
Satu bulan pun begitu cepat berlalu. Di sebuah kamar desain minimalis, kini Tika sedang menatap cermin, dan sedang berdandan. Tika pun mengambil liptin lalu mengoleskannya sedikit ke bibir mungilnya. Kemudian mengambil bedak untuk di taburinya sedikit ke wajahnya dan memakai maskara untuk mempertebal bulu matanya yang lentik.
'Ya ampun, aku ini apa-apan ya? Sejak kapan aku jadi suka dandan? Padahal selama ini aku jarang berdandan, hanya seperlunya saja. Tapi entahlah apa yang membuat diriku jadi begini? Tapi masa bodohlah yang penting diriku senang' gumam Tika lalu menatap cermin kembali memastikan kalau dandannya tidak terlalu menor dan tidak acak-acakan.
'Kurasa sudah cukup nih, saatnya sarapan pagi sebelum berangkat kerja.' Lirih Tika sambil keluar dari kamarnya dan berjalan menuju meja makan, untuk sarapan pagi.
"Selamat pagi semuanya," sapa Tika terhadap Ibu, Ayah dan tentu anaknya Chika.
"Ya ampun Nek, itu siapa? Ibu atau bukan sih?" tanya Chika terhadap nenek Lily.
"Kayaknya bukan Ibumu deh, ini orangnya cantik banget ya. Mungkin ada orang nyasar kali ya datang kesini." Jawab bu Lily mencoba bercanda di pagi hari.
"Lalu ini siapa ya, kenapa ada disini?" tanya Ayah Efendy ikut nimbrung, matanya sambil menatap putrinya.
__ADS_1
"Mana Ibu tahu Yah. Coba tanya Chika, siapa dia?" bu Lily menanyakan kepada cucunya.
"Chika juga enggak tahu siapa dia," jawab Chika sambil mengindikan bahunya.
"Ya ampun, kalian jahat banget sama Tika seperti itu. Sampai pura-pura tidak mengenal Tika. Dan kamu lagi sayang, kenapa kamu pura-pura tidak mengenal Ibu hem? Tentu saja ini Ibumu, sudah siapa lagi hem?" tanya Tika pura-pura marah lalu berjalan menghampiri putrinya, dan duduk disampingnya.
"Maaf Bu, jangan marah. Chika cuma pura-pura saja kok hehe," ucap Chika sambil nyengir kuda."Tetapi memang benar Bu, Chika pangling banget sama Ibu. Habisnya Ibu kelihatan sangat cantik dan menawan, benarkan Nek?" tanya Chika terhadap nenek Lily.
"Entahlah Bu, yang pasti Tika merasa senang saja merawat tubuh dan wajah Tika." ucap Tika sambil menatap Ibunya.
"Baguslah kalau begitu. Justru kamu harus merawat tubuhmu dan wajahmu, serta makanlah yang sehat, jangan telat makan." ucap Bu Lily mengingatkan Tika.
"Baiklah Bu." jawab Tika.
__ADS_1
Emang benar yang di katakan oleh bu Lily, selama satu bulan Tika suka telat makan dan tidak pernah menjaga pola hidup sehat. Mungkin karena kesibukannya kerja sehingga makan pun kadang suka telat dan malas.
Ayah Efendy pun hanya tersenyum menatap putrinya yang kini semakin cantik, serta sudah sedikit bisa melupakan masalah yang membuat hidupnya menjadi down karena rumah tangganya harus hancur. Ada rasa marah, dan sakit hati saat melihat putrinya kini menjadi status janda. Bagaimana bisa, Chandra memperlakukan kasar terhadap putrinya yang cantik, serta keturunan orang kaya. Sebenarnya apa yang ada dipikiran Chandra? Sehingga Chandra berhubungan dengan wanita lain, bahkan sampai hamil wanita tersebut. Kemudian Ayah Efendy pun mengepalkan tangannya karena merasa sangat kecewa, dulu sudah mempercayakan putrinya untuk jadi milik Chandra.
'Sudahlah yang lalu biar berlalu, mungkin sudah di takdirkan hidup Tika harus begitu oleh sang maha kuasa. Yang penting sekarang Tika sudah bisa tersenyum lagi dan sedikit bisa melupakan masa lalunya,' gumam Ayah Efendy di dalam hati.
"Ya sudah, ayo kita makan mumpung masih hangat nih." Ajak bu Lily.
"Baiklah Nek." Jawab Chika.
Mereka pun kini sedang menikmati sarapan paginya.
bersambung ....
__ADS_1