Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
115. Tolong?


__ADS_3

"Tolong ... tolong ...," teriak Tika, dengan meminta tolong berharap ada seseorang yang mendengarkannya.


"Ayo berteriak dengan keras! Percuma saja kamu berteriak, pastinya tidak akan ada orang yang mendengar teriakanmu. Apa kamu tidak lihat, ini sudah malam, sepi!" ucap Aryo.


'Hahaha ... Herman dan Aryo, tertawa terbahak-bahak.


"Saya mohon sama kalian, lepaskan saya. Kalian boleh meminta apapun padaku, saya akan mengabulkan keinginan kalian. Mau uang satu milyar? Saya akan kabulkan. Tapi saya mohon, jangan macam-macam sama saya," Tika dengan terisak menangis, berharap preman tersebut ada rasa kasihan.


"Kamu bisa diam enggak sih? Berisik tahu! Percuma kamu berteriak, tidak akan ada yang mendengarkan. Lagi pula, boleh juga tuh kamu nawarin uang satu milyar, tapi aku haus ingin menikmati tubuh indah dulu," ucap Herman dengan mengusap lembut pipi Tika.


"Ah jangan, saya mohon. Tolong ... tolongin saya," teriak Tika, sambil terisak menangis.


"Sudah jangan berisik! Ayo ikut saya," ucap Herman dengan menarik tangan Tika.


Tiba-tiba ada seseorang datang, lalu memberhentikan motornya tepat di depan dua preman tersebut.


Seseorang tersebut dengan segera beranjak dari atas motor, kemudian membuka helmnya. Betapa terkejutnya Tika, saat mengetahui siapa pria tersebut.


"Lepasin dia!" bentak pria tersebut, sambil menatap tajam Herman, dan Aryo.


"Ternyata tidak sia-sia ya, kamu berteriak membuahkan hasil, dan ada yang menolongmu. Tapi jangan sok kepede'an dulu, karena aku tidak akan melepaskanmu!" bentak Herman, kepada Tika, lalu menatap pria tersebut.


"Tolongin saya, please." ucap Tika, sambil menatap pria tersebut dengan terisak menangis.


"Aku minta sama kalian, lepasin dia!" ucap pria tersebut sambil menatap tajam Aryo, dan Herman.


"Kamu minta lepasin wanita ini? Memangnya kamu, siapa dia hem? Lawan aku, jika kamu berani." ucap Herman, sambil menatap pria tersebut.


"Baik, siapa takut." jawab pria tersebut.


"Wah, dia nantang kita Bos. Ayo kita hajar Bos." Aryo, merasa geram.


"Ayo, kita hajar," ucap Herman.


Kini pria tersebut sedang siap-siap melawan dua orang preman.


Tiba-tiba Aryo, langsung menyerang, dan memukul pria tersebut tapi sayangnya gagal, dan berhasil di pukul balik oleh pria tersebut, sehingga membuat Aryo tersungkur ke bawah.


Kini giliran Herman, berjalan ke arah pria tersebut, dan berhasil memukulnya, sehingga membuat pria tersebut mengeluarkan darah segar di bibirnya.


Pria tersebut tidak menyerah, lalu bangkit dan berhasil memukul balik, sehingga membuat Herman tersungkur dan mengeluarkan darah segar di bibirnya.


"Kuat juga rupanya kamu hem, sehingga bi*birku terluka. Aargh ... kurang ajar!" Herman dengan emosi.


Lalu memukul kembali pria tersebut.


Bugghk ... Bughhk ... Pria tersebut tersungkur ke bawah, lalu bangkit lagi dan mencoba melawan Herman.


Bugghk ... Bugghk ... pria tersebut, berhasil memukul balik, sehingga keduanya sama meninggalkan luka lembam dan darah segar di bib*irnya dan pipinya.


Saat pria tersebut akan memukul kembali Herman, tiba-tiba datang Aryo dari belakang dengan membawa kayu rotan, berbentuk panjang.


"Ah, awas ... " teriak Tika, kepada pria tersebut. Tetapi pria tersebut tidak mengerti maksud Tika.


Bugghhk ... Aryo berhasil memukul kepala pria tersebut, sehingga pria tersebut langsung jatuh, dan tersungkur ke bawah tanah, dengan tidak berdaya.


"Chandra ...," teriak Tika, saat melihat Chandra tidak berdaya.

__ADS_1


Tika menangis, sambil menjerit dan berteriak-teriak agar ada orang yang mendengar teriakannya.


'Ya tuhan gimana ini? Dia tidak berdaya, dan bersimbah darah karena menolongku? Aku mohon, semoga ada orang yang mendengar teriakannku. Habis sudah nasibku, bila tidak ada yang menolongku lagi,' Tika terus menangis, dan ketakutan.


"Mampus loh, makanya jangan sok jago," ucap Aryo, sambil menatap Chandra, yang tergeletak dibawah tanah.


Aryo dan Herman pun berjalan menghampiri Tika, dengan menahan rasa sakit di bibir, dan perut, karena ulah Chandra yang memukulnya.


"Hallo sayang, sekarang tidak akan ada lagi orang yang menolongmu!" ucap Herman, dengan menatap tajam Tika.


"Bos, kita harus kasih pelajaran ini cewek, karena sudah membuat muka kita kesakitan karena ulanya! Setidaknya kita bisa menikmati tubuhnya," bisik Aryo kepada Herman.


"Boleh juga, ayo tarik wanita itu," ucap Herman dengan memegang tangan Tika.


"Aku mohon jangan lakuin itu. Kalian boleh minta uang sebesar apa pun, tapi jangan macam-macam padaku," teriak Tika, dengan menangis karena ketakutan.


