
“Kalo lu mau ngasih tau siapa ayah dari anak yang dikandung Kasih, Kakek juga bakal ngasih tau ke mana Ushi bakal pindah. Gimana? Deal?"
“Masa lu gak tau?” Zaim beranjak. “Gua paling gak suka revisian. Jadi bilang sama Kakek gua maunya barter yang pertama.”
“Kakek yang gak mau.”
“Yaudah kalo gitu gak usah barter. Gampang kan?” sahut Zaim sembari mengenakan jasnya yang tersampir di punggung sofa.
“Tapi serius lu gak bakal nyesel?”
“Harusnya lu nanya gitu sama Kakek.” Zaim menoleh pada Hendri. “Masa lu juga gak tau? Selama gua gak bilang iya, gak bakal ada yang bisa tau siapa ayah dari anak yang dikandung Kasih.”
Zaim berlalu menuju ruang rapat, meninggalkan Hendri dan Nisma yang baru saja datang di ruang kerjanya. Meski raga Zaim ada di ruang rapat yang sangat dingin itu, tetapi pikirannya melalangbuana ke mana-mana. Sebenarnya apa alasan Ushi ingin pindah diam-diam? Lalu ke mana Ushi berencana untuk pindah? Dan mungkinkah alasan kepindahan Ushi tersebut ada hubungannya dengan Safi? Atau malah, Al Hakam?
Tidak bisa. Demi apapun Zaim tidak bisa lagi meredam rasa ingin tahunya. Terbukti dari Zaim yang langsung menelepon Ushi tak lama setelah dirinya mengakhiri rapat. Namun tak ada jawaban. Zaim pun berganti menelepon Bastian yang tengah dalam misi mengawal sang kekasih diam-diam, berniat menanyakan keberadaan Ushi yang mungkin saja sedang ada bersama Nia. Tetapi sama saja, tidak ada jwaban. Sialan!
Merasa tak memiliki pilihan untuk menenangkan rasa ingin tahunya, Zaim pun pergi menemui Ushi ke tempat kerjanya, Legend Studio. Saat Zaim tiba di sana, terlihat Ushi tengah berlari ke sana ke mari, sibuk mengurus ini itu. Zaim bisa saja langsung menemui Ushi dan memaksanya meluangkan waktu, namun menunggu hingga calon mertuanya itu sedikit senggang rasanya tidak terlalu buruk. Namun.
“Ada-ada aja,” ujar seorang kurir muda sembari menunduk memeriksa tiap-tiap pelat mobil di area parkir Legend Studio. “Masa disuruh naro paketnya di kap mobil? Siapa sih penerimanya?” Si kurir membaca tulisan yang tertera pada paket seukuran tisu 220 sheet itu. “Ushi Widhi-”
“Boleh saya bantu?”
“Eh? Pak Zaim? Pak Zaim Alfarezi ya?” Si kurir menunjuk Zaim yang baru saja keluar dari mobilnya.
“Iya. Boleh saya bantu?”
“Boleh banget sih, Pak. Tapi emang Bapak kenal sama Ushi Widhiani?”
“Masa sama camer sendiri gak kenal,” balas Zaim.
“Eh? Camer?” Si kurir diam sesaat, lalu tiba-tiba menepok jidatnya keras. “Oh iya. Ushi Widhiani kan ibunya pacarnya Pak Zaim ya. Maaf-maaf, Pak.”
“Kalo beneran lupa mah gak perlu minta maaf.” Zaim tersenyum seraya menepuk pundak si kurir berulang kali. “Kayanya mobilnya gak di parkir di sini.” Zaim menyelisik area parkir. “Coba cari di basement. Platnya no-”
“Duh saya buru-buru, Pak Zaim,” sela si kurir. “Soalnya masih ada satu paket yang harus saya anter dan tempatnya jauh banget. Tolong Pak Zaim aja ya yang ngasih paketnya.”
“Oke. Tapi konfirmasi juga ke Bu Ushinya ya.”
__ADS_1
“Siap, Pak. Makasih banyak ya, Pak Zaim. Kalo gitu saya permisi.” Si kurir berlalu.
Pandangan Zaim yang semula tertuju pada kurir muda yang berjalan setengah berlari itu kini beralih pada paket berbobot sangat ringan dalam genggamannya. Zaim membolak-balik paket milik Ushi, sambil melangkah menuju parkiran basement. Namun tiba-tiba saja Ushi muncul dengan napas tersengal, dan merampas paket tersebut sembari melontarkan penjelasan yang bahkan tidak Zaim minta.
“Ini paket temen saya. Bukan punya saya. Intinya ...”
...•▪•▪•▪•▪•...
