HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
BAWANG


__ADS_3

" … Kenapa aku diusir dari rumah mereka? Karna Mamah gak bilang kalo ibu kandung Nia masih hidup!" Seruan Monica terdengar dari sambungan telepon yang diloud speaker. "Dan Mamah juga gak bilang kalo dulu Mamah perlakuin Nia sekejam itu!"


"Ma–"


"Cukup," sela Monica. "Aku gak mau denger penjelasan apapun dari Mamah." Monica mengakhiri panggilan itu.


Air mata Nila tumpah, bersamaan dengan layar ponselnya yang meredup. Di kamar rawat bertipe president suite itu, Nila terisak tanpa ada seorang pun yang tahu. Wajar jika Monica marah. Tetapi demi Tuhan, Nila pun baru mengetahui jika ibu kandung Nia masih hidup. Sebab selama sepuluh tahun berumah tangga dengan Burhan, Burhan tak pernah membahas tentang ibu kandung Nia. Ya, meski Burhan masih menyimpan potret seorang wanita yang mungkin saja adalah ibu kandung Nia.


"Andai aku bisa ngulang waktu, waktu itu aku cuma bakal ambil uang jajan buat Nia, Han," lirih Nila.


*FLASHBACK ON*


" … Aku jemput Nia dulu ya, Han. Udah telat nih."


Burhan hanya mengangguk menanggapi Nila sembari berlari membawa mangkuk bakso yang baru dicuci.


"Tunggu-tunggu. Aku gak ada uang receh. Tau sendiri ini hari jumat. Pasti yang dagang di masjid banyak banget. Nia gak mungkin gak minta jajan."


"Itu dompet aku di belakang tv," jawab Burhan akhirnya. "Cepet balik ya. Bantuin bungkusin sambel," sahut Burhan akhirnya.


"Iya-iya."


Nila pun mencari dompet Burhan di tempat yang diberitahukannya. Awalnya Nila hanya mengambil beberapa lembar uang dua ribuan, tetapi dirinya iseng melihat sampah struk, sim, serta foto yang disimpan di bawah fotokopi ktp. Bak disambar petir di tengah hujan badai, Seketika Nila jatuh terduduk saat mengetahui foto yang disimpan Burhan adalah foto seorang wanita muda yang sangat cantik. Burhan yang menyadari itu pun refleks menyabet dompetnya.


"Siapa, Han?"


"Bukan siapa-siapa." Burhan melipat foto tersebut dan menyimpan kembali ke tempatnya.


"Bisa-bisanya gak kamu buang malah kamu simpen lagi? Di depan mata aku?"


"Nanti aja kita bahas soal ini." Burhan mengantongi dompetnya. "Sekarang tolong jemput Nia dulu."


"Jemput aja sendiri."


"Nil. Ja–"


"Ternyata yang aku rasain selama ini bukan sekedar prasangka buruk. Kamu emang gak pernah cinta sama aku, Han." Nila mulai menangis. "Karna perempuan itu kan? Siapa dia?"


"Yaudah aku aja yang jemput Nia. Tolong jaga warung sebentar te–"


"Jaga sendiri! Itu warung kamu! Itu anak kamu! Urus aja sendiri!"


Sejak saat itulah Nila berubah. Rasa kecewa, cemburu serta sakit hati, tanpa ragu Nila limpahkan pada Nia. Nia yang kala itu masih duduk di bangku taman kanak-kanak sering dipukuli oleh Nila tanpa sepengetahuan Burhan. Bahkan tak jarang Nia pun sering diberi makanan basi. Namun yang lebih parah dari itu semua, saat Nila pamit membawa Nia untuk bersenang-senang, Nia malah dititipkan pada duda kesepian yang kerapkali memberikan sentuhan ambigu pada Nia.


PLAK


"Nakal banget sih kamu."


Nia hanya mengusap-usap lengannya yang baru saja dipukul Nila dengan centong nasi.


"Jangan buang-buang makanan. Cepet makan."


"Tapi itu basi Mamah. Itu bau," jawab Nia akhirnya. "Aku maunya makan nasi yang itu." Nia menunjuk piring makan Nila.


