
Tika kini sudah berada di rumah sakit, dan sudah berada di ruangan, dimana diruangan tersebut Andrew masih berbaring lemah.
Tika tidak sendiri datang ke rumah sakit, Tika di temani oleh Ibu Lily, Ayah Efendy, dan pak Iman yang bertugas sebagai penghulu.
Tika sengaja mengajak mereka ke rumah sakit, untuk menjadi saksi saat akad nikah berlangsung.
Dengan gaun pengantin berwarna putih, dan berlengan pendek, Tika berjalan menghampiri Andrew yang kini masih terbaring.
Kemudian Tika, memegang tangan Andrew, dan menatap intes wajah Andrew yang terlihat pucat.
"Ndrew, bangun dong. Kamu lupa ya, hari ini, hari yang paling bahagia untuk kita berdua. Kamu tahu kenapa? Karena kamu akan menjadi suami aku. Bukan kah, kamu pernah bilang, bahwa kamu menginginkan aku sebagai istrimu? Inilah saatnya kamu, dan aku akan sah menjadi pasangan suami istri,' gumam Tika sambil terus menatap wajah Andrew.
'Ndrew, ayo dong bangun, kenapa kamu malah tidur saja? Lihatlah, aku sudah bawa pak penghulu, saksi, dan juga keluargaku untuk menyaksikan pernikahan kita. Kamu yakin, tidak ingin menikah denganku? Kamu kan, sudah janji akan menikahiku, undangan pun sudah tersebar, dan aku mohon sama kamu jangan pernah mempermainkan aku saat tiba waktunya kita harus menikah,' ucap Tika, tiba-tiba meneteskan airmatnya.
"Sayang ...," panggil Bu Lily, kemudian memeluk putrinya.
Mereka yang kini menyaksikan Tika pun, merasa sedih, dan tidak kuat melihatnya. Bagaimana tidak, harusnya ini hari bahagia, dan mereka telah menjadi pasangan suami istri. Tetapi sayangnya, dengan kondisi Andrew yang terbaring lemah harus tertunda pernikahan mereka.
"Ibu kenapa sih, Andrew malah tidur terus? Harusnya dia bangun, dan jangan mempermainkan Tika! Dia berjanji akan menikahi Tika, tapi kenapa sekarang sudah waktunya, Andrew malah tidak mau, dan mengingkari janjinya Bu!" ucap Tika, yang terus meneteskan airmata.
"Sayang, Andrew tidak mempermainkanmu. Kamu harus sadar, Andrew sedang koma karena kecelakaan. Lagian, tidak ada yang tahu kan, kalau harus terjadi seperti ini ketika harusnya kamu dan Andrew menikah," ucap Bu Lily mencoba menjelaskannya.
Tika hanya diam saja, tanpa membalas perkataan Ibunya.
"Aku hitung dalam hitungan tiga, jika kamu tidak bangun juga, jangan harap aku akan memaafkanmu, dan aku tidak akan mau menerimamu lagi!" ancam Tika.
Tika pun dengan segera menghitung angka dari satu .
"Oke, aku hitung dari sekarang! Satu ... dua ... Ndrew, kamu yakin tidak akan bangun nih? Sebentar lagi hitungan tiga loh, kamu tidak takut ancamanku nih? Ndrew, jawab dong perkataan aku, jangan diam saja! Sekarang kamu bangun dong." Tika semakin menangis menjadi-jadi.
__ADS_1
Kemudian Bu Cantika langsung memeluk calon menantunya tersebut.
"Yang sabar ya sayang, Ibu merasakan apa yang kamu rasakan Nak. Tapi harus gimana lagi sayang, itu sudah takdir sang maha kuasa," Bu Cantika sambil memeluk Tika, dan tiba-tiba ikut menangis.
Orang-orang yang ada di seluruh ruangan pun ikut bersedih, merasa benar-benar tidak tega melihatnya.
Tika bagaikan orang yang benar-benar hilang kewarasannya. Padahal Tika sudah tahu kalau Andrew koma, dan tidak mungkin bisa secepat itu Andrew bisa sadar.
"Ibu, ayo bangunin Andrew dong. Suruh bangun. Aku sengaja datang kesini, untuk memberikan kejutan untuk dia, tapi dia malah tidur terus," Tika meski kekeuh dan menatap Bu Cantika dan menguraikan pelukannya.
"Sayang," Bu Cantika memeluk kembali menantunya.
