
Tika dan Andrew, kini sudah berada di dalam mobil, menuju perjalanan pulang. Sebelum Andrew pulang ke rumahnya sendiri, Andrew memilih untuk mengantar Tika pulang ke rumahnya.
"Ndrew, enggak apa-apa nih, kamu anterin saya pulang?" tanya Tika, sambil menatap Andrew yang sedang menyetir mobil.
"Tidak apa-apa kok Tika, nyantai sajalah," ucap Andrew, sambil tersenyum kepada Tika.
"Oke. Oya, sebenarnya siapa yang beli baju ini? Kayaknya, enggak mungkin kamu deh yang beli," tanya Tika, kepada Andrew.
"Memang bukan aku, tapi aku menyuruh asistenku buat beli baju kamu," jawab Andrew.
"Whatt? Bukannya asistenmu, seorang pria ya? Wah, berani sekali ya membeli pelengkapan baju ini," Tika merasa kesal, bagaimana tidak? Ternyata bukan cuma baju, dan rok yang ada di paper bag, melainkan ada ****** *****, beserta baju dalam.
"Emangnya kenapa?" tanya balik Andrew, merasa tidak mengerti.
"Benar-benar kurang waras ya, asistenmu. Masa, dia beli baju lengkap banget beserta-" ucapan Tika terputus, karena entah harus bicara apa kepada Andrew, karena dia seorang pria.
"Tidak waras? Maksudnya? Memangnya kenapa kalau dia, membeli baju perlengkapanmu?" tanya Andrew, dengan beberapa pertanyaan, dan benar-benar tidak mengerti.
"Ah sudahlah, jangan di bahas lagi," ucap Tika.
"Sebenarnya yang membeli baju kamu itu, bukan ruslan, tapi Nova." ucap Andrew menjelaskan.
"Serius?" tanya Tika.
"Tentu saja serius, emangnya kenapa sih?"
"Jangan pura-pura enggak tahu deh, aku yakin pasti kamu tahu, maksud aku apa! Sudah, ayo kita jalan, bentar lagi juga nyampai tuh." ucap Tika.
"Oke, baiklah."
Andrew dengan segera mempercepat mobilnya.
******
Mobil yang dikendarai oleh Andrew pun, kini sudah sampai di rumah Tika.
Tika dan Andrew, kemudian keluar dari mobil tersebut.
"Terima kasih ya Ndrew, sudah nganterin aku pulang," ucap Tika.
"Iya sama-sama Tika," Andrew, yang kini sedang berada di luar mobil bersama Tika.
Tiba-tiba bu Lily keluar dari rumah, dan melihat Andrew, dan Tika sedang mengobrol.
"Tika ...," panggil bu Lily, kemudian berjalan menghampiri putrinya.
"Iya, ada apa Bu?" tanya Tika, kepada Ibunya saat sudah ada di sampingnya.
"Kamu kemana saja Nak? Kenapa baru pulang, Ibu sama ayah, sangat mengkhawatirkanmu, semalaman," ucap bu Lily, sambil mengusap lembut pipi putrinya.
__ADS_1
"Semalamam Tika-" ucapan Tika terputus, saat ayah Efendy memanggil dirinya.
"Tika?" teriak ayah Efendy, sambil berjalan menghampiri putrinya, dan merasa bersyukur putrinya sudah pulang.
"Kamu kemana saja sayang? Kemana saja semalaman?" tanya ayah Efendy sambil menatap Tika, dan merasa ada yang aneh pada diri Tika.
"Maafkan Tika, Ibu, ayah, sudah membuat kalian khawatir," ucap Tika, merasa tidak enak hati.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi padamu?" tanya ayah Efendy, sambil menatap Tika dari atas sampai bawah, lalu menatap Andrew.
"Iya ayah, semalaman-" Tika tidak melanjutkan ucapannya, karena sangat berat untuk menceritakannya.
"Semalaman, kamu kenapa emangnya? Jangan bilang kalau kamu, sama Andrew sudah ...," ucapan ayah Efendy di gantung, lalu menatap Tika, dan Andrew bergiliran.
