
"Nyebarin apa?"
"Hah?"
"Kok hah sih? Ibu tanya nyebarin apaan?" tanya Ushi lagi, seraya berjalan mendekati Nia.
"Wah gawat nih kalo Ibu sampe tau soal foto-foto aib gue yang kesebar di medsos. Ibu pasti murka. Eh, ngomong-ngomong soal pelakunya siapa ya kira-kira? Pelakunya pasti pernah masuk kamar gue. Kalo yang pernah masuk kamar gue ya Ibu, Vina, Ikbal, Zaim, Kak Bunga, tunggu. Masa iya Kak Bunga?" batin Nia.
*FLASHBACK ON*
"Ramein dong grupnya."
"Oke-oke." Vina mulai mengetikkan sesuatu. "Salam dulu lah ya basa-basi. Ceritanya kan gue anggota baru."
Elvina : Hai semua salam kenal. Makasih udah diizinin gabung ya ❤
Salwa : Hi, Elvina. Selamat bergabung.
Puji : Met gabung, Elvina. Dijamin gak bakal nyesel gabung di grup kita. Soalnya grup kita paling lurus.
Jessica : Kaya Zaim Alfarezi kita yang selalu lurus.
Aiko : Sekalipun doi ngambil jalan yang menyimpang pun, dedek tetep cintrong.
Siti : Udah siap jual soang nih ke pasar. Sharelock alamat kantornya Zaim Alfarezi dong. Serius ini aku.
Maya : Tinggal di mana, Elvina?"
Elvina : Aku tinggal di Bojong, Kak.
Septi : Jauh gais. Aku di Depok."
Anjani : Sama aku juga warga Depok. Tapi banyak juga yang dari luar kota, Elvina. Ada yang anak Binjai bahkan NTT.
Yeshi : Selamat bergabung, Dek.
Salwa : Loh kalian udah pada kenal?
Yeshi : Kita satu sekolah. Elvina junior aku.
Puji : Yeshi bukannya sekolah di Andalan Teladan ya?
Yeshi : Betul.
Jessica : Oh kalian anak-anak holkay rupanya wkwk. Btw, aslinya Yesenia Eve tuh beneran secakep itu gak sih?
Yeshi : Cakep banget. Baik. Ramah. Gak sombong. Pokoknya ples-plesnya banyak.
Aiko : Cocok udah sama Zaim Alfarezi kita gais.
Putri : Iya sih dia emang cakep. Gue akuin. Tapi baju-bajunya norak. Terus masih pake celana dalem yang motifnya stroberi 🤣 Dan nilainya dia tuh jeblok semua. Terus yang bakal bikin kalian shock, foto pas dia kecil kaya kekurangan gizi."
Siti : Astagfirullah. Siapa sih nih? Kok aku gak kenal ada member yang begini.
Putri : Heh. Gue juga ogah kenal sama lu. Nama lu aja norak iyuh.
Maya : Tolong tag admin. Tolong dikick dong ini member. Gak pernah nyapa gak pernah nongol gak pernah sharing eh tiba-tiba nongol malah bikin rusuh.
Putri : Gak perlu repot-repot ngetag admin, Beb. Harga diri gue mau ditaro mana sampe mau dikick dari grup receh macem grup ini. Lagian gue ngomong fakta kok. Foto-fotonya udah gue apus sih. Coba kalo belom, kalian pasti pada bakal sungkem sama gue. Bye 😎
Septi : Dih, siapa sih tuh member? Gaje banget.
Sofia : Bunga. Temen sekampus gue. Dia fans fanatiknya Zaim Alfarezi. Dia emang sus. Pokoknya muka sama karakternya beda jauh. Bagus deh dia left group. Gue jadi leluasa nimbrung sekarang.
__ADS_1
Vina menoleh pada Nia. "Nya, lu gak apa-apa kan?"
Nia mengangguk-angguk. "Tapi Bunga yang lagi diomongin mereka bukan Kak Bunga mantan pacarnya Ikbal kan?"
"Bentar gue save nomernya. Biar fotonya muncul ples biar kita tau dia Bunga yang mana."
"Iya coba, Vin."
Setelah nomor wh*tsapp yang diberi nama Bunga Sus itu tersimpan, foto profil pemiliknya pun muncul. Dan betapa terkejutnya Nia dan Vina ketika potret wanita yang berpose seperti sedang sakit gigi itu adalah benar Bunga yang itu. Bunga mantan kekasih Ikbal yang wajahnya sepolos Jisoo Blackpink!
