HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
ITUNYA WARNA COKLAT


__ADS_3

"Yah tutup, Bu."


"Kan udah Ibu bilang salon ini sering tutup. Karna yang punya tuh lagi kepincut brondong. Ibu kan liat status Whats*ppnya tiap hari. Kamu mah ngeyel," balas Ushi pada Nia.


"Iya-iya maaf. Yaudah kita cari salon yang lain aja. Tadi aku liat ada banyak salon kecantikan di sekitar sini."


Ushi menghela napas menanggapi Nia, namun tetap tancap gas dan mengiyakan saran dari putri semata wayangnya itu. Jujur saja Ushi enggan keluar dari kamar, apalagi keluar dari rumah. Ushi bahkan memutuskan mengambil cuti setelah berpura-pura kuat sejak insiden hari itu. Benar, insiden hari itu, ketika Edo mengabaikan luapan perasaan Ushi dan lebih memilih mengejar kekasihnya yang agak-agak!


Hampir setiap hari Ushi menghabiskan waktu dengan melamun, mengurangi asupan lemak jenuh secara ekstrem dan, mogok mengomel. Itulah kenapa Nia berinisiatif mengajak Ushi ke salon kecantikan. Berharap dengan mendengar treatment penghilang kerutan, garis-garis halus dan tembolok, bisa membuat Ushi sedikit bersemangat. Namun siapa sangka salon itu malah tutup dengan alasan yang membuat bergidik?


Beruntungnya hal tersebut tidak membuat Ushi ingin pulang. Justru sebaliknya, Ushi setuju untuk mencari salon kecantikan yang lain. Setelah berkeliling cukup lama, mereka pun menemukan yang dicari. Tetapi karena kesulitan mendapat parkiran, Ushi meminta Nia untuk melakukan reservasi sementara dirinya mencari parkiran. Nia setuju, namun tujuannya terdistraksi oleh sebuah toko yang memamerkan gaun pengantin.


"Selamat da–, eh, Yesenia Eve ya? Yang pacarnya Zaim Alfarezi itu kan? Duh maaf-maaf. Silahkan masuk, Mbak Yesenia."


Nia hanya tersenyum paksa menanggapi karyawan wanita satu-satunya di toko itu.


"Kalo boleh tau, lagi cari model gaun pengantin yang kaya gimana, Mbak?"


"Belom kepikiran sih, Kak. Saya liat-liat dulu kali ya," jawab Nia akhirnya.


"Oh iya boleh. Biar saya pandu. Tapi kalo boleh tau lagi nih, Mbak Yesenja pake size apa? Soalnya toko di sini dibagi jadi beberapa room, dan tiap-tiap room itu isinya size baju tertentu."


Nia mengangguk-angguk. "Kayanya saya pake size s."


"Kalo gitu sebelah sini, Mbak." Karyawan wanita berlesung pipi itu mengajak Nia untuk balik kanan. "Mari, silahkan."


"Oh iya mari."


Sambil memilih deretan gaun yang memanjakan mata, Nia memikirkan tindakannya yang spontan. Apakah akan sia-sia? Entahlah. Semua tergantung pada cara Zaim menyikapi drama ulur waktu ini. Apakah cinta Zaim yang besar akan meluaskan sabarnya atau malah membuatnya menyerah karena bosan dijejali janji-janji? Meski tak tahu jawabannya, entah kenapa Nia tak ragu mencoba gaun cantik itu satu per satu.


"Yang ini juga bagus, Mbak."


"Iya saya juga suka yang ini. Gaun yang pertama sama yang kedua juga saya suka," balas Nia sembari berputar-putar di depan cermin raksasa. "Yang gaun kedua ada warna coklat muda atau cream gitu gak, Kak? Atau yang mirip-mirip. Pokoknya coklat."


"Gaun kedua ya. Kayanya gak ada. Gaun kedua itu cuma ada warna putih susu sama putih gading."


"Gitu ya."


"Iya soalnya jarang kalo warna coklat. Kalo boleh tau kenapa harus warna coklat? Warna favorit Mbak Yesenia ya?"


