HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
END SEASON 1


__ADS_3

Akhirnya, setelah melakoni banyak drama, memendam beragam perasaan tak nyaman, dan bertahan dalam goncangan mental yang hebat, misteri kematian Zain pun terungkap. Zain Elfatih, salah satu pilot kebanggaan maskapai Awan Biru, resmi dianugerahi tanda kehormatan sesuai dengan undang-undang meski sudah sangat amat terlambat.


Sebaliknya Umar Zakawat, resmi dijatuhi hukuman mati atas puluhan nyawa tak berdosa yang sudah direnggutnya. Namun hukuman Umar Zakawat ditangguhkan sampai masa pengobatannya selesai. Pengobatan? Ya, pengobatan. Sudah seharusnya rahang yang remuk, tulang rusuk serta empat jari yang patah diberikan pengobatan, bukan?


" … Masa pemulihannya kurang lebih enam bulan, Pak."


Hakam hanya menghela napas menanggapi seorang dokter wanita.


"Tapi kalo boleh saya tau, pasien Umar Zakawat ini berantem sama siapa ya, Pak? Kok kondisinya lebih parah dari pasien tabrak lari yang lagi saya pegang juga."


"Berantem sama atlit jadi-jadian," jawab Hakam akhirnya. "Atlit taekwondo, karate, silat, jiu jitsu, krav maga, muay thai, sama kungfu."


Hakam berlalu, meninggalkan dokter muda yang seketika membuat ekspresi cengo. Misteri kematian Zain memang sudah terungkap, pun misteri tentang siapa ayah dari anak yang dikandung Kasih. Tetapi misteri tentang penyebab hancurnya pernikahan Zain dan Kasih yang baru berumur jagung itu benar-benar masih terlalu samar.


Hakam mendecak, mewakili keengganannya menguak misteri yang masih terlalu samar itu. Bukan bermaksud menyerah, namun biarlah Zaim dan robot-robotnya yang super tangguh saja yang turun tangan menguaknya. Sebab demi apapun, Hakam sudah terlalu ringkih untuk turut serta dalam permainan detektif-detektifan.


"Halo, Za." Suara Bastian terdengar melalui sambungan telepon.


"Hm."


"Sorry nelfon malem-malem, tapi ini darurat."


Zaim menguap. "To the point."


"Soal hp yang dimaksud Yoshi. Fix, gak ada di sini. Gua udah enem kali cosplay jadi maling di rumah sementaranya Kasih di sini buat nyari itu hp. Tapi gak ada, Za."


"Terus?"


"Gimana kalo lu cari di rumahnya Kasih?"


"Lu bayar gua?"


Bastian berdeham, "Si Jani di mana?"


"Di mana-mana. Soalnya Bagas kabur dari rumah sakit. Terus temennya Bagas yang orang Jepang itu juga kabur tau ke mana."


Tak terdengar sepatah kata yang keluar dari mulut Bastian, meski begitu, helaan napasnya yang terlewat kasar cukup mewakili.


"Tapi si Kasih beneran gila?"

__ADS_1


"Iya. Gua udah liat datanya di laptop psikiaternya Kasih," sahut Bastian.


"Terus?"


"Coba kirim orang buat nyari hp itu di rumahnya Kasih yang di sana. Kalo masih gak ketemu juga, mau gak mau gua harus balik dan ngintrogasi Emily tanpa bukti … "


Itu susunan rencana yang sempurna. Tak ada yang perlu Zaim khawatirkan, Bastian sudah menangani semuanya. Namun tak peduli sekeras apapun Zaim mencoba menekan kekhawatiran itu, rasanya sia-sia saja. Terlalu banyak masalah yang menghampiri tanpa memberi sedikit toleransi. Zaim menghela napas, sembari mencoret sesuatu di atas kertas.



"Oh, masih ada satu lagi," gumam Zaim sambil melanjutkan gerak penanya yang sempat terhenti.



Jantung Zaim mulai berdebar tak santai, ketika gerak penanya membubuhkan huruf terakhir. Tidak salah lagi. Debaran itu adalah pertanda akan datangnya sesuatu yang buruk! Zaim memutar kursi kerjanya, lalu memandang sebuah pesawat yang baru saja melintas. Bagaimana jika Nila yang menggilai uang benar-benar ada di dalam pesawat itu?


Zaim masih bergumam, "Gak masalah kalo cuma perkara duit. Karna yang jadi masalah, Nila gak balik ke sini sendirian." Zaim berjalan mendekati jendela. "Kalo iya dia gak balik sendiri. Kira-kira balik sama siapa ya?"


