
"Belum datang juga makanannya ya sayang?" tanya Tika, terhadap putrinya saat sudah mengambil ponsel dari mobilnya.
"Belum Bu," jawab Chika, sambil menggelengkan kepala.
"Ya sudah sabar saja ya sayang, mungkin bentar lagi juga datang." ucap Tika.
"Baiklah Bu." jawab Chika.
Karena merasa ada yang menatap dirinya dari tadi, Tika langsung menatap Chandra, dan benar saja Chandra menatap dirinya lalu tersenyum terhadap Tika.
Tika bukannya membalas senyuman Chandra, tapi malah terkejut dengan sikap Chandra. Bagaimana tidak, tadi di dalam mobil Chandra sempat menyindir dirinya, bahkan bermuka jutek.
"Oya, tidak apa-apa nih Tik, saya ikut gabung makan dengan kalian?" tanya Chandra terhadap Tika.
"Tentu saja boleh Ayah. Kenapa ayah bicara begitu? Bukankah dulu juga, kita sering makan bersama." ucap Chika, sambil menatap Chandra kemudian menatap Tika.
"Itu kan dulu, sekarang beda sayang. Sebenarnya Ayah sama Ibu, tidak ada ikatan apa-apa lagi." ucap Chandra, mencoba menjelaskan terhadap putrinya.
"Maksudnya apa Yah? Chika tidak mengerti." ucap Chika, benar-benar tidak mengerti.
"Maksudnya kalau Ayah sama Ibu sudah berpisah. Jadi tidak mungkin bersama seperti dulu lagi." ucap Chandra dengan hati-hati.
"Jadi benar, apa yang dikatakan nenek ya? Kalau ayah sama Ibu tidak bisa bersama lagi ya?" tanya Chika, merasa sedih.
"Jadi nenek sudah kasih tahu kamu ya?" tanya balik Tika, dan merasa tidak menyangka kalau Ibunya sudah kasih tahu Chika duluan.
"Iya bu. Meski Chika tidak mengerti apa itu berpisah. Yang Chika tahu, nenek bilang kalau Ibu sama Ayah tidak bisa bersama lagi. Kumpul bareng lagi," ucap Chika, sambil menatap sendu Tika dan Chandra.
__ADS_1
Ada perasaan rasa bersalah dihati Tika dan Chandra. Tapi Tika sadar, ini harus terjadi demi kebaikan dirinya, dan sudah takdir harus berpisah. Berbeda dengan Chandra, rasa ingin menembus kesalahannya dan bersatu seperti dulu.
"Padahal Chika ingin Ibu sama Ayah bersatu lagi," ucap Chika, kemudian memegang tangan Chandra, lalu menyatukannya ke tangan Tika.
"Eh sayang." ucap Tika, merasa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh putrinya.
Begitu juga dengan Chandra, merasa terkejut. Tapi ada rasa bahagia, bila seandainya itu terjadi.
"Sayang, kamu itu apa-apaan sih. Nanti istrinya marah sama Ibu loh," ucap Tika, dengan segera melepaskan tangannya yang bersatu dengan Chandra.
"Maksud Ibu, siapa yang marah? Istrinya, maksudnya apa?" tanya Chika dengan polos.
Tika hanya menghembuskan napasnya dengan perlahan, saat putrinya bertanya.
"Ayahmu itu sudah menikah lagi, dan punya istri baru. Juga kamu sebenarnya punya Ibu sambung," jawab Tika, sambil menatap Chandra. Sedangkan Chandra hanya tersenyum terpaksa saat mantan istrinya menatap dirinya.
"Iya." jawab Tika, sambil menganggukan kepala.
"Enggak ah, Chika enggak mau punya Ibu tiri. Kata orang-orang punya Ibu tiri itu jahat." Chika, merasa ketakutan.
"Kata siapa sayang? Itu kan, cuma dongeng. Kalau kenyataannya banyak kok, punya Ibu tiri tapi baik banget. Kalau enggak percaya, tanya saja sama Ayahmu," ucap Tika, sambil mengusap rambut putrinya.
"Benarkah itu Ayah?" tanya Chika, terhadap Chandra.
"Eh iya sayang, be-benar tuh apa yang di katakan Ibumu," ucap Chandra dengan kikuk.
Tika menatap Chandra, dan merasakan sesuatu yang tidak beres terhadap Chandra, saat menjawab pertanyaan putrinya. Tapi Tika memilih masa bodoh, karena itu urusan mantan suaminya dan istrinya.
__ADS_1
"Tuh kan, apa yang di ucapkan Ibu benar kan," ucap Tika tersenyum terhadap putrinya.
"Iya deh Bu, Chika percaya sama Ibu." Chika membalas senyuman Ibunya.
Sebenarnya rumah tanggaku bersama Vika, sudah usai. Aku tidak mungkin mengatakan ini sekarang, karena aku sangat malu, rumah tanggaku bersama Vika bertahan hanya seumur jagung. Aku menyesal, ternyata dia bukanlah wanita yang baik sepertimu Tika batin Chandra, sambil menatap Tika yang kini sedang merapihkan jepitan rambut milik putrinya.
Sang pelayan pun datang, dengan membawa pesanan makanan yang di pesan oleh Tika. Pelayan tersebut dengan segera meletakan makanannya ke meja tersebut.
"Selamat menikmati Nyonya, Tuan, dan adek cantik," ucap sang pelayan tersebut.
"Terima kasih Om," jawab Chika, sambil tersenyum terhadap sang pelayan tersebut.
"Sama-sama adek cantik. Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu ya, karena ada pekerjaan lain yang harus dikerjakan." ucap Ito sang pelayan tersebut.
"Iya, silahkan Om." jawab Chika.
Ito pun dengan segera berlalu pergi, dan Tika, Chika, Chandra dengan segera menikmati makan siangnya.
Andrew tiba-tiba datang menghampiri Tika yang kini sedang menikmati makan siangnya.
"Eh ternyata ada gadis cantik disini ya?" ucap Andrew, sambil menatap Chika.
"Om Andrew?" Chika merasa terkejut, sekaligus ada rasa senang.
"Iya kenapa sayang? Apa kabar gadis cantik? Sudah lama tidak ketemu lagi ya." ucap Andrew sambil tersenyum terhadap Chika.
"Baik kok Om. Ya Om, sudah lama tidak ketemu." Chika membalas senyuman Andrew.
__ADS_1
So akrab banget ini orang. Dia pikir dia siapa? Kayaknya dia sengaja dekatin si Chika untuk mendapatkan hatinya Tika deh batin Chandra, sambil menatap sinis Andrew.