
Bu Lena meraih dagu Tika dengan lembut agar Tika, menatap dirinya.
"Kenapa kamu menundukan kepalamu, Nak?" tanya bu Lena, sambil menatap Tika.
"Ibu tidak marah sama Tika?" tanya Tika, dengan hati-hati.
"Marah? Lagi pula, ngapain Ibu harus marah sama kamu, sayang." jawab bu Lena.
"Iya, karena Tika telah membuat wajah Chandra seperti itu, gara-gara Tika." ucap Tika.
Bu Lena pun tersenyum kepada Tika, lalu mengusap lembut rambutnya.
"Ya ampun Nak, ngapain Ibu marah? Yang ada Ibu merasa Iba, dan khawatir saat temanmu menjelaskan apa yang terjadi padamu! Kamu baik-baik sajakan? Mereka tidak macam-macam sama kamu, kan? tanya bu Lena.
"Tidak kok Bu, untungnya Andrew datang menolongku, Bu," jawab Tika sambil tersenyum kepada bu Lena.
"Syukurlah kalau begitu, dan untungnya kamu tidak di apa-apain sama preman gila itu," bu Lena, sambil menatap Tika.
"Iya Bu."
"Lagian, kenapa kamu kalah bertarung sama preman itu? Huh, dasar payah dan lemah," omel bu Lena, kepada Chandra.
"Ya ampun Ibu, tega sekali ya bilang sama Chandra, lemah dan Payah." ucap Chandra, tidak terima dengan perkataan Ibunya.
__ADS_1
"Lagian emang benarkan, kamu itu payah sekali! Buktinya, kamu tidak bisa menolong Tika, dan malah temanmu yang cakep itu yang mampu melawan preman," ucap bu Lena, kepada putranya
"Ya ampun Ibu, bukannya Chandra lemah Bu! Tapi mereka curang, memukul kepala Chandra dengan kayu. Coba kalau mainnya cuma pakai tangan, sudah tuh mereka kalah," ucap Chandra, sambil menatap Ibunya.
"Yaelah, cari alasan saja kamu itu ya," bu Lena sambil menggelengkan kepala.
"Ya ampun Ibu, bukannya Chandra mencari alasan! Tetapi memang fakta, seperti itu kok. Kalau Ibu memang tidak percaya sama ucapan anak sendiri, ya sudah tanyain saja sama Tika." ucap Chandra, merasa kesal terhadap Ibunya, karena tidak percaya pada dirinya.
"Iss, ngambek ya? Jangan gitu dong, kualat loh sama orang tua begitu."
"Habisnya Ibu tidak percayaan sih sama Chandra." ucap Chandra.
"Kata siapa? Lagian, Ibu percaya kok sama kamu! Maaf Nak, tadi Ibu cuma bercanda kok," ucap bu Lena.
Tiba-tiba Lisa datang, berjalan menuju ruangan makan.
"Oya Bu, semuanya sudah Lisa bawa, dan ditaruh di kamar Ibu," ucap Lisa, lalu merasa terkejut, saat melihat di ruangan makan ada Tika," eh ada Kak Tika ternyata?" ucap Lisa, sambil berjalan menghampiri mantan kakak iparnya tersebut.
"Iya? Gimana kabar kamu, sayang?" tanya Tika.
"Alhamdulilah, baik kok kak! Oya, kak Tika makin cantik saja, dan selain itu pengusaha sukses lagi," puji Lisa, kepada Tika.
"Ah kamu, bisa saja kalau bicara. Oya, apakah Ibu sama Lisa sudah sarapan pagi?" tanya Tika, sambil menatap bu Lena, dan Lisa.
__ADS_1
"Belum kak," jawab Lisa sambil menggelengkan kepala.
"Ya sudah, ayo kita sarapan bersama," ajak Tika.
"Oke, baikah." jawab Lisa.
Kini mereka pun sedang menikmati sarapan paginya.
Lisa merasa terpesona, saat menatap Andrew, yang kini sedang mengobrol dengan Tika.
siapa pria tersebut? Wah cakep benar nih! Kayaknya ini pria, seorang pengusaha deh. Wah, jadi pingin mendapatkan dia, jadi pasangan hidupku batin Lisa sambil menatap Andrew.
******
Mereka pun kini sudah beres sarapan pagi. Lalu, Tika dan Andrew berpamitan untuk pulang.
"Maaf ya Bu, Tika dan Andrew mau pulang dulu," pamit Tika, kepada Bu Lena, dan Chandra.
"Iya silahkan Nak, hati-hati di jalannya." ucap bu Lena.
"Iya, Bu." jawab Tika.
Andrew dan Tika pun dengan segera pergi dari rumah Chandra, dan Andrew segera menjalankan mobillnya saat keadaan di dalam mobil baik-baik saja.
__ADS_1
Bersambung....