...•▪•▪•▪•▪•...


"Monica."


Salih, Ketua Rt di bekas kediaman Nia terdahulu tampak mengerutkan dahi. "Iya, tapi Mbak Monica ini siapanya Dek Nia?"


"Kakak? Setau saya Dek Nia anak tunggal," balas Salih.


Monica, perempuan berusia kisaran pertengahan dua puluhan itu lagi-lagi menghela napas, jengkel. Namun kejengkelan Monic, sapaan akrabnya, sungguh tidak ditujukannya pada Salih atas tanyanya yang tak ada titik koma melainkan pada dirinya sendiri yang memang malas berbicara. Atau lebih tepatnya, malas berbicara pada orang-orang yang hanya bisa paham jika diberi penjelasan panjang kali lebar.


"Nila Anggareni nikah sama Monaco, pengusaha properti di Taiwan. Monaco itu duda anak satu, dan anaknya saya."


"Oh, jadi Bu Nila nikah lagi. Paham-paham." Salih diam sesaat. "Jadi Mbaknya ke sini mau ketemu Dek Nia?"


"Gak, saya mau jemput dia."


"Eh? Dijemput maksudnya diajak ke Taiwan?"


Monic tak henti menghela napas. "Pertanyaan kaya gitu emang perlu dijawab ya?"


Salih berdeham, "Jadi gini, Mbak. Saya gak bisa ngomong banyak. Intinya Dek Nia udah pindah dari sini. Soalnya banyak banget yang dateng ke sini nagih utangnya Bu Nila."

__ADS_1


"Udah lunas."


"Ya?"


"Utang Mamah saya udah lunas hari ini."


"Alhamdulillah kalo gitu. Saya jadi ikut se–"


"Kenapa Bapak gak bisa ngomong banyak? Kalo gak ke Bapak saya bisa ke mana lagi nyari Nia?" Monic mendecak sembari merogoh sesuatu dari dalam tasnya. "To the point aja. Bapak mau uang berapa?" Monic melempar cek. "Tulis aja. Terus ngomong."


Salih refleks beristighfar, ketika tahu apa yang baru saja dilemparkan oleh Monic tepat ke hadapannya itu. Meski kesetiaan Salih pada Zaim sudah goyah sepenuhnya, Salih memutuskan untuk tetap berada di pihak Zaim. Karena ini Indonesia, bukan Taiwan. Dan tak peduli meski kini kesetiaaan Salih tengah ditawar dengan harga yang lebih tinggi, sekali lagi, ini Indonesia, tempat di mana Zaim Alfarezilah yang berkuasa.


Salih beranjak. "Sebentar, Mbak. Saya telfon Mas Zaim dulu."


Salih buru-buru meninggalkan ruang tamunya, dan mencari spot tersembunyi untuk menelepon Zaim. Beruntung panggilan Salih tidak berakhir dengan suara menjengkelkan operator meski itu sudah panggilan yang kelima. Merasa Zaim akan segera memuntahkan beragam "kata-kata mutiara", Salih pun enggan berbasa-basi, apalagi meminta maaf atas panggilannya yang sudah jelas sangat amat mengganggu!


"Mas, ada cewek namanya Mba Monica tiba-tiba dateng nyari Dek Nia. Katanya dia kakak tirinya Dek Nia, Mas. Dia bilang mau jemput Dek Nia. Mau dibawa ke Taiwan."


Tak ada jawaban, meski sudah berulang kali Salih memeriksa sambungan teleponnya. Hanya terdengar suara angin yang lambat laun semakin berisik dari seberang telepon sana.


"Mas? Mas Zaim? Sa–"


"Jamu dia sampe saya dateng," sela Zaim akhirnya. "Dan jangan kasih informasi apapun soal Nia."


"Siap, Mas. Ta–"


"Kalo sampe ada informasi tentang Nia yang bocor bukan dari mulut saya, Anda dan semua orang yang udah makan uang saya, bakal nerima konsekuensi yang gak akan pernah bisa kalian bayangin," sela Zaim lagi.


"S-siap, Mas."


...~END SEASON 1~...


...HALO SEMUA, INI SEUL YE....


...SAYA AKHIRI SEASON 1 DI EPISODE 60 YA....


...UNTUK SEASON 2 AKAN SEGERA SAYA RILIS....


...TERIMA KASIH UNTUK DUKUNGANNYA....

__ADS_1


...MOHON BERSABAR MENUNGGU UNTUK SEASON 2 YA....


...SAMPAI KETEMU ❤...


__ADS_2