
Tika, kini sudah sampai dicafe dimana sepupunya ada disana. Tika, terus berjalan menghampiri sepupunya yang kini sedang duduk sendirian.
Kemudian, Tika segera duduk saat sudah di tempat meja dimana Via berada.
"Sudah lama, nunggu disini?" tanya Tika, sambil menatap sepupunya.
"Enggak Kak, baru saja tadi sampai," Jawab Via.
"Oh. Oya, ada apa kamu menyuruhku untuk menemuimu?" tanya Tika, kembali.
"Aku sengaja menyuruh Kakak untuk menemuiku, karena aku ingin curhat sama Kakak," jawab Via.
"Curhat? Emangnya, kamu mau curhat apaan?" Tika merasa penasaran dan menatap intens netra Via.
Via dengan segera memulai bicara tentang kekasihnya yang kini akan melamar untuk menikahi dirinya.
Via merasa ragu untuk menerima ajakan kekasihnya, karena Rey pernah melakukan hal yang sangat menjijikan dengan mantan istri Chandra, yaitu Vika.
Kini Via merasa dilema, karena di sisi lain dirinya terlanjur cinta dan sayang kepada Rey. Di sisi lain juga, merasa jijik kepada Rey.
Padahal Rey pernah berkata kepada Via, kalau dulu dirinya mantan cassanova. Sejak bertemu dengan Via, Rey mulai berubah karena Via, orangnya begitu lembut dan selalu mengingatkan dirinya.
"Jadi kamu baru tahu ya, kalau kekasihmu mantan kekasihnya Vika?" tanya Tika.
"Iya Kak. Aku tidak sudi bila harus bekas dia. Akan tetapi, aku terlanjur cinta sama Rey. Gimana dong Kak, aku jadi bingung. Haruskan aku terima ajakan dia?" Via, tangannya tidak diam, terus mengaduk-aduk minumannya.
"Bukankah Rey, pernah berkata jujur sama kamu tentang masa lalu dia. Jadi, mungkin kamu bisa menerima kekurangan dia. Aku mau tanya sama kamu, pernahkah Rey, selama ini jalan dengan wanita lain?" Tika menatap netra Via.
"Enggak pernah." Via, dengan menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kalau menurutku sih, kayaknya dia baik dan telah benar-benar berubah dari masa lalu yang suram. Akan tetapi, terserah kamu saja. Kamu harus yakin dengan keputusanmu. Jangan sampai karena keputusanmu, nanti akan menyesal." Tika, mencoba mengingatkan Via.
"Baiklah." Via, dengan menganggukan kepala.
Seseorang berjalan menghampiri Tika dan Via, saat keduanya saling tertawa terbahak karena ada suatu yang sangat lucu.
Via kini sudah memutuskan, keputusannya dengan matang-matang dan pastinya tidak akan menyesal dengan keputusannya.
"Bolehkah, aku duduk disini?" tanya Seseorang tersebut, sambil menatap Tika dan secara bergiliran.
Tika dan Via pun langsung menatap seseorang tersebut. Betapa terkejutnya Tika, saat mengetahui ternyata dia, sahabat Tika semasa kuliah.
"Revan?" Tika, merasa terkejut.
"Iya, kenapa? Oya, boleh enggak nih aku duduk dengan kalian?" tanya Revan, sekali lagi.
"Tentu saja, boleh." jawab Via.
"Kayaknya, kalian saling mengenal ya?" Via, dengan menatap Revan dan Tika bergiliran.
"Tentu saja kita saling mengenal, karena dia, sahabatku masa kuliah," jawab Revan.
"Oh gitu jadinya. Mau dengar dong cerita kalian masa kuliah, pasti seru banget tuh," ujar Via.
"Kepo!" Timpal Tika, sambil menatap Via.
"Biarin dong Kak, lagi mumet nih. Siapa tahu ada cerita lucu diantara kalian," lirih Via.
"Oke, aku akan ceritakan semuanya." Revan, langsung menceritakan masa lalunya saat masa kuliah.
__ADS_1
Saat Revan mulai menceritakan masa kuliahnya, Via pun tertawa terbahak-bahak saat Revan menceritakan sesuatu yang lucu diantara mereka.
Saat Tika, izin untuk ke toilet, Revan menceritakan perasaannya terhadap Tika. Dia harus mengubur dalam-dalam perasaannya hingga sekarang. Via pun sangat merasa iba kepada Revan.
"Salah Kakak sih. Kalau memang suka, jangan dipendam. Katakan saja, biar hati plong Kak," ucap Via.
"Iya juga sih. Akan tetapi, ya sudahlah memang dia, bukan takdir jodohku," Revan, tersenyum.
"Semoga saja Kakak, dapat wanita yang lebih baik lagi, dari kak Tika." Via, mencoba menyemangati.
"Heem, terima kasih." Revan, menganggukkan kepalanya.
***
Di tempat lain,
Andrew, Lisa dan Juned, kini sudah berada di sebuah hotel. Untuk sementara mereka memang akan menginap di hotel.
Mereka berjalan menuju kamar masing-masing yang sudah dipesan sebelumnya oleh Juned atas perintah Andrew.
Hati Lisa kini sangat senang, karena dari tadi Lisa berhasil membuat Andrew begitu perhatian kepadanya.
Juned sudah terlebih dulu masuk ke dalam kamarnya. Kini hanya ada Lisa dan Andrew masih berjalan menuju kamar masing-masing.
Saat akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba Lisa merasa ada sesuatu yang membuat kakinya keseleo, sehingga kini terjatuh kebawah. Akan tetapi, harus gagal karena Andrew dengan cepat menolong Lisa sehingga tidak terjatuh ke lantai.
Lisa tidak bisa berkedip sama sekali, karena masih terpesona dengan ketampanan yang dimiliki oleh atasannya tersebut.
Kini Lisa semakin nekat untuk melakukan cara agar lebih dekat lagi dengan Andrew.
__ADS_1
Bersambung ...