
Para tamu undangan pun berpamitan pulang saat acara pernikahan akan selesai.
Kini hanya ada keluarga Tika dan Andrew yang masih ada disitu.
"Akhirnya kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri, Ayah sangat senang melihatnya. Semoga kalian menjadi pasangan sakinah, dan selalu bahagia," ucap Ayah Efendy, sambil menatap menantunya, dan juga putrinya.
"Terima kasih ayah atas doanya. Doakan juga supaya Tika secepatnya dapat momongan," bisik Andrew kepada Ayah Efendy.
"Kalau masalah itu, kamu harus rajin-rajin bikinnya," Ayah Efendy tertawa terbahak.
"Maksud Ayah bikin apa nya?" tanya Andrew merasa tidak mengerti.
"Nanti juga kamu bakal tahu, maksud perkataan Ayah," ucap Ayah Efendy.
"Iss Ayah, kenapa enggak bilang langsung saja sekarang," ucap Andrew merasa sebal.
"Kalau pingin tahu tanya saja pada istrimu," ucap Ayah Efendy, sambil menatap Tika.
"Maksudnya apa yang dikatakan Ayah tadi?" tanya Andrew, kepada istrinya.
"Yang mana?" tanya balik Tika.
"Yang tadi Ayah katakan," ucap Andrew.
"Tadikan Ayah panjang lebar bicaranya, jadi yang mana Ndrew?" tanya Tika sekali lagi.
Andrew hanya menepak jidat. Andrew pikir Tika bakal tahu," sudahlah lupakan saja sayang," ucap Andrew.
"Selamat sayang, akhirnya kamu sudah resmi jadi istri Andrew, semoga langgeng hingga maut memisahkan kalian," ucap Bu Cantika.
"Terima kasih Bu atas doa nya," ucap Tika tersenyum kepada Ibu mertuanya.
"Iya sayang. Ingat Ndrew, jadilah suami yang bertanggung jawab, serta selalu mebimbing istrimu ke jalan yang lurus. Jangan pernah sekali kali kamu main kasar, dan jangan pernah membuat istrimu kecewa karena tingkahmu," ucap Bu Cantika, sambil menatap putranya.
"Iya siap Bu. Andrew akan berusaha membahagiakan dia sebisa mungkin, dan pastinya Andrew akan bertanggung jawab," ucap Andrew.
"Baguslah kalau begitu Nak," Bu Cantika tersenyum kepada putranya.
"Ibu ... Ayah ...," panggil Chika.
"Eh anak Ayah, sudah dari mana sayang? Katanya enggak bakal lama, tapi ini sudah dua jam perginya," Andrew kemudian mengendong Chika.
__ADS_1
Chika hanya cengengesan saat Andrew berkata seperti itu.
"Maaf Ayah, Chika lama perginya. Habisnya Chika tadi nonton pertujukan sulap, seru banget. Setelah itu Chika pergi ke taman," jawab Chika tersenyum kepada Andrew.
"Emmz gitu ya. Ya sudah tidak apa-apa, yang penting kamu baik-baik saja," ucap Andrew tersenyum kepada Chika.
"Iya Ayah." ucap Chika.
"Karena acaranya sudah selesai, lebih baik kalian pulang saja ke rumah," ucap Bu Lily.
"Emangnya enggak apa-apa Bu, bila Andrew pulang duluan?" tanya Andrew.
"Ya ampun Nak, tentu saja boleh. Masa iya, Ibu mau suruh sama kamu buat beres-beres di hotel sih, memangnya kamu mau?" tanya balik Bu Lily.
"Masa iya Ibu tega nyuruh Andrew sih, ini kan saatnya Andrew tuk berduaan sama Tika," ucap Andrew dengan polosnya.
Bu Lily, Ayah Efendy dan Bu Cantika hanya menggelengkan kepala mendengar perkataan Andrew.
"Ya sudah, sana pulang. Waktu yang tepat sekarang untuk kalian," ucap Bu Cantika.