"Kamu bisa diam, enggak sih? Berisik tahu! Apa salahnya tinggal ikuti langkah kita," bentak Herman, sambil menatap tajam Tika.


"Tapi saya tidak mau," Tika sambil menggelengkan kepala.


"Pokoknya kamu harus mau," ucap Herman dengan menarik tangannya agar Tika, mengikuti langkah dirinya.


'Ya tuhan, adakah orang yang mau membantuku lagi? Aku benar-benar butuh bantuan dari orang-orang yang keji ini. Apalagi aku tak kuasa melihat Chandra, yang kini tidak berdaya,' batin Tika, sambil sesegukan menangis, apalagi kini dirinya di tarik paksa oleh kedua preman tersebut.


.


.


Andrew yang baru saja pulang, kini sedang merebahkan tubuhnya diatas sofa, ruang tamu.


'Sungguh lelah, tapi asyik sih. Oya, aku harus tanya sama Ibu, apakah benar Ibu sahabatan sama pak Efendy? Kalau memang benar iya, wah kesempatan bagus nih, bisa langsung dapat restu dari calon bapak mertua,' gumam Andrew, pada diri sendiri, lalu semangat berjalan menuju kamar Ibunya.


Andrew pun kini sudah sampai di pintu kamar Ibunya, lalu mengetuk pintu.


"Iya silahkan Nak, masuk," ucap bu Cantika, agar putranya masuk ke dalam kamar.


"Ibu belum tidur?" tanya Andrew.


"Belum sayang, Ibu lagi enggak enak badan nih, pada pegal semua ini tubuh Ibu," jawab Ibu Cantika.


"Ibu lagi sakit? Ya sudah, ayo kita ke dokter Bu," Andrew, dengan menempelkan tangannya ke kening Ibunya, dan merasa khawatir.


"Enggak Nak, Ibu enggak sakit, cuma Ibu merasa pegal saja, dan hidung Ibu mampet nih. Sudahlah kamu jangan khawatirin Ibu, lagi lupa, Ibu baik-baik saja kok sayang," ucap bu Cantika.


"Serius Ibu tidak apa-apa?" tanya Andrew, masih mengkhawatirkan Ibunya.


"Iya Nak, Ibu baik-baik saja kok. Sudah jangan khawatirin Ibu."


"Oke baiklah Bu. Oya Bu, Andrew mau tanya sama Ibu, boleh enggak?" tanya Andrew.


"Tentu saja boleh. Memangnya mau nanya apa sih?"


"Apakah Ibu semasa smp, mempunyai sahabat, bernama Efendy Mahardhika?" tanya Andrew.


"Efendy Mahardhika? Oh, iya si pria so kecakepan, dan suka bikin ribut itu. Emangnya kenapa? Memangnya kamu kenal sama dia?" tanya balik Ibu Cantika.


"Tentu saja kenal, tapi enggak tahu sih, apakah dia sama yang Ibu maksud atau bukan sih."

__ADS_1


"Lalu mengapa kamu bertanya dia?"


"Tadi kebetulan Ayahnya, Tika titip salam Andrew, buat Ibu. Tapi entahlah apakah yang dimaksud pak Efendy itu apakah Ibu? Soalnya pak Enfendy juga punya sahabat sama dengan nama Ibu." ucap Andrew.


"Apakah mungkin sama orangnya? Soalnya sahabat Ibu itu, sekarang pengusaha sukses, terkenal dimana-mana, bahkan sampai manca negara." ucap Ibu Cantika.


"Apakah dia, yang mempunyai perusahaan bernama Pt. Antana?"


"Iya, tuh kamu juga tahu,"


" Wah berarti benar, kalau pak Efendy yang di maksud adalah sahabat Ibu masa smp." ucap Andrew.


"Bisa jadi. Kamu kenal dari mana dengan dia?"


" Kebetulan Andrew, sama anaknya pak Efendy berteman, makanya tahu."


"Oya? Teman apa demen?" goda Bu Cantika.


"Ih apa-apaan sih Bu. Memang iya, dia itu target Andrew,"


"Huh dasar. Memangnya dia tersangka apa, pakai di bilang target saja."


"Memang iya, dia tersangka yang telah membuat hati Andrew klepek-klepek Bu."


"Huh dasar, lebay."


Andrew pun hanya tertawa renyah, saat Ibunya berkata seperti itu.


"Oya Bu, Andrew permisi dulu ya mau ke kamar dulu," ucap Andrew.


"Iya silahkan Nak."


Andrew pun dengn segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar Ibunya.


"Ndrew," panggil bu Cantika.


"Iya, kenapa Bu?" tanya Andrew, dengan membalikan tubuhnya sambil menatap Ibunya.


"Ibu mau minta tolong, kamu mau enggak beliin Ibu martabak, sama bubur kacang ijo. Ibu lagi pingin ngopi nih," ucap bu Cantika.


"Oke, baiklah Bu."


"Enggak apa-apa nih Nak?"


"Enggak apa-apa kok Bu, nyantai sajalah. Demi Ibu, Andrew rela kok." ucap Andrew, sambil tersenyum kepada Ibunya.


"Terima kasih ya Nak."


"Sama-sama Bu. Lagian Ibu, kayak sama siapa saja. Ya sudah, Andrew pergi dulu buat membeli pesanan Ibu."


"Iya silahkan Nak, hati-hati dijalannya."


"Iya Bu."


Andrew dengan segera berjalan keluar dari kamar Ibunya, dan pergi menuju parkiran mobil untuk membeli pesanan Ibunya.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa, tinggalk jejaknya biar tambah semangat. Terima kasih yang sudah mampir ke karyaku🙏. Maaf banyak typo yang masih bertebaran.🙏


__ADS_2