
"Gimana kamu mau kan, memaafkanku? Dan apakah ada yang terluka di kepalamu?" tanya Tika sambil menatap pria tersebut.
Seseorang tersebut, tidak menjawab perkataan Tika. Dia malah terus menatap Tika kagum, dan menatap Tika dari atas sampai bawah.
'Ini cewek cantik juga ya, lumayan nih kalau gebet dia, terus di jadikan kekasihku nih. Lagi pula, ini cewek enggak bakal bikin malu aku di depan banyak orang, soalnya dia cantik, dan bisa di bilang wanita idaman para pria nih,' gumam Reza di dalam hati. Matanya, terus menatap wajah cantik Tika.
"Haloo ...," lirih Tika tangannya sambil melambaikan di depan mata Reza.
"Eh i-iya," ucap Reza dengan gugup, saat tersadar dari lamunanya.
"Ya ampun, ini orang benar-benar melamun ya? Pantesan saja, dari tadi aku nanya tidak di jawab mulu, mungkin tidak dengar juga ya," Tika sambil tersenyum tipis.
"Kamu barusan bilang apa hem? Aku tidak dengar? Kamu pikir, aku tuli apa." Reza sambil menatap kesal Tika."Dan asal kamu tahu ya, kepalaku sangat sakit tahu, karena ulahmu yang melempar batu ke kepalaku. Nih lihat, kepalaku," gerutu Reza sambil menunjuk kepalanya yang merah, dan bengkak akibat terkena lemparan batu.
__ADS_1
"Ya ampun kasihan banget, jahat benar ya itu batu, telah membuat kepalamu seperti ini," ucap Tika sambil mengusap kepala Reza yang terkena lemparan batu tersebut.
"Aww sakit tahu! Lagi pula, yang jahat itu bukan batu. Tapi kamulah yang jahat, telah membuat kepalaku begini. Ini orang aneh sekali, malah nyalahin batu," gerutu Reza sambil memonyongkan bibirnya karena merasa kesal.
"Yee, biasa saja kali enggak sewot gitu. Nih aku kasih uang buat berobat lukamu," Tika sambil mengambil uang dari dompetnya, lalu mengambil beberapa uang lembar dengan pecahan seratus ribuan, kemudian memberikannya kepada Reza."Nih ambil uangnya." ucap Tika.
Reza pun hanya tersenyum miring, saat Tika menyodorkan uang kepada dirinya,"aku enggak butuh uang!"
"Ck, ini orang belagu banget ya, mana bilang enggak butuh uang lagi. Apa uang yang aku kasih kurang? Baiklah, aku tambahin lagi nih." Tika sambil kembali mengambil uang dari dompetnya."Nih ambil, ku rasa itu sudah cukup untuk berobat luka yang ada di kepalamu. Malahan, bakal ada sisa banyak tuh," ucap Tika sambil menatap Reza.
"Seriusan nih, enggak butuh uang buat berobat lukamu?" tanya Tika sambil menaikan satu alisnya.
"Ya seriuslah, masa aku bohong. Lagi pula, uangku tuh banyak. Jadi sangat di sayangkan, bila enggak terpakai itu uang." ucap Reza sambil menatap sinis Tika.
__ADS_1
"Ck, sombong sekali dirimu itu! Dengar ya, kalau memang sangat di sayangkan sama uang, karena tidak bisa di pakai, mending kasih uangnya ke panti asuhan. Lumayankan, kita punya pahala karena sudah memberikan harta kita kepada anak yatim piatu."
"Tidak perlu kamu ceramahi aku, lagi pula itu selalu aku lakukan," ucap Reza.
"Baguslah kalau begitu! Ya sudah, karena masalah kita sudah selesai, aku pamit dulu ya, karena aku harus kembali lagi bekerja." ucap Tika, kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi. Tetapi sayangnya, langkah Tika harus terhenti saat Reza menarik tangan Tika.
"Tunggu! Siapa bilang, kalau masalah kita sudah selesai hem?" tanya Reza sambil menahan lengan tangan Tika.
"Loh, kan kita sudah damai. Jadi enggak perlu ada pembicaraan lagi kan? Lagi pula, tadi aku kasih kamu uang malah enggak mau. Sekarang mau kamu apa sih?" tanya Tika sambil menatap kesal Reza.
"Aku mau sebagai gantinya, kamu temani aku makan malam nanti." jawab Reza.
"A-apa? Temani kamu makan malam?" ucap Tika dengan gugup, dan mengulangi ucapan Reza.
__ADS_1
"Heem ... Gimana?" tanya Reza sambil menatap Tika.
bersambung ....