
6 bulan kemudian ....
Hari demi hari, bulan demi bulan, kini sudah berputar. Rumah tangga Tika dan Andrew semakin harmonis dan rukun.
Hari ini, Andrew harus pergi meninggalkan istrinya sendiri di rumah, karena ada kepentingan bisnis di luar negeri.
Rasanya begitu berat, harus pergi jauh dari istri tercinta. Akan tetapi, ini harus dilakukan, demi bisnisnya. karena bagi Andrew, usaha kerja kerasnya demi istri dan anaknya nanti kelak.
'Rasanya, berat sekali harus pergi jauh dari istriku. Aku tidak terbiasa, pergi jauh darinya. Akan tetapi harus gimana lagi? Semoga saja bisnisku disana semakin berkembang, dan maju demi masa depan keluarga kecilku nanti,' gumam Andrew, sambil membenarkan dasinya.
Saat sudah selesai dan siap. Andrew pergi dari kamarnya, dan berjalan menuju meja makan. Dimana, disana ada istrinya sedang memasak.
Tika sengaja memasak untuk sarapan pagi, karena permintaan Andrew, yang menginginkan Tika memasak. Alasannya, agar dia selalu ingat masakan istrinya, yang begitu special bagi Andrew saat jauh darinya.
Saat Andrew sudah berada di ruang makan, lalu melihat istrinya masih memasak dan kemudian Andrew, berjalan menghampiri Tika.
"Belum siapkah, makannya?" tanya Andrew, tangannya sambil melingkarkan ke pinggang Tika.
"Eh Mas Andrew, sudah siap ternyata? Maaf ya Mas, aku telat masaknya. Tadi gas habis dan akhirnya dengan cepat pak amin langsung dapat gasnya di tempat lain," lirih Tika.
"Iya, tidak apa-apa Sayang. Emangnya stok gas yang di gudang sudah habis ya?" tanya Andrew.
"Iya Mas. Bi anin lupa katanya, enggak kasih tahu." jawab Tika.
"Oh gitu ya. Istriku, pintar banget ya masaknya. Kelihatan enak dan mantap benar tuh," puji Andrew, saat mencium aroma masakannya yang menggoda selera.
"Ya, sebagai istri tentu saja harus pintar masak juga, walaupun ada asisten rumah tangga. Karena tidak selamanya yang bekerja disini pada sehat, jadi ketika mereka misal sakit, jadi untuk sementara aku bisa gantikan posisi mereka." lirih Tika.
"Aku benar-benar salut, punya istri yang is the best. Aku beruntung, bisa memilikimu Sayang," Andrew, dengan menarik pinggang istrinya, sehingga netra mereka saling bertatapan dan hidungnya saling bersentuhan.
"Mas, aku lagi masak. Nanti gosong tuh. Lagian, malu bila ada yang lihat," ucap Tika.
"Habisnya, aku tidak rela bila harus pergi jauh darimu, pingin dekat terus." Andrew, semakin memperat tangannya yang kini melingkar di pinggang istrinya.
"Lagi pula, ini demi bisnis perusahaanmu, Mas. Semoga saja, bisnismu di sana semakin berkembang dan maju," ucap Tika, tersenyum kepada Andrew.
"Terima kasih Sayang. Iya, demi kamu dan anak kita kelak." Andrew, mengusap perut Tika yang masih rata.
"Maaf kan, aku ya, Mas." Tika, langsung memeluk Andrew.
"Maaf? Untuk apa Sayang?" Andrew, merasa tidak mengerti. Lalu menguraikan pelukannya.
"Maaf, karena aku belum bisa memberikan anak untukmu." ucap Tika, sambil menundukan kepala.
Andrew meraih dagu istrinya, agar Tika menatap netra Andrew.
"Kenapa kamu berkata seperti itu Sayang? Lagi pula, aku tidak mempermasalahkan hal itu. Aku yakin, suatu saat nanti, kamu pasti akan hamil jika Sang Pencipta sudah berkehendak. Lagi pula, seorang perempuan bisa hamil karena sudah kehendak Sang Pencipta. Jadi, kamu jangan ambil pusing masalah itu ya Sayang," lirih Andrew, dengan mengusap lembut rambut istrinya.
__ADS_1
"Iya Mas, terima kasih sudah mengingatkan." ucap Tika, tersenyum.
"Sama-sama Sayang. Sudah, sekarang angkat tuh makanannya, nanti gosong loh," ucap Andrew.
"Oh ya ampun, sampai lupa Aku, Mas." Tika, dengan segera mematikan kompornya.
Andrew pun hanya tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya ,"Ya sudah, aku tunggu di meja makan ya Sayang." ucap Andrew.
"Iya, Mas."
Andrew dengan segera berjalan menuju meja makan.
