
"Tika ...," panggil Andrew.
"Iya, kenapa Ndrew?" tanya Tika, sambil menatap Andrew.
"Kamu tidak terpaksa kan, menerima ajakkanku untuk menikah?" tanya balik Andrew.
"Terpaksa? Maksud kamu apa sih, kenapa malah berkata seperti itu?" tanya Tika, sambil mengerutkan keningnya karena merasa tidak mengerti.
"Iya, karena awalnya kamu menolakku kan? Dan merasa aneh saja, tiba-tiba kamu menerima ajakanku," ucap Andrew.
Tika pun tertawa, sambil mencubit pinggang Andrew karena merasa gemas.
"Aww ... sakit, Tika!" ringis Andrew, saat pinggangnya di cubit dengan keras.
"Habisnya aku itu gemas sama kamu! Lagian, kamu aneh-aneh saja kalau bicara. Dengar ya, aku kan cuma bikin kejutan saja, dan pingin tahu saja reaksi kamu seperti apa? Lagi pula, aku kan tidak menolakmu! Tadinya aku mau berkata meneruskan ucapanku, tapi kamu malah terus memotong pembicaraanku." Tika, sambil menatap kesal Andrew, saat mengingat ucapannya terus di potong olehnya sehingga tidak ada kesempatan untuk berbicara.
"Tapi kamu seriuskan menerima ajakanku dengan tulus?" tanya Andrew.
"Ya ampun sayang, aku tulus kok. Aku orangnya enggak neko-neko. Kalau enggak suka ya di tinggalkan, kalau suka dan telah membuatku nyaman, kenapa tidak terima saja, bukan?!" ucap Tika.
"Terima kasih sayang. Oya, tadi kamu bilang apa sama aku?" tanya Andrew.
"Bilang sama kamu? Maksundya?" Tika benar-benar tidak mengerti.
"Tadi kamu bilang sama aku apa?"
"Bilang Andrew," ucap Tika.
"Bukan itu, tapi yang tadi ...," Andrew merasa gemas.
"Yang mana ih?!"
"Sudah, lupakan sajalah!" ucap Andrew benar- benar merasa kecewa, padahal dirinya merasa senang saat Tika memanggilnya sayang.
Sebenarnya Tika tahu apa yang dimaksud oleh Andrew, tapi Tika pura-pura tidak mengerti. Karena rasa malunya masih tinggi, jadi tidak mau mengatakan perkataan romantis.
Mobil yang ditumpangi Andrew pun kini sudah sampai di perusahaan milik Tika. Dengan segera Tika pun keluar dari mobil Andrew.
"Terima kasih ya Ndrew, kamu sudah nganterin aku," ucap Tika.
"Iy sama-sama sayang. Ya sudah, kalau gitu aku pamit dulu ya, soalnya sudah siang nih," ucap Andrew sambil menatap Tika.
"Iya silahkan Ndrew! Hati-hati dijalannya." ucap Tika.
"Iya, pasti sayang!" Andrew dengan segera menjalankan mobilnya untuk pergi menuju perusahaannya.
Saat mobil Andrew sudah terlihat jauh, Tika pun dengan segera berjalan menuju perusahaannya.
__ADS_1
'Akhirnya, sampai juga di kantor! Oya, aku harus segera memasukan laporan-laporan yang kemarin terkirim lewat ponselku,' gumam Tika dengan mengambil ponsel di tasnya.
Tika pun merasa terkejut, ternyata ponsel miliknya tidak ada di dalam tas.
'Loh kemana ponselku? Perasaan tadi aku naruh di dalam tas deh.' Tika dengan mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam tasnya, tetapi tidak ada ponsel miliknya.
Tika berpikir sejenak, dan mencoba mengingat-ingat ponsel miliknya.
'Ya ampun, ponselku tadikan di taruh di didepan mobil Andrew setelah ayah menelponku, kenapa aku baru ingat ya? Dan kenapa lagi, tidak aku langsung masukan ke tas? Jadi gini kan, ketinggalan,' Tika dengan menepuk jidat.
'Ya sudah, sekarang juga aku harus ke kantor dia, dan berharap ponselku, dia menyimpannya dengan baik!' gumam Tika, sambil beranjak dari kursi kekuasaannya.
"Oya Wi, Saya mau ke keluar dulu ya sebentar, dan kamu urus semua laporan-loparan dari para staff," ucap Tika kepada sekretarisnya.
"Iya baik Bu." jawab Dewi.
"Oke, aku permisi dulu ya." ucap Tika.
"Iya, silahkan Bu."
Tika pun segera pergi dari ruangannya, lalu menyuruh pak Opin untuk mengantarkan dirinya ke tempat Andrew.
