Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
158. Dia, Sahabatku


__ADS_3

"Revan?"


"Tika?" ucap mereka berdua, secara bersamaan.


"How are you, Tika?" tanya Revan, sambil mengulurkan tangannya.


"Baik. Kamu sendiri gimana kabarnya?" tanya balik Tika, dengan membalas uluran tangan Revan.


"Syukurlah kalau begitu. Seperti yang kamu lihat, tentu saja kabarku baik," jawab Revan.


"Syukurlah. Sejak kapan, kamu datang kesini? Bukannya, kamu sudah resmi tinggal di luar negeri?" tanya Tika kembali.


"Sekarang, aku bakal tinggal disini. Karena, aku sudah memutuskan untuk membuka cabang disini," jawab Revan.


"Wih, mantap. Kita bakal tiap hari bisa bertemu dong."


"Tentu saja." jawab Revan.


"Ehmzz ... nanyain kabar, ya, nanyain kabar. Tapi ingatlah, kondisikan tanganmu! Bukan muhrim." Andrew, dengan melepaskan tangan Revan, yang masih saling menjabatkan tangannya.


Tika pun tersenyum kikuk kepada Revan, saat Andrew melakukan hal seperti itu.


"Oya Ndrew, kenalin dia teman masa kuliah aku, namanya Revan," ucap Tika, sambil menatap suaminya.


Revan pun mengulurkan tangannya kepada Andrew.


"Andrew, suaminya Tika." ucap Andrew, dengan membalas uluran tangan Revan.


"What, suaminya Tika?" Revan merasa terkejut, karena yang Revan tahu, Tika sekarang berstatus janda.


"Iya, kenapa emangnya?" Andrew, dengan melepaskan jabatannya, lalu tersenyum.


"Kamu, sudah menikah lagi Tika?" tanya Revan, sambil menatap Tika.


"Iya, sudah. Dia, suami aku." jawab Tika, menatap Andrew.


"Syukurlah. Selamat ya, semoga sakinah dan langgeng." ucap Revan dengan tersenyum.


"Makasih." Tika, membalas senyuman Revan.


"Ya sudah Sayang, ayo kita pergi dari sini. Bajumu harus di ganti karena ulah dia, nanti bisa masuk." Andi yyyy l rew dengan segera menarik tangan istrinya untuk pergi.


"Ya sudah, kalau begitu aku permisi ya." pamit Tika.


"Iya, silahkan Tika. Lain kali, kita bertemu lagi." ucap Revan.


"Jangan berharap!" Andrew dengan menatap serius Reva ,"ayo sayang." Andrew langsung merangkul pundak istrinya.


Revan pun hanya tersenyum tipis, saat melihat tingkah Andrew.


'Kenapa aku baru tahu, kalau dia sudah menikah lagi? Terlambat sudah, harapan aku untuk mendapatkan dia. Padahal, aku kembali kesini berharap ketemu sama kamu dan kamu jadi milikku. Tapi kamu sudah punya suami ternyata? Sudahlah, semoga saja kamu bahagia. Tetapi ingat, aku akan selalu ada untukkmu jika seseorang melukaimu,' gumam Revan sambil menatap Tika yang kini sedang berjalan bersama Andrew.

__ADS_1


Revan Kertajaya, dia teman atau sahabat Tika semasa kuliah. Memang waktu semasa kuliah, dia telah menyimpan rasa kepada Tika. Tapi karena tidak berani mengungkapkan perasaannya, sehingga Tika telah menjadi milik orang. Revan pun memilih untuk melupakan Tika, dengan pindah kuliah di luar negeri.


Saat mendengar kalau Tika sudah bercerai, Revan pun berniat untuk kembali ke indonesia dan ingin mengungkapan perasaannya selama ini kepada Tika dan menginginkan agar Tika, bisa jadi pedamping hidupnya.


Tapi saat mendengar barusan, kalau Tika sudah menikah. Ada rasa kecewa, karena niatnya harus di kubur dalam-dalam, tapi Revan akan berjanji saat seseorang melukai hatinya, dialah yang pertama akan datang.


****


"Ndrew, kamu itu kenapa sih? Aku tadi lagi ngobrol sama teman, alias sahabat aku waktu di kampus."


"Emangnya, kenapa kalau kamu lagi ngobrol sama temanmu itu?" tanya balik Andrew.


"Ya setidaknya, kamu tuh tunggu dulu aku ngobrol sama dia sampai selesai."


"Tunggu sampai kamu selesai bicara? No! Aku tidak suka, jika kamu lama-lama mengobrol dengan pria lain!"