PLAK PLAK

__ADS_1


"Ngelunjak ya ini anak lama-lama. Makan cepetan. Udah sore nih. Si Ferdi juga udah nunggu."


Nia yang tak tahan lagi dengan rasa panas di sekujur tubuhnya akhirnya terpaksa menyuap nasi basi tersebut. "Aku gak mau sama Om Ferdi, Mah. Aku mau di rumah aja."


"Heh, Bapak kamu itu taunya kamu keluar seneng-seneng sama Mamah. Gimana ceritanya kalo yang diajak seneng-seneng malah di rumah?"


"Mmm, kalo gitu, mmm, aku ngumpet di lemari aja sampe Mamah pulang."


Nila diam sesaat, namun perlahan menyeringai. "Boleh juga. Tapi kalo kamu keluar sebelom Mamah pulang gimana?"


Nia menggeleng cepat. "Aku gak akan keluar janji."


"Janji anak nakal kaya kamu mana bisa dipercaya. Mamah setuju gak nitipin kamu di Ferdi lagi asal lemarinya Mamah kunci."


"Mmm, itu, mmm, tapi nanti aku gak bisa nafas, Mamah."


Nila kembali menyeringai. "Yaudah kalo gitu mati aja sekalian!"


PLAK PLAK PLAK


*FLASHBACK OFF*


" … Tapi kamu tetep ketawa, tetep manggil aku Mamah dan muji-muji aku di depan Burhan. Padahal aku udah bikin kamu menderita setiap hari," ujar Nila dengan tangis yang kian menjadi. "Maafin Mamah, Nia."


...•▪•▪•▪•▪•...


Ikbal mendecak, "Anjir mumet gua."


Itu adalah decakan pun umpatan Ikbal yang tak terhitung sudah yang keberapa kali. Ikbal yang sedari tadi berdiri memandangi pintu kamar Nia dan Ushi secara bergantian akhirnya menyerah dan turun ke lantai satu. Mungkin sekaleng soda dingin bisa menjernihkan otak Ikbal sehingga segera terpikirkan cara untuk menghibur Nia dan Ushi. Tetapi otak yang hanya disesaki game fruit ninja dan rangkaian kata gombal untuk kaum hawa itu benar-benar tak bekerja meski sudah diguyur dua kaleng soda dingin!


Bukan tanpa alasan Ikbal mengatakan itu. Bunga, kekasih Ikbal yang adalah penggemar fanatik Zaim hampir selalu membicarakan idolanya itu. Lambat laun Ikbal pun jadi mengetahui Zaim orang yang seperti apa. Bahkan Ikbal rela menonaktifkan ponselnya demi untuk mengetahui asal-usul nama samaran Zaim di Zet, dengan cara membaca novel berjudul JUST KILL ME. Jika Zaim tak keberatan menyamakan dirinya dengan tokoh utama pria dalam novel tersebut, berarti Zaim memang psikopat bucin!


"Anjir-anjir. Gimana nih? Mana pada belom makan malem lagi."


KLEK


"Eh, Bu?" imbuh Ikbal seraya buru-buru beranjak ketika mendengar suara pintu yang terbuka. "Mau ke mana, Bu? Gak ke Taiwan kan?"


"Gaklah ngapain buang-buang duit cuma buat ketemu dajjal. Ketemu Bapak kamu kan udah sama aja." Ushi mengunci pintu kamarnya. "Ibu mau keluar cari angin."


"Mau aku temenin?"


"Gak usah. Kamu di rumah aja jagain Nia."


"Bu."


Spontan Ushi berbalik. "Hm?"


"Itu, jangan terlalu dipikirin ntar Ibu malah sakit. Yang udah lalu yaudah ikhlasin aja. Toh mau kita sesalin kaya gimana juga gak akan bisa dirubah kan. Yang penting tuh masa kini yang masih bisa kita rubah semau kita."


"Kamu nyontek kata-kata dari google apa dari motivator?"


"Dih, Ibu. Orang lagi serius juga."