"Tapi kok dia bisa sampe tau kalo cd gue motifnya stroberi sih?"
"Bentar-bentar." Vina tampak berpikir. "Waktu itu dia ke rumah lu nyariin Ikbal. Tapi Ikbal gak ada. Terus lu pergi dinner kan tuh sama Zaim. Otomatis sendirian doang dong dia di ru–, anjir. Fix, dia masuk kamar lu, Nya."
*FLASHBACK ON*
" … Kamu gak boleh buka-buka hp orang sembarangan. Apalagi orang itu polisi. Denger gak?"
"Oh iya, Bu, denger-denger." Nia tersenyum paksa seraya kembali membatin, "Fix pelakunya Kak Bunga ini mah. Dia kenapa sih sama gue. Sensi banget anjir."
" … Siniin."
"Hah?"
"Hah hah mulu dari tadi kamu tuh." Ushi mengambil ponsel Edo dari genggaman Nia. "Siniin itu hpnya Om Edo. Liat apaan sih ka-, eh, ini apa? Loh ini bukannya foto waktu kamu TK? Terus ini juga foto cd kamu kan? Loh, ini juga bukannya foto ulangan kamu? Ini apa maksudnya? Siapa yang posting?"
Nia yang terjebak sesaat pada pikirannya yang ke mana-mana selama sekian detik itu mengabaikan berondongan tanya dari sang ibu. Wajar. Nia belum puas mengutuk kelakuan Bunga dalam benaknya dan malah kecolongan. Seharusnya Nia mengantongi dulu ponsel Edo karena tahu betul dibanding siapa pun jika Ushi sejuta kali lipat lebih kepo dari Vina dan, memiliki bakat merampas sesuatu secepat ninja!
"Kamu gak perlu jawab kok," tambah Ushi.
"Ibu mau ke mana?"
"Balik ke Jakarta. Ibu mau cari tau siapa pelakunya."
"Ya itu kan urusan Zaim bukan urusan Ibu."
"Terus Ibu mau ngapain kalo udah tau siapa pelakunya?"
Ushi refleks balik kanan. "Udah jelas kan? Bakal Ibu hajar."
"Terus Ibu mau dihajar balik?"
"Ya coba aja kalo dia berani."
"Maksud aku dihajar balik sama karma."
Lidah Ushi seketika keriting mendengar apa yang baru saja dikatakan Nia.
"Siapapun pelakunya aku ikhlas, Bu. Aku gak mau bales. Kenapa? Karna kalo aku bales dan balesnya itu bales jahat, kelak aku juga bakal dijahatin orang. Gak apa-apa kalo aku yang dijahatin. Tapi kalo Ibu yang dijahatin? Atau Ikbal? Aku gak mau," imbuh Nia.
Ushi masih membisu. Bagaimana tidak? Lidahnya masih keriting. Bahkan, semakin keriting!
Nia masih melanjutkan, "Karma itu nyata, Bu. Jadi kalo mau nantangin karma. Tantangin aja karma yang baik-baik. Ya?"
...•▪•▪•▪•▪•...
Karena Nia, Ushi dan yang lain sudah mengetahui berita viral tentang foto-foto pribadi Nia yang tersebar di semua jejaring sosial, Pak Kades beserta keluarganya pun kembali ke Desa Bukit Pelangi dengan membawa serta cahaya. Ya, cahaya, alias listrik. Listrik di Desa Bukit Pelangi yang sengaja diputus agar Nia, Vina, Ikbal dan terutama Ushi tidak bisa menggunakan ponsel akhirnya kembali menyala.
Pun ponsel Nia serta yang lain yang ternyata tidak terjebak di rumah Pak Kades melainkan disimpan dengan aman oleh Edo, akhirnya juga kembali ke pemilik masing-masing. Meski begitu situasi tak membaik dan malah sebaliknya, kacau! Ushi terus memaksa pulang ke Jakarta. Namun beruntungnya tidak ada ojek maupun taksi online yang bersedia menjemput Ushi meski sudah diiming-imingi ongkos berjumlah fantastis.
" … Yang bener aja kamu, Shi. Masa nganterin dari sini ke Jakarta sejuta. Penipuan itu mah."
"Gak apa-apa yang penting bisa balik," balas Ushi pada Edo.
__ADS_1
"Duh, Bu. Ntar aja sih nungguin Kak Zaim. Lagian Ibu tuh mau ngapain sih pulang cepet-cepet?"
