Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
143.Baik, pak Boss.


__ADS_3

Andrew dan Tika pun sudah sampai di sebuah butik baju dan perhiasan milik Bu Cita.


"Kamu tidak apa-apakan bila harus sendiri dulu masuk ke dalamnya?" tanya Andrew kepada Tika.


"Iya tidak apa-apa kok Ndrew, sudah jangan dipikirin Ndrew, santai sajalah. Lagian, rapat itu lebih penting," jawab Tika.


"Tapi bagi aku itu, yang paling penting tentang masa depan kita, dan ini juga lebih penting kok," ucap Andrew.


"Lagian, ini kan cuma lihat saja hasil perhiasannya takut kebesaran atau kekecilan kata bu cita. Sudah, jangan dipikirin ya, mending kamu rapat dulu sana, kasihan tuh para tamu undangan yang datang menunggumu lama," ucap Tika.


"Oke baiklah bawel. Nanti kalau sudah beres rapat, pasti aku akan datang kesini," ucap Andrew, sambil menatap Tika.


"Iya Ndrew." jawab Tika.


"Ya sudah, aku pamit dulu ya sayang," ucap Andrew.


"Iya silahkan Ndrew, hati-hati dijalannya." ucap Tika.


"Iya sayang." Andrew, kemudian tersenyum simpul kepada Tika.


Andrew pun berpamitan kepada calon istrinya untuk berangkat ke kantornya. Lalu Andrew mencium lembut pucuk rambut Tika sebelum masuk ke dalam mobilnya.


"Jaga baik-baik disini ya," ucap Andrew.


"Iya pastinya Ndrew."


Andrew pun dengan segera masuk ke dalam mobil miliknya.


Setelah mobil Andrew sudah tidak terlihat lagi, Tika dengan segera masuk ke dalam butik tersebut.


"Eh ternyata sudah ada Nak Tika ya? Pagi sekali kesininya," ucap Bu Cita.


"Tadinya saya mau pergi ke kantor, tapi saya lebih memilih untuk kesini dulu Bu," jawab Tika.


"Padahal kalau sama Ibu santai saja, lebih baik nanti pulang dari kantor saja kesininya," ucap Bu Cita.


"Sudah tidak apa-apa kok Bu. Lagian, di kantor juga tidak sibuk amet kok Bu," ucap Tika, kemudian tersenyum kepada Bu Cita.


"Syukurlah jika memang tidak mengganggu waktumu," Bu Cita, merasa lega.


"Iya Bu."


"Oya, kamu sendirian saja kesininya?" tanya Bu Cita.


"Tidak kok Bu, tadi di antar sama Andrew," jawab Tika.


"Terus, Nak Andrew nya kemana sekarang?" tanya Bu Cita lagi.


"Andrew pergi ke kantor dulu, kebetulan hari ini ada pertemuan rapat penting bersama para pengusaha," jawab Tika.


"Oh gitu jadinya. Ya sudah, ayo lihat dulu perhiasan yang sudah kalian pesan."


"Oke, baiklah Bu."


Tika dan Bu Cita dengan segera berjalan menuju tempat perhiasan.


****


Ditempat lain.

__ADS_1


Andrew kini sudah tiba di tempat perusahaan miliknya. Kemudian, Andrew keluar dari mobil tersebut.


"Ayo pak boss, tinggal lima menit lagi nih rapat akan di mulai," ucap Juned yang kini sedang bediri menyambut atasannya.


Andrew pun langsung menatap jam tangannya.


"Masih lama lima menit lagi Ned, nyantai sajalah," ucap Andrew.


"Ya ampun bos, lima menit lagi di bilang masih lama? Kita jalan kaki sampai keruangan kerja sudah lima menit loh," gerutu Juned, asissten pribadi Andrew.


Andrew tidak menghiraukan perkataan Juned, Andrew lebih memilih diam dan terus melangkahkan kakinya menuju ruangan.


'Ck, mentang-mentang pemilik perusahaan ini, jadi seenaknya. Terserah pak bos saja deh, karena anda lebih berhak,' gumam Juned bericara pada diri sendiri.


Andrew dan Juned pun kini sudah berada di tempat ruangannya, lalu menatap wanita cantik yang kini sedang duduk ditempat kerjanya juga.


"Selamat pagi Pak," sapa Lisa.


"Pagi juga," jawab Andrew,"oya, gimana sekarang keadaan Ibumu?" tanya Andrew.


"Alhamdulilah keadaan Ibu saya, sudah mulai membaik kok pak," jawab Lisa.


"Syukurlah kalau begitu." ucap Andrew.


"Iya pak."


"Pak Boss, waktunya rapat dimulai nih, ayo kita segera kesana," ucap Juned.


"Oke, baiklah." ucap Andrew.


Langkah Andrew terhenti tiba-tiba Lisa memanggil dirinya.


"Iya, kenapa Lisa?" tanya Andrew.


"Kerjaan saya hari ini apa pak?"


"Untuk sekarang kamu kerjakan saja laporan dari para staff yang dikirim lewat laptopmu, dan setelah itu nanti Juned yang akan kasih pekerjaan untukmu," jawab Andrew.


"Oh gitu ya pak. Baiklah kalau begitu." ucap Lisa.


