Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
118. Akankah kita bersama?


__ADS_3

Tika, dan Chandra kini sudah berada di dalam mobil milik Andrew.


"Apakah dia baik-baik saja? Kenapa dari tadi belum bangun juga," ucap Tika, sambil menatap Chandra, yang masih belum sadarkan diri.


"Chandra baik-baik saja kok Tika, kamu enggak usah khawatir gitu Tika." Andrew, sambil menatap Tika di kaca depan mobil.


"Enggak usah khawatir gimana Ndrew? Dari tadi Chandra belum sadarkan diri. Ini semua gara-gara aku! Jika saja kalau Chandra tidak menolongku, mungkin tidak akan seperti ini," gumam Tika dengan mengusap lembut rambut Chandra.


"Tika, kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Ini semua bukan salahmu kok. Lagi pula kan, kita tidak tahu akan jadinya seperti itu. Lagian mana tega sih, kalau lihat seorang wanita di ganggu sama preman brengsek itu!"


Tika tidak membalas perkataan Andrew, dia lebih terus menatap Chandra, karena merasa bersalah kepada Chandra.


"Chandra, kamu bangun dong. Jangan diam saja. Aku tidak akan memaafkan diri aku sendiri, jika terjadi sesuatu pada kamu Ndra." Tika, sambil menatap Chandra.


Segitu khawatirkah dirimu, kepada Chandra? Hingga kamu tidak akan memaafkan dirimu sendiri, jika terjadi sesuatu kepada Chandra? Apakah rasa cinta dan sayangmu, masih ada untuk Chandra? Lalu bagaimana dengan aku, yang selalu mengharapkan dirimu untuk jadi pendampingku? Batin Andrew, sambil menatap kecewa Tika.


"Oya, kita mau kemana? Apakah kita bawa ke rumah sakit saja?" tanya Andrew, kepada Tika.


"Iya, kita bawa saja ke rumah sakit soalnya takut terjadi sesuatu kepada Chandra," ucap Tika, merasa cemas.


"Oke, baiklah kalau begitu." jawab Andrew, dengan segera menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.


Tiba-tiba Chandra terbangun, sambil merintih kesakitan.


"Aww, sakit dan pusing kepalaku," ucap Chandra, dengan membukakan matanya dengan perlahan.


"Syukurlah Chandra, akhirnya kamu sudah sadar juga," Tika merasa senang.


"Tika?" ucap Chandra, sambil tersenyum, dan netranya menatap mata hitam Tika.


"Iya kenapa Ndra?" tanya Tika, kepada Chandra.


"Aku dimana?" tanya balik Chandra.


"Kamu sekarang ada di dalam mobil, dan kita mau membawa kamu ke rumah sakit," jawab Chandra.


"Ke rumah sakit? Jangan Tika, jangan dibawa ke rumah sakit. Lagian, aku baik-baik saja kok." ucap Chandra.


"Baik-baik saja gimana Ndra? Lihatlah pipi, dan bi*birmu penuh dengan luka, dan lembam sekali." ucap Tika.


"Lagian, ini cuma luka kecil Tika. Sudahlah lebih baik bawa pulang saja aku ke rumah, jangan bawa ke rumah sakit." protes Chandra.


"Tapi seriuskan, kamu baik-baik saja?" tanya balik Tika.


"Iya Tika, aku baik-baik saja. Cuma sedikit pusing, dan sakit." jawab Chandra.


"Ya sudah mending aku bawa saja kamu ke rumah sakit, bila kamu merasakan pusing dan ada rasa sakit," ucap Tika.


"Aku bilang, enggak usah Tika. Sudahlah mending bawa pulang saja ke rumah."


"Sudahlah Tika, jangan banyak protes! Lagi pula kamu dengarkan, kalau Chandra baik-baik saja. Sudahlah, kita bawa saja dia pulang ke rumahnya," Andrew ikut menimpali.


"Ya sudah, terserah saja deh." jawab Tika.


Andrew pun dengan segera menjalankan mobilnya menuju rumah Chandra, saat Chandra mengasih tau alamat tinggalnya sekarang.


*******


Mobil Andrew pun tepat berhenti di halaman rumah Chandra.

__ADS_1


Rumah sederhana, tapi nyaman untuk di tempati.


Tika, Andrew, dan Chandra pun kini keluar dari mobil tersebut, dan kini mereka sedang berjalan menuju rumah Chandra.


"Makasih ya Ndrew, kamu sudah banyak membantuku," ucap Chandra, yang kini sedang di bantu jalannya oleh Andrew, karena masih sedikit pusing dan sakit.


"Iya sama-sama Chandra," jawab Andrew.


Mereka pun kini sudah sampai di dalam rumah, Andrew pun dengan segera mendudukan Chandra di ruang tamu.


"Oya, tunggu dulu ya, aku bawa air hangat dulu buat kompres kamu," ucap Tika, kepads Chandra.


"Iya Tika," jawab Chandra.


Tika pun dengan segera ke dapur untuk membawakan air hangat, serta mengambil betadine yang berada di kotak P3K yang berada di dapur.


"Sini biar aku kompres dulu Ndra, biar enak dan tidak terlalu sakit," ucap Tika, sambil menempelkan handuk kecil yang sudah di peras ke bagian yang luka.


"Aww, pelan-pelan Tika, sakit." ringis Chandra, kesakitan.


"Iya, ini aku pelan-pelan kok Ndra. Kamu tahan sebentar ya rasa sakitmu itu," ucap Tika, dengan bergiliran mengompres di bagian luka yang lain.


"Iya Tika." Chandra, sambil mengangguka kepala, dan dengan menahan rasa sakit.


Bersamamu, mengingatkanku pada masa lalu kita.


Yang selalu indah saat bersama dirimu.