Spontan Ushi menghentikan gerak sibuk tangannya yang tengah berkemas, lalu menoleh pada Ikbal. "Kok mau ngapain sih? Mau gundulin pelaku penyebaran foto-fotonya si Nialah. Masa mau makan nasi uduknya Bu Jum?"
"Tapi ini udah malem loh, Tan. Emang Tante berani nurunin jalanan setapak sendirian? Terus ini malem jumat, Tan, dan ini di dalem hutan. Tante gak lupa kan sama ceritanya Bu Kades? Soal warga desa yang arwahnya masih gentayangan sampe sekarang karna meninggal gak wajar itu loh."
"Kayanya Ibu lupa deh, Vin," timpal Nia pada Vina. "Mending kita masak mie aja deh, Bu. Mie seafood. Kan hari ini Om Edo sama Ikbal dapet udang banyak."
"Nah bener banget tuh kata Nia, Shi. Udahlah jangan aneh-aneh. Kalo kamu nekat pulang sekarang endingnya cuma dua. Kesurupan atau ditipu sa–"
"Yaudah kan bisa besok pulangnya," sela Ushi pada Edo. "Kalo pagi gak mungkin ada setan kan? Terus kalo soal ditipu mah gak masalah. Duit sejuta bisa aku cari lagi. Toh …"
Dan benar saja. Esoknya Ushi kembali membuat drama dengan setting yang sama, tokoh yang sama, dan tentu saja, judul yang sama, KEKUKUHAN SEORANG IBU UNTUK MENGGUNDULI PELAKU PENYEBAR FOTO-FOTO PUTRINYA. Meski situasi di Pondok Bukit Pelangi semakin kacau setiap detiknya, situasi di rumah sakit di mana Nisma dirawat saat ini jauh lebih kacau!
" … Saya mohon, Pak. Tolong jangan kasih tau media kalo Bunga itu pelaku penyebar foto-fotonya pacar Bapak. Karna gangguan kecemasannya bisa kambuh."
Zaim masih membisu, pun Bastian yang sejak berita viral tentang Nia tersebar selalu menempel di samping Zaim seperti lem tikus.
" … Saya janji, Pak. Saya bakal resign dan ninggalin Jakarta kalo Bunga udah ketangkep," imbuh Nisma.
"Masalahnya media udah gak bisa dihandle pake duit, Nis. Foto-foto pribadinya Nia tuh udah kesebar sampe mancanegara. Dan cara satu-satunya ngehentiin itu cuma dengan ngasih tau kalo Adek kamu pelakunya."
"Tapi Pak Bastian, Bunga punya gangguan kecemasan. Di–"
"Tahan dulu," sela Zaim pada Nisma sembari memberi kode dirinya yang hendak menjawab telepon. "Halo, Bu Ushi."
"Saya mau nanya, Za." Suara Ushi terdengar murka.
"Silahkan, Bu."
"Pelakunya si kloningan dajjal itu kan?"
"Kloningan dajjal?" tanya Zaim ragu.
"Iya. Ituloh mantan pacarnya Ikbal. Bunga. Iya kan?"
"Iya, Bu."
"Udah saya duga. Pas banget ya dia saya namain kloningan dajjal. Terus, udah ketangkep belom?"
"Masih dalam pencarian, Bu."
"Saya punya pesen buat dia. Tolong sampein ya kalo dia udah ketangkep?"
"Saya janji, Bu."
Ushi diam sesaat sebelum akhirnya menyampaikan pesannya. "Saya bisa aja bales perbuatannya. Tapi bener apa kata Nia. Karma tuh harus dihentiin sama ikhlas. Kalo gak, ya bakal muter-muter aja di kita. Saya gak mau gitu. Jadi saya mutusin buat ikhlas. Tapi kalo sekali lagi dia ngerugiin Nia, saya bakal nantang karma."
"Baik, Bu. Langsung saya sampein kalo dia udah ketangkep."
"Makasih."
Zaim termangu mengingat sekian menit telepon murkanya dengan Ushi. Meski begitu Zaim memaksa dirinya agar tak terombang-ambing lebih lama. Zaim pun mengantongi kembali ponselnya, dan melanjutkan obrolannya dengan calon mantan sekretarisnya dan robot setianya. Namun belum sempat Zaim mengucap satu huruf, robot setianya yang lain, Jani, tiba-tiba saja menerobos kamar rawat Nisma.
"Za."
Zaim menghela napas kasar. "Laporin."
"Fotonya Bunga udah dirilis sama pihak kepolisian."
"Hah? Kok bisa? Siapa yang rilis?"
"Monaco," jawab Jani pada Bastian.
__ADS_1
DEG