"Ya sudah, saya mau keruangan rapat dulu, kamu kerjakan saja apa yang ssya perintahkan," ucap Andrew.


"Baik pak." ucap Lisa.


Andrew dan Juned pun dengan segera melangkahkan kakinya menuju ruangan rapat.


'Pak Andrew, hari makin hari tambah cakep benar. Apalagi sudah empat hari tidak ketemu atasanku, kangen bawaannya. Aku berharap, pak Andrew bisa berjodoh denganku,' ucap Lisa dengan penuh harapan.


Sebenarnya Lisa belum mengetahui kalau Andrew akan menikah dengan Tika. Karena Lisa selalu sibuk mengurusi Ibunya yang selalu sakit-sakitan.


*****


Rapat pun sudah selesai, satu persatu para tamu undangan yang hadir berpamitan pulang.


"Sukses selalu ya pak Andrew, semoga perusahaan Bapak semakin jaya dan lebih maju lagi. Terima kasih sudah mengajak saya untuk bekerja sama dengan Anda." ucap Pak Joko sambil tersenyum.


"Aamiin pak. Iya sama-sama pak. Semoga saja dengan adanya kerja sama diantara kita, perusahaan kita semakin maju, dan sukses," ucap Andrew.


"Iya, semoga saja ya pak Andrew. Saya sangat senang bisa bekerja sama dengan Anda," ucap pak Joko.

__ADS_1


Andrew pun hanya tersenyum, saat mendengar perkataan pak Joko.


"Ya sudah, kalau begitu saya pamit pulang ya Pak," ucap pak Joko.


"Iya silahkan pak, hati-hati di jalannya Pak." ucap Andrew.


"Iya siap, Pak Andrew."


Pak Joko dengan segera pergi dari ruangan rapat tersebut dan berjalan menuju keluar dari perusahaan.


Andrew kemudian menatap jam tangannya, lalu berjalan menuju ruangan untuk mengambil ponselnya.


"Ned, hari ini kamu hundle pekerjaanku semuanya," ucap Andrew kepada asisten pribadinya.


"What? Yang benar saja pak Bos, bukannya hari ini pak Bos terakhir kerja ya? Kenapa harus saya yang melakukan semuanya," protes Juned.


"Jangan banyak protes! Lagian saya ada meeting keluarga nih sekarang, dan itu sangat penting untukku," ucap Andrew.


"Baiklah kalau begitu pak Bos. Bisa apa saya ini, bila masalah tentang pernikahan pak Bos dengan Bu Tika," ucap Juned.


"A-apa? Menikah?" ucap Lisa merasa terkejut mendengar perkataan Juned.


Lalu Andrew dan Juned pun menatap Lisa.


"Oh iya, saya lupa belum mengundangmu ya? Makanya kamu terkejutkan?" ucap Andrew, sambil menatap Lisa.


"Jadi beneran pak Andrew akan menikah dengan kak Tika?" ucap Lisa dengan gugup.


"Iya! Ini undangan untukmu," Andrew sambil mengambil sisa undangan yang tersisa, dan memberikannya kepada Lisa.


Lisa pun dengan terpaksa mengambil undangan tersebut. Sebenarnya hati Lisa merasa sakit, padahal baru saja tadi pagi mengharapakan kalau Andrew semoga berjodoh dengannya, eh malah mendapat kabar buruk baginya.


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu, karena saya harus menyusul calon istriku di butik, kasihan pasti dia sangat kesal menungguku lama,"  ucap Andrew.


"Baiklah pak Bos. Hati-hati dijalannya,"  ucap Juned.


"Oke!"


Andrew dengan segera pergi berlalu dari hadapan Lisa dan Juned. Kemudian berjalan menuju mobilnya.


'Kenapa sih, kak Tika beruntung banget mendapatkan pria seperti yang aku inginkan. Kenapa juga, kak Tika tidak peka banget kalau aku sudah jatuh cinta sama pak Andrew. Harusnya kak Tika mengalah, dan biarkan aku memiliki pak Andrew. Aku semakin benci kak Tika,' batin Lisa, sambil mengempalkan kedua tangannya karena kesal.


Andrew kini sudah berada di dalam perjalanan menuju sebuah butik, dimana calon istrinya ada disana.


Andrew merasa senang, akhirnya impian untuk mendapatkan wanita yang sangat ia cinta akan terwujud. Andrew tidak sabar lagi, menunggu hari dimana dirinya dan Tika akan menjadi pasangan suami istri yang sah.


Saat Andrew mengendarai mobil, tiba-tiba ada mobil oleng di berlainan arah. Andrew pun mencoba mengendalikan mobilnya, tapi sayangnya tiba-tiba mobil miliknya susah dikendalikan.


Hingga akhirnya tabrakan terjadi antara mobil Andrew dengan mobil milik orang tersebut.


Andrew pun berteriak karena merasa syok, dan hingga akhirnya mobil Andrew tergeser ke pinggir dimana ada pepohonan besar disana, dan membuat Andrew tidak sadarkan diri, karena pendarahan dikepala akibat terbentur.


Bersambung ....



Promo, yuk kepoin karya dari author ini, dijamin seru banget dan bikin baper nih,


__ADS_1


__ADS_2