
"Kalian mau ngapain kesini?!" tanya Andrew, menatap tidak suka Lisa dan Chandra.
"Kak Lisa, Pak Andrew ...," panggil Lisa, saat Tika dan Andrew berjalan menghampiri dirinya.
"Iya Lisa, kenapa? Oya kamu sehatkan Lisa?" tanya Tika.
"Alhamdulillah Kak, sekarang sudah sehat," jawab Lisa, tersenyum kepada Tika.
"Syukurlah kalau begitu. Oya, ada perlu apa ya kalian kesini?" tanya Tika.
Lisa pun menatap Chandra lalu memberikan kode. Chandra, langsung mendorong kursi roda yang di duduki Lisa, untuk menghampiri Tika, agar lebih dekat lagi.
"Stop, jangan dekat-dekat. Kalian mau ngapain dekatin istriku? Jangan bilang kalau kalian punya rencana jahat," Andrew, menatap sinis Lisa dan Chandra.
"Pak Andrew, jangan salah sangka dulu. Aku tidak ada niat berbuat jahat. Aku cuma pingin minta maaf saja sama Kak Tika," lirih Lisa, sambil menatap Andrew.
"Sudahlah Mas, jangan berpikiran negatif mulu. Mungkin Lisa, ingin mengatakan sesuatu yang penting kepadaku," kata Tika.
"Oke, baiklah selama dia berbuat baik padamu, aku tidak akan melarangnya," ucap Andrew.
"Kak Tika ...," panggil Lisa, sambil memegang kedua tangan Tika.
"Iya, kenapa Lisa?" tanya Tika, sambil menatap Lisa.
"Aku minta maaf sama Kakak, aku sudah jahat selama ini sama Kakak, aku hampir akan mencelakai Kakak. Sungguh diriku ini orangnya biadab banget Kak, aku benar-benar minta maaf Kak," lirih Lisa, kemudian meneteskan airmatanya dan merasa sangat menyesal.
"Ck, baru sadar dia." Celetuk Andrew, menatap sinis Lisa.
"Mas ...," ucap Tika, sambil memberikan kode.
"Kakak sudah memaafkanmu, Sayang, sebelumnya juga. Sudahlah Lisa, kamu jangan merasa bersalah begitu. Kakak tahu kenapa kamu tega berbuat jahat? Padahal dulu Kakak kenal kamu, orangnya baik dan tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga orang lain," ucap Tika, kemudian mengusap air mata Lisa, yang membasahi pipinya.
"Kenapa Kakak baik banget? Tidak adakah rasa dendam atau membenciku Kak?" tanya Lisa.
__ADS_1
"Dendam? Benci? Itu bukanlah tipeku. Lagian kalau ada orang yang jahat, kakak tidak mungkin membenci atau dendam. Cuma Kakak hanya bisa berdoa saja, semoga orang tersebut segera dapat hidayah dan mengakui kesalahannya dan segera bertobat," jawab Tika.
"Bolehkah aku memelukmu Kak?" tanya Lisa.
"Tentu saja boleh." Tika, kemudian mensejajarkan tubuhnya dengan Lisa.
Mereka pun kini saling berpelukan. Tiba-tiba airmata Lisa, berjatuhan kembali membasahi baju milik Tika.
"Kamu kenapa menangis?" Tika, merasa heran.
"Aku merasa bersalah saja Kak, karena kelakuanku yang selalu berbuat jahat sama Kakak. Sedangkan Kakak, orangnya selalu memaafkan. Aku benar-benar malu dan menyesal telah menjadi orang selalu berbuat keji," Lisa, terus menangis.
Tika menguraikan pelukannya, lalu menatap intesn Lisa.
"Sudahlah jangan kamu tangisi kejadian yang sudah terjadi, yang lalu biarlah berlalu dan jadikan pelajaran untuk masa depan," Tika, mengusap pipi Lisa yang basah karena menangis.
"Iya, Kak," Lisa, menganggukan kepala.
Tiba-tiba Bi anin, berjalan menuju ruangan tamu dengan membawa dua orang polisi.
Tika merasa terkejut saat melihat pak polisi kini ada di rumahnya.
"Maaf ya pak, ini ada apa ya?" tanya Tika, dengan mengerutkan keningnya karena merasa heran.
"Kami disini ingin menjemput saudari Lisa, karena sesuai perjanjian tempo hari dimana beliau akan ditahan jika sehat," jawab pak Joi.
"Kamu lupa ya, Sayang, dia telah mencelakai juned hingga terjatuh ke bawah. Dia juga yang telah hampir mencelakaimu," terang Andrew.
"Ya ampun, Sayang, maafin aku ya, aku tidak bermaksud-" ucapan Tika, terputus saat Lisa, memotong pembicaraannya.
"Tidak apa-apa Kak, aku ikhlas menerima hukuman ini kok. Lagian, aku memang pantas untuk di penjara karena kelakuanku yang telah membuat orang celaka karena ulahku," lirih Lisa, mencoba tersenyum kepada Tika.
"Tapi-" lagi-lagi ucapan Tika, harus terputus karena Lisa menyela pembicraannya lagi.
__ADS_1
"Sudahlah kakak tidak usah khawatir, Lisa pasti baik-baik saja disana. Lisa, tidak akan sendiri disana pasti akan ada Kak Chandra, yang selalu nengokin Lisa, iya kan, Kak?" Lisa, sambil menatap Chandra.
"Iya, Sayang," Chandra, tersenyum.
"Ya sudah Pak, aku sudah siap menjalani hukumannya," ucap Lisa, kepada Pak Joi.
"Ya sudah ayo, kita pergi ke kantor polisi," ajak Pak Joi.
"Kak, Lisa pamit ya, doain ya Kak, semoga Lisa, selalu sehat dan bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi," ucap Lisa.
"Iya, Lis, Kakak, pasti akan selalu mendoakanmu," Tika, tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu kita permisi dulu." Chandra, menatap Tika dan Andrew.
Lisa, Chandra dan Pak Polisi dengan segera pergi dari hadapan Andrew dan Tika.
Mereka pergi menuju kantor polisi, untuk memeriksa dan masa penahan Lisa, dimana Lisa, kini sudah ditetapkan sebagai tersangka yang telah membuat orang hampir kehilangan nyawanya.
"Sudah Sayang, kamu jangan khawatirin dia. Lagian Lisa, memang pantas menerima hukumannya. Semoga saja saat Lisa, sudah bebas menjadi manusia yang lebih baik lagi," ucap Andrew.
"Iya, Mas," jawab Tika, dengan menganggukan kepala.
"Oya, Sayang. Hari ini kan, hari libur kita mau kemana nih?" tanya Andrew.
"Kita ngebakso yuk, Mas," ajak Tika.
"Ngebakso? Yang benar saja Sayang, barusan kan, kamu sudah makan."
"Tapi aku lapar lagi Mas. Kamu mah tadi nanyain katanya mau kemana? Lah, aku jawab bilangnya gitu," gerutu Tika, menatap sebal suaminya.
"Sorry deh, aku cuma bercanda kok. Ya sudah, ayo kita berangkat," ajak Andrew.
"Oke, siap."
__ADS_1
Tika dan Andrew pun berjalan menuju mobil miliknya dengan saling mengaitkan tangannya satu sama lain. Mereka kini merasa sangat senang saat orang yang telah menyakitinya telah meminta maaf dan berharap tidak ada lagi parasit yang akan menghancurkan rumah tangganya.
Saat Andrew dan Tika, sudah berada didalam mobil dan keadaanya sudah siap, Andrew dengan segera menjalankan mobilnya menuju tempat yang dituju.