
"Air hangat buat apa Bu?" tanya Chika, tiba-tiba datang menghampiri Tika.
"Eh Sayang. Ini buat Ayah," jawab Tika, tersenyum kepada putrinya.
"Buat ayah? Emangnya ayah kenapa, Bu? Kenapa harus membawa air hangat sebaskom, Bu?" tanya Chika, dengan polosnya.
"Ayah, lagi demam Sayang. Makanya Ibu ambil air hangat untuk mengompres keningnya, semoga saja suhu tubuhnya menurun," jawab Tika.
"Oh gitu ya Bu."
"Iya. Ya sudah ayo, kita ke kamar Ibu kasihan Ayah tuh lagi sakit," ajak Tika.
"Nanti sajalah Bu, Chika ngantuk pingin tidur. Lagian, tadi siang Chika sudah main sama Ayah."
"Emangnya main apaan?"
"Main Boneka Bu. Ayah lucu saat meniru suara anak kecil, bikin Chika tertawa mulu." Chika, sambil membayangkan saat siang bermain dengan Andrew.
Chika, merasa terhibur saat Andrew memainkan boneka dengan meniru suara anak kecil. Padahal, kondisi Andrew sedang tidak sehat tapi demi membuat anaknya senang, Andrew, pun rela menerima ajakan putrinya untuk bermain boneka.
"Emm ... senang banget ya, mainnya?"
"Tentu saja senang, Bu. Ya sudah, Chika mau ke kamar dulu ya Bu, ngantuk nih."
"Iya Sayang, selamat tidur jangan lupa berdoa sebelum tidur."
"Iya, siap, Bu." Chika, dengan segera pergi dari hadapan Ibunya dan berjalan menuju kamar.
Tika, dengan segera berjalan menuju kamarnya dengan membawa sebaskom air hangat.
Saat Tika, sudah ada di dalam kamarnya dengan segera mengompres kening suaminya dengan kain.
Tika, terus mengompres berulang-ulang kening suaminya dan berhasil membuat suhu tubuh Andrew tidak terlalu panas.
__ADS_1
'Syukurlah, akhirnya suhunya sudah turun.' Tika, dengan mempelkan tangannya ke kening Andrew.
"Sayang ...," Andrew, membuka matanya lalu menatap istrinya yang kini berada di samping dirinya.
"Iya, Mas? Kenapa kamu tidak kasih kabar Aku, kalau kamu lagi sakit," Tika, menatap kesal suaminya.
"Lagian cuma sakit biasa, pusing sama mual mulu nih Yank," ucap Andrew.
"Walaupun cuma sakit biasa tapi tetap kasih kabar sama aku. Tubuhmu panas banget tadi, untungnya sudah aku kompres jadi tidak terlalu panas."
Andrew pun tersenyum dan merasa bahagia, ternyata istrinya masih perhatian kalau sedang sakit. Padahal, tadi pagi Tika sangat marah dan membenci dirinya.
"Terima kasih, Sayang. Oya, kamu tidak marah nih?" tanya Andrew.
"Marah? Emangnya kenapa harus marah?"
"Tadi pagi kan, kamu marah-marah mulu dan menyangka kalau Mas-" ucapan Andrew, harus teputus saat Tika, tiba-tiba memeluknya.
"Iya, tidak apa-apa Sayang. Sekarang kamu sudah tahukan, kalau Mas tidak mungkin melakukan apa-apa sama Lisa. Mas, cuma ingat terakhir minum kepala Mas, tiba-tiba pusing dan tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya," Andrew, mencoba menjelaskannya.
"Pas bangun tiba-tiba Lisa sudah ada di samping, Mas. Ini sungguh anehkan, Sayang," sambung Andrew, kembali.
"Iya karena kamu sudah di jebak sama wanita tidak tahu diri itu dan Lisa yang sengaja memasukan obat ke dalam ke gelasmu," lirih Tika.
"Tunggu dulu, kamu tahu dari mana, Sayang?"
Tika, dengan segera menceritakan saat dirinya tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Lisa dan temannya.
Andrew pun kini merasa geram dengan apa yang dilakukan oleh Lisa.
"Benar-benar kurang ajar! Lihat saja Lisa, aku akan pecat kamu!" Andrew, sangat marah.
"Tenang Mas, sabar," Tika, mencoba menenangkan suaminya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa sabar, Sayang, menghadapi wanita seperti dia. Lagian dia itu apa-apaan sih, pakai menjebakku segala. Aku sudah anggap dia sebagai adikku sendiri," gerutu Andrew merasa kesal.
"Adik apa adik ...? Karena Lisa, sudah jatuh cinta sama kamu. Dia akan melakukan cara agar kamu jadi milik dia.
"Serius Sayang, kamu mah mulai deh. Asal kamu tahu ya, Sayang. Hati dan cintaku hanya untukkmu. Tidak ada yang lain. Aku ingin hidup bersamamu selamanya," Andrew, dengan meraih tangan istrinya lalu menaruh di dada dirinya.
Tika, tersenyum dan merasa bahagia mendengar perkataan suaminya ,"terima kasih, Mas."
"Sudah malam, ayo, kita tidur," lirih Andrew, sambil menepuk tepat tidur untuk istrinya.
"Baiklah, Mas." Tika, dengan segera berjalan menuju tempat tidurnya, lalu berbaring di samping suaminya.
Andrew, tiba-tiba memeluk istrinya.
"Sudah lama aku tidak menyentuh tubuhmu, hangat sekali," celetuk Andrew.
"Iss apaan sih, Mas."
Andrew, kemudian menempelkan benda kenyalnya ke bi*bir istrinya.
Mereka pun kini saling membalas saat lid*ah mereka berada dimu*lut yang sama.
Andrew, tidak tinggal diam, tangannya menulusuri setiap inci tu*buh istrinya.
"Mas, kan lagi sakit?"
"Karena ada kamu, aku jadi sembuh. Sudah diamlah!"
Andrew melanjutkan kembali tangannya yang terhenti\, lalu menciu**m kembali bi*bir istrinya.
Mereka sama-sama terbakar hasratnya yang semakin membara.
Andrew dengan segera melepaskan baju istrinya lalu miliknya. Karena tidak bisa menahannya lagi, Andrew, dengan segera melakukan penyatuannya ke milik istrinya dan mereka pun kini sedang menikmati indahnya surga dunia.
__ADS_1