
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Andrew, yang kini masih menahan tubuh Lisa.
"Iya, Pak, saya baik-baik saja," Lisa langsung berdiri tegak ,"makasih ya Pak, sudah nolongin saya," ujar Lisa.
"Iya, sama-sama. Syukurlah kalau begitu." Andrew melanjutkan langkahnya kembali.
Tiba-tiba Lisa mengaduh, dan berteriak memanggil Andrew. Dengan segera Andrew berbalik badan sambil menatap Lisa.
"Iya, kenapa Lisa?" tanya Andrew.
"Kakiku sakit Pak. Bisakah, Pak Andrew bawa saya ke kamar?" jawab Lisa.
"Bukannya, tadi kamu bilang baik-baik saja?" Andrew, berjalan menghampiri Lisa.
"Iya, saya kira baik-baik saja. Akan tetapi, ketika saya akan berjalan ternyata kakiku sakit, Pak," ujar Lisa.
"Ya sudah, sini biar saya bantu sampai kamar." Andrew, membantu Lisa memapah.
"Makasih ya, Pak." Lisa tersenyum.
"Heem." Andrew, menganggukan kepala.
Andrew terus membantu Lisa memapah sampai kamarnya. Tiba-tiba Juned berjalan menghampiri mereka. Lisa, semakin kesal saat Juned kini sudah berada di sampingnya.
"Dia, kenapa Pak?" tanya Juned, sambil menatap Lisa.
"Kakinya keseleo." jawab Andrew.
"Oh." ucap Juned.
"Jangan cuma bilang oh doang, bantu dia jalan sampai ke kamarnya," kata Andrew.
"A-apa? Yang benar saja Pak Boss?" tanya Juned, sambil menatap tidak suka Lisa.
"Jangan banyak menolak! Mau gajihmu, aku potong?!" tegas Andrew, sambil menatap datar Juned.
"Yaelah Pak, main potong gajih segala lagi. Baiklah, Saya akan membantu dia." Juned dengan segera berjalan menghampiri Lisa.
__ADS_1
"Anterin dia sampai kamar!" Perintah Andrew, dengan melepaskan tangannya dari tubuh Tika.
"Oke, baiklah Pak." Juned mengantikan posisi Andrew.
Lisa pun merasa kesal, karena yang berada disampingnya bukan Juned lagi.
Andrew dengan segera pergi meninggalkan Lisa dan Juned berdua.
Saat Andrew tidak terlihat lagi, dengan segera Lisa menghempaskan tangan Juned yang merangkul pundaknya.
"Najis banget loh, tubuh disentuh olehmu," celetuk Lisa.
"Barusan kamu bilang apa? Lagian mana mau aku juga menyentuhmu, kalau bukan pak Bos, yang menyuruhku," Juned, dengan menatap sinis Lisa.
"Halah, bilang saja mencari kesempatan dalam kesempitan," gerutu Lisa, dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Sorry, kamu bukan tipeku! Sorry juga, kamu tidak selevel denganku!" Juned dengan menatap tajam Lisa.
"Kamu ...? Ah sudahlah, bikin aku pusing tahu bila berdebat denganmu. Lebih baik aku pergi saja, dari pada mendengar ocehanmu yang tidak berguna." Lisa, pergi dari hadapan Juned dan berjalan menuju kamarnya.
'Bukannya, kaki dia keselo? Kok bisa jalan? Dasar, pembohong. Amit-amit deh ini orang kayaknya benar, ingin merusak rumah tangga pak Andrew dan Bu Tika nih,' gumam Juned, berbicara pada diri sendiri. Mata-nya menatap kepergian Lisa menuju kamarnya.
*
*
Satu bulan kemudian.
Di sebuah kamar, kini Tika sedang merebahkan tubuhnya diatas kasur. Hari ini, harusnya Tika bekerja seperti biasa. Akan tetapi karena merasa tidak enak badan Tika memilih untuk izin libur bekerja.
Tika sedang memijit-mijit keningnya yang pusing. Apalagi dari tadi Tika, bolak balik menuju wastafel karena perutnya merasa mual hingga akhirnya Tika, muntah.
Bi Anin masuk ke dalam kamar majikannya dengan membawa teh hangat atas permintaan Tika.
Tika dengan segera mengambil tehnya, saat Bi Anin menyodorkan pada dirinya. Kemudian Tika, meminumnya teh hangat tersebut.
"Gimana Non, sudah mendingan?" tanya Bi Anin.
__ADS_1
"Boro-boro Bi. Dari tadi bolak-balik mulu cape Bi, muntah mulu," jawab Tika.
"Mendingan Non kedokter saja, takut kenapa-napa nanti, kalau dari tadi muntah mulu," saran Bi Anin.
"Enggak ah Bi, paling juga masuk angin. Bibi juga bisa lihat sendiri kalau sekarang cuaca sedang tidak bersahabat," lirih Tika.
"Iya sih Non, tapi-" ucapan Bi Anin, harus terputus saat Tika merasa mual kembali dan berjalan menuju wastafel.
Tika terus memutahkan makanan dari perutnya. Karena tidak tega melihat majikannya, Bi Anin pun dengan segera berjalan mengampiri Tika.
"Non, baik-baik saja kan?" tanya Bi Anin.
"Baik-baik saja Bi." ucap Tika, kemudian membasuh mukannya dengan air.
"Sudahlah Non, lebih baik periksa saja ke dokter yuk," ajak Bi Anin.
"Lagian, Non kayak orang lagi hamil saja muntah-muntah mulu," sindir Bi Anin.
"Hamil?" Tika dengan segera pergi melihat kalendar dan meninggalkan Bi Anin di wastafel.
'Ya ampun, aku lupa kalau bulan sekarang aku telat haid. Sudah hampir satu bulan lebih diriku belum haid juga. Jangan-jangan benar kalau aku hamil?' gumam Tika, tersenyum bahagia.
"Non, kenapa pergi tinggalkan Bibi?"
"Maaf Bi. Oya, Bi, Tika permisi mau periksa dulu ke dokter ya," ucap Tika.
"Nah gitu dong, kan, periksa lebih baik biar tahu Non sakit apaan," kata Bi Anin.
"Iya Bi. Ya sudah, Tika permisi." Tika, dengan segera pergi dari hadapan Bi Anin dan berjalan menuju mobilnya.
*
*
Tika kini sudah berada di rumah sakit Bunda. Tika berjalan masuk ke dalam ruangan dokter kadungan saat gilirannya.
Saat dua jam diperiksa oleh dokter kandungan, Tika merasa senang akhirnya yang selama ini sangat dinantikan bersama suaminya terkabul juga.
__ADS_1
Akhirnya kini Tika sedang mengandung anak Andrew. Ada perasaan sangat bahagia dihati Tika, karena kini Tika akan mempunyai Baby lagi dan menjadi seorang Ibu dengan dua anak.
Bersambung ...