Namun diriku telah menghancurkan semua pengorbanan dan ketulusammu.


Kini tinggal sisa kenangan, yang selalu membekas dalam keheningan.


Yang menikmati hari penuh canda tawa, dan juga selalu bahagia saat denganmu.


Memang waku tidak bisa di putar kembali, tapi setidaknya masih ada harapan di dalam hati.


Berhasrat ingin seperti dulu lagi, yang setiap harinya selalu saling menyayangi batin Chandra, netranya terus menatap wajah Tika, dan membayangkan saat indah masa lalunya bersama mantan istrinya tersebut.


Tika pun kini susah selesai mengompres, lalu memberikan salep agar tidak terlalu sakit. Karena merasa ada yang terus menatap dirinya, Tika pun menatap Chandra, hingga kini netra mereka saling menatap satu sama lain.


Apa-apaan ini? Kenapa dengan hatiku? Apakah aku cemburu? Kenapa sesak sekali dadaku batin Andrew, sambil menatap Tika dan Chandra.


Andrew pun berdehem sekeras mungkin, sehingga membuat Tika, dan Chandra menatap dirinya.


"Eh Ndrew, kamu mau aku bikinin teh manis?" tanya Tika, dengan sedikit gugup.


"Teh manis? Boleh juga tuh," jawab Andrew, sambil menatap Tika.


"Baiklah, aku buatin dulu teh manisnya."


"Aku juga mau dong, teh manisnya," ucap Chandra.


"Oh kamu mau teh manis juga? Baiklah." Tika dengan segera pergi ke dapur membuatkan teh manis.


ck, menyebalkan sekali dia. Ikutan-ikutan saja, siapa yang ditawarin, dia malah ikut mau juga, Andrew sambil tersenyum sinis menatap Chandra.


Tika pun dengan segera berjalan membawakan dua gelas teh manis hangat, lalu menyimpannya di atas meja.


"Sekarang kamu tidak sakit lagi kan?" tanya Tika, sambil kepada Chandra.

__ADS_1


"Tidak Tika, sekarang agak mendingan kok." jawab Chandra, sambil tersenyum kepada Tika.


"Syukurlah kalau begitu." Tika, membalas senyuman Chandra.


"Oya sekarang sudah malam banget nih, gimana kalau kalian tidur dirumahku?" ucap Chandra sambil menatap Tika, dan Andrew bergiliran.


Andrew, dan Tika pun saling menatap satu sama lain, entah harus apa menjawab perkataan Chandra.


"Gimana? Aku tahu, rumahku tidak semewah rumah kalian, yang kasurnya empuk, luas serta nyaman banget. Lagi pula, aku sadar diri kok, rumahku tidak layak huni buat kalian," ucap Chandra, dengan perasaan kecewa.


Andrew, dan Tika pun merasa tidak enak hati saat Chandra berkata seperti itu.


"Kamu jangan bicara seperti itu, rumah seperti ini juga aku oke-oke saja kok. Baiklah, kita tidur disini hingga menunggu esok pagi," ucap Andrew.


"Serius?" tanya Chandra.


"Tentu saja aku serius!" jawab Andrew.


"Biaklah, kamu bisa tidur sekamar denganku, dan kamu tidur di saja dikamar adikku," ucap Chandra.


"A-apa tidur sekamar denganmu?" ucap Andrew, dengan terkejut.


"Tentu saja kamu tidur sekamar denganku. Memangnya kamu mau tidur di luar gitu, yang pastinya sangat banyak nyamuk." ucap Chandra.


"Ogah banget deh. Kirain aku, bakal tidur bareng sama Tika," Andrew, dengan cengengesan.


"Ih Ndrew, kalau bicara ngawur benar ya. Emang kita sudah halal apa? Minta pingin tidur bareng sama aku lagi." gerutu Tika, sambil menatap kesal Andrew.


"Bentar lagi kan, aku akan halalin kamu. Jadi siap-siap saja." goda Andrew, sambil mengedipkan satu matanya.


"Ih apaan sih, genit deh. Mana ngaco lagi bicaranya," ucap Tika, dengan menggelengkan kepala.


Ck, lebay banget deh si Andrew. Lagi pula, aku tidak akan membiarkan kamu mendapatkan Tika, dan aku akan berusaha merebut kembali Tika untuk menjadi milikku batin Chandra, sambil menatap sinis Andrew.


"Oya, Ibu sama Lisa kemana ya? Kok dari tadi aku tidak lihat mereka?" tanya Tika, kepada Chandra.


"Ibu sama Lisa, ada di rumah sakit. Mereka akan pulang besok. Soalnya Ibu masih butuh perawatan untuk masa pemulihan penyakitnya." ucap Chandra, sambil menatap Tika.


"Oh, gitu ya. Semoga saja Ibu benar-benar cepat sembuh." ucap Tika.


"Iya terima kasih Tika." ucap Chandra.


"Heem." jawab Tika.


"Oya sudah malam nih, ayo kita tidur." ajak Chandra.


"Oke, baiklah." ucap Tika, Andrew bersamaan.


Andrew dan Tika saling menatap, lalu tertawa renyah karena merasa lucu. Bagaimana tidak, mereka secara bersamaan berkata dengan ucapan yang sama.


"Ya sudah, ayo kita tidur!" ajak Chandra dengan merangkul pundak Andrew.


"Oke, ayo!" ucap Andrew, dengan perasaan kesal.


Andrew dan Chandra pergi menuju kamar Chandra, sedangkan Tika menuju kamar adiknya Chandra, yaitu kamar Lisa.


Bersambung ...


##yuk jangan lupa kasih dukungannya, dan tinggalkan jejak kalian biar tambah semangat updatenya.😊😊

__ADS_1


__ADS_2