
Di ruangan kerja, Andrew sedang memijit pelipisnya yang terasa pusing. Apalagi Andrew merasa marah saat Mila mengatai Tika dengan perkataan yang enggak-enggak.
'Dasar itu orang benar-benar kurang ajar ya, tidak bisa menjaga ucapannya. Enaknya saja, dia mengatai yang tidak -tidak kepada Tika.' Andrew sambil memijit kepalanya yang sedikit pusing.
'Aku jadi tidak semangat kerjanya, kepalaku benar-benar mumet nih, lagian tadi si Juned kemana ya? Kenapa membiarkan dia masuk begitu saja ke ruanganku.'
'Ini ponsel milik Tika? Ya sudahlah lebih baik aku kesana, memberikannya kepada dia, sekalian menghilangkan rasa pusingku. Kalau dekat dengan dia, aku begitu nyaman, dan dia mampu membuatku melupakan masalah yang terjadi,' gumam Andrew sambil mengambil ponsel milik Tika.
Andrew pun dengan segera keluar dari ruangan kerjanya.
"Pak Andrew mau kemana?" tanya Juned, saat berpas-pasan dengan Andrew.
"Aku mau memberikan ponsel punya Tika. Oya, untuk sementara tolong hundle pekerjaanku sama kamu ya," ucap Andrew kepada Juned.
"Baik pak." jawab Juned.
"Baguslah kalau begitu. Ya sudah saya kesana dulu ya, mau nganterin ponsel miliknya," ucap Andrew.
"Iya, silahkan pak." Juned, sambl menundukan kepalanya.
Andrew pun segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari kantornya. Langkahnya terhenti saat Juned memanggil dirinya.
"Pak Andrew?" panggil Juned kepada atasanya tersebut.
Andrew membalikan badannya,"iya kenapa?" tanya Andrew.
"Tadi-" ucapan Juned sengaja di gantung, sambil berpikir.
Saya rasa biarkan saja pak Andrew mengetahuinya sendiri, kalau Tika tadi kesini. Lagian, saya tadi sudah berjanji lagi saja bu tika batin Juned.
"Kenapa tidak melanjutkan perkataanmu? Tadi apa?" tanya Andrew sambil mengerutkan keningnya karena merasa penasaran.
"Enggak jadi pak. Silahkan pak, bukannya mau ketemu bu tika ya? Ya sudah, hati-hati dijalannya pak," ucap Juned dengan santai.
"Iss menyebalkan sekali dirimu! Aku bela-belain menghentikan langkahku, demi mendengarkanmu. Tapi nyatanya, kamu telah mempermainkan ku ya,' gerutu Andrew, sambil menatap kesal dan sinis kepada Juned.
"Maaf pak." Juned dengan cengengesan.
"Dasar kurang kerjaan!" gerutu Andrew, sambil berlalu pergi dari hadapan Juned.
Maaf pak Andrew, saya belum bisa mengasih tahu. Saya tidak mungkin mengingkari janji saya kepada Tika batin Juned sambil menatap Andrew yang kini sedang berjalan keluar.
Saat sudah berada di dalam mobil miliknya, Andrew segera menjalankan mobilnya menuju kantor Tika.
****
Andrew kini sudah sampai di perusahaan milik Tika. Kemudian Andrew keluar dari mobilnya, dan segera berjalan menuju masuk ke dalam perusahaan tersebut.
__ADS_1
Para karyawan dan karyawati pun banyak yang menyapa dirinya, karena mereka tahu kalau dirinya calon suami Tika.
Dengan ramahnya, mereka menyambut Andrew yang terus berjalan menuju ruangan Tika, Andrew pun dengan tulus membalas sapaan mereka, dengan meninggalkan seutas senyuman, sehingga membuat para karyawan meleleh karena ketampanannya menjadi dua kali lipat dari biasanya.
Saat Andrew akan memasuki ruangan Tika, tiba-tiba ketemu dengan dewi sang sekretaris.
"Oya, apakah Tika ada di dalam?" tanya Andrew kepada Dewi.
"Bu Tika tidak ada di dalam pak," jawab Dewi.
"Emangnya Tika kemana ya?" tanya Andrew.
"Tadi bu tika bilang, katanya mau keluar dulu." jawab Dewi.
"Keluar? Emangnya keluar kemana?" tanya Andrew.
"Enggak tahu Pak! Bu tika cuma bilang mau keluar dulu," jawab Tika.
"Sudah lama?"
"Lumayan pak, sudah hampir satu jam bu tika belum balik ke perusahaan lagi," ucap Dewi sambil menatap jam tangannya.
"Apa, sudah satu jam? Yang benar saja." Andrew merasa jadi cemas.
"Iya Pak."
"Ya sudah terima kasih, dan saya pamit pulang dulu ya," ucap Andrew.
Andrew pun dengan segera berjalan menuju keluar dari perusahaan tersebut, dan berniat untuk mencari Tika.
Dengan segera Andrew menjalankan mobilnya, saat keadaan di dalam mobil sudah siap.