Entah apa yang harus dikatakan oleh dirinya, Bu Cantika pun tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menantikan keajaiban dari sang maha pencipta.
Tika dengan segera melepaskan pelukan Bu Cantika, lalu menatap Andrew, dan meraih tangan Andrew.
"Oya aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu Ndrew, mungkin kamu akan sangat senang mendengarkannya. Tapi kamu harus janji sama aku, setelah itu kamu harus bangun ya Ndrew?" ucap Tika, sambil menatap Andrew.
'Maaf aku baru bisa mengatakannya sekarang Ndrew, maaf aku selalu cuek dan tidak pernah menghargaimu. Tapi jujur saja, walaupun sikapku seperti itu rasaku terhadapmu begitu besar, dan I love you, Ndrew kalau aku sangat mencintaimu, Ndrew!' gumam Tika, kembali meneteskan airmatanya dan mencium tangan punggung Andrew.
"Maaf, ini jadinya gimana? Soalnya saya harus ke lokasi x, disana juga lagi ada acara nikahan, dan saya tidak bisa berlama-lama disini," ucap pak Iman sang penghulu.
"Saya mohon sama bapak, tunggu dulu ya pak sebentar, saya yakin Andrew pasti bangun kok, dan saya tidak mau membuat orang yang saya cintai kecewa," ucap Tika sambil menatap pak Iman.
"Oke baiklah, saya akan tunggu." ucap pak penghulu.
"Ndrew, ayo bangun dong. Aku sudah cerita semuanya tentang perasaanku, kepadamu. Kamu sudah berjanji tadi, akan bangun. Kasihan pak peghulu nungguin kita lama. Ayolah Ndrew, bangun kamu jangan mempermainkan aku," Tika dengan terisak menangis.
"Sayang, kamu itu kenapa sih? Istigfar sayang, Andrew tidak mungkin bangun, dia sedang koma, hanya keajabain tuhanlah dia bisa bangun," ucap Bu Lily kepada putrinya.
__ADS_1
"Tapi aku yakin, Andrew pasti bangun Bu. Andrew tidak pernah mengecewakan Tika kok, iya kan Ndrew? Ayo Ndrew jawab, kamu tidak akan mengecewakan aku kan?" ucap Tika, terus mengeluarkan airmatanya, dan sambil mengoyang-goyangkan pundaknnya.
"Sayang," Bu Cantika ikut menangis merasa ikut tersentuh dengan menantunya.
Tiba-tiba eskalator pun berjalan semakin lemah, Tika semakin histeris, begitu juga Bu Cantika, Ibu kandung Andrew.
Semua yang berada diruangan tersebut ikut menjadi panik, dan terharu. Bu Lily dengan segera menekan tombol merah untuk memberitahu dokter keadaan Andrew yang semakin darurat.
"Ndrew, bangun dong. Kamu jangan tinggalin aku, bukankah kamu menginginkan untuk hidup bersamaku? Tapi kenapa kamu menghianati aku, Ndrew!" Tika semakin histeris.
Bu Lily langsung memeluk erat putrinya, dan ikut sedih.
"Nak, bangun sayang. Ibu mohon jangan tinggalin Ibu, kalau kamu tidak ada, siapa yang akan menjaga Ibu, sayang? Kamulah satu-satunya anak yang selalu ada setiap hari dikehidupan Ibu. Kamulah, orang yang selalu membela Ibu saat orang lain menyakiti Ibu, bila kamu pergi? Bagaimana nasib Ibu, Nak?" Bu Cantika ikut menangis, dan histeris.
Ayah Efendy berjalan menghampiri sahabatnya, dan mencoba memberikan kekuatan untuk bersabar.
"Kamu yang sabar Can," Efendy sambil mengusap punggung sahabatnya.
Tiba-tiba dokter dan para suster pun berdatangan ke ruangan tersebut.
"Maaf kepada semuanya, berharap menunggu dulu diluar, karena keadaan pasien sedang darurat," ucap Suster.
"Suster mohon selamatkan dia ya, jangan biarkan Andrew pergi," ucap Tika.
"Nanti dokter akan berusaha sebisa mungkin, yang terpenting sekarang doakan saja semoga pasien baik-baik saja. Mohon maaf bisa di tunggu dulu diluar," ucap Suster Asri.
Semuanya pun dengan segera keluar dari ruangan tersebut. Kini Andrew sedang dalam pemeriksaan oleh dokter Ahli.
Bersambung . ...
__ADS_1
Jangan lupaa tinggalkan jejak kalian, sebagai dukunganya😊