Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
104. Pikun?


__ADS_3

"Chandra?" ucap Tika, merasa terkejut saat dirinya langsung memegang tangan Tika.


"Selamat ya Tik, semoga tambah sukses, makin berjaya, dan maju," ucap Chandra, sambil tersenyum kepada Tika.


"Iss, apa-apaan kamu ini. Bukannya tadi kamu sudah ngucapin selamat ya kepadaku?" tanya Tika, sambil menatap Chandra.


"Iya kah, aku sudah ngucapin selamat kepadamu? Tapi kenapa ya, aku merasa belum mengucapkan selamat padamu kok," ucap Chandra, dengan wajah santai.


"Iss menyebalkan sekali dirimu. Tadi kamu mengucapkan selamat sama aku." ucap Tika, dengan melepaskan jabatan tangan Chandra.


"Bentar ya, aku ingat-ingat dulu ya, siapa tahu bisa ingat lagi." ucap Chandra, sambil berpikir dan menatap Andrew.


Apa-apaan dia, sok pura-pura tidak ingat lagi. Terus maksudnya dia apa? Datang-datang langsung membalas jabatan tangan Tika, harusnya sama aku bukan sama dia batin Andrew, sambil menatap kesal Chandra.


"Sudahlah Tika, kamu harus memaklumi dia. Mungkin saja, dia benar-benar lupa ingatan alias pikun!" Celetuk Andrew, sambil menatap sinis Chandra.


"Memagnya kamu pikir, dia sudah tua apa? Malah kamu bilang pikun sama dia." ucap Tika, sambil tertawa renyah, dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Emang, dia memang sudah tua." ucap Andrew, sambil menatap sinis Chandra.


"Kamu barusan bicara apa hem?" Chandra langsung mencengkram kerah Andrew.


"Emangnya kenapa? Bukannya begitu kan, kalau orang pelupa alias pikun berarti sudah tua!" Andrew dengan melototi matanya.


"Chandra, kamu itu apa-apaan sih? Jangan cari masalah disini. Nanti ayahku bisa marah besar," ucap Tika, dengan segera melepaskan tangan Chandra yang mencengkram kerah Andrew.


"Tapi dia sudah bicara-"


"Chandra, Aku bilang stop! Jika kamu tetap mencari masalah disini, lebih baik kamu keluar dari sini. Lihatlah, pintu keluar sudah terbuka untukmu!" ucap Tika, tangannya sambil menunjuk pintu keluar.


Andrew tersenyum sinis, sambil menatap Chandra.


"Ya sudahlah, aku tidak punya waktu lama lagi disini karena aku harus menemui ibuku dulu," ucap Tika, matanya menatap Andrew, kemudian menatap Chandra.


"Iya silahkan Tika." jawab Andrew.

__ADS_1


Tika langsung pergi meninggalkan Chandra, dan Andrew yang masih diam mematung.


"Ini semua, gara-gara kamu tahu enggak! Andai saja, kamu tidak ikut campur, mungkin tidak akan seperti ini!" bentak Andrew, netranya menatap tajam Chandra dan mencengkram kerah Chandra, lalu melepaskannya kembali.


Chandra hanya tersenyum sinis, saat Andrew pergi dari hadapannya.


'Rasain loh. Emangnya enak, aku bikin kalian jadi tidak bisa mengobrol lebih lama.' gumam Chandra, berbicara pada diri sendiri.


Tika kini sudah berada di tempat Ibunya, yang sedang asyik berbincang-bincang dengan teman-temannya. Betapa terkejutnya Tika, saat mengenali wanita paruh baya yang sangat ia kenali.


Mamih mira langsung tersenyum saat Tika menatap dirinya, seolah-olah tidak pernah ada sesuatu yang terjadi. Tika pun membalas senyumannya dengan terpaksa.


"Hallo sayang, selamat ya sekarang kamu sudah jadi pewaris dari keluarga Mahadhika." Ibu Lily mengusap rambut putrinya dengan lembut.


"Terima kasih Bu. Oya Bu, Chika mana ya?" tanya Tika, menanyakan putrinya.


"Tadi Chika merengek pingin main diluar katanya jenuh, dan sekalian pingin eskrim. Ya sudah, Ibu suruh bi Nani saja untuk mengntarkan Chika main diluar, sekalian beli eskrim." jawab bu Lily.

__ADS_1


"Oh gitu ya Bu. Dari tadi ya Bu, chika sama bi nani keluarnya?" tanya Tika kembali kepada Ibunya.


__ADS_2