HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
SALAH KAPRAH


__ADS_3

Terlihat dari dalam mobil yang sering dijuluki mobil roti tawar itu, Ushi dan sang putra, Ikbal, sedang mengobrol dari hati ke hati. Mereka baru saja kembali dari Malaysia, dan saat ini tengah dalam perjalanan ke sekolah Nia untuk menjemputnya sekaligus mengadakan makan siang bersama setelah dua pekan lamanya. Ikbal tampak jengkel, bukan karena jetlag atau tujuan mereka yang malah ke SMAN Lentera Dunia melainkan karena sang ibu yang entah sudah yang keberapa kali mengucap terima kasih sambil mencubit pipinya.


" … Makasih juga kamu gak pernah nanya apa alesan Ibu nampung Nia dan kenapa Ibu rahasiain Nia dari keluarga kita sampe sekarang."


Ikbal masih diam, sambil sesekali menghindari cubitan panas sang Ibu.


"Kamu juga gak pernah nanya kabar Bapak kamu yang gatel itu, dan bahkan selalu bantuin tiap Ibu kewalahan nolak perjodohan Kakek kamu. Makasih ya. Makasih banget udah mirip Ibu," imbuh Ushi, sembari beralih melancarkan cubitan panasnya ke lengan Ikbal.


"Sakit dih, Bu."


Spontan Ushi tertawa. "Pokoknya makasih ya udah ngertiin Ibu ni–"


"Bu, brenti-brenti."


"Hah? Brenti? Di sini? Kenapa?"


Ikbal tak menjawab, hanya menunjuk ke sisi kanan Ushi.


"Loh? Ngapain itu mereka ngendap-ngendap di depan kantor polisi? Kantor polisi Jakarta Selatan pula."


"Ngapain lagi, Bu? Mereka kalo udah ngumpul mah pasti bikin masalah," balas Ikbal.


Ushi langsung membanting setirnya ke sisi kanan, pun langsung memergoki Nia dan Vina yang tampak seperti cicak itu dengan klakson bertubi. Kedua gadis jelita itu terlihat sangat terkejut, sampai-sampai kesulitan memahami perintah Ushi yang meminta mereka untuk segera naik ke dalam mobil. Ushi pun turun dari mobil dengan diekori Ikbal yang tengah memamerkan senyum kemenangan. Melihat mimik wajah Nia dan Vina yang seperti baru saja dipergoki melakukan sesuatu yang salah, Ushi tak lagi membuang waktu untuk berbasa-basi.


"Kalian nyari siapa sampe ngendap-ngendap kaya maling gitu?"


"Gak kok, Tan, gak. Gak nyari siapa-siapa." Nia tersenyum paksa.


"Terus kenapa kalian ngendap-ngendap?"


"Lagi ngintipin pacar onlinenya kali, Bu." Ikbal terkekeh.


"Iya? Jadi kamu masih mainan aplikasi kencan itu? Jawab Tante coba?"


"Mmm iya tapi udah gak sesering dulu kok, Tan," jawab Nia.


Ushi menghela napas. "Terus bener kamu di sini lagi ngintipin pacar online kamu?"


Nia menunduk, tahu jika Ushi sedang dalam mode marah. Vina yang lagi-lagi merupakan pencetus ide kegiatan hari itu pun menggantikan Nia menjawab rentetan tanya Ushi.

__ADS_1


"Aku yang nyaranin Nia, Tan. Jadi Dup–, eh maksudnya temen onlinenya Nia tinggal di Jaksel, dan temennya temen onlinenya Nia tuh polisi, jadi kemungkinan Dup, eh, maksud aku temen online Nia juga pasti polisi. Kita ke sini buat mastiin kalo Dup–, maksudnya temen onlinenya Nia bukan om-om kaya temen online aku. Gitu, Tan."


Ushi menghela napas lagi. "Siniin hp kamu."


Nia refleks mendongak. "Hah?"


"Tante bilang, siniin hp kamu."


"Yah, Tan. Plis jangan hp aku. Plis yang lain aja. Plis."


Ushi diam, namun mata sipitnya mulai melotot. Nia pun kembali menunduk, dan perlahan merogoh ponselnya dari saku belakang celananya untuk kemudian diserahkan kepada Ushi.


"Apa nama aplikasi kencannya?"


"Zet." Nia menjawab dengan suara yang nyaris tak terdengar.


"Zet katanya namanya, Bu." Ikbal menunjuk-nunjuk. "Itu-itu, Bu. Tuh, yang aplikasinya warna biru."


"Tante apus akun kamu ya."


Nia refleks mendongak lagi, dan menyerukan tanya yang sama pada Ushi. "Hah?"


"Uninstall juga aplikasinya, Bu," timpal Ikbal kegirangan.


"Oke udah." Ushi menggenggamkan ponsel edisi tahun 2016 itu pada Nia. "Tante baru bakal nyita hp kamu kalo Tante tau kamu nginstall aplikasi itu lagi. Paham?"


Nia hanya mengangguk berat menanggapi Ushi.


