
'Aku benar-benar tidak mengerti dengan hidupku. Apa salahku kepada mereka? Tega sekali mereka merebut kebahagiaanku? Aku benar-benar tidak mengerti dengan semua ini!' gumam Tika, berbicara pada diri sendiri.
Tika, kini sedang menjalankan mobilnya dengan pikirin kacau, sehingga hampir bertabrakan dengan mobil lain tuk yang ke empat kalinya.
Seseorang mengetuk pintuk mobil Tika, dengan keras dan meminta agar Tika keluar dari mobilnya.
Tika pun dengan segera keluar dari mobil tersebut dan kini berdiri di depan seseorang.
"Kamu bisa enggak mengendarai mobil dengan baik?" tanya Seseorang sambil menatap Tika.
"Ya bisa Pak. maaf kan, saya, Pak," jawab Tika, dengan menundukan kepalanya.
"Oke, saya maafkan kamu. Tapi ingat, jangan karena ada masalah kamu seenaknya menyetir mobil. Ingat, ini jalanan umum loh, jadi utamakan keselamatan orang lain dan diri sendiri!" ucap Pak Tomi.
"Iya, Pak. Saya berjanji akan lebih berhati-hati lagi dalam menyetir mobil," lirih Tika, sambil menatap Pak Tomi.
"Baguslah kalau begitu. Ingat utamakan keselamatan orang lain serta diri sendiri, jangan karena mengikuti egomu semuanya bisa berakibat fatal!" Pak Tomi, dengan segera pergi dari hadapan Tika.
Tika tersenyum tipis saat menatap Pak Tomi. Bagaimana bisa, dia mengetahui kalau dirinya ada masalah.
Apa yang dikatakan oleh Pak Tomi, memang benar. Kalau dirinya tidak boleh egois yang nantinya bisa berakibat fatal.
Tika menarik nafas, lalu berjalan masuk kedalam mobil. Tiba-tiba perutnya berbunyi.
'Kenapa Sayang? Apakah kamu lapar? Baiklah Ibu akan beli makanan untukmu,' gumam Tika, sambil mengusap perutnya.
Tika dengan segera menjalankan mobilnya dan berjalan mencari makanan untuk dirinya.
*
__ADS_1
*
Satu jam sudah, kini Tika sampai di rumah. Tika pun keluar dari mobilnya dan membawa makanan yang di belinya di luar.
Tika dengan segera masuk ke dalam rumahnya.
Bu Lily, Bu Cantika dan Ayah Efendy, menatap Tika dengan tatapan susah di artikan saat dirinya sudah berada di ruang tamu.
"Kenapa menatapku, seperti itu?" tanya Tika, kepada orangtuanya dan mertua.
Bu Cantika berjalan menghampiri menantunya ," kamu tahu tidak Nak, kamu sudah membuat kita khawatir. Lihatlah, ini sudah jam 12 malam loh," kata Bu Cantika.
"Untungnya, kamu pulang keadaan baik-baik saja. Sudah di telpon berkali-kali tidak aktif mulu. Membuat kita semakin cemas saja," Bu Lily, ikut menimpali.
"Iya maaf Bu. Ponsel Tika, mati Bu. Tadi di jalanan macet lagi, makanannya pulang kemalaman." Kata Tika, sambil menatap Bu Cantika, kemudian menatap orangtuanya.
"Lain kali, kalau keluar jangan sendiri ya Sayang. Ibu khawatir nanti terjadi sesuatu sama kamu, apalagi kamu sedang mengandung cucu Ibu, enggak tega Ibu bila ada yang macam-macam sama kamu," kata Bu Cantika, dengan mengusap punggung menantunya.
"Emangnya, kamu beli makanan apa?" tanya Ayah Efendy, kepada putrinya.
"Tika bawa martabak telor, martabak pisang, keju serta roti bakar dengan beraneka rasa," jawab Tika.
"Banyak sekali sayang, bawa makanannya. Memangnya siapa yang akan makan sebanyak ini?" lirih Bu Cantika.
"Ibu mertua, Ibu sama Ayah." Jawab Tika, tersenyum.
"What? Yang benar saja, kita bertiga yang makan. Sangat mustahil itu," gerutu Bu Cantika.
"Kalau enggak habis kan, bisa dibagikan sama yang lain. Jadi enggak mubazirkan? Ya sudah, Tika pamit mau tidur nih," kata Tika, sambil pergi meninggalkan Ibu mertua dan orangtuanya.
__ADS_1
Bu Cantika, Bu Lily dan Ayah Efendy hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Tika.
Saat Tika sudah sampai di kamar, dengan segera Tika berjalan menuju ranjangnya lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Kantuk pun mulai melanda dirinya, Tika dengan segera memenjamkan matanya dan akhirnya Tika tertidur, kini sedang ada di alam bawah sadarnya.
*
*
Keesokan Harinya.
Tika terbangun, lalu menatap jam dindingnya menunjukan pukul setengah 6 pagi.
'Ternyata masih pagi," lirih Tika.
Tika merasakan pinggulnya begitu berat, seperti seseorang sedang memeluknya. Kemudian Tika merasa terkejut, dugaannya benar seseorang memeluk dirinya.
Pandangannya beralih ke samping di sebelah dirinya.
Tika tersenyum saat menatap seseorang yang kini sangat ia rindukan. Sebulan lebih mereka harus terpisah karena urusan pekerjaan.
Tika mengusap lembut wajah suaminya. Kini suaminya terlihat lebih tampan.
'Sejak kapan kamu pulang? Kenapa enggak kasih tau kalau kamu, akan pulang sekarang. Bukannya ...," ucapan Tika tergantung saat mengingat kembali photo tentang dirinya.
'Sudahlah, ngapain juga harus tau tentang kepulangan dia. Lagian, aku tidak penting buat dia. Makanya dia pulang diam-diam. Aku semakin muak melihatmu,' gumam Tika, berbicara pada diri sendiri dan menatap kesal suaminya.
Tika dengan segera melepaskan tangan Andrew yang memeluk pinggangnya, lalu Tika turun dari atas ranjang dan pergi menuju bathroom untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Bersambung ...