Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
186.Apa yang terjadi dengan Tika?


__ADS_3

"Iya, Mas. Kenapa menangis Mas?" tanya Tika.


"Aku menangis karena sangat bahagia dan aku berterima kasih padamu, kamu rela menahan rasa sakitmu saat masa kontraksi dan juga saat ketika kamu akan melahirkan. Ya Tuhan, wanita itu kuat sekali dan begitu istrimewa," Andrew, memeluk istrinya lalu mencium pucuk rambut Tika.


Tika, hanya tersenyum saat mendengar perkataan suaminya.


Tika, pun kini sedang masa penjahitan dengan 8 jahitan, Tika, tetap santai dan tidak mengeluh.


"Sakit, Sayang?" tanya Andrew, merasa tidak tega saat melihat *********** harus dijahit sebanyak itu.


"Tidak Mas, biasa saja kayak digigit semut," canda Tika.


"Masa sih? Oya, kamu mau minum? Pasti kamu haus nih, aku sudah bikinin teh hangat untukmu," Andrew, dengan mengambil segelas air teh hangat.


Tika, dengan segera meneguk teh hangat tersebut ," makasih ya Mas," ucap Tika, tersenyum.


"Iya, Sayang." Andrew, membalas senyuman Istrinya.


Tika, kini sudah selesai masa penjahitannya dan saat bayi twins sudah  beres dibersihkan Dokter dengan segera menaruh bayi tersebut di dada Tika, agar bayi tersebut mencari sumber utama dan melakukan inisiasi menyusu dini.


Baby Twins tersebut, dengan langsung mencari asinya dan alhasil berhasil, hinggi kini baby twins sedang menikmati ASI tersebut.


Saat baby twins, sudah tertidur dan melepaskan pu*ting susunya dengan segera Dokter tersebut membawa bayi tersebut untuk dipakaikan baju.


"Mas, kelihatannya kamu senang sekali melihat mereka," ucap Tika, sambil menatap Andrew.


"Tentu saja Sayang, Mas sangat senang.  Karena anak kita sudah lahir jadi bakal tambah rame rumah kita," jawab Andrew.


"Walaupun baby kita sudah lahir, Mas, harus adil sama Chika. Jangan beda-bedakan mereka dan pilih kasih diantara mereka," ucap Tika.


"Ya ampun, Sayang, kenapa berbicara seperti itu? Lagian Mas, tidak akan pilih kasih kok. Chika, tetap anak Mas, jadi tidak mungkin Mas, membedakan diantara mereka," jelas Andrew.


"Syukurlah kalau begitu. Janji ya, Mas," Tika, menatap suaminya.


"Iya, Sayang." Jawab Andrew.


"Mas, enggak apa-apakan, Tika, mau tidur dulu? Tika, cape, pingin istirahat," lirih Tika.


"Makan dulu Sayang, kamu belum makan dari tadi siang hanya cemilan saja yang masuk," ucap Andrew.


"Enggak ah Mas, Tika, enggak mau makan. Tika, hanya ingin tidur," ucap Tika.


"Ya sudah kalau kamu pinginya begitu, istirahat saja ya Sayang." Andrew, dengan mengusap lembut rambut Tika.


"Iya, Mas." Tika, menganggukan kepala.


Tika, pun dengan segera memenjankan matanya karena kantuknya yang sudah mulai menyerangnya dan kebetulan baby twins pun kini sedang tidur juga di box.


Bu Cantika, Bu Lily  dan Ayah Efendy masuk ke dalam ruangan. Mereka sangat senang karena cucunya yang dinanti-nanti sudah lahir ke dunia.


"Gemesh sekali cucu Nenek, pada cantik dan cakep," ucap Bu Cantika, sambil menatap cucunya yang sedang tidur di dalam Box.

__ADS_1


"Siapa dulu dong yang buatnya? Ibunya yang cantik, Ayahnya yang super cakep, jadi anak-anaknya ikut cantik dan cakep juga," Andrew, membanggakan diri sendiri-diri.


"Iddih, pede sekali dirimu," ledek Bu Cantika, kepada putranya.


"Ih Ibu, tidak mau mengakui putra Ibu sendiri cakep gini," gerutu Andrew.


"Oya, Ndrew, sudah dikasih nama belum anaknya?" tanya Ayah Efendy.


"Sudah dong Yah. Mau tidak siapa namanya?" ucap Andrew.


"Emangnya, siapa namanya?" tanya Bu Cantika.


"Calista Putri Lestari dan Bryan Putra Wijaya. Gimana kerenkan?" Andrew, sambil menaikan turunkan alisnya.


"Keren juga sih namanya," timpak Ayah Efendy, sambil menaggukan kepala.


"Oya, Tika tidur, Nak?" tanya Bu Lily, kepada menantunya.


"Iya, Bu. Katanya dia pingin tidur dulu, cape dan merasa lemes karena habis lahiran. Ya sudah Andrew, tidak masalah Bu. Kasihan lihat dia, saat berjuang demi anak-anakku," Andrew, tersenyum sambil menatap istrinya yang sedang tidur.


Bu Lily tersenyum kepada menantunya. Dia baginya begitu sangat baik dan selalu sabar menghadapi putranya yang kadang sifatnya egois dan masih kekanak-kanakan.