"Sekarang masuk mobil." Ushi berlalu, dibuntuti Ikbal yang tertawa sangat puas.


"Duh, Nya, siapa lagi yang bakal dikirim Duplikat L.K ke sekolah besok? Duh, ide gue. Plis maki-maki ide gue yang selalu menyesatkan ini, Nya."


Nia hanya memasang wajah ingin menangis sembari mengeratkan tangannya yang sedari tadi digenggam Vina.


...•▪•▪•▪•▪•...


Laju mobil mewah yang hanya diluncurkan dua unit di Indonesia itu berhenti tepat di depan gerbang rumah bernomor delapan. Lampu tajam mobil itu perlahan meredup, dan suara mesinnya yang terlampau halus pun perlahan mati total. Pintu mobil berwarna hitam doff itu terbuka, menampakkan sebelah kaki mulus pria yang berhias sandal jepit. Perlahan tapi pasti, penampakan pria pemilik mobil mewah itu mulai terlihat sepenuhnya.


Celana training, kaus oblong sesiku, rambut berkuncir karet makanan, dan sorot mata penuh kejengkelan itu, benar adalah milik CEO Zet alias Duplikat L.K alias Zaim Alfarezi. Zaim bersandar di pintu mobilnya seraya memandangi lantai dua rumah di depannya. Ada dua kamar di lantai dua rumah itu yang lampunya masih menyala. Zaim memandang bergantian dua kamar itu sebelum hanya fokus memandang kamar di sisi kiri.

__ADS_1


"Kemaren ngeblokir, sekarang ngapus akun. Beneran minta diseret ke KUA nih bocil." Zaim berjalan menuju gerbang.


Telunjuk Zaim nyaris mendarat di badan bel rumah bernomor delapan tersebut, sesaat sebelum gerbang rumah itu terbuka. Terlihat Nia muncul dari balik gerbang, dengan mimik wajah yang sama terkejutnya dengan Zaim. Zaim berniat ingin langsung meminta penjelasan dari Nia, tetapi gadis yang sedari tadi sibuk menjilati permen hot-hot itu lebih dulu mengatakan hal yang sungguh sangat amat jauh dari perkiraan Zaim.


"Es boba? Bukan. Maksudnya Zaim Alfarezi?" Kedua tangan Nia bahu-membahu menutupi mulutnya yang terlewat membulat. "Demi apa Duplikat L.K ngirim seorang Zaim Alfarezi cuma buat minta penjelasan dari gue?"


"Bu–"


"Jangan-jangan Duplikat L.K bukan polisi kaya Pak Bastian tapi pengusaha tajir melintir kaya Zaim Alfarezi?" Nia menyela ucapan Zaim sambil memandangi Zaim dari ujung kepala sampai kaki. "Atau jangan-jangan Duplikat L.K artis?"


"Tu–"


"Kita kenalan dulu, Kak." Nia melepeh permen seribuan itu ke sembarang tempat, lalu mengajak Zaim berjabat tangan. "Saya Nia. Pacar onlinenya Duplikat L.K. Kakak juga pasti temennya Duplikat L.K kaya Pak Bastian kan? Yang sekarang lagi dalam misi nganter pesan Duplikat L.K buat saya. Iya kan?"


Zaim menghela napas seraya menyambut jabatan tangan Nia. "Iya."


"Omg-omg, makin penasaran banget sama Duplikat L.K. Kemaren ngirim polisi, sekarang ngirim pengusaha tajir. Besok-besok ngirim apalagi omg-omg."


"Gak ada besok-besok," sahut Zaim. "Maksudnya, Duplikat L.K bilang gak ada besok-besok. Gitu, maksudnya." Zaim berdeham.


"Terus apalagi pesan Duplikat L.K buat saya?"


Zaim berdeham lagi. "Duplikat L.K juga mau tau alesan kamu be–"


Perkataan Zaim terjeda, namun kali ini bukan sebab kesalahkaprahan Nia yang lain melainkan karena kemunculan Ikbal. Ya, kemunculan Ikbal yang tiba-tiba membuat Nia refleks menarik Zaim untuk bersembunyi di sela-sela gerbang rumahnya dan rumah sebelah. Tentu saja tempat persembunyian itu sangat sempit, buktinya baik Zaim pun Nia sama-sama bisa merasakan bagian khusus tubuh masing-masing.


"Bisa geser se–"


"Ini roti sobek, Kak?" tanya Nia seraya meraba-raba perut Zaim. "Kok bisa pulen banget?" Nia mendongak menatap Zaim, menuntut jawaban atas tanya liarnya sesegera mungkin.


"Kamu aslinya emang kaya gini?"


Nia mengangguk-angguk. "Boleh liat gak, Kak?"


"Hah? Maksudnya li–"


"Kakak tuh yang nolongin saya di gang curut waktu itu bukan sih?" Nia melirik tato kecil yang menghiasi jari-jari tangan Zaim. "Soalnya saya inget di mana ta–"


"Bisa geser sedikit? Kalo saya yang geser kamu yang repot loh."

__ADS_1


DEG DEG DEG


__ADS_2