Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
119. Sarapan pagi


__ADS_3

Keesokan Harinya.


Tika terbangun dari tidurnya, lalu menatap jam dinding menunjukan pukul 6 pagi.


'Ya ampun, aku kesiangan terus! Aku harus segera ke air, membersihkan tubuhku,' gumam Tika, sambil beranjak dari tempat tidurnya.


Saat Tika, akan berjalan menuju kamar mandi, langkahnya terhenti saat menatap paper bag yang ditarus di atas meja.


'Apa ini? Wah, berani sekali ini orang masuk ke kamar saat aku masih tidur,' Tika, sambil membuka paper bag tersebut.


'Baju? Kira-kira ini dari siapa ya? Tapi lumayanlah buat ganti baju aku yang sobek ini, karena ulah si preman brengsek itu!' Tika dengan kembali menyimpan bajunya di atas ranjang.


Tika pun kembali melangkahkan kakinya, menuju kamar mandi.


15 menit kemudian.


Tika pun kini sudah selesai memakai kan baju yang ada di dalam paper bag tersebut, baju berlengan panjang berwarna biru muda, dan rok se bawah lutut.


'Apa-apaan ini? Kok kayak anak muda saja, memakai pakaian seperti ini. Tapi tidak apa-apalah, dari pada memakai baju sialan itu.' gerutu Tika merasa kesal, saat mengingat kejadian semalam hampir saja dirinya menjadi korban ****.


Tika pun dengan segera keluar dari kamar tersebut, dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.


**


Di tempat lain, kini Andrew sedang menyiapkan sarapan paginya untuk orang yang ada di rumah tersebut, dan tentunya untuk dirinya sendiri.


Andrew dengan cekatan mengambil minyak goreng, pisau mengiris bawang, daging dan menu lainnya untuk sarapan pagi.


'Semoga saja mereka suka dengan masakanku. Walaupun aku seorang pengusaha, aku juga seorang Chef yang tampan, dan kaya raya yaitu Chef Andrew wijaya,' gumam Andrew dengan membanggakan diri sendiri, kemudian tertawa renyah.


Andrew kembali memasak menu yang sudah di siapkan. Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam dapur.


"Dirimu pede sekali ya berkata seperti itu, sombong!" ucap Tika, sambil berjalan menghampiri Andrew.


"Eh Tika? Enggak apa-apa dong, sombong pada diri sendiri juga. Asalkan kita tidak boleh sombong sama orang lain saja," ucap Andrew, sambil menatap Tika.


"Iya, aku setuju dengan ucapanmu itu."


"Emmz ... oya, kamu anggun sekali dengan memakai baju itu," puji Andrew, sambil menatap Tika.

__ADS_1


"Ini baju kamu yang beli ya?" tanya Tika,  kepada Andrew.


"Iya, gimana suka kan?" ucap Andrew.


"Suka apanya? Bajunya kayak anak gadis tahu, enggak! Masa aku pakai baju kayak gini sih," protes Tika.


"Kalau enggak suka, kenapa kamu pakai baju itu? Lagi pula, emang iya kamu itu masih gadis tapi bukan perawan."


"Emmzz ... tuh, tau! Lagi pula terpaksa pakai baju ini, karena baju itu sobek karena ulah si preman gila itu," gerutu Tika, kepada Andrew.


"Oya, kamu itu kan seorang ceo, biasanya selalu ada pengawas yang mendampingimu. Kemana mereka? Kenapa membiarkan kamu sendirian di hotel."


"Mereka suruh aku pergi, soalnya kasihan menunggu lama. Aku kira si via bakal datang, nyatanya dia malah kasih harapan palsu!" Tika merasa kesal, kepada keponakannya tersebut.


"Kamu itu ada-ada saja deh, mereka itu di gajih jadi ya wajarlah 24 jam harus siaga jagain kamu," gerutu Andrew, sambil menatap Tika.


"Kamu itu kenapa sih? Marah-marah mulu sama aku. Lagian, itu hak-hak saya dong mau ngelakuin apa juga sama mereka."


"Iya, memang itu hak kamu. Tapi kamu tahu tidak, aku begitu sangat khawatir sama kamu kemarin! Aku mencari kamu kemana-mana, tapi tidak menemukanmu. Hati hampa, begitu takut jika sesuatu terjadi padamu, Tika," Andrew, sambil memegang kedua tangan Tika.


"Tapi kamu datang dengan tepat sekali, sehingga aku tidak di apa-apain sama preman gila itu. Terima kasih ya, kamu sudah menolong, dan menyelamatkanku," Tika sambil tersenyum kepada Andrew.