Nia menggeleng. "Itunya warna coklat."


"I-itunya itu apa maksudnya ya, Mbak?" tanya si karyawan lagi, ragu.


"Warna matanya."


"Warna mata ya kirain apaan. Duh saya malah mikir yang gak-gak." Karyawan itu tertawa sambil memukul kepalanya. "Kalo cream kayanya ada. Tapi modelnya beda gak apa-apa?"

__ADS_1


"Iya gak apa-apa. Saya mau coba buat pilihan terakhir."


"Oke tunggu sebentar ya, Mbak Yesenia."


Nia hanya mengangguk merespon karyawan toko terlewat lincah itu. Dan beberapa saat kemudian karyawan toko itu pun kembali, membawa sebuah gaun yang langsung membuat Nia jatuh cinta pada pandangan pertama. Nia langsung mencoba gaun itu, dibantu si karyawan toko. Sempurna. Tidak ada yang harus dipangkas, dikecilkan, ditambah kain dan lain sebaginya. Gaun pengantin itu seolah dibuat khusus untuk Nia.


"Ya ampun cantik banget. Padahal belom dimakeup sama dihair do loh."


Nia tersenyum. "Makasih, Kak. Kalo gaun yang ini berapa harganya? Sama gak kaya yang tadi saya coba?"


"Gak sama, Mbak. Soalnya ini pembuatannya gak pake mesin. Terus desainernya terkenal selalu buat satu gaun dengan satu size. Ja–"


"Berapa? Empat puluh juta? Enam puluh? Delapan puluh?"


Spontan Nia dan si karyawan toko menoleh ke asal suara.


"Seratus?" imbuh Zaim.


"S-sembilan puluh juta dua ratus, Pak."


"Transfer ke mana?"


"Y-ya?"


Zaim berjalan mendekati fitting room. "Saya tanya mau ditransfer ke mana? Atau mau saya bayar cash?"


Zaim merogoh dompetnya dari dalam jas, mengeluarkan sebuah kartu atm mengilap, dan menyodorkannya pada si karyawan toko yang kini tengah menatapnya sampai lupa menarik napas.


"B-baik, Pak. Segera saya proses pembayarannya." Si karyawan toko berlalu secepat kilat.


Nia berdeham, "Dari kapan kamu di sini?"


"Dari kamu bengong mandangin gaun pengantin di depan toko ini."


"Dih mana ada aku bengong." Nia menutup pintu fitting room. "Udah sana aku mau ganti."


Zaim menahan pintu fitting room dengan kakinya. "Kok gak nanya komen aku soal gaun pengantinnya."


"Ngapain nanya-nanya. Orang kamu udah keliatan terpesona banget gitu."


"Yah ketauan."


"Dih. Udah awas. Dibilang aku mau ganti."


"Tapi aku belom puas liatnya, Sayang."


Nia menghela napas, sambil tiba-tiba membuka lebar pintu fitting room. "Yaudah nih liat cepet. Puas-puasin."

__ADS_1


Zaim menyeringai. "Gimana ya. Aku gak puas kalo cuma liat. Aku harus megang."


Mendengar itu Nia melotot, dan refleks memukul Zaim yang malah terpingkal.


"Tapi, Sayang. Keluarga aku punya WO* turun-temurun yang bakal ngurus semua hal terkait pernikahan anggota keluarga, termasuk gaun pengantin. Jadi kayanya agak repot kalo kamu pake gaun ini."


*Wedding Organizer.


"Ya terus kenapa dibeli? Cepet bilang Mbaknya gak jadi so–"


"Kan bisa buat foto prewed," sela Zaim. "Ngomong-ngomong gaunnya pas banget di kamu. Aku jadi gak sabar salaman sama Pak Penghulu."


Nia tak menjawab, sebab terburu-buru memalingkan wajahnya yang mendadak seperti disiram kuah seblak! Panas!


"Terus karna gaun kamu kebuka, aku juga harus ngimbangin dong. Gimana kalo aku pake jas tapi gak pake kemeja? Atau gak pake celana juga? Pilih yang mana? Hm?"


...•▪•▪•▪•▪•...


