
Jani langsung melarikan Bagas yang tak sadarkan diri ke rumah sakit, setelah Zaim meninju dan menghantamkan wajah Bagas ke meja ruang tamu. Ushi dan Ikbal enggan ikut serta, keduanya lebih memilih menenangkan diri. Ushi menenangkan diri di kamarnya, sementara Ikbal memilih pergi ke suatu tempat. Dan kali ini Nia berbesar hati menjadi jongos. Nia tak tahan melihat kondisi ruang tamu yang selalu terlihat bersih, rapi dan harum itu kini malah terlihat sebaliknya.
"Kalo mau main hakim sendiri jangan di dalem rumah dong," ujar Nia sambil memungut pecahan kaca yang berserakan di lantai.
"Justru harus di dalem rumah biar gak ketauan dong."
"Tapi liat dong ini jadi pecah." Nia menunjuk meja ruang tamu. "Terus itu juga pecah." Nia berganti menunjuk hiasan di pintu masuk. "Dan liat lantai sama karpetnya jadi ada bekas darahnya begini."
"Tinggal ditaro laundry, Sayang."
Spontan Nia menoleh pada Zaim yang sedang sibuk mengobok-obok isi kulkas. "Bukannya kamu yang bikin rusuh yang harusnya beresin ini semua ya?"
"Gak mau. Aku capek."
"Hah?"
Zaim berbalik menghadap Nia sambil melahap tiga buah bengbeng beku sekaligus. "Aku bilang aku capek. Akhir-akhir ini tuh banyak banget masalah yang harus aku urus sendiri. Jadi, Sayang, daripada kamu ngomel-ngomel mending bikinin aku makanan. Tapi jangan mie."
"Aku cuma bisa bikin mie."
"Bukannya kemaren kamu bikin telor apa tuh yang dicobek? Yang pake timun sama kemangi? Yang kamu fotoin ke aku."
"Yaudah bikin sana. Tinggal ambil telor di kulkas, nyalain kompor terus goreng."
"Terus cara mecah telornya?"
Nia tak menjawab, namun cengkeraman tangannya pada gagang serokan sampah itu terasa semakin kuat. Beruntung abang penjual bakso bakwan malang alias bbm melintas di depan rumah Nia tepat waktu. Jika tidak, dapur kediaman mewah bernomor delapan itu pasti akan meledak! Nia meletakkan serokan sampah yang sedari tadi dipegangnya, lalu berlari meneriaki abang bbm. Namun, sebuah pecahan kaca kecil menghentikan langkah Nia yang terburu.
"Aaakkk."
Spontan Zaim berlari menghampiri Nia, menggendong lalu mendudukkan Nia di kursi makan. Zaim memeriksa kaki Nia yang tergores. Beruntung itu hanya goresan yang sangat kecil, namun tetap saja ada darah yang keluar meski sedikit. Tanpa ragu Zaim pun langsung menghisap darah di kaki Nia. Nia terkejut sejadinya, dan refleks menarik kaki kirinya itu sekuat tenaga. Rasa malu berikut prasangka nano-nano mulai bahu-membahu meneror Nia.
"Duh, tadi gue udah cuci kaki kan? Apa belom? Udah aja plis," tutur Nia dalam hati. "Lagian kenapa adegan isep-isepan gini harus di kaki sih anjir malu banget. Ya terus? Masa gue harus ngerangkak manggil abang bbm cuma biar tangan gue yang kegores? Gak mungkin kan?" tanya Nia, masih dalam hati.
"Enak."
"Hah? Ya ampun, demi apa kamu telen?"
__ADS_1
"Emang kenapa?"
Nia masih berusaha menarik kakinya dari cengkeraman Zaim. "Masa kamu gak tau kalo darah itu kotor? Banyak penyakit yang bisa nular lewat darah tau gak."
"Terus?"
"Kok terus sih? Kalo aku punya penyakit menular gimana?"
"Ya mau gimana lagi. Aku tetep bakal bawa kamu ke pelaminan."
"Bukan itu ma–." Nia menutup wajahnya yang memerah. "Duh plis banget dong kamu modusnya jangan brutal gitu. Aku kan jadi susah nangkisnya."
"Kalo ngadepin yang brutal-brutal jangan ditangkis, terima aja." Zaim mengedipkan sebelah matanya. "Dan nikmatin."
...•▪•▪•▪•▪•...
