
" … Sofanya pindah ke sana. Lemari buku sama akuarium pindah ke sini. Sama guci-guci itu juga pindah ke sini. Terus …"
Sambil mengaduk wajan berisi bebek rica-rica, Ushi tak henti memberi perintah pada dua pekerjanya, Zaim dan Ikbal. Sementara Nia, sibuk menyapu seluruh halaman yang dipenuhi daun-daun kering pohon rambutan. Kerja bakti besar-besaran di kediaman mewah bernomor delapan itu dilakukan dua kali dalam setahun di waktu-waktu yang bergantung pada suasana hati Ushi.
"Ibu, mana karung sampahnya?" Nia berteriak dari halaman belakang.
Ushi ikut berteriak. "Ada di situ."
"Gak ada."
"Ada. Samanya nih sama Ikbal kalo nyari-nyari pake mulut. Nyari tuh di mana-mana pake mata."
"Aku bahkan udah nyari pake indra keenam tau, Bu."
"Ih itu anak ya. Jelas-jelas tadi keluar bawa serokan sama karung sampah juga."
"Ya gitu deh, Bu, kalo kerja baktinya gak pake hati."
"Kamu tuh yang kerja baktinya gak pake hati," sahut Ushi pada Ikbal.
"Mana ada kerja bakti gak pake hati hasilnya bisa gini, Bu?" Ikbal menunjuk seisi rumah yang dekorasinya sudah berubah total.
"Ini mah hasil kerjanya Zaim. Kamu pikir Ibu gak liat daritadi kamu cuma dorong-dorong doang? Zaim sendiri yang ngangkat ini itu. Segala bilang kerja bakti pake hati. Kamu mah mana punya hati? Orang hati kamu udah dibagi ke cewek-cewek gak jelas itu."
"Ibu, dih."
Zaim hanya tertawa merespon ibu dan anak yang hampir setiap detik terlibat cekcok itu.
"Ibu, gak ada karung sampahnya." Teriakan Nia semakin menggelegar.
Spontan Ushi mengecilkan kompor. "Duh ya ampun. Punya anak dua udah kaya punya anak sepuluh ya. Heran."
"Biar saya aja, Bu." Zaim beranjak dari istirahatnya. "Sekalian saya mau mindahin mobil."
"Yaudah tolong ya, Za. Ibu ngurusin sayur soalnya. Biar cepet mateng. Jadi kita bisa cepet-cepet makan siang."
Zaim hanya mengangguk menanggapi Ushi, lalu bergegas menuju pintu keluar. Terlihat Nia tengah sibuk mencari karung sampah. Namun alih-alih membantu, Zaim malah berbuat sesuatu yang kian memprovokasi keringat. Awalnya Zaim hanya ingin menggoda Nia yang tampak kesal, tetapi di luar dugaan Zaimlah yang pada akhirnya digoda habis-habisan. Lagi-lagi, senjata makan tuan!
"Sayang, nanti ada Ibu kamu."
Nia mendongak. "Terus kenapa? Kita kan gak ngapa-ngapain."
"Iya tapi posisi kamu bisa bikin orang mikir kita lagi ngapa-ngapain, Sayang," sahut Zaim.
"Kan aku cuma liat tato baru kamu."
__ADS_1
"Yaudah liatnya jangan jongkok gitu."
"Ya harus jongkok dong. Kan posisi tatonya ada di pinggul. Kalo berdiri mana keliatan. Tapi tunggu deh." Nia diam sesaat. "Celana kamu kok tiba-tiba sempit?"
Zaim membuang wajahnya, menahan tawa dan terutama, menahan malu.
"Perasaan tadi gak deh. Oh aku tau. Kamu kerangsang? Cuma karna aku jongkok di depan ini?" imbuh Nia seraya menunjuk milik Zaim.
"Iya."
Spontan Nia berdiri. "What? Serius? Padahal aku cuma asal nebak ta–"
"Sayang," sela Zaim. "Maaf tapi bisa kaya biasa kan?"
"Kaya biasa maksudnya?"
"Tahan suara kamu."
"Hah? Tu–"
SRAK
Suara semak belukar yang gaduh yang diiringi suara napas memburu serta desah yang gagal ditahan, sedikit tersamarkan oleh angin yang berhembus tak ramah. Entah apa yang dilakukan Nia dan Zaim di balik semak belukar itu, yang pasti mereka harus memiliki alasan yang masuk akal untuk menjelaskan penampilan mereka yang kacau. Alasan seperti jatuh dari pohon rambutan mungkin.
"Loh? Ke mana mereka? Ini kok masih berantakan gini sih?" tanya Ushi sembari menyelisik sekeliling. "Jadi karung sampahnya beneran gak ada ya …"
BRAK
"Sialan!"