" … Terus rencana Kakek apa?"


Hakam menoleh pada Hendri. "Apalagi? Kakek harus nemuin Safi sekarang juga. Kakek gak akan kehilangan Zaim kaya Kakek kehilangan Zain. Da–"


"Terus kalo udah ketemu sama Safi apa? Kakek mau ngajak dia ngobrol? Emang bisa orang gila diajak ngobrol?"


"Hen, ini masalah Kakek sama Safi."


"Ya terus aku harus diem aja gitu?"


"Iya. Tugas kamu emang diem. Sama kaya mereka." Hakam berganti menoleh pada Jani dan Yoshi. "Jangan sampe ada yang tau masalah ini. Terutama Zaim. Kalo Zaim sampe tau, berarti kamu pelakunya. Kenapa? Karna Jani sama Yoshi udah janji bakal ada di pihak Kakek."


"Tapi, Kek, bahaya. Lawan Kakek tuh Safi. Zaim ngelawan Safi aja belom tentu bisa makanya Zaim diem aja walopun tau Safi yang bunuh Zain kan? Kalo Kakek ngelawan Safi yang ada nasib Kakek bakal kaya Jani, bahkan lebih tragis. Lawan Safi itu harus Atlas*."


*Julukan untuk kediaman/keluarga besar Joffrey Scott Atlash, hidden crazy rich Jakarta Barat.


"Emang Atlas mau bantu Kakek? Temennya Atlas kan Zaim bukan Kakek. Lagian emang mereka masih bisa temenan setelah Zaim bikin bisnis Atlas anjlok karna salah satu anggotanya terlibat sama Kasih yang mau nyelakain pacarnya?"


"Ya seenggaknya Kakek bilang sama Zaim soal masalah ini. Pe–"


"Terus Zaim yang berurusan sama Safi gitu?" sela Hakam. "Kalo sampe Zaim yang kenapa-kenapa, kamu mau tanggung jawab? Dengan cara apa? Gantiin Zaim sama Zain jadi cucu Kakek? Mana bisa? Emang kita punya hubungan darah?"


Hendri terbelalak, kehabisan kata memohon, dan benar-benar berakhir dengan membiarkan Al Hakam menyetor nyawa pada si gila Sayfudin Qazzafi alias Safi. Keputusan nekat Al Hakam itu bermula saat telepon dari Jani datang. Melalui telepon itu Jani memberi tahu Al Hakam jika dugaannya tentang Emily yang adalah dalang sebenarnya dalam insiden penembakan beberapa waktu lalu, benar! Emily dipastikan terjun langsung menemui Kasih, memancing delusinya*, dan membuatnya bersekongkol dengan Atlas.


*Merupakan salah satu gangguan mental serius. Delusi ditandai dengan kesulitan seseorang untuk membedakan mana hal yang bersifat kenyataan dan mana yang merupakan imajinasi. Dan walaupun sudah terbukti bahwa apa yang diyakini tidak benar, penderita gangguan delusi akan tetap berpegang teguh pada pemikirannya dan menganggap bahwa apa yang diyakini tersebut benar.


Lalu orang yang membuat Emily bisa bebas berkeliaran meski tengah dipenjara adalah, Safi. Safi yang menuduh Zaim sebagai penyebab kegagalannya menduduki kursi raja, berniat menuntut balas. Dan entah bagaimana awal mula Emily terlibat, yang jelas Emily memiliki motif kuat untuk menjabat tangan Safi. Rasa iri Emily pada Kasih yang tak kunjung surut serta rasa bencinya pada Zaim yang sudah bermain licik demi membuatnya membusuk di penjara, cukup untuk menjadi motif terkuat, bukan?


"Iya. Kita emang gak punya hubungan darah. Tapi aku gak pernah sekali pun punya pikiran buat gantiin posisi Zain atau Zaim. Aku dari dulu emang sebatang kara. Jadi bukannya yang lebih pas setor nyawa sama Safi tuh aku ya?" Hendri menghela napas sembari membuat panggilan telepon. "Halo, Pak Monaco. Saya …"

__ADS_1


__ADS_2