
"Kak Tika?"
"Lisa?"
Tika dan Lisa, merasa terkejut saat mengetahui orang yang mereka sangat kenal.
"Oya Lisa, kamu boleh duduk ditempat kerjamu disana," ucap Andrew, sambil menunjuk tempat kerja untuk Lisa.
"Baiklah pak," jawab Lisa, kemudian melangkahkan kakinya menuju tempat kerjanya.
"Tunggu dulu!" ucap Tika, membuat langkah Lisa terhenti.
"Ada apa kamu memanggil dia?" tanya Andrew, kepada Tika.
"Apakah orang yang kamu maksud dia, yang hampir kamu tabrak?" tanya Tika, sambil menatap Andrew.
"Iya, emangnya kenapa?" tanya balik Andrew.
"Tidak apa-apa kok. Oya, gimana kakimu apakah masih sakit? Pak Andrew bilang, katanya kakimu sakit ya?" ucap Tika kepada Lisa.
"Iya kak. Tapi sekarang agak mendingan enggak sakit kok kak," ucap Lisa, kemudian tersenyum kepada Tika.
"Serius, kamu baik-baik saja?" tanya Tika.
"Iya serius kak. Buktinya Lisa berjalan sendiri."
"Oh, syukurlah." ucap Tika.
"Iya kak." ucap Lisa.
"Ya sudah, sekarang kamu boleh duduk di tempat kerja," ucap Tika.
"Baiklah pak." Lisa kembali melangkahkan kakinya menuju tempat kerja.
Kak Tika ngapain ada disini? Mentang-mentang sekarang jadi pemimpin perusahaan, Kak Tika menjadi paling so, orangnya batin Lisa sambil menatap Tika dan Andrew yang kini sedang mengobrol di sofa.
"Gimana, sekarang kamu percaya kan?" tanya Andrew kepada Tika.
"Memangnya, siapa bilang kalau aku tidak percaya padamu hem?" tanya Tika, sambil menyipitkan matanya saat menatap Andrew.
"Tadi aku lihat begitu sih." jawab Andrew.
"Ih so tahu ya jadi orang! Jangan suudzon loh, pamali kalau kata orang tua mah," ucap Tika.
"Sorry ...," ucap Andrew, kemudian memegang tangan Tika.
"Ih apaan sih, ini di kantor loh. Nanti kalau orang lain lihat gimana? Malu tahu," gerutu Tika, mencoba melepaskan tangan Andrew.
__ADS_1
"Kenapa harus malu? Lagian tidak ada orang kok!" Andrew semakin mempererat tangannya, ke tangan Tika.
"Tapi disini ada Lisa, Ndrew." ucap Tika.
"Bodo amet! Biarkan saja dia tahu. Lagi pula, kamu ini kan calon istriku," Andrew sambil tersenyum kepada Tika.
"Tapi aku terpaksa loh, bukannya tulus. Lagi pula, ayahku sama ibumu memaksa perjodohan ini," Tika sambil menatap kesal Andrew.
"Tapi bukannya kamu berjanji padaku, akan berusaha membuka kan, hatimu untukku! Makanya aku akan berusaha membuat kamu senyaman mungkin, dan semampuku, aku akan membahagiakanmu," ucap Andrew, kemudian menyelipkan anak rambut ke telinga Tika.
Iya memang benar, dua minggu yang lalu tanpa di sengaja orangtua Tika, dan orangtua Andrew, ketemu di sebuah hotel, mereka akhirnya menjodohkan Tika, dan Andrew.
Awalnya Tika menolak. Tapi karena Tika merasa tidak enak hati, dan merasa berhutang budi kepada Andrew, Tika menyutujui perjodohannya, dan akan berusaha membuka kan, hatinya untuk Andrew. Karena, Tika bisa lihat kalau Andrew orangnya tulus, baik hati, dan sangat beriwaba.
Mereka tuh apa-apaan sih? Pakai pegang tangan segala lagi, terus itu pak Andrew pakai menyelipkan rambut kak Tika segala, Oh, No!
Apakah mereka menjalin hubungan? Tidak bisa, ini tidak bisa di biarkan! Masa iya, aku harus kalah sama seorang janda bekas kakakku? Lagi pula, pak Andrew salah milih kali. Harusnya cari wanita yang masih fress dan perawan batin Lisa, sambil menatap tidak suka Tika.
"Sudahlah Ndrew, apaan sih. Ini di kantor loh," Tika menghempaskan tangan Andrew, karena merasa tidak enak. Apalagi saat lihat Lisa, yang terus menatap dirinya.
