
Saat Tika, sudah selesai meeting. Tika berjalan menuju ruangannya.
Kemudian Tika, menatap seluruh ruangannya dan tidak menemukan keberadaan suaminya.
'Kemana dia? Iss main pergi begitu saja. Ternyata memang benarkan, kalau dia tidur dengan si wanita tidak tahu diri itu! Kalau dia tidak merasa melakukannya, kenapa pergi begitu saja.' gerutu Tika, pada diri sendiri dan merasa kesal terhadap suaminya.
'Semua pria sama-sama brengse*k, manis hanya di dalam mulutnya saja,' Tika, kemudian duduk dikursi kekuasaanya.
Seseorang masuk ke dalam ruangannya.
"Maaf Bu, sekarang ada jadwal pertemuan dengan Klien di luar," lirih Olin, sang asistennya.
"Ya ampun, aku hampir lupa. Oke, baiklah." Jawab Tika.
Tika dengan segera berdiri dari kursinya dan berjalan meninggalkan ruangannya bersama olin.
Saat sudah berada di dalam mobil, pak Zaki, dengan segera menjalankan mobilnya menuju cafe x.
*
*
Di tempat lain.
Andrew, dengan segera keluar dari mobil saat sudah sampai di perusahaannya.
Kemudian berjalan masuk ke dalam perusahaan tersebut.
"Selamat pagi, Pak." sapa Staf pegawai.
"Pagi." Andrew, tersenyum kepada pegawai tersebut.
Andrew terus berjalan menuju ruangannya.
Saat sudah sampai di ruangan, Andrew menatap seluruh ruangannya dan ternyata tidak menemukan orang yang sedang Andrew cari sekarang.
'Kemana dia? Harusnya dia sekarang bekerja. Enak sekali hidup dia, tidak kerja begitu saja tanpa memberi kabar.' gerutu Andrew, dengan perasaan kesal.
Seseorang masuk ke dalam ruanganya dengan membawakan berkas-berkas penting.
"Maaf Pak, ini ada berkas-berkas yang harus ditanda tangani," lirih Cintia.
"Taruh saja di atas meja, nanti akan saya tanda tangani," perintah Andrew, kepada Cintia.
__ADS_1
"Baiklah Pak." Cintia, dengan segera menyimpan berkasnya di atas meja.
"Oya, apakah kamu melihat Lisa?" tanya Andrew.
"Dari tadi pagi Saya tidak lihat dia, Pak. Mungkin Lisa enggak masuk kerja kali Pak," jawab Cintia.
"Oh gitu ya, terima kasih." lirih Andrew.
"Iya. Ya sudah kalau begitu Saya pemisi Pak." Pamit Cintai, dengan segera pergi dari hadapan Andrew.
'Ah, sial. Kenapa dia, tidak masuk kerja saat aku butuh penjelasan dari dia! Gimana ini? Istriku pasti masih marah dan selalu berpikiran yang enggak-enggak.' gerutu Andrew, kemudian berjalan menuju kursi kekuasaannya untuk menyelesaikan berkas-berkas yang harus ditanda tanganinya.
'Aku harus segera mendatangani berkas ini, setelah itu aku harus mencari Lisa ke rumahnya untuk meminta tanggung jawab dan menjelaskan semuanya pada Tika!' gumam Andrew, kemudian dengan segera mendatangani berkas tersebut.
**Satu jam sudah Andrew selesai mendatangani berkas-berkas tersebut. Andrew lalu melihat indetitas Lisa dari laptopnya untuk mengetahui alamatnya.
'Baiklah, karena aku sudah mendapatkan alamat dia, aku harus segera kesana!' Andrew, dengan segera beranjak dari kursi kekuasaannya dan pergi dari ruangan tersebut, lalu berjalan menuju mobil miliknya.
*
*
Andrew, kini sudah berada di sebuah tempat yang kini dicarinya. Lalu Andrew, keluar dari mobilnya dan berjalan menuju rumah sederhana namun sangat asri.
'Aku yakin, pasti ini rumahnya si Lisa. Dari alamatnya pun sama, nomor blok sama nama kampungnya juga.' gumam Andrew, berbicara pada diri sendiri.
Tok ... tok, tok, "permisi ..." ucap Andrew.
