
Tika kini merasa kesal lama-lama menunggu di gerbang pintu. Sudah hampir satu jam via belum datang juga.
'Itu anak kemana ya? Di telpon berapa kali tidak di angkat terus, mana ini sudah malam lagi,' gumam Tika, sambil menatap jam tangannya menunjukan pukul setengah 11 malam.
'Awas saja via, kalau kamu berani mengerjaiku maka aku tidak akan memaafkanmu! Kamu pikir, enak apa harus menunggu hem? Menunggu adalah hal yang sangat menyebalkan bagiku' gerutu Tika, pada diri sendiri karena merasa kesal.
Para pekerja yang membongkar dekorasi, dan office boy pun kini berpamitan pulang karena sudah selesai mengerjakan tugasnya.
Satu persatu lampu mulai di padamkan, para satpam pun ikut berpamitan pulang. Kini hanya tinggal Tika sendirian.
'Benar-benar itu si via kurang ajar ya, dasar itu anak berani sekali mengerjaiku,' geram Tika, merasa kesal.
Karena sudah tidak ada siapa-siapa lagi, Tika pun lebih memilih pulang dari pada menunggu yang belum pasti akan datang.
Saat Tika sudah sampai di depan mobilnya, tiba-tiba Tika merasa kesal, dan emosi. Bagaimana tidak, mobil bannya kempes.
'Haduh, cobaan apa lagi ini? Kok tiba-tiba mobil banku kempes lagi. Gimana ini? Mana sudah malam, enggak ada orang lagi. Arrgh ... ini semua gara-gara si via nih,' gerutu Tika, dengan memukul mobilnya dengan kaki.
'Aww, kakiku sakit sekali," ringis Tika, merasa kesakitan saat menendang mobilnya.
'Gimana ini? Mana sudah malam banget, tidak ada orang lagi. Mau masuk ke dalam gimana? Hotelnya, untuk hari ini di kosongkan dulu karena di pakai acara. Hadeh, hari ini benar-benar sial!'
Tiba-tiba Tika teringat dengan ponselnya, lalu pengambil ponsel miliknya di dalam tas.
'Kenapa aku tidak kepikiran dari tadi,' Tika dengan segera mengambil ponselnya, lalu menyalakan ponselnya.
'Ya tinggal 2% lagi batrainya, aku segera telpon ibu sebelum batrainya habis,' gumam Tika, dengan segera menghubungi nomor ibunya.
'Ayo angkat dong Bu, sebelum batrainya habis,' Tika merasa greget saat sambungannya belum di angkat juga.
__ADS_1
"Hallo Nak, iya ada apa sayang?" tanya bu Lily disebrang sana.
"Akhirnya, Ibu angkat telpon Tika juga. Ini Bu, mobil Tika-" percakapan Tika, harus terputus saat ponsel miliknya tiba-tiba mati.
'Yah, pakai mati segala lagi ponselnya. Padahal tinggal satu kata lagi aku nyampein ke ibu, kalau mobilnya kempes. Hadeh gimana ini?' Tika, benar-benar pasrah entah harus gimana, untuk pulang ke rumah.
Tiba-tiba datang dua preman dengan memakai jaket hitam tebal, celana jeans, serta telinganya di tindik.
"Bos, lihat ada cewek cantik tuh. Ayo kita samperin bos," bisik Aryo.
"Boleh juga tuh, ayo!" ajak bos Herman.
Tika semakin ketakutan saat dua preman tersebut terus berjalan mendekati dirinya.
"Stop! Jangan dekati saya," teriak Tika dengan tatapan membunuh, saat Herman, dan Aryo terus berjalan menghampiri dirinya.
"Iss galak benar itu cewek, aduh sayang banget ya, cantik tapi kok galak ya," ucap Herman dengan tertawa terbahak.
"Iya benar juga ya, dia memang anak orang kaya. Tumben sekali kamu pintar aryo, ini kesempatan bagus buat kita. Ayo kita beraksi," ajak Herman.
"Siap Bos," jawab Aryo.
"Hello, cantik. Lagi ngapain sih disini?" tanya Herman, saat sudah dekat dengan Tika, hanya beberapa senti saja.
"Kalian mau ngapain kesini! Awas saja, kalau kalian berani macam-macam sama saya." Tika, dengan menatap tajam dua preman tersebut.
"Iss santai dong sayang, kita tidak akan macam-macam kok," ucap Herman dengan mengusap dagu Tika.
"Brengsek kalian! Berani sekali menyentuhku. Jika kalian macam-macam, saya akan teriak!" bentak Tika, sambil menghempaskan tangan Herman dengan kasar.
__ADS_1
"Bos dia mengancam kita, aku takut Bos," ucap Aryo dengan ekspresi ketakutan.
"Iya, aku juga takut Yo," ucap Herman.
Lalu Aryo dan Herman tertawa terbahak-bahak.
"Hei cantik, jika kamu memang ingin berteriak, ya sudah berteriak saja. Lagi pula disini sepi, tidak akan ada orang yang mendengar teriakanmu!" bentak Herman, kemudian tertawa.
"Wow, mulus sekali pipinya," ucap Aryo dengan mengusap lembut pipi Tika.
"Brengsek! Benar-benar gila kalian. Berani sekali menyentuhku!" Tika, dengan emosi memuncak, dan menghempaskan tangan Aryo dengan kasar.
Hahaaha ... Aryo, dan Herman malah tertawa terbahak-bahak.
"Bos, ayo," ajak Aryo dengan memberikan kode lewat matanya.
Aryo, dan Herman dengan segera memegang tangan Tika, kiri dan kanan.
"Lepaskan tanganmu! Berani sekali menyentuhku. Mau kalian apa sih hah?!" Tika dengan mencoba memberontak, dengan menghempaskan tangan dua preman tesebut, tapi sayangnya gagal.
"Kamu tahu apa yang aku inginkan? Tentu saja, aku pingin uang! Terlebihnya aku menginginkan tubuh indahmu," jawab Herman sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Tika.
Tika langsung memalingkan wajahnya, berusaha untuk menghindar dari preman tersebut.
"Dasar gila! Oke, jika kalian butuh uang, saya akan memberikan uang berapa pun yang kalian mau. Asalkan kalian jangan macam-macam sama saya! Dan lepaskan tangan kalian!" Tika, dengan menaikan nadanya dengan tinggi.
"Lalu saya akan percaya, dan melepaskanmu gitu? Tidak!" ucap Herman, terus menarik Tika agar ikut dengan dirinya.
Tika tiba-tiba menangis, dan berteriak. Kini dirinya di selimuti dengan ketakutan.
__ADS_1
Bersambung ....
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya kak, kasih Like, dan komenannyam