
"Eh pak Andrew? Tentu saja boleh pak, silakhkan duduk," jawab Reza sambil tersenyum.
"Terima kasih. Tapi serius enggak apa-apa kan, saya gabung bersama kalian?" tanya Andrew sekali lagi, sekilas menatap Tika.
"Jangan merasa sungkan pak bila pingin bergabung, ya gabung saja pak. Iya kan, Tik." ucap Reza sambil Tika.
"Eh, iya benar tuh pak Andrew." Tika sambil menatap Andrew.
"Ya sudah saya mau pesenin dulu makananya, sekalian mau ke toilet dulu bentar ya." ucap Reza sambil menatap Tika dan Andrew bergiliran.
"Iya silahkan pak Reza." Andrew kemudian tersenyum.
Reza beranjak dari kursi duduknya, lalu berjalan terlebih dulu untuk memesan makananya sebelum pergi menuju toilet.
Kini Tika dan Andrew menjadi merasa canggung saat Andrew mengatakan suka terhadap Tika. Karena tidak enak hati saling diam satu sama lain, Andrew pun memberanikan berbicara duluan.
"Tika ...." panggil Andrew sambil menatap Tika.
"Iya, kenapa pak?" Tika kemudian menatap Andrew.
"Kamu marah ya sama saya?"
"Marah? Kata siapa pak? Lagi pula, ngapain saya harus marah sama pak Andrew sih," ucap Tika merasa tidak mengerti.
"Serius kamu enggak marah nih?" tanya Andrew sekali lagi.
"Lagi pula ngapain saya harus marah sama pak Andrew? Emangnya pak Andrew telah melakukan kesalahan sama saya ya?"
__ADS_1
"Ya kirain saya, kamu marah karena saya telah-" ucap Andrew sengaja digantung lalu menatap Tika sejenak.
"Telah apa?" tanya Tika sambil mengerutkan keningnya, karena merasa tidak mengerti.
"Sudahlah lupakan saja. Syukurlah kalau kamu memang tidak marah." Andrew sambil menarik napasnya lalu membuangnya dengan pelan. Kini merasa lega, Andrew pikir Tika marah terhadapnya.
Sebenarnya Tika tahu maksud perkataan Andrew, tetapi Tika memilih pura-pura tidak tahu. Awalnya Tika ogah menjawab menyapa Andrew, tapi disisi lain Tika enggak mau kalau Reza mengetahui kalau Tika sangat kesal terhadap Andrew karena kejadian waktu di kantor bersama mantan kekasihnya.
"Oya Tik, apa kabar Chika? Dia baik-baik saja kan?" tanya Andrew.
"Dia baik-baik saja kok."
"Syukurlah kalau begitu. Saya kangen banget sama anakmu yang cantik, lucu dan mengemaskan itu."
"Oya? Emangnya kamu kenal dengan anakku ya?" tanya Tika.
"Sorry bukan begitu, saya benar-benar lupa pak."
"Masa sih? Lupa apa lupa ...." goda Andrew.
"Terserah mau percaya atau tidak juga, yang penting saya tidak berbohong."
"Iya saya percaya kok."
"Syukurlah kalau memang percaya."
"Iya. Oya Tik, saya benar-benar minta maaf ya saat kejadian tadi di kantor. Kamu jadi kena masalah, dan tadi kamu di tampar sama wanita gila itu. Pipi kamu tidak sakit kan?"
__ADS_1
'Tentu sajalah sangat sakit, mana ada orang kalau di tampar tidak sakit, aneh-aneh saja ini orang' ucap Tika di dalam hati.
"Sudahlah lupain wanita gila itu, tidak ada manfaatnya bila bahas mantanmu."
"Oke baiklah."
"Oya kamu tahu tidak, ternyata si Chandra selingkuhin saya sudah lama banget, hampir tiga tahun lebih saya di selingkuhin. Tetapi kenapa saya bego banget ya, tidak mengetahui perselingkuhan si Chandra dengan si Vika." ucap Tika tersenyum sinis.
"Yang benar saja Tik? Emangnya kamu tahu dari mana kalau si Chandra sudah lama selingkuh darimu?" tanya Andrew.
"Dari pak Reza." Jawab Tika.
"Pak Reza? Emangnya dia kenal banget ya sama si Chandra."
"Tentu saja, pak Reza itu sahabatnya si Chandra."
"A-apa, sahabatnya si Chandra?" ucap Andrew dengan gugup karena merasa terkejut.
"Heem. Selama tiga tahun, kalau ada acara apa-apa selalu si Vika yang datang, bahkan si Chandra sama si Vika suka mesra banget dihadapan para sahabatnya. Mereka pikir kalau si Vika istrinya. Ya ampun, sakit tahu enggak Ndrew, selama ini si Chandra tidak pernah anggap saya sebagai istrinya." Tika sambil mencoba menahan airmatanya yang mulai memanas agar tidak terjatuh.
"Benar-benar si Chandra memang tidak waras ya, dan kamu sangat beruntung telah mengakhiri rumah tanggamu dengan dia."
*****
promo lagi nih, yuk mampir dan kepoin karya dari temanku ini, bagus banget lo ceritanya,
__ADS_1