Andrew pun terus mengetuk pintunya sudah beberapa kali, tapi tak kunjung orang yang membukakan pintunya.
'Ini orang pada kemana sih? Tuli atau gimana? Sudah berapa kali ketuk pintu, tidak di buka mulu!' Andrew merasa kesal.
Kemudian ada seorang Ibu yang dekat rumahnya dengan rumah Lisa.
Andrew dengan segera berjalan menghampiri Ibu tersebut.
"Maaf Bu, mau tanya, orang yang ada di rumah tersebut pada kemana ya?" tanya Andrew.
"Maksudnya Chandra ya? Tadi 2 jam yang lalu Chandra keluar dari rumahnya." jawab Bu Teti.
"Oh gitu ya Bu. Kalau Lisa sendiri ada di rumah kah?" tanya Andrew lagi.
"Sebelum Chandra keluar, Lisa yang terlebih dulu keluar dari rumah." Jawab Bu Teti.
__ADS_1
"Oh gitu ya Bu. Ya sudah kalau begitu terima kasih." Andrew, dengan segera pergi dari hadapan Bu Teti dan berjalan menuju mobilnya.
'Ah, sial! Kemana lagi aku harus mencari wanita bajing*an itu?! Begini banget hidupku, ujian-MU sungguh membuatku harus lebih bersabar lagi.' Andrew, merasa pasrah.
'Aku enggak boleh pantang menyerah begitu saja. Aku yakin pasti menemukan si Lisa. Gara-gara dia, rumah tanggaku berantakan! Aku tidak akan segan-segan memecatmu dari perusahaanku!' geram Andrew, dengan mengepalkan kedua tangannya.
Andrew, pun dengan segera pergi dari tempat tersebut. Tiba-tiba kepalanya pusing dan mual. Andrew pun memilih untuk pulang ke rumah.
*
*
Di tempat lain,
Di sebuah cafe, kini Lisa sedang asyik berkumpul dengan teman-temannya. Mereka saling berbincang masalah pribadinya dan masalah pekerjaannya.
"Kalian tahu enggak, sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya Wijaya," ucap Lisa, dengan percaya diri.
"Maksud kamu? Kamu akan menjadi istri, Pak Andrew gitu?" tanya Tita, memastikan.
"Betul. Pintar sekali dirimu." Lisa, tersenyum miring.
"Hallo, mimpi loh. Pak Andrew kan, sudah punya istri, jadi mana mungkin dia berpaling." timpal Lala.
"Kamu enggak percaya sama aku? Aku punya bukti kalau aku dan pak Andrew sudah tidur bersama," Lisa, dengan segara mengambil ponselnya, kemudian memberikan photo dirinya bersama Andrew.
Lala dan Tita pun merasa terkejut dan tidak percaya.
"Ini serius, photomu dengan pak Andrew?" tanya Lala.
"Tentu saja serius Bego! Kalian sudah percaya kan, sekarang. Sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya Wijaya." Lisa, tersenyum simpul merasa bahagia.
"Aku enggak yakin, kalau kamu sama dia bisa tidur bareng. Aku tahu, kamu pasti menjebak dia, kan?!" Tita, menatap intens Lisa.
"Sstt ... jangan kencang-kencang bicaranya! Lagian pakai otakmu, mana mungkin dia mau tidur bersamaku, kalau tidak aku jebak dia. Sungguh beruntung bukan, diriku?" Lisa, dengan menaikan satu alisnya karena merasa bangga.
"Haduh, ada-ada saja kamu ini. Dia sudah punya istri loh, ngapain kamu ganggu dia." Tita, merasa tidak suka cara Lisa.
"Bukankah suami orang lebih menggoda, bukan?!" kata Lisa.
"Dasar gil*a loh. Terserah kamu deh yang penting kamu bahagia!" Lala, memilih untuk tidak ikut campur.
*Di tempat lain, seseorang yang kini sedang mendengarkan perbincangan Lisa dan temannya merasa geram dan emosi dengan perbuatan Lisa yang menurutnya sangat keterlaluan.
__ADS_1
Seseorang tersebut mengepalkan kedua tangannya dan kini sedang menahan emosi agar jangan mencari keributan.
bersambung ...