi Widhiani udah dijaga lebih dari sepuluh taun sama orang-orangnya bapaknya. Lebih tepatnya sejak Ushi Widhiani cerai dari suaminya dan balik ke Indonesia. Dua, alamarhum bapaknya Yesenia Eve pernah sekali ke sini."


"Tapi pas mau balik ke Indonesia, dia tiba-tiba dirawat di rumah sakit selama tiga bulan karena koma setelah diduga jadi korban tabrak lari."


"Itu lu udah tau. Terus ngapain gua di sini?"


"Buat duel."


"Hah?"


"Duel."


Suara Bastian mulai meninggi, emosi yang sedari ditahannya akhirnya lolos. "Duel-duel sama si–, tunggu, jangan bilang maksud lu duel sama orang-orangnya Bapaknya Ushi Widhiani."


"Iya."


"Lu gila? Dia mantan raja, Za."


"Cuma mantan. Masih jadi raja aja gak masalah. Duitnya banyakan gua, kuasanya gedean gua, pengaruhnya kuatan gua. Jadi gak usah takut-takut. Cepetan duel terus balik ke sini urus Kasih."


Bastian menghela napas. "Oke."


"Jangan bawa Jani ke lapangan."


"Justru mau gua bawa."


"Bawa Jani gak ada bedanya sama bawa gua."


Bastian kembali menghela napas sebelum akhirnya menjawab, "Oke."


"Good luck, Bas." Zaim mengakhiri panggilan telepon itu.

__ADS_1


"Bawa Jani gak ada bedanya sama bawa dia. Itu artinya gak bakal ada yang giginya gak rontok, tulang-tulangnya gak patah, dan mentalnya yang gak rusak." Bastian meninggalkan kafe sambil menghela napas lagi.


__ADS_2