
"Bu Lily, apa benar dia putrimu?" tanya Mamih Mira, yang kebetulan berdampingan duduk dengannya.
"Iya, dia memang putriku. Emangnya kenapa?" tanya balik bu Lily.
"Tidak apa-apa sih, cuma nanya saja kok. Lagian, kenapa bu Lily enggak pernah bercerita padaku kalau bu Lily punya seorang anak perawan," ucap Mamih Mira, sambi menatap bu Lily.
Bu Lily hanya tersenyum saat mendengar perkataan Mamih Mira.
"Kenapa Bu Lily malah tersenyum? Ada yang salah ya, dengan ucapanku?" tanya Mamih Mira, merasa aneh.
"Enggak ada yang salah kok dengan perkataanmu," ucap bu Lily.
"Terus, kenapa dong?" tanya Mamih Mira.
"Putriku itu, sekarang bukan perawan lagi kok," ucap Mamih Mira.
"Maksudnya?" Mamih Mira benar-benar tidak mengerti.
"Putriku sudah menikah, tapi sekarang ...," ucapan Ibu Lily sengaja di gantung, lalu menatap Tika yang kini sedang berada di atas panggung bersama ayah efendy sedang memperkenalkan diri.
"Tapi sekarang apa Bu?" tanya Mamih Mira.
"Pernikahannya tidak seperti yang di harapkan orang-orang, dan putriku berstatus janda sekarang," ucap bu Lily, sambil tersenyum sinis saat mengingat kegagalan putrinya dalam berumah tangga.
"Oh gitu maksudnya," ucap Mamih Mira sambil menganggukan kepala.
"Heem." jawab bu Lily.
Aku akan manfaatkan semua ini. Mendekatkan putraku dengan si janda itu. Bukankah, mereka saling mencintai bukan? batin Mamih Mira, sambil tersenyum menyeringai.
***
Acara sambutan, serta memperkenalkan putrinya ke publik kini sudah selesai. Ayah Efendy pun mempersilahkan kepada tamu undangan yang hadir untuk mempersilahkan menikmati hindangan yang sudah di siapkan oleh para Chef handalannya.
Para tamu undangan pun dengan segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuannya yang memiliki hak dalam acara tersebut. Ada yang makan langsung makan, ada yang hanya menikmati minum saja dan lain-lain.
Saat Tika akan menghampiri Ibunya yang sedang berbincang-bincang dengan rekannya, tiba-tiba Chandra datang menghampiri dirinya.
"Tika ...," panggil Chandra, sambil berjalan menghampiri Tika.
Tika kemudian berbalik badan, dan menatap seseorang yang memanggil dirinya.
"Iya ada apa ya?" tanya Tika, sambil menatap Chandra.
"Aku cuma mau ngucapin sama kamu, selamat ya, semoga sukses selalu dan makin berkembang pesat," ucap Chandra, sambil tersenyum, dan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Tika pun menatap tangan Chandra yang mengulurkan kepada dirinya,"terima kasih." jawab Tika sambil membalas uluran tangan Chandra, lalu melepaskannya kembali.
Chandra hanya tersenyum simpul, sambil menatap wajah cantik mantan istrinya tersebut.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu, karena masih banyak urusan yang lain." ucap Tika.
"Iya silahkan Tika." jawab Chandra.
Tika dengan segera melangkahkan kakinya kembali menghampiri Ibunya. Ketika Tika terus melangkahkan kakinya, banyak para tamu undangan yang mengucapkan selamat padanya.
Tiba-tiba seseorang mencoba memegang tangan Tika, dan membuat langkah Tika terhenti. Betapa terkejutnya Tika saat mengetahui seseorang yang telah memegang tangan dirinya.
"Andrew?" tanya Tika, merasa terkejut sambil menatap tangannya yang di pegang oleh Andrew.
"Iya, kenapa cantik?" ucap Andrew, sambil mengerlipkan satu matanya.
"Astaga ... ih genit banget kamu jadi orang," Tika, sambil menghempaskan tangan Andrew yang memegang tangan dirinya.
"Siapa sih yang tidak bakal genit, bila menatap wanita secantik dirimu," goda Andrew sambil menatap Tika.
"Ih bulsit, genit lagi. Pakai pegang-pegang tanganku lagi," gerutu Tika, merasa kesal terhadap Andrew.
"Emm ... sombong nih ceritanya, mentang-mentang perusahaan ayahmu ada di tanganmu sekarang ya," sindir Andrew, terhadap Tika.
