
"Tika ... tunggu." teriak Andrew, dengan segera beranjak dari tempat meja makannya.
"Jangan Ndrew, biarkanlah dia pergi sendiri," ucap Stella sambil menahan lengan tangan Andrew, sehingga langkah Andrew terhenti.
"Lepaskan tanganmu itu, dari tanganku. Lagi pula, kenapa kamu malah menahanku? Aku harus kejar dia, kasihan dia pergi sendiri." Andrew sambil menatap Stella.
"Justru itulah alasanku, mengapa menahanmu. Biarkan Tika pergi sendiri, supaya Tika bisa meluapkan amarah, dan pikirannya yang kacau dengan caranya sendiri." ucap Stella sambil menatap Andrew.
Andrew pun kemudian menatap Stella, dan berpikir sejenak. Ada benarnya juga apa yang di katakan Stella. Lalu Andrew pun duduk kembali, matanya menatap Chandra dan Vika yang kini masih ada di meja makan.
Andrew pun merasa bersalah terhadap Tika, karena telah mengajak Tika untuk makan di luar. Andai saja, memilih untuk makan di kantin, mungkin tidak akan terjadi kejadian seperti tadi, perdebatan antara Tika, Chandra dan istrinya yang baru.
Karena merasa tidak enak hati, Andrew menatap dirinya, dengan segera Chandra pun mengajak istrinya untuk pulang.
"Sayang, ayo kita pulang." ajak Chandra kepada istrinya.
"Baiklah Mas." jawab Vika.
__ADS_1
Chandra dan Vika pun dengan segera beranjak dari meja makannya, dan berjalan keluar dari restoran tersebut.
'Ck, menyebalkan sekali dia itu. Dasar pria menjijikan, dan juga istrinya tidak waras kali ya, pakai memfitnah orang segala,' guman Andrew di dalam hati sambil menatap punggung Chandra dan Vika yang kini sudah berada di depan pintu keluar.
"Oya Ndrew, bolehkah aku bertanya padamu?" ucap Stella kepada Andrew.
"Emangnya mau nanya apa?" tanya Andrew sambil menatap Stella.
"Sebenarnya, dia itu siapanya Tika sih?" tanya Stella merasa penasaran.
"Terus, kalau wanita itu siapanya dong? Jangan bilang, kalau wanita tersebut orang ketiga, alias pelakor dalam rumah tangganya Tika." ucap Stella sambil menatap Andrew.
"Apa yang kamu katakan memang benar, dia adalah istrinya Chandra. Dan mungkin bisa disebut juga penyebab hancur rumah tanggnya dia." Andrew menjelaskannya kepada Stella.
Stella merasa terkejut dengan perkataan Andrew, tangannya sambil menutup mulutnya yang tebuka.
"Kasihan sekali Tika. Berarti status dia, sebagai janda ya?" tanya Stella dengan hati-hati.
__ADS_1
"Iya memang betul, janda dengan anak satu." ucap Andrew.
"Oh, ternyata dia sudah mempunyai anak juga ya. Kasihan sekali, anaknya harus berpisah karena korban ke egoisan orangtuanya." ucap Stella merasa Iba.
"Tetapi Chandra lah, yang egois. Bagaimana bisa, mempunyai seorang istri cantik, dan juga anaknya cantik malah di sia-sia in. Dan malah ketahuan selingkuh dengan wanita yang kini berstatus sebagai istrinya." ucap Andrew sambil menyunggingkan senyuman tipis tapi meledek.
"Kamu tahu dari mana kalau dia-" ucap Stella terputus saat tiba-tiba Andrew memotong pembicaraannya.
"Sudahlah, ayo kita pulang. Lagi pula makan siangnya juga sudah habis. Dan aku harus segera ke kantor karena ada rapat sebentar lagi." ucap Andrew.
"Oke, baiklah. Makasih ya Ndrew, atas traktirannya." ucap Stella sambil tersenyum kepada Andrew.
"Iya." jawab Andrew dengan datar.
Sebenarnya Andrew terpaksa, mengajak Stella ikut makan bersamanya karena Tika yang menyuruhnya untuk di ajak. Mungkin Tika pikir, kalau Stella dan Andrew sudah tunangan. Padahal Stella baginya sudah di anggap sebagai adik, mereka bertemu saat Stella masih berstatus pacaran dengan ponakanya. Setelah Stella putus dengan ponakannya, Stella jatuh cinta kepada Andrew. Padahal Andrew sudah mengucapkan berapa kali, kalau dirinya tidak mencintainya, bahkan sudah beberapa kali menolak untuk jadi kekasihnya, dan menganggap sebagai adiknya sendiri. Tetapi Stella tidak mau mendengarkannya, dia tetap akan terus mengejar Andrew sampai jadi kekasihnya.
bersambung ....
__ADS_1