
Tika dan Andrew, masih setia menunggu Lisa. Dua jam sudah mereka menunggu, untuk mengetahui keadaan kondisi Lisa.
Seseorang berjalan menghampiri Tika dan Andrew.
"Gimana keadaan Lisa?" tanya Chandra, sambil menatap Tika dan Andrew bergiliran. Chandra, kini merasa cemas kepada adiknya.
"Entahlah, dari tadi aku menunggu dokter keluar, tapi belum kunjung keluar juga," jawab Tika.
"Ya tuhan, semoga Lisa baik-baik saja. Terima kasih, kalian sudah membawa adikku kesini," kata Chandra.
"Iya." Tika, tersenyum.
"Kamu bisa enggak sih, kasih contoh yang baik buat dia? Juga ajarin adikmu sopan santun dan jangan jadi parasit dalam rumah tangga orang! Apakah kamu tahu? Adikmu, hampir telah membuat Tika, tertabrak truck. Akan tetapi, Tuhan punya rencana lain dan malah adikmu yang kena imbasnya," Andrew, menatap sinis Chandra.
"A-apa? Kalian tidak bohongkan? Lagi pula, tidak mungkin adikku melakukan hal seperti itu," Chandra, merasa tidak percaya.
"Tanya saja sama istriku. Jangan mentang-mentang dia, adikmu, jadi selalu benar dimatamu," Andrew, merasa geram.
Chandra pun hanya terdiam, dan tidak menyangka Lisa, nekat melakukan hal itu.
"Aku, sebagai Kakaknya Lisa, meminta maaf yang sebesar-besarnya ya Tika. Aku juga bingung entah kenapa dia sekarang jadi berubah semenjak Ibu meninggal," Chandra, sambil menatap mantan istrinya tersebut.
"Kalau minta maaf gampang banget ya, tidak memikirkan gimana sakitnya hati istriku, saat Lisa, berbicara penuh dengan kebohongan! Ibaratnya kertas kalau sudah di sobek lalu disambung lagi tetap saja masih ada luka dihatinya." Andrew, tersenyum sinis.
"Ya aku mengerti. Apa salahnya kan, kita memaafkan orang yang berbuat salah kepada kita? Apalagi manusia tidak pernah luput dari kesalahan," ucap Chandra.
__ADS_1
Tiba- tiba dokter keluar dari ruangan UGD. Chandra, Andrew dan Tika, berjalan menghampiri dokter tersebut.
"Dok, gimana keadaan Lisa?" tanya Chandra, merasa cemas.
"Maaf, anda siapanya pasien ya?" tanya Dokter Dion.
"Saya, kakaknya Lisa, Dok. Gimana keadaan Lisa, sekarang Dok?" tanya Chandra, sekali.
"Keadaan Lisa ...," ucapan dokter Dion, tergantung lalu menatap Chandra.
"Iya, gimana keadaan lisa, dok?" tanya Chandra, penuh kegelisahan.
"Keadaan pasien baik-baik saja," jawab Dokter Dion, tersenyum kepada Chandra.
"Akan tetapi ...," ucapan Dokter Dion, tergantung karena begitu berat untuk mengatakannya.
"Akan tetapi, kenapa Dok?" Chandra, mengerutkan keningnya karena tidak mengerti.
"Karena dibagian lutut mengalami cendera yang cukup parah dan mengalami patah tulang, pasieun tidak bisa berjalan dengan sempurna, juga harus memakai alat bantu kalau ingin berjalan," lirih Dokter Dion.
Chandra, menggelengkan kepala karena merasa tidak percaya apa yang menimpa adikknya.
Tika dan Andrew, tidak kalah terkejutnya saat mendengar perkataan Dokter Dion.
"Ya sudah, kalau begitu Saya permisi, karena harus menangani pasien lain," pamit Dokter Dion.
__ADS_1
"Iya, silahkan Dok. Sebelumnya Saya, ucapkan terima kasih Dok," ucap Chandra.
"Iya. Ya sudah Saya permisi," Dokter Dion, dengan segera pergi meninggalkan Chandra, Tika dan Andrew.
Chandra, langsung berjalan masuk ke dalam ruangan dimana adiknya berada.
Saat Chandra, masuk ke dalam ruangan. Chandra, menatap adiknya menangis sesegukan.
Chandra, berjalan menghampiri adiknya lalu memeluknya saat sudah dekat.
"Kak, kakikku ..." ucap Lisa, dengan suara sendu.
"Kamu yang kuat ya Lis, harus menerima kenyataan," Chandra, mencoba menanangkan adiknya.
"Tidak Kak, tidak mau punya kaki seperti ini. Apa kata orang bila kaki Lisa, cacat. Apakah ada yang mau berteman dengan Lisa?" Lisa, histeris dan menangis sesegukan.
Chandra, tidak bisa berkata apa-apa. Karena memang suratan takdir adiknya harus seperti itu.
Tika dan Andrew pun memasuki ruangan tersebut. Lisa, menatap geram mantan kakak iparnya.
"Ini semua, gara-gara dia Kak," Lisa, sambil menunjuk Tika.
"Kamu, jangan menuduh sembarangan ya!" Andrew, merasa geram dan menatap tajam Lisa.
Bersambung ...
__ADS_1