"Sorry aku cuma bercanda kok. Lagi pula, kamu orangnya baik banget kok, tidak sombong lagi," ucap Andrew, sambil tersenyum.
"Iss ... menyebalkan tahu." ucap Tika.
"Ini orang maunya apa sih, di puji malah bicara kalau aku menyebalkan lagi. Maunya apa sih, mbak cantik?" ucap Andrew merasa serba salah.
"Iss, malah panggil aku, mbak lagi. Panggil aku, Tika." Protes Tika.
"Yaelah, serba salah mulu lagi." ucap Andrew sambi menepuk jidatnya sendiri.
"Makanya kalau bicara tuh yang benar," ucap Tika, sambil menatap Andrew.
"Emangnya, dari tadi aku salah ya bicaranya? Sampai dimatamu aku salah terus," ucap Andrew pura-pura sedih.
"Lebay deh. Aku tahu, kamu tuh cuma pura-pura sedih di depanku biar aku kasihan sama kamu kan?" ucapn Tika, sambil menaikan satu alisnya.
"Ih aku gemes banget sama kamu tahu enggak, pingin nyubit pipimu, bolehkan?" tanya Andrew, terhadap Tika.
"Tidak boleh! Jangan macam-macam loh, aku disini ratu loh bisa membuatmu malu karena sudah berani macam-macam," Tika menyombongkan diri.
"Ih malah ngancam lagi. Habisnya, aku tuh gemes sama kamu, dari tadi aku bicara padamu salah terus. Iya aku tahu, kamu ratu yang paling cantik disini." ucap Andrew, dengan ekspesi kesal.
__ADS_1
Hhahaha ... Tika malah tertawa sambil memegang bibirnya yang terbuka dengan tangan.
"Ini orang, malah tertawa lagi. Ada yang lucu lagi ya?" tanya Andrew, merasa bingung sambil menggaruk tekuk lehernya yang tidak gatal.
"Tidak ada yang lucu," jawab Tika, kemudian tersenyum kepada Andrew.
"Terus?" tanya Andrew lagi.
"Terus apanya?" tanya balik Tika.
"Ya ampun ini orang benar-benar pingin aku cubit nih pipinya, gemes tau enggak," gerutu Andrew.
Tika malah kembali tertawa kembali
Mana tahan lihat tawanya, manis banget. Apalagi ini orang sudah cantik nih batin Andrew menganggumi Tika.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Kamu pasti merasa menganggumiku kan karenaku cantik," ucap Tika dengan menyombongkan diri.
"Iya memang benar apa yang kamu ucapkan, kalau aku memang mengagumi." jawab Andrew dengan jujur.
"Bisa saja kamu ini kalau bicara. Sorry ya pak Andrew, aku tadi cuma bercanda kok," ucap Tika, kemudian tersenyum terhadap Andrew.
"Oh, jadi kami tadi sengaja buat aku kesal begitu? emm ... kurang ajar ya," ucap Andrew, sambil melotot terhadap Tika.
"Kan aku sudah minta maaf. Pak Andrew juga sama kan, tadi mau ngerjain aku kan? Makanya aku kerjain balik," ucap Tika, sambil menaik turunkan alisnya.
"Jadi kita imbas ya, jangan ada dendam ya," ucap Andrew.
"Dendam? Ngapain juga dendam lagi? Mulai ngaco lagi nih," ucap Tika.
"Namanya manusia kan, enggak tahu kan? Bisa saja menyimpan dendam."
"Aku orangnya tidak pendendam kok, tapi aku akan selalu ingat sampai kapan pun orang-orang yang pernah melukaiku," ucap Tika, tatapan matanya sekilas menatap seseorang yang sedang berbincang-bincang dengan orang lain.
Andrew pun seolah-olah tau apa yang dimaksud oleh Tika. Andrew hanya tersenyum terhadap Tika.
"Oya Tik, aku belum ngucapin sama kamu atas kesuksesan kamu selama ini. Selamat ya Tik, semoga makin berjaya, berkembang, dan tambah maju." ucap Andrew, sambil mengulurkan tangannya terhadap Tika.
"Iya Makasih pak Andrew." jawab Tika.
Saat Tika akan membalas uluran tanggan Andrew, tiba-tiba datang seseorang dengan segera menjabatkan tangannya ke tangan Tika.
Tika pun merasa terkejut saat seseorang tiba-tiba menjabatkan tangannya ke tangan dirinya, begitu pun dengan Andrew merasa terkejut.
Bersambung ....
__ADS_1