Tika pun, kini sudah beres memasaknya, lalu menghidangkan makanannya di atas meja makan.
Tika pun ikut duduk, saat sudah selesai dengan pekerjaannya. Lalu mengalas makanan dan menu-nya untuk Andrew.
"Coba Mas, gimana masakanku," ucap Tika.
Andrew pun, dengan menyendok makanan tersebut lalu menyuapkannya ke dalam mulut.
"Gimana, Mas?" tanya Tika, sambil menatap suaminya.
"Makanannya ...," ucapan Andrew, sengaja di gantung. Lalu mengambil kembali makanan tersebut, dan menyuapkan kembali ke mulutnya sambil merasakan makanan tersebut.
"Makanannya, asin ya, Mas?" tanya Tika.
"Masa iya sih, asin? Kamu kan, sudah pandai memasak. Jadi masakannya, top markotop enak banget," Andrew, sambil mengacungkan dua jempol.
"Aku tadi sedang menikmati makananmu. Saking enaknya, jadi aku lama untuk menjawab pertanyaanmu."
"Oh, jadi gitu ya." Tika, yang kini sama sedang menikmati sarapan paginya.
"Sayang ...," panggil Andrew, sambil menatap istrinya.
"Iya, kenapa Mas?" tanya Tika.
"Kamu enggak apa-apa kan, sama Mas di tinggal?" tanya Andrew.
"Tidak apa-apa kok Mas. Lagian, kamu disana kerjakan, bukan untuk main." jawab Tika.
"Iya pastinya, Sayang. Aku disana kerja, bukan main. Kamu mau ikut?"
"Enggak Mas. Kan, kamu tahu sendiri, aku sibuk juga di kantor. Jadi mana mungkin, meninggalkan pekerjaanku." jawab Tika.
"Ya sudah, enggak apa-apa kalau begitu. Kamu jaga diri baik-baik ya, Sayang. Jagalah selalu hatimu, hanya untuk Mas."
"Pastinya Mas. Sebaliknya, Mas juga harus begitu. Jangan cuma aku saja."
__ADS_1
"Iya dong Sayang, pastinya. Mas, akan selalu menjaga hati Mas hanya untuk istri cantikku. Kamu tidak usah meragukan aku, Ya Sayang. Jangan sampai berpikiran negatif tentangku selama aku disana," lirih Andrew, kemudian memegang tangan istrinya.
"Iya Mas." jawab Tika, sambil tersenyum.
Mereka pun kini melanjutkan kembali makanannya yang tadi tertunda dan kini mereka sedang menikmati sarapan paginya.
"Permisi Den, diruang tamu ada seseorang, katanya ingin menemui Den Andrew." ucap Bi Anin.
"Iya Bi, terima kasih." Andrew, tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi Non, Den." ucap Bi Anin.
"Iya, silahkan Bi." jawab Tika.
Bi Anin, dengan segera pergi berlalu dari hadapan majikannya.
Saat Andrew dan Tika sudah selesai makan, lalu berjalan menuju ruang tamu.
"Selamat pagi, Pak, Kak Tika." ucap Lisa.
"Pagi juga." jawab Tika.
"Gimana Pak, sudah siap?" tanya Juned, sang asistennya.
"Sudah Jun." jawab Andrew, sambil menganggukan kepala.
"Baiklah kalau begitu Pak." Juned, dengan membawa koper Andrew.
"Ya sudah Sayang, Mas berangkat dulu ya. Jaga diri baik-baik ya Sayang. Jika ada apa-apa, jangan lupa kasih kabar Mas." ucap Andrew.
"Iya, siap Mas. Hati-hati di jalannya ya Mas, semoga selamat sampai tujuan." lirih Tika.
"Iya, Sayang." Andrew, kemudian memeluk istrinya, lalu menguraikan kembali dan mencium lembut rambut istrinya.
Andrew pun kini harus pergi meninggalkan istrinya selama dua bulan ke luar negeri karena urusan bisnisnya.
"Ya sudah, kalau begitu Saya permisi Bu." ucap Juned.
"Iya silahkan. Jaga dia, jangan biarkan di jatuh sakit." Tika, sambil menatap Juned.
"Iya, siap Bu." jawab Juned.
"Kalau gitu, Lisa juga permisi ya Kak." ucap Lisa.
"Iya, Lisa. Hati-hati dijalannya ya."
"Iya, kak."
__ADS_1
Andrew, Lisa dan Juned pun pergi berlalu dari hadapan Tika, dan berjalan menuju mobilnya.
'Syukurlah, akhirnya kak Tika tidak ikut juga. Ini kesempatan bagus, untuk aku dekati pak andrew. Maafkan, aku ya kak, habisnya suami kak Tika sangat menggoda batin Lisa sambil tersenyum sinis.