
"Flash back On#
Andrew dengan segera pergi dari tempat tersebut, saat tidak ada yang jualan makanan yang di pesan oleh Ibunya.
'Ya sudahlah, aku harus segera pergi dari sini, dan mencari di tempat lain, siapa tahu masih ada yang jualan,' gumam Andrew, dengan menyalakan mobilnya.
Saat Andrew, akan menjalankan mobilnya tiba-tiba, Andrew merasakan sesuatu yang tidak enak di perutnya.
'Aww, perutku sakit sekali. Pingin buang besar nih.' gumam Andrew, sambil memegang perutnya.
'Apakah disini ada toilet umum? Soalnya aku sudah tidak tahan lagi nih,' Andrew sambil menatap ke depan dan melihat, ke kiri dan kanan mencari toilet umum.
'Syukurlah disana ternyata ada toilet umum, ya sudah mending aku turun saja dari mobil,' Andrew dengan segera membuka kan pintunya, lalu turun dan mobil miliknya.
Andrew pun dengan segera berjalan menuju toilet umum.
15 menit kemudian ...
'Lega banget nih perut, ada-ada saja nih perut malam-malam gini, hadeuh minta ke air,' Andrew dengan menggelengkan kepala.
Andrew pun dengan segera berjalan menuju mobilnya. Tapi langkahnya terhenti saat Andrew menemukan sepatu seseorang di semak-semak rerumputan.
'Kok ada sepatu? Tapi kaya bukan sembarangan sepatu deh, kayaknya itu ada orangnya. Ya sudahlah, mending aku samperin saja,' gumam Andrew, sambil berjalan menuju tempat yang dimaksud.
Betapa terkejutnya Andrew saat sudah di tempat tersebut, dan mengetahui siapa orang tersebut.
"Chandra?" ucap Andrew, dengan terkejut. Tangannya sambil menutup mulutnya yang terbuka.
'Bagaimana bisa, Chandra seperti itu? Pasti ada sesuatu yang terjadi nih,' gumam Andrew, sambil menjongkongkan tubuhnya untuk memastikan keadaan Chandra.
'Masih bernapas? Artinya Chandra masih hidup. Siapa orang yang berani sekali membuat dia menjadi seperti itu,' geram Andrew, sambil menatap wajah Chandra, yang lembam dan penuh luka ringan.
__ADS_1
Tiba-tiba Chandra membuka kan matanya dengan perlahan, lalu netranya menatap wajah Andrew.
"Andrew? Aah ...," ucap Chandra dengan gugup karena menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
"Chandra, kamu sudah sadar? Syukurlah kalau begitu." ucap Andrew merasa bersyukur.
"Kamu harus nolongin Tika sekarang juga Ndrew, Tika dalam keadaan gawat Ndrew," ucap Chandra.
"Emangnya Tika kenapa Chandra?" tanya Andrew sambil mengerutkan keningnya, karena merasa penasaran.
"Tika, aww ...," Chandra meringis kesakitan, dan memutus pembicaraannya.
"Tika kenapa Chandra? Kamu kalau bicara yang benar dong!" Andrew, mulai merasakan sesuatu yang terjadi kepada Tika.
"Tika ...," Chandra menarik napasnya dengan lalu membuangnya dengan kasar, entah kenapa sangat sulit untuk mengatakannya karena sambil menahan sakitnya.
"Tika kenapa Chandra? Kamu kalau bicara terusin dong, jangan di putus-putus terus," Andrew mulai emosi, dan kesal.
"A-apa?" ucap Andrew merasa terkejut.
"I-iya," Chandra, kembali pingsan.
'Yaelah dia malah pingsan lagi, terus aku harus Tika kemana? Perasaan tadi ada mobil Tika deh, aku yakin pasti Tika masih ada di sekitar sini. Baiklah, sebelum aku mencari Tika, aku harus membawa dulu Chandra ke dalam mobilku,' gumam Andrew, dengan segera mengangkat tubuh Chandra.
'Iss sangat berat sekali. Kalau dia tidak begini, mana mau aku bawa dia ke dalam mobil,' gerutu Andrew, sambil menatap Chandra.
Setelah Andrew sampai di mobil miliknya, dengan segera Andrew memasukan Chandra ke dalam mobilnya.
'Sekarang aku harus Tika nih, aku yakin kalau Tika masih ada di sekitar sini,' gumam Andrew, dengan menutup kembali pintu mobilnya, dan meninggalkan Chandra sendirian di dalam mobil miliknya.
Saat Andrew mencari Tika, tiba-tiba Andrew tanpa di sengaja menemukan jam tangan milik Tika.
__ADS_1
'Bukannya, ini jam tangan milik Tika ya? Wah kurang ajar nih, pasti mereka ngapain-ngapain Tika nih. Aku tidak terima, bila sampai terjadi apa-apa sama Tika,' Andrew dengan mengepalkan kedua tangannya, dan merasa emosi.
Andrew pun sudah mencari kemana-mana, tapi tidak menemukan keberadaan Tika, dan tepat Andrew berhenti di rumah tua, yang tidak berpenghuni, dan angker tersebut.
'Kemana lagi aku harus mencari Tika? Kemana mereka membawa Tika lagi.' Andrew, sambil menatap rumah kosong tersebut.
'Apa jangan-jangan mereka ...," ucapan Andrew, sengaja terputus lalu dengan refleks Andrew berjalan masuk ke menuju rumah kosong tersebut.
Saat Andrew berjalan memasuki rumah kosong tersebut, satu persatu seluruh ruangan Andrew cari, dan tidak menemukan Tika.
Lalu Andrew bertemu dengan preman bernama Aryo, dia sedang bersiap siaga menjaga bosnya.
"Kamu siapa?!" bentak Aryo, sambil menatap tajam Andrew.
Andrew tidak menjawab perkataan Aryo, malah menoros Aryo, dan berjalan menuju kamar atas. Namun harus gagal, karena Aryo mencengkram kasar tangan Andrew.
"Kamu mau kemana hah? Berani sekali menorobosku!" bentak Aryo.
"Emangnya kamu punya hak atas rumah ini? Enggak ada kan!?" bentak kembali Andrew, kepada Aryo.
Tiba-tiba Andrew mendengar teriakan seorang perempuan yang meminta tolong, dan sangat mengenal suara tersebut.
"Tika? Ya, itu suara Tika, aku harus segera menolong dia!" Andrew, dengan segera menghempaskan tangan Aryo dengan kasar.
"Berani sekali rupanya kamu hah!" Aryo mencoba memukul Andrew, namun gagal karena Andrew, berhasil memukul balik Aryo.
Hingga akhirnya, Aryo tersungkur ke bawah lantai karena mendapat beberapa pukulan dari Andrew, yang membuat bibir, dan pipi aryo berdarah, serta perutnya mendapat pukulan yang sangat keras, dan kasar dari Andrew.
Andrew pun berjalan menuju kamar yang belum di cari, yaitu diatas lantai.
Saat Andrew, berada di depan kamar yang dimaksud, dengan segera Andrew menobrak pintu kamar tersebut, hingga akhirnya Andrew berhasil menyelamatkan Tika.
__ADS_1
Flash back off##