*****
Andrew sudah sampai di perusahaannya, lalu keluar dari mobilnya dan berjalan menuju ruangannya.
'Aku yakin, pasti istriku akan datang kesini mengambil ponselnya,' Andrew tersenyum sambil menatap ponsel Tika yang kini sudah di taruh di atas meja kerjanya.
Saat Andrew melangkahkan kakinya untuk berjalan menuju kursi, tiba-tiba ada seseorang yang memeluk dirinya dari belakang.
Andrew pun merasa terkejut saat seseorang memeluk dirinya begitu saja. Lalu Andrew membalikan tubuhnya, dan betapa terkejutnya saat mengetahui siapa orang tersebut.
"Mila?" ucap Andrew merasa terkejut.
"Ndrew," ucap Mila yang masih memeluk Andrew.
"Mila, kamu itu apaan sih lepaskan tanganmu itu," ucap Andrew merasa risih.
"Aku mohon sama kamu, Ndrew, biarkan aku memelukmu, aku butuh seseorang untuk bersandar. Kamu tahu tidak, seminggu yang lalu orangtuaku meninggal, dan dua hari yang lalu kekasih membohongiku, katanya akan menikahiku, tetapi dia menikah dengan wanita lain," ucap Mila, sambil menangis sesegukan.
"Kamu yang sabar ya Mila, sekarang ayo kita duduk di sofa, kamu bisa bercerita disana," ucap Andrew.
"Baiklah," jawab Mila dengan segera melepaskan pelukannya.
Andrew, dan Mila pun berjalan menuju sofa yang berada di dalam ruangan.
"Sebenarnya apa sih yang terjadi denganmu?" tanya Andrew, butuh penjelasan yang pasti.
__ADS_1
Milla pun dengan segera menceritakan semuanya, hingga Andrew yang mendengarkannya merasa iba dan merasa tidak tega kepada Milla.
"Kamu ya sabar ya Mil, kamu pasti bisa melewati ujian ini. Kamu juga harus selalu mendoakan orangtuamu agar mereka tenang disana, dan jadilah manusia yang membuat orangtuamu disana bangga karena kamu telah berhasil sukses," ucap Andrew sambil mengusap rambut Mila.
"Iya Ndrew, pastinya aku akan selalu sabar. Makasih ya Ndrew, sudah mau mendengarkan ceritaku," ucap Mila sambil tersenyum kepada Andrew.
"Iya sama-sama. Nah gitu dong, kan cantik kalau senyum," puji Andrew.
Mila pun menjadi salah tingkah karena Andrew memuji dirinya.
"Ndrew ...," panggil Mila.
"Iya, kenapa Mil?" tanya Andrew.
Kemudian Mila memegang kedua tangan Andrew, lalu netra mereka saling menatap satu sama lain.
"Ndrew, aku ingin kita bersatu kembali. Aku ingin memulai kembali kisah asmara kita seperti dulu! Kamu mau kan?" tanya Mila.
"Maaf Mil, aku benar-benar tidak bisa!" ucap Andrew, sambil menghempaskan tangan Mila.
"Kenapa Ndrew, kenapa?!" tanya Mila dengan menaikkan nadanya dengan tinggi.
"Karena aku sudah milik orang lain! Dan aku sudah memiliki calon istri sekarang."
"Calon istri? Kenapa sih, orang lain beruntung banget ya dapat menikah dengan pria-pria tampan, dan tajir. Sedangkan aku? Miris sekali hidupku," Mila dengan menatap sendu Andrew.
"Kamu pasti bakal dapat pria lebih dari aku kok, Mil! Percayalah, tidak ada yang mungkin, pasti itu akan terjadi, bila atas kehendak-Nya." ucap Andrew.
"Ndrew, bukan kah dulu kamu bilang aku satu-satunya orang yang sangat kamu cintai, bahkan berjanji kamu akan hidup denganku selamanya! Jadi aku mohon kita kembali seperti dulu, aku janji tidak akan menghianatimu lagi!"
"Itu kan dulu, jujur memang benar kamu adalah orang yang paling aku cintai, dan sayangi tapi-" ucapan Andrew terputus saat benda kenyal menempel di bi*birnya.
Andrew pun merasa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Mila, mantan kekasihnya.
Disisi lain, seseorang yang kini tidak sengaja melihat apa yang dilakukan oleh Milla dan Andrew, merasa terkejut bahkan membulatkan matanya, karena benar-benar tidak menyangka. Kini hatinya begitu terasa remuk .
Bersambung ....
*****
Promosi lagi nih, yuk mampir karya dari author ini, pasti selalu bikin penasaran, seru , enggak percaya? Yuk kepoin ah.
Napen:Te_Mi
Judul karya: DI UJUNG SAYAP RINDU
__ADS_1