"Ibu apaan sih," rengek Tika dengan pipinya yang memerah.
Bu Cantika hanya tertawa terkekeh.
"Silahkan Nak, pasti kalian cape kan? Jadi istirahatlah," ucap Bu Lily.
"Iya Bu. Oya sayang, ayo kita pulang," ucap Andrew kepada Chika.
"Enggak Ayah, Chika pulangnya sama Nenek saja," ucap Chika.
"Kenapa enggak bareng saja sama Ayah dan Ibu pulangnya?" tanya Andrew.
"Enggak ah Ayah. Soalnya Nenek bilang tadi mau ngajak Chika ke mall."
"Oh gitu ya. Emangnya enggak apa-apa kalau di tinggal sama Ayah dan Ibu?" tanya Andrew.
"Enggak apa-apa kok Ayah."
"Ya sudah kalau begitu, Ibu sama Ayah pulang duluan ya sayang? Ingat jangan nakal," ucap Tika.
"Iya siap Bu." jawab Tika.
__ADS_1
Andrew dan Tika pun segera pergi berlalu saat sudah selesai berpamitan kepada keluarganya masing-masing.
Dengan segera Andrew pergi dari hotel tersebut, dan pergi menuju rumahnya.
☆☆☆☆☆☆☆
Mereka pun kini sudah sampai di rumah kediaman Tika. Dengan segera Andrew dan Tika keluar dari mobil tersebut.
"Ndrew, aku duluan kedalam rumahnya ya? Aku kebelet nih," ucap Tika.
"Ya sudah sayang, silahkan," ucap Andrew.
Tika dengan segera berjalan duluan ke dalam rumah karena sudah tidak tahan pingin buang air besar.
15 menit kemudian ...
Tika pun segera keluar dari toilet tersebut, lalu berjalan menuju kamar.
'Andrew kemana ya? Kenapa belum kesini juga?' gumam Tika sambil menenggok seluruh ruangan kamar.
'Ya sudahlah, sekarang aku harus lepasin nih baju pengantinnya, gerah banget,' gumam Tika dengan segera membuka bajunya.
Tiba-tiba Andrew memasuki kamar tersebut, dan membulatkan matanya saat melihat pemandangan yang begitu indah. Bagaimana tidak, kini Tika dengan tubuh polos tanpa busana.
Andrew menelan salivanya dengan susah, dan tidak berkedip sama sekali. Andrew terus berjalan menghampiri istrinya.
"Sayang," ucap Andrew memeluk Tika dari belakang.
"Andrew," Tika merasa terkejut saat Andrew tiba-tiba langsung memeluknya. Tika pun mencoba melepaskan tangan Andrew untuk mencari pakaian.
"Jangan banyak memberontak, biarkan begini," ucap Andrew.
"Tapi aku malu Ndrew, lihat aku tidak me-" ucapan Tika terputus, saat Andrew memutar pinggang Tika hingga mereka saling bertatapan satu sama lain.
"Kenapa harus malu? Bukankah kita sudah sah jadi suami istri? Tidak ada salahnya dong kita ...," ucap Andrew sengaja digantung lalu memandang tu☆buh polos istrinya.
"Ndrew jangan me-" lagi-lagi ucapan Tika harus menggantung di udara saat benda kenyal menempel dibi☆birnya.
Tika tidak bisa memberontak karena sadar akan posisinya sekarang. Andrew pun menikmati apa yang dilakukannya. Tangannya tidak tinggal diam, terus menulusuri setiap inci tu☆buh istrinya.
Tika merasakan hawa panas menjalar ditubuhnya karena ulah suaminya. Karena miliknya kini sudah menegang, dengan segera Andrew mengendong Tika lalu membawanya keatas ranjang, dan membukakan pakaianya. Hingga akhirnya kini mereka sedang menikmati indahnya surga dunia, dan diiringi suara ******* dari pasangan pengantin tersebut yang baru saja menikah.
__ADS_1
Bersambung ....