"Kan udah aku bilang, Pah." Monica menutup majalah fashion yang tengah dibacanya. "Gak usah ke Indonesia. Apalagi sampe ketemu cowok sinting yang namanya Zaim Alfarezi."
"Papah gak terima. Pokoknya Papah bakal bales perlakuan si Zaim Alfafezi itu."
Monica melanjutkan kegiatan membacanya. "Good luck kalo gitu, Pah."
"Kamu juga harus bantuin Papah."
"Gak, makasih."
"Monica Yin! Si–"
"Jangan ngusik orang sinting, Pah. Serius deh," sela Monica. "Tapi kalo Papah kekeh, please jangan libatin aku sama Mamah." Monica beranjak. "Terus jangan marah-marah di sini. Ini rumah sakit, Pah."
KLEK
__ADS_1
"Udahan jalan-jalannya, Mah?" Monica menghampiri Nila yang baru saja memasuki kamar rawat. "Makasih ya, Sus."
"Sama-sama."
"Makasih, Sus." Nila menimpali.
Si suster hanya memberikan jawaban yang sama dan kemudian berlalu. Nila menyapa Monaco sambil menyantap sarapan yang baru saja diantarkan oleh suster yang lain. Sama seperti saat Monica baru kembali dari Indonesia, Nila pun langsung mengajukan tanya yang sama. Di mana Nia? Tentu saja Monaco juga memberikan jawaban yang sama seperti jawaban Monica saat itu, bahwa dirinya telah gagal mempertemukan Nila dengan sang putri sambung.
" … Tapi aku gak akan nyerah."
Nila menghela napas menanggapi Monaco. "Udahlah gak usah. Bener apa kata Monic, lebih baik aku nunggu sampe Nia buka pintu maafnya buat aku."
"Anak pendendam kaya dia gak akan pernah bisa bukain pintu maaf buat siapa pun. Beda ceritanya kalo dipaksa."
"Udah gak usah, Co. Aku beneran udah cukup dengan denger kabar kalo Nia bahagia," balas Nila.
"Bukannya gak cukup ya? Kan kemaren kamu bilang mending mati aja."
Nila menghela napas lagi. "Yang udah-udahlah, Co. Gak perlu diungkit la–"
"Aku bakal bawa anak pendendam itu ke sini. Bahkan aku bakal bikin dia sujud di kaki kamu." Monaco meninggalkan kamar rawat Nila. "Tunggu aja."
BRAK
Nila tak henti menghela napas, pun Monica. Walau tidak lagi mengantongi identitas sebagai tangan kanan gangster paling ditakuti di Taiwan, harga diri Monaco masih sama tingginya. Layaknya seorang gangster yang harga dirinya diinjak terang-terangan, tidak ada pembalasan yang sepadan selain menabuh tambur perang! Ya, Monaco si mantan gangster dari Fulung, mantap menyatakan perang pada hidden crazy rich Jaksel, Zaim Alfarezi.
"Duyi."
"Ya, Bos." Duyi, seorang pria muda berkarisma itu buru-buru menyamakan langkahnya dengan Monaco.
"Selundupin orang ke Indonesia buat bawa anak pendendam itu ke sini."
"Baik, Bos."
"Kalo gagal, selundupin orang dari negara lain. Dan kalo masih gagal juga." Monaco memperlambat langkah murkanya, lalu menoleh pada Duyi. "Kamu yang turun ke lapangan."
"Apa saya perlu bawa Zaim Alfarezi juga, Bos?"
Langkah Monaco sepenuhnya terhenti. "Buat apa? Dia bakal ke sini sendiri kalo tau ceweknya ilang kan? Jadi gak usah repot-repot. Dan kalo dia udah di sini, baru kita puas-puasin bales dendam."
"Siap, Bos."
"Yaudah kamu boleh pergi."
"Bos." Duyi mengadang Monaco, lalu tiba-tiba membungkuk. "Sekali lagi saya minta maaf karna waktu itu saya gak bisa ikut Bos dan yang lain ke Indonesia. Saya denger Zaim Alfarezi udah berani kurang ajar sama Bos. Saya janji bakal bales itu, Bos."
__ADS_1
"Iya, kamu harus bales. Tapi kayanya agak susah." Monaco menepuk sebelah pundak Duyi. "Gak perlu maksain diri kamu, Duyi. Jalanin sesuai rencana aja."
"Jadi bener kata yang lain. Kalo kemampuan bela diri Zaim Alfarezi itu setara gua," batin Duyi sembari memandangi Monaco yang berlalu.