"Ayah, Nenek, Kakek ...," panggil Chika, datang bersama Bi Anin.


"Iya Sayang, Sudah pulang sekolahnya?" tanya Andrew, kepada putrinya.


"Iya Ayah. Oya kata bibi, katanya adik Chika, sudah lahir ya Ayah?" tanya balik Chika.


"Iya Ayah, cantik banget kayak kakaknya," Chika, dengan pede.


"Tentu saja sepertimu, sama-sama cantik," lirih Andrew, sambil menatap putrinya.


"Yang cowok ganteng banget Ayah," puji Chika.


"Tentu saja ganteng, kan Ayahnya juga ganteng dan cakep," ucap Andrew.


"Iddih Ayah, sok pede," omel Chika.


Bu Lily, Bu Cantika dan Ayah Efendy, hanya mengelengkan kepala, mendengar pembicaraan Ayah dan putrinya.


Tiba-tiba baby twins menangis secara bersamaan. Bu cantika dan Bu Lily dengan segera memangku cucunya. Mereka berusaha menimang-nimang supaya baby berhenti menangis dan tidur lagi.


Alhasil, baby twins bukannya berhenti menangis tapi malah semakin kencang tangisannya.


"Ndrew, bangunin Tika, kasihan baby twinsnya pingin mimi," ucap Bu Lily.


"Baik, Bu." Andrew, dengan segera berjalan menghampiri istrinya.


"Sayang, bangun, calista dan Bryan pingin nyusu," ucap Andrew, sambil mengoyangkan tangan Tika, agar bangun.


"Sayang ...," panggil Andrew, sekali lagi.

__ADS_1


"Bu, emangnya kalau wanita sudah melahirkan suka gitu ya, tidurnya  nyenyak dan tidak merespons?" tanya Andrew, kepada mertuanya.


"Kata siapa? Enggak kok, Nak." Jawab  Bu Lily.


"Biar Ayah, bangunin, Tika." Ayah Efendy, dengan segera berjalan menghampiri putrinya.


"Nak, bangun Sayang. Kasihan putramu dan putrimu nangis tuh, masa kamu enggak kasihan sama putra dan putrimu yang lucu itu," lirih Ayah Efendy, dengan menepak lembut tangan Tika.


Namun Tika, belun bangun juga. Dia masih tetap tidur.


"Nak, jangan main-main sama Ayah. Ayolah, bangun Sayang," panggil Ayah Efendy, kepada putrinya.


"Belum bangun juga Yah?" tanya Bu Lily, masih mengendong baby karena masih menangis.


"Iya, Bu. Tumben banget ya ini anak, nyenyak banget tidurnya. Dibangunin pun tidak mengubris sama sekali," ucap Ayah Efendy.


"Sayang, bangun dong. Kasihan putri kita dari tadi menangis terus Sayang," panggil Andrew, kepada istrinya.


Entah kenapa perasaan Andrew, merasa menjadi tidak enak. Andrew, merasa sesuatu yang terjadi pada istrinya. Karena penasaran Andrew, dengan segera memegang pergelangan tangan istrinya, lalu menempelkan tangan dihidung istrinya.


Andrew, tiba-tiba memeluk Istrinya dan merasa tidak percaya apa yang terjadi.


"Sayang, bangun Sayang. Kamu jangan main-main ini sungguh tidak lucu, Sayang," ucap Andrew, menjadi cemas dan panik.


Andrew, dengan segera menekan tombol merah untuk memberi tahu dokter alsa, yang baru saja tadi keluar bersama suster.


"Nak, ada apa? Kenapa kamu panik begitu?" tanya Ayah Efendy, merasa jadi tidak tenang.


"Tika, Ayah, Tika ...," ucapan Andrew, harus tergantung karena sungguh sulit untuk mengatakannya.


"Tika, kenapa? Ada apa dengan Tika?" tanya balik Ayah Efendy.


"Coba saja Ayah, cek denyut nadi dan pernapasannya," Andrew, tiba-tiba meneteskan airmatanya.


Karena merasa penasaran Ayah Efendy, langsung berjalan menghampiri putrinya lalu melalukan apa yang di ucapkan oleh Andrew.


Ayah Efendy, merasa terkejut dan tidak percaya apa yang terjadi.


Tiba-tiba dokter alsa, datang ke dalam ruangan dimana Tika, berada.


"Maaf ada apa ya ini?" tanya dokter Alsa, karena penasaran.


"Dok, tolong istri saya. Jangan biarkan dia pergi, aku mohoh dok, tolonglah," pinta Andrew.


Dokter Alsa, tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Andrew. Kemudian, dokter alsa berjalan menghampiri Tika, dan memeriksanya.


"Gimana Dok? Istri saya, baik-baik sajakan?" tanya Andrew.


Dokter pun kini sudah selesai memeriksa kondisi keadaan Tika.


"Sebelumnya saya minta maaf, saya tidak bisa membantu apa-apa. Mungkin ini sudah takdir dari Sang Kuasa, kalau istri Anda, harus tutup usia," ucap Dokter Alsa, dengan hati-hati.

__ADS_1


__ADS_2