'Itu orang kemana lagi ya? Tika pergi hampir satu jam, dan belum kembali lagi ke kantornya? Apa yang terjadi sebenarnya dengan Tika?
Apakah Tika baik-baik saja? Ku berharap baik-baik saja, dan sekarang aku harus mencari dia sampai ketemu,' gumam Andrew berbicara pada diri sendiri, dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan standar.
*Di tempat lain.
"Reza?" ucap Tika merasa terkejut, saat Reza memberikan tisu kepada dirinya.
"Ini ambil tisunya, jangan biarkan airmatamu membasahi wajah cantikmu," ucap Reza sambil menyodorkan tisu kepada Tika.
"Terima kasih," ucap Tika kemudian mengambil tisunya.
"Boleh aku duduk?" tanya Reza.
"Heem," Tika sambil menganggukan kepala.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, kayaknya ada sesuatu yang terjadi sama kamu ya?" tanya Tika.
"Enggak ada kok," bohong Tika sambil mengelengkan kepala.
"Bohong, Aku tidak percaya! Buktinya kamu menangis tuh? Aku yakin, ada sesuatu yang terjadi padamu kan?" tanya Reza.
"Lagian, apa hak mu bila ada sesuatu yang terjadi padaku?" tanya balik Tika sambil menatap Reza.
"Aku memang tidak mempunyai hak untuk tahu, tapi setidaknya kamu bisa mencurahkan kekesalanmu agar bisa mengurangi beban pikiranmu," ucap Reza.
Tika pun berpikir sebentar, memang benar apa yang dikatakan oleh Reza, setidaknya menceritakan apa yang membuat hatinya sakit bisa mengurangi beban pikirannya.
"Aku tidak akan memaksa kok agar kamu menceritakan apa yang sudah terjadi padamu, lagian itu hak kamu sih. Tapi apa salahnya kan kamu-" ucapan Reza harus terputus saat Tika menyela pembicaraanya.
"Oke, baiklah aku akan menceritakannya, tapi kamu janji jangan menceritakannya sama orang lain," ucap Tika.
"Iya aku janji kok, santai sajalah Tika," ucap Reza sambil tersenyum.
Tika pun tanpa berpikir langsung menceritakan semuanya kepada Reza, sehingga membuat Reza merasa geram mendengarkannya.
"Apaan-apaan dia, seenaknya banget mempermainkanmu!" Reza sambil mengempalkan kedua tangannya.
"Sudahlah Za, aku memang pantas tersakiti! Entahlah apa salahku, kenapa sih, mereka selalu menyakitiku. Mereka di awal selalu berkata manis, dan berjanji, tapi nyata nya palsu!" Tika, dengan kembali mengeluarkan airmatanya membasahi pipinya.
"Kamu jangan berkata seperti itu, Tika! Dia saja yang sudah keterlaluan dan seenaknya mempermainkanmu! Kenapa Andrew bisa melakukan hal itu? Padahal dia sudah punya calon istri yaitu kamu, lalu buat apa dia mengajakmu menikah, bila masih ada rasa cinta dan sayang sama mantannya," ucap Reza.
"Entahlah Za, aku juga tidak tahu. Mungkin aku hanya di jadikan sebagai pelampiasan sama dia. Mungkin setelah dia kembali bersama mantannya, aku akan di putuskan begitu saja, Ini sungguh sakit Za," Tika terus menteskan airmatanya.
"Sebelum melangkah jauh, tidak ada salahnya kan kamu harus mengakhiri semuanya demi membuatmu tenang. Aku tidak mau, bila nanti rumah tanggamu terjadi lagi seperti kejadian sebelumnya. Aku yakin, kamu bisa dapat yang lebih baik dari Andrew," Reza sambil menatap Tika.
"Benar apa yang kamu katakan Za! Aku harus mengakhiri semuanya, sebelum melangkah lebih jauh. Lagi pula, aku tidak ingin terulang kembali masa pahit dulu yang pernah aku jalani," ucap Tika.
"Jadi berpikirlah dengan jernih, agar tidak menyesali keputusan yang sudah kamu buat. Karena pada akhirnya penyesalan itu akan datang terlambat," ucap Reza mengingatkan.
"Iya memang benar apa yang kamu katakan Za. Terima kasih, kamu sudah mau mendengarkan ceritaku," ucap Tika, sambil tersenyum.
"Sama-sama. Kamu jangan merasa sungkan sama aku, kalau mau curhat ya curhat saja, aku akan selalu siap mendengarkannya," ucap Reza sambil mengusap airmata Tika yang membasahi wajah cantik.
Di tempat lain, kini seseorang merasa emosi saat melihat Tika di sentuh oleh pria lain.
Dengan perasaan yang tidak bisa dikendalikan amarahnya, Andrew pun berjalan menghampiri tempat tersebut, dimana Tika dan Reza berada. Andrew sambil mengepalkan kedua tangannya karena merasa geram.
Bersambung ...
***
Seperti biasa, promo lagi nih. Yuk kepoin dan mampir karya author ini seru banget loh, dan bikin kita baper.
__ADS_1