"Ya ampun Ndrew, dia itu sahabat aku. Memangnya salah ya, bila mengobrol dengan dia?"


"Enggak salah sih. Tapi aku enggak suka saja Sayang. Sudah, ayo kita cari baju untukmu. Kelihatannya enggak indah sekali bajumu itu," ucap Andrew, sambil menatap istrinya.


"Padahal cuma sedikit kena tumpahan airnya. Bentar lagi juga bakal kering."


"Tapi enggak indah tau, ada bekasnya." Andrew dengan kekeuh.


"Ya sudahlah, terserah paksuami saja yang penting bahagia."


"Tentu saja, aku sangat bahagia." Andrew dengan tersenyum.


Saat Tika sudah mendapatkan baju yang cocok untuk dirinya, dengan segera berjalan menuju wastafel.


"Nah, baru ini kelihatan cakep," puji Andrew, saat Tika sudah selesai memakaikan bajunya.


"Emm ...,"


"Oya Sayang, kita ke cafe yuk," ajak Andrew.


"Mau ngapain?"


"Ya mau nyanyi-nyanyi saja, sambil ngopi."


"Ih enggak banget, masa iya sambil nyanyi sih," gerutu Andrew.


Andrew pun, tertawa terkekeh mendengar perkataan istrinya.


"Kenapa malah tertawa? Ada yang lucu ya?"


"Tentu saja ada, makanya aku tertawa. Lagian, tadi aku cuma bercanda. Mana mau aku nyanyi disana, yang ada para pengunjung nanti malah klepek-klepek sama aku."


"Iss so kepede'an. Yang ada pengunjung pada kabur, karena suaramu kayak disambar petir," Tika dengan terkekeh.


"Emm ... kata siapa? Enak saja. Enggak percaya? Ayo, aku buktiin." tantang Andrew.

__ADS_1


"Boleh, siapa takut. Aku pingin tahu, suara emasmu. Jika bagus-" ucapan Tika harus terputus, saat suaminya memotong pembicaraanya.


"Jika suaraku bagus, maka kamu harus melayaniku dengan puas nanti malam," bisik Andrew.


"Ih apaan sih Ndrew. Enggak ada yang lain permintaannya?"


"Ada. Aku mau terus mendekapmu sepanjang malam, tanpa penolakan apapun."


"Itu sama aja Ndrew. Lagian, itu permintaan yang sangat aneh sekali."


"Kata siapa? Menurutku enggak kok, itu permintaan yang sangat nikmat dan pastinya indah bila dipraktekan." Andrew dengan membayangkan perkataannya.


"Ih mesum Babang Andrew nih." Tika dengan mencubit pinggang suaminya.


"Ih Sayang, sakit. Enggak apa-apa dong wajar, lagian kita sudah suami istri. Tumben banget tadi panggil Babang? Panggil namaku, Mas!"


"What, Mas? Maksudnya Mas batangan, Mas murni, Mas Baja, atau Mas-"


"Mas Andrew! Kamu mah, malah bercanda mulu. Emangnya aku Mas apaan?"


"Mas yang sangat tak ternilai harganya. Karena kamu begitu berharga buat aku." Tika tersenyum kepada Andrew.


"Emm ... gombal."


"Ini serius loh, malah di bilang gombal." Tika dengan menyunggikan bibir atasnya.


Tiba-tiba Andrew, menciu*m bi*bir istrinya begitu saja dengan segejap.


"Ndrew, ini tempat umum loh."


"Tidak peduli, karena aku gemas banget lihat bi*birmu seperti itu."


"Iss menyebalkan sekali. Katanya, mau ke caffe? Ayo kita berangkat." ajak Tika.


"Oke. Tapi ingat perjanjian kita yang tadi."


"Siapa takut. Aku yakin, dan merasa tidak percaya kalau suaramu bagus."


"Tidak apa-apa kamu tidak percaya juga. Tetapi aku akan membuktikan padamu, Sayang. Agar kamu melayaniku sepuasnya." Andrew dengan tertawa.


"Jangan banyak tertawa, pepsodent mau habis loh."


"Tidak peduli, nanti aku beli pabriknya sekalian. Lagian, apa hubungannya tertawa dengan pepsodent sih?" Andrew dengan mengerutkan keningnya.


"Aku juga enggak tahu. Sudah ah, ayo kita berangkat."


"Oke, baiklah."


Andrew dan Tika pun dengan segera pergi dari tempat butik tersebut, dan berjalan menuju mobil miliknya.


Saat Andrew dan Tika sudah berada di dalam mobil, dan keadaanya sudah siap. Andrew pun dengan segera menjalankan mobilnya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2