"Kamu itu ya, masih dingin saja sikapnya. Nanti kalau aku sudah di rebut sama wanita lain, nanti kamu tahu rasa loh," celetuk Andrew, sambil menatap Tika yang kini sudah beranjak dari sofanya.
"Apaan sih kalau bicara! Oya, lagi pula aku kesini mau minta tanda tanganmu di surat perjanjian kita," ucap Tika.
"Perjanjian pra nikahkan?" Andrew, sambil menatap Tika.
"Enggak lucu tahu bercandanya! Sudah sekarang tanda tangan tuh, kerja sama kita," ucap Tika, sambil memberikan berkas-berkas kerja sama perusahaanya.
"Makasih." ucap Tika.
"Ya sama-sama hunny." ucap Andrew, sambil tersenyum simpul.
"Ya sudah kalau begitu, aku pamit pulang ya," ucap Tika.
"Oke, baiklah. Memangnya, kamu tidak berniat untuk makan siang bersama?" tanya Andrew kepada Tika.
"Maaf, aku sudah tidak bisa! Lain kali saja ya, kita makan bersama." ucap Tika.
"Oke, no problem!" jawab Andrew.
"Ya sudah kalau begitu, aku permisi!"
"Iya silahkan, hati-hati di jalannya."
" Heem."
Tika dengan segera pergi meninggalkan Andrew, dan berjalan keluar.
__ADS_1
'Masih tetap dingin, dan tidak berubah! Tapi aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan hatimu, Tika! Aku tahu, rasa traumamu yang membuatmu menjadi begitu. Tapi aku yakin, aku mampu memudarkan rasa traumamu dan menjadi hidupmu lebih berarti,' guman Andrew, sambil menatap punggung Tika.
"Maaf pak, boleh aku bertanya?" panggil Lisa kepada Andrew.
"Tentu saja boleh. Memangnya mau bertanya apa?" Andrew, kemudian beranjak dari sofa dan berjalan menghampiri Lisa.
"Ini pak, ada sedikit yang aku tidak mengerti," ucap Lisa.
"Oh, baiklah aku akan menjelaskannya!" Andrew terus berjalan menghampiri Lisa. Namun langkahnya terhenti saat Andrew menatap dinding kaca, lalu menatap Tika, dan disana ada Chandra.
Chandra? Mau ngapain sih dia? Apakah dia sekarang jadi supir pribadi Tika? Yang benar saja kalau itu terjadi. Sebenarnya, aku benar-benar tidak mengerti dengan dia, apakah Tika masih ada hati buat Chandra? Padahal dia orang yang telah membuat Tika terluka batin Andrew, sambil menatap Tika yang kini masuk ke dalam mobil bersama Chandra.
"Pak Andrew." panggil Lisa.
"Eh iya, maaf ya tadi saya lupa akan menjelaskannya padamu," ucap Andrew, kemudian berjalan menghampiri Lisa.
"Iya, tidak apa-apa kok pak," ucap Lisa.
Sebenarnya, pak Andrew lagi menatap siapa sih? Pasti kak Tika kayaknya. Begitu istimewanya dia, dimata pak Andrew? Yang benar saja batin Lisa sambil tersenyum tipis.
"Oya, tadi kamu mau bertanya apa sih?"
"Ini pak, masalah ini!" ucap Lisa, sambil menunjuk laporan yang ada di laptop.
"Oke, baiklah. Saya jelasin ya," ucap Andrew, dengan segera menjelaskan kepada Lisa.
****
Di tempat lain.
"Siapa yang menyuruhmu, untuk datang menjemputku!" ucap Tika dengan datar, lalu menatap sekilas Chandra.
"Tadi sopir yang biasa menjemputmu, katanya tidak bisa menjemputmu lagi, karena tadi ada saudaranya yang meninggal. Dia malah menyuruh aku yang menjemputmu," ucap Chandra, dengan gugup.
"Aku kamu berbicara jujur padaku! Katakanlah yang sebenarnya!" bentak Tika.
"Aku serius Tika, aku enggak bohong kok! Kalau aku bohong, aku rela di keluarkan dari kantormu," ucap Chandra.
Tika pun tidak membalas perkataan Chandra, Tika memilih diam dan menatap ke depan.
Disepanjang jalanan menuju kantor, diantara mereka tidak ada yang berbicara sama sekali. Lalu Chandra pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Tika ...," panggil Chandra.
"Heem." jawab Tika.
"Apakah, dihatimu masih ada rasa cinta untukku?" tanya Chandra, dengan hati-hati.
__ADS_1
"Kenapa kamu bertanya tentang sesuatu yang sangat konyol, emm?" tanya Tika dengan datar.
"Karena aku melihat-" ucapan Chandra, harus tergantung karena bingung untuk menjelaskannya.