Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
176. Hamil?


__ADS_3

Keesokan Harinya.


Andrew, terbangun dari tidurnya. Lalu menatap jam dinding menujukan pukul jam 7 pagi.


'Ya ampun, aku kesiangan kerjanya.' gumam Andrew, pada diri sendiri lalu menatap ke samping tidak menemukan keberadaan istrinya.


'Kemana dia? Kenapa sekarang main pergi begitu saja tanpa membangunkanku?' Andrew, menghembuskan napasnya dengan kasar dan merasa kecewa kepada istrinya.


Andrew, dengan segera turun dari ranjangnya lalu mengambil baju dari lemari untuk menutupi tubuhnya yang masih polos.


Saat Andrew akan berjalan menuju bathroom, tiba-tiba dirinya merasakan pusing kepala dan mual melanda dirinya.


'Kenapa kepalaku pusing sekali?' Andrew, memijit kepalanya. Lalu berjalan menuju westafel karena merasakan mual.


Saat sudah  sampai di wastafel, Andrew, mengeluarkan sisa makanan dari mulutnya.


Andrew terus muntah-muntah hingga membuat dirinya lemah.


Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar di mana Andrew berada.


"Mas ...,?" panggil Tika, saat tidak menemukan suaminya diatas ranjang.


'Kemana dia?' Tika, menatap seluruh ruangannya.

__ADS_1


Kemudian Tika, berjalan menuju wastafel saat mendengar suaminya muntah-muntah.


"Mas, baik-baik sajakan?" tanya Tika, merasa khawatir.


"Sayang ...," lirih Andrew, dengan suara lemah.


"Iya, Mas?" Tika, membantu mengusap punggung suaminya.


"Kirain Mas, kamu sudah berangkat kerja. Aku lelah Sayang, dari tadi muntah mulu," rengek Andrew, kepada istrinya.


"Tadinya aku mau berangkat kerja. Akan tetapi tubuhmu mulai panas pas aku tadi cek, jadi enggak jadi berangkat kerja. Lagian kamu sakit apaan sih, Mas, sampai muntah begitu?"


"Entahlah Sayang, Mas juga tidak tahu. Mungkin masuk angin kali," Andrew dengan membasuh mukanya.


"Nanti sudah sarapan pagi, kita periksa ke dokter ya Mas."


"Masa masuk angin muntah berkali-kali sih. Malahan katanya kemarin siang muntah juga kata bibi. Pokoknya kamu harus diperiksa, tidak boleh menolak!" tegas Tika.


"Oke, baiklah Sayang." Ucap Andrew, dengan pasrah.


Andrew dan Tika pun dengan segera keluar dari wastafel lalu berjalan menuju sofa yang ada di kamar.


"Lagian aneh banget sih Mas, biasanya yang muntah-muntah kayak gitu orang hamil tuh. Aku yang hamil, kenapa Mas, yang muntah-muntah," Tika, dengan tersenyum renyah.

__ADS_1


"Entahlah Sayang, mana Mas, tahu. Eh tunggu Sayang, tadi kamu bilang lagi hamil?" tanya Andrew, menyakinkan kembali.


"Aku lupa belum kasih tahu sama kamu ya, Mas." Tika, dengan menepuk jidatnya.


"Emangnya kamu mau kasih tahu apa Sayang?" Andrew dengan mengerutkan keningnya, karena merasa penasaran.


"Iya, kalau aku lagi hamil, Mas!"


"Seriusan kamu lagi hamil sayang?"


"Tentu saja Serius Mas, kalau sekarang di dalam perutku ada baby kita."


Andrew,  kemudian memeluk istrinya lalu mencium bibi*r istrinya dan keningnya berkali kali. Andrew merasa bersyukur, akhirnya yang di tunggu-tunggu terkabul juga.


"Terima kasih Sayang, kamu sudah mau mengandung anakku," Andrew, mencium bibi*r istrinya lalu tersenyum.


"Iya Mas. Lagian kamu juga harus berterima kasih kepada Sang Pencipta, karena atas kuasa-Nya aku dikasih kepercayaan untuk mengandung anakmu," Tika, membalas senyuman suaminya.


"Pastinya Sayang, itu harus."


"Ya sudah, ayo kita sarapan pagi Mas, setelah itu kita ke dokter." Ajak Tika.


"Baiklah Sayang. Ayo Nak, kita sarapan dulu," Andrew, mengusap perut istrinya yang masih rata.

__ADS_1


Andrew dan Tika pun dengan segera keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang makan untuk sarapan pagi.


Bersambung ....


__ADS_2