Terlihat Nia, Ushi serta Zaim tengah duduk di teras, menyantap bakso bakwan malang shift terakhir yang biasa berkeliling di sekitar komplek pada pukul sembilan malam. Ushi yang semula menenangkan diri di kamarnya langsung keluar setelah tahu kaki Nia terluka. Ushi pun seketika lupa akan kegondokannya pada Bagas karena terlalu khawatir memikirkan kaki Nia yang kini digulung perban.
"Bener gak perlu ke rumah sakit?"
"Tapi kan takutnya infeksi."
"Udah dikasih betadine, Bu. Udah ah, Bu. Orang lagi makan juga."
"Tapi nanti kalo ngerasa sakit atau ngerasa aneh langsung bilang ya." Ushi menoleh ke dalam rumah. "Ngomong-ngomong si Ikbal ke mana?"
"Gak tau. Tadi keluar naek motor."
"Pasti nyusulin Bapaknya diem-diem." Ushi menghela napas. "Soalnya role modelnya tuh anak kan Bapaknya. Gaya rambut, baju, bahkan gaya pacarannya aja kaya Bapaknya kan? Dia jadi buaya gitu kan karna ngikutin Bapaknya."
Nia tertawa, pun Zaim.
"Oya, Ibu udah pikirin mateng-mateng. Fix, kalian harus pindah dari Lentera Dunia," imbuh Ushi. "Bodo amat kalian mau demo atau mogok ini itu. Kalo gak nurut sama Ibu, gak usah sekolah aja sekalian. Iya gak, Za?"
"Iya, Bu. Saya rekomendasiin SMA Teladan Andalan atau SMA Panutan Bangsa."
"Noted." Ushi mengangguk mantap sambil beranjak. "Bang, tambah lagi dong. Banyakin tahu putihnya. Somaynya juga boleh …"
__ADS_1
Sementara Ushi dan abang bbm sibuk melongok ke dalam panci bakso, Zaim menggeser kursinya hingga menempel ke kursi Nia. Nia tak menoleh, bukan karena tak peduli. Justru sebaliknya Nia sangat peduli pun sangat tahu apa maksud dari tindakan Zaim. Antara Zaim hendak menghibur Nia yang menyuarakan protes keengganannya pindah sekolah atau, melancarkan modus brutalnya yang lain.
"Kalo kamu pindah ke SMA Teladan Andalan atau SMA Panutan Bangsa, ke rumah atau ke kantor pusat aku kan jadi lebih deket," bisik Zaim.
"Aku mau sekolah ya bukan pacaran."
"Kan bisa abis sekolah pacarannya."
"Diem."
"Why?"
"Itu Ibu lagi jalan ke sini juga."
"Oh, jadi kamu pikir aku cuma berani ngomong kaya gini pas lagi sama kamu doang?" Zaim menyeringai sambil merogoh ponselnya yang bergetar. "Bentar aku angkat telfon." Zaim beranjak, lalu berjalan keluar rumah. "Halo, Hen."
"Iya, halo, Za. Gua mau ngabarin kalo Riko meninggal. Jenazahnya baru sampe dari Malaysia sore tadi. Mau langsung dimakamin sekarang."
"Inna lillahi wainna ilaihi raji'un," batin Zaim. "Kenapa meninggalnya?"
"Kecelakaan."
"Kecelakaan beneran apa tanda kutip?"
Hendri terdengar menghela napas. "Tanda kutip."
"Dalangnya si Safi?"
"Siapa lagi? Dan gilanya dia juga ngelayat. Tapi udah balik barusan." Hendri mendecak, "Harusnya gak gua iyain pas Riko minta perpanjang kontrak buat mata-matain Safi. Sialan Safi. Itu orang apa setan sih, hobi banget mainin nyawa."
"Gua otw."
"Oke. Gua tunggu." Hendri mengakhiri panggilannya.
Zaim menghela napas, kesal menghadapi masalah yang bagaikan tagihan listrik. Dua hal yang membuat Zaim masih berselera menghadapi itu, rasa ingin memiliki Nia yang kian menggebu, dan wejangan sang kakek, kalo gak mau punya masalah, jadi b*ngke! Sadis memang mulut orang-orang yang sudah lebih dulu menelan manis pahitnya kehidupan. Zaim mengantongi ponselnya, lalu menoleh pada Nia dan Ushi yang tengah berlomba mengosongkan isi mangkuk bbmnya.
"Kalo gak mau punya masalah, jadi b*ngke." Zaim menggeleng. "Harusnya ditambahin, tapi jangan b*ngke tikus atau kucing."
__ADS_1