Ushi melanjutkan langkahnya sembari terkekeh. "Iya-iya. Makasih kalo gitu. Yaudah Ibu jalan. Gerbangnya gak usah kunci ya."

__ADS_1


Ikbal tak menjawab, hanya memandang Ushi hingga punggung dukanya hilang dari balik pintu. Ikbal tahu Ushi berbohong karena tujuan Ushi keluar rumah yang sebenarnya bukan untuk sekadar mencari angin tetapi berziarah. Berziarah ke pusara cinta pertama dan terakhirnya, Burhan. Ikbal tahu bukan dari pakaian serba hitam yang dikenakan Ushi melainkan dari sorot matanya yang tampak tak sabar ingin segera mengamuk, meraung, dan menumpahkan makiannya yang terlewat bersemangat.


Ikbal melirik kamar Nia. "Itu cewek jadi-jadian gak mungkin bunuh diri kan? Gak lah dia kan strong. Eh, tapi kalo dia udah lelah strong gimana anjir."


"Bal?"


Ikbal terlonjak. "Eh? Loh? Kak Zaim?"


"Ibu mau ke mana malem-malem gini?"


"Zi- eh, maksudnya nyari angin." Ikbal tersenyum paksa menanggapi Zaim. "Suntuk kali, Kak."


"Oh. Udah pada makan?"


"Belom-belom." Ikbal membantu Zaim membawa bungkusan plastik makanan. "Kebeneran banget lagi laper nih, Kak."


"Yaudah makan. Nia mana?"


"Di kamar, Kak. Tapi udah tidur kayanya."


"Jam segini?"


"Iya mungkin tidur cepet."


"Gitu ya. Apa boleh buat kalo gitu. Saya boleh pinjem toiletnya sebelom balik?"


"Boleh-boleh, Kak." Ikbal menghela napas lega sesaat setelah Zaim masuk ke toilet. "Hampir aja. Du–"


BRAK


"Pithecanthropus Erectus, big news! Lu pasti belom tau kan? Si Nia, si Nia yang sekuat baja itu masa na–"


"Ssstttt." Spontan Ikbal membekap mulut Vina. "Duh harusnya gua konci itu gerbang."


"Apaan sih." Vina menepis tangan Ikbal. "Seharusnya lu antusias dong. Seorang Elvina Priska yang selalu sibuk di malem minggu sampe bela-belain dateng ke sini. Itu artinya ada big news. Nih denger ya ma–"


"Diem-diem."


"Lu kenapa sih anjir." Vina kembali menepis tangan Ikbal sambil berlari naik ke lantai dua. "Orang gue cuma mau bilang kalo Nia tuh punya kakak tiri cakep banget. Sama ternyata nyokapnya Nia yang namanya Nila itu udah gila tau gak. Masa Nia dianiaya …"


Ikbal menyerah menghentikan Vina. Sebab tak peduli meski saat ini Zaim tengah menyalakan keran atau menyiram kloset, dirinya pasti bisa mendengar dengan jelas suara Vina yang sebelas dua belas dengan speaker kampanye.


" … Nia udah dipukulin dari TK anjir. Pantesan fotonya pas TK kurus banget terus kaya sakit gitu. Ternyata Nia gak cuma dipukulin aja tapi juga dikasih nasi basi. Terus yang lebih parah apa co–"


KLEK


"Apa, Vin?" tanya Zaim yang baru saja keluar dari toilet. "Yang lebih parah?"


"Loh? Za, eh, Kak Zaim?"


"Iya ini saya. Coba lanjutin cerita kamu tadi. Apa yang lebih parah yang udah dilakuin Nila ke Nia?"


"Nia sering dititipin di rumah temen nyokapnya yang katanya suka megang-megang Nia," balas Ikbal, mewakili Vina yang tak bisa berkata-kata karena terlalu terkejut.


Zaim menoleh pada Ikbal. "Terus?"

__ADS_1


"Terus Kakak kapan mau jalan ke Taiwan? Tiketnya tolong pesen dua. Buat saya satu."


__ADS_2