"Ini tangannya kenapa enggak di lepasin sih? Tuh lihat dagingnya agak sedikit gosong tuh," ucap Tika.


" Ya ampun aku lupa, kalau aku lagi masak," Andrew dengan segera melepaskan pegangan tangannya, lalu membalikan dagingnya dengan cukil.


Tika hanya menggelengkan kepala, dan tertawa renyah melihat Andrew.


Apakah kamu benar-benar sangat mencintai dan menyayangiku Ndrew? Segitu khawatir dan cemasnya kamu kepadaku? Kenapa kamu bisa jatuh cinta sama aku? Aku ini seorang janda, bukan gadis Ndrew! Kamu seharusnya mendapatkan seorang wanita yang masih virgin, bukan seperti aku! Maaf bukannya aku tidak ingin bersamamu, karena rasa traumaku yang membuatku takut untuk kembali lagi membina rumah tangga batin Tika, sambil menatap Andrew, yang kini sedang sibuk menggoreng.


"Kenapa sih natap aku mulu? Aku ganteng ya?" goda Andrew, kepada Tika.


"Ih pede banget ya, siapa lagi yang memandang kamu ," ucap Tika.


"Emmzz ... enggak mau jujur ya. Bilang saja iya."


"Sudah ah, lupakan sajalah. Aku bantu masak ya," Tika, dengan mengiris sayuran yang belum di potong.


"Boleh, biar cepat tuh."

__ADS_1


Tika pun kini sedang membantu Andrew memasak, dan mereka juga saling bergiliran untuk mengambil alih, kadang Tika memasak, sedangkan Andrew membantu yang lainnya.


****


Tika dan Andrew pun sudah selesai masak untuk sarapan paginya, lalu mereka menaruh makananya di atas meja makan.


"Akhirnya, beres juga ya. Tinggal kita sarapan deh," ucap Tika.


"Iya Tika," Andrew, sambil menganggukan kepala.


"Ya sudah aku mau cuci tangan dulu ya,  entah kenapa tanganku terasa lengket nih," Tika dengan segera melangkahkan kakinya menuju dapur. Tapi tiba-tiba Tika terjatuh ke bawah, karena merasa licin.


Andrew pun datang menolong Tika, sehingga Tika gagal jatuh ke bawah lantai, dan kini punggung tubuhnya di tahan oleh tangan kekar Andrew.


Mata hitam mereka pun kini saling menatap satu sama lain. Entah datang keberanian dari mana, hingga membuat Andrew terus mendekatkan wajahnya ke wajah Tika, sehingga hidung mancung mereka hampir bersentuhan.


Tika pun membulatkan matanya, karena merasa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Andrew. Entah kenapa Tika ingin menolak, dan mendorong Andrew tapi tidak bisa. Apalagi wajah Andrew yang terpancar begitu tampan, alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, serta kulitnya yang putih, memiliki bib*ir yang begitu tebal berwarna ke pink-an, siapa pun yang melihatnya pasti akan terpesona, apalagi Tika menatap Andrew sangat dekat.


Andrew pun semakin mendekatkan bibi*rnya, dan tiba-tiba ada seseorang yang berdehem dengan keras.


"Chandra?" ucap Tika, dan Andrew bersamaan, merasa terkejut. Lalu Tika mendorong tubuh Andrew dengan keras, sehingga membuat Andrew meringis kesakitan karena kepalanya terbentur tembok.


"Kalian lagi ngapain sih?" tanya Chandra, sambil menatap Tika dan Andrew bergantian.


"Anu, aku tadi-" ucapan Tika tergantung, karena entah kenapa tiba-tiba susah untuk menjelaskannya.


"Tika tadi mau cuci tangan, karena habis selesai membuat sarapan pagi. Dan tadi Tika hampir terjatuh karena licin makannnya aku bantuin tadi agar Tika tidak jatuh ke bawah," ucap Andrew, dengan kikuk.


"Iya benar, apa yang di ucapkan Andrew. Ya sudah aku mau cuci tangan dulu," ucap Tika dengan segera pergi menuju dapur.


Chandra masih menatap sinis dan tidak suka Andrew.


"Oya, aku sama tika tadi sudah nyiapin makan untuk sarapan, ayo kita makan." ajak Andrew.


Dia pikir, dia siapa di rumahku?  Sok berkuasa lagi. Lagi pula, mereka ngapain lagi pakai ada acara jatuh terus saling menatap, dan tadi hampir- batin Chandra tidak meneruskan perkataannya, karena merasa kesal bila memang terjadi.


"Kenapa diam? ayo kita makan." ajak Andrew kembali.


"Baiklah." Chandra, dengan segera berjalan menuju kursi makan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2