
Saat Tika akan berjalan menuju kamar, dirinya sesekali mengingat kembali kebersamaan dengan suaminya. Sebenarnya, Tika tidak rela jika Andrew harus pergi jauh darinya. Akan tetapi, dirinya tidak boleh egois, karena ini semua demi bisnis suaminya supaya lebih berkembang lagi dan lebih maju.
Tika pun, membuka pintunya saat sudah berada di depan pintu kamar. Lalu berjalan menuju ranjang, kemudian duduk di atas ranjang. Tanpa di sengaja, Tika menatap poto Andrew dengan didampingi oleh dirinya.
Tika lalu mengambil photo tersebut dari atas meja, dan menatap intens photo suaminya.
'Aku berharap, kamu jangan diri baik-baik ya Mas. Jangan sampai, kamu mengingkari janjimu sendiri. Aku disini selalu setia untukmu dan akan menjaga hatiku hanya untukmu. Demikian juga kamu, harus menjaga hatimu untukku, jangan sampai terulang lagi masa lalu aku karena orang ketiga. Aku yakin, kamu bukanlah orang yang seperti itu dan pasti akan selalu menjaga janjimu, juga tidak akan mengingkarinya, bukan?' gumam Tika, berbicara seolah-olah Andrew, mendengarkan apa yang di ucapakannya dan sambil menatap photi suaminya.
Tiba-tiba ponsel Tika berdering, lalu Tika mengambil ponselnya.
'Via? Mau ngapain dia?'
Tika, dengan segera mengangkat panggilan masuk dari sepupunya.
"Hallo kak Tika? Lagi ngapain?" tanya Via, di sebrang sana.
"Ini orang, langsung bicara saja. Salam dulu kek, yang sopan dong kalau bicara," gerutu Tika.
"Maaf lupa Kak. Habisnya, Via tidak sabar pingin mgobrol sama kak Tika," ucap Via.
"Emangnya ada apaan sih?" tanya Tika, kembali.
"Ini berita bahagia untuk aku, kak," jawab Via.
"Terus? Kenapa kamu menelpon aku, kalau sedang bahagia. Mau pamer gitu," sindir Tika.
"Ih bukan begitu kak Tika. Kita ketemuan yuk, kak? Nanti aku obrolin sama kak Tika, sekalian ada sesuatu penting untuk minta pendapat kak Tika," ucap Via, disebrang sana.
"Emm gimana ya ...?" Tika, sambil berpikir.
"Ayolah kak, please," Via dengan penuh harapan, agar Tika mau bertemu dengannya.
"Ok, baiklah kalau begitu." jawab Tika.
__ADS_1
"Terima kasih kakak. Aku tunggu di cafe-" ucapan Via harus terputus, tiba-tiba Tika menyela pembicaraannya.
"Di Cafeku." potong Tika.
"Sejak kapan, kakak punya cafe? Yang punya cafe mah kak Andrew kali," ketus Via.
"Aku kan, istrinya dia. Jadi enggak salah dong, menyebut cafe dia, cafeku juga." Tika, sewot.
"Iya-iya deh, Bu negara. Ya sudah, aku tunggu disana, Oke." ucap Via.
"Oke."
Via dengan segera memutuskan sambungan telponnya. Tika pun merasa kesal sekali, dengan sikap sepupunya.
'Ini orang, dari dulu tidak pernah berubah! Selalu memutuskan sambungan telponnya tanpa pamit dulu,' Tika menggerutu, sambil menatap ponselnya.
'Aku harus kasih kabar dulu ke Mas Andrew, kalau aku mau ke cafe menemui Via,' gumam Tika, sambil mengetik pesan untuk diri kepada Andrew.
'Kenapa tidak terkirim? Mungkin, belum sampai kali ya. Ya sudah, enggak apa-apa yang penting sudah kasih kabar,' gumam Tika, dengan mengambil tasnya di atas meja kecantikan.
Tika pun, dengan segera pergi dari kamarnya dan berjalan menuju tangga, untuk pergi menemui Via.
***
Di tempat lain.
Andrew pun kini sudah sampai di negera tujuan. Lalu mereka dengan segera keluar dari pesawat tersebut.
"Akhirnya, kita sudah sampai juga. Lega sekali diriku," lirih Andrew, sambil menatap Juned.
"Iya pak. Aku pun, sama begitu leganya. Karena kita selamat sampai negera tujuan.
"Begitu pun Saya, sangat bahagia sudah sampai sini," timpal Lisa, sambil tersenyum.
__ADS_1
"Siapa yang nanya kamu? Ini orang tiba-tiba datang, langsung nyantol aja," Juned, sambil menatap sinis Lisa.
"Yey, biarin saja. Kenapa sih kamu ini, selalu saja bikin ulah," gerutu Lisa, sambil menatap kesal Juned.
"Kamu bilang, saya bikin ulah? Pakai otakmu! Bisa bedakan enggak sih, mana yang bikin ulah sama yang enggak," Juned sambil menunjuk-nunjuk otak Lisa, dengan jari tangan Juned.
"Kamu bisa enggak sih, sopan sedikit! Seenaknya banget ya, main tunjuk-tunjuk segala. Kamu pikir, kamu siapa?!" Lisa, sambil menatap kesal Juned.
"Saya, Juned Hendrawan. Asisten pribadinya, pak Andrew, jelaskan!" Juned, dengan menatap tajam kembali Lisa.
Andrew yang kini sedang melihat perdebatan Juned dan Lisa, lebih memilih untuk pergi meninggalkan mereka. Karena perdebatan mereka hanya bikin telinganya sakit.
Saat Lisa mencari ulah pertama kalinya, yang membuat kakinya keseleo dan secangkir kopi panas tumpah mengenai baju Tika, dari sinilah Juned sangat membenci Lisa.
Bukan satu kali, atau dua kali, Lisa suka menyalahkan keadaan sehingga Juned lah yang selalu dimarahi oleh Andrew.
Memang sulit, bicara kepada Andrew kalau tanpa ada bukti yang harus dilihatnya. Juned pun lebih memilih untuk sabar menghadapi Lisa. Tapi, Juned tidak akan diam, jika suatu saat nanti ada masalah terjadi antara Tika dan Andrew.
Sebenarnya Juned sudah mengetahui, ada niat buruk Lisa untuk menghancurkan pernikahan Andrew dan Tika.
"Sudahlah males, bila ngomong sama kamu! Orang yang selalu bikin ulah dan selalu buatku kesal!" Lisa, sambil berlalu pergi dari hadapan Lisa.
Namun langkahnya terhenti, saat lengan Lisa di tahan oleh Juned.
"Aww, lepaskan tanganku, sakit tahu." pekik Lisa.
"Asal kamu tahu ya, jika kamu sopan dan berlaku lembut, maka aku pun tidak akan sungkan selalu berbuat baik padamu. Tapi, jika kamu sebaliknya, jangan salahkan aku, yang akan membuat hidupmu hancur!" Juned, sambil menghempas tangannya yang mencengkeram tangan Lisa, lalu dengan segera pergi dari hadapan Lisa.
"Maksud kamu apa berbicara seperti itu? Dasar, orang tidak waras loh." teriak Lisa, sambil menatap tidak suka Juned.
'Jangan sampai kalau Juned mengetahui rencanaku, bisa- bisa gagal semua rencanaku karena si badak, mengetahuinya.' gumam Lisa, berbicara pada diri sendiri.
Lisa pun menarik napasnya, untuk menenangkan, agar tidak curiga dengan sikapnya sendiri, dan harus sesantai mungkin, agar Juned tidak curiga dengan dirinya.
__ADS_1
Bersambung ...