Dalam perjalanan menuju salah satu restoran pinggir pantai paling terkenal itu, Zaim sama sekali tidak fokus. Tak hanya tidak fokus mendengarkan sang kekasih yang tak henti mengoceh tetapi juga tidak fokus menginjak gas mobilnya. Lagi-lagi pikiran Zaim ada di tempat lain, tepatnya di studio Ushi. Jujur saja sampai saat ini Zaim masih memikirkan maksud sikap Ushi sore tadi.
*FLASHBACK ON*
“ ... Intinya ini bukan apa-apa.” Ushi memeluk paketnya.
“Saya juga gak bilang apa-apa kan, Bu.”
Ushi berdeham, “Tapi seenggaknya kamu pasti penasaran isinya apa kan?”
“Iya tapi gak sepenasaran itu juga sih, Bu.”
Ushi berdeham lagi. “Isinya cuma barang yang susah dicari di Jakarta kok. Udah itu aja."
Ushi masih berdeham, “Kamu baca? Maksud saya tulisan di paket ini?”
“Iya saya baca tapi cuma sekilas.”
Ushi refleks menghela napas lega, pun senyum yang tak kalah lega.
“Tapi saya bisa inget bahkan tiga halaman koran biarpun cuma saya baca sekilas,” imbuh Zaim.
DEG
“Mau saya buktiin, Bu?”
DEG DEG
Zaim masih melanjutkan, “Pengirim, Edo Nugroho. Alamat, Perumahan Karang Asem Raya 11 Blok H Rt 008 Rw 08 Kelurahan Londobondo Kecamatan Gersing Semarang. Nomer telfon, 081100011100. Alamat kantor ...”
__ADS_1
*FLASHBACK OFF*
“Za!” seru Nia.
“Oh iya, Sayang. Kenapa?”
“Fix kamu gak dengerin aku.”
“Maaf, Sayang. Tadi aku la-”
“Pinggirin mobilnya,” sela Nia. “Ke situ cepet.”
“Tapi kan kita mau makan, Sa-”
“Cepet gak?” sela Nia lagi, sambil menekan setiap huruf yang dilontarkannya.
Perasaan Zaim mendadak campur aduk, khawatir kalau-kalau Nia marah karena merasa diabaikan. Meski begitu Zaim tetap menepikan mobilnya ke bahu jalan. Hening sempat merajai selama sekian detik, namun langsung mencair ketika Nia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah Zaim sangka. Bukan, bukan putus. Apalagi marah yang dibuat-buat seperti anak SMA yang terlambat puber!
“Selama ini tuh aku merhatiin kamu tau. Kamu kaya banyak pikiran banget. Dan menurut aku bukan soal kerjaan.” Nia menoleh pada Zaim. “Kamu gak nganggep aku kentang kan?”
Spontan Zaim menahan tawanya. “Kok kentang?”
“Ya terus? Mbote*?” Nia menghela napas. “Aku tuh nunggu kamu sharing sama aku tapi gak sharing-sharing. Mana aku juga gak bisa maksa kamu buat sharing karna takut gak bisa ngasih solusi lagi. Tapi seenggaknya kan aku bisa jadi pendengar. Iya kan?”
*Mbote termasuk jenis umbi-umbian yang tumbuh subur di Jawa. Mbote terlihat hampir sama seperti lobak dengan bentuk bulat dan kulit berserat. Rata-rata setiap mbote memiliki bobot hingga dua kilogram.
“Sayang, de-”
“Pacaran tuh gak melulu soal kencan atau kontak fisik tapi juga sharing. Sharing dong sama aku. Mau itu masalah kerjaan, masalah pribadi atau masalah yang lain. Kamu pacaran sama aku gak cuma mau kencan sama kontak fisik doang kan?”
“Iya.”
“Serius dih.” Nia memukul Zaim.
“Iya aku serius. Kencan aku suka. Tapi yang lebih aku suka kontak fisik.”
Nia yang kehilangan kata-kata hanya bisa merespon Zaim dengan pukulan bertubi. Namun alih-alih meminta maaf demi mengakui kesalahannya, Zaim malah melepaskan tawa geli yang sedari tadi ditahannya setengah mati, dan rela dijadikan samsak tinju oleh sang kekasih. Luar biasa. Apakah ini bukti ucapan para puitis yang kerapkali dicap pembual? Bahwa kata-kata orang yang kita cintai bisa menjadi obat mujarab untuk hati yang tengah dilanda risau?
__ADS_1
“Makasih, Sayang,” tambah Zaim seraya meraih sebelah tangan Nia dan mengecupnya. “Cukup pegang tangan aku aja buat apapun yang bakal terjadi. Janji?”
Nia mengangguk. “Janji.”