"Ayah, kenapa berpikiran seperti itu? Ayah lupa ya, kalau Andrew kan, sudah pulang duluan," ucap bu Lily, kepada suaminya.
"Terus, semalaman kamu kenapa?"
"Jadi gini pak ceritanya," Andrew mulai menceritakan semuanya, dengan apa yang terjadi pada Tika.
"Tika, kemana orang-orang yang menjagamu?! Kenapa, mereka membiarkan kamu sendiri?" ayah Efendy merasa emosi, mendengar apa yang sudah terjadi pada putrinya.
"Mereka-"
"Karena mereka tidak becus menjagamu, maka ayah akan memecat merek!" geram ayah Efendy.
"What, kamu bilang mereka tidak salah? Tentu saja mereka salah, karena telah membuat kamu di ganggu sama preman sialan itu!"
"Tapi ayah, Tika lah yang menyuruh mereka untuk pulang. Lagi pula, sekarang Tika baik-baik saja kan sekarang, dan bersyukur Andrew datang menyelamatkan Tika.
"Lagi pula kamu itu aneh ya, kalau si via tidak datang, lebih baik kamu pulang!"
"Iya ayah, Tika juga sangat menyesal. Maaf ya ayah, ibu," ucap Tika, sambil menundukan kepalanya.
"Sudahlah Nak, yang penting kamu selamat sekarang," ucap bi Lily, sambil mengusap rambut putrinya.
"Terima kasih ya Nak Andrew, sudah menyelamatkan, dan mengantarkan Tika sampai rumah," ucap Ayah Efendy sambil menatap Andrew.
"Iya, sama-sama pak," Andrew, sambil tersenyum.
"Oya, maafin saya ya Nak, tadi bukannya menuduh kamu, cuma heran saja kenapa bisa Tika bajunya di ganti, dan kebetulan datang sama kamu kesininya," ucap Efendy merasa tidak enak hati.
"Makanya, ayah sih main tuduh segala lagi," bu Lily sambil menatap suaminya dengan kesal.
"Sstt ... ayah bicara sama Andrew, bukan sama ibu," protes ayah Efendy.
"Santai sajalah Pak. Lagian, itu memang baju dari saya pak, dan menyuruh asisten saya buat beli baju untuk Tika," ucap Andrew.
"Ya ampun Ndrew, kamu baik banget sama anak saya! Saya merasa berhutang budi sama kamu, Nak," ucap ayah Efendy.
__ADS_1
"Sudahlah pak, lagian saya ikhlas menolong Tika kok." Andrew, sambil menatap Tika.
Karena merasa ada yang menatap dirinya, Tika pun langsung menatap Andrew, lalu Tika tersenyum tipis.
"Oya, Nak Ndrew, ayo kita masuk dulu ke dalam, ibu sudah siapin sarapan pagi, kebetulan banyak banget," ucap bu Lily.
"Enggak usah Bu. Maaf bu, pak, saya tidak bisa, karena ada urusan mendadak hari ini, jadi saya harus segera pulang," tolak Andrew.
"Oh gitu ya Nak. Ya sudah enggak apa-apa kok," ucap bu Lily.
"Iya maaf ya Bu, pak. Kalau begitu saya permisi dulu ya," ucap Andrew.
"Iya silahkan Nak, hati-hati dijalannya ya Nak," ucap bu Lily.
"Iya Bu."
Andrew pun dengan segera pergi dari hadapan bu Lily, ayah Efendy dan Tika.
Saat sudah ada di dalam mobil, Andrew pun segera menjalankan mobilnya, dan pergi dari rumah Tika.
"Ya sudah, ayo kita masuk ke dalam Nak," ajak bu Lily, kepada putrinya.
"Iya baik Bu," ucap Tika.
Ayah Efendy, bu Lily dan Tika pun segera masuk ke dalam rumah.
"Ibu ...," panggil Chika kepada ibunya, saat Tika sudah ada diruangan tamu.
"Hello sayang, cantik banget anak ibu. Kamu mau kemana sih Nak?" tanya Tika, kepada putrinya.
"Chika, mau jalan-jalan sama Nenek, dan kakek Bu," jawab Chika.
"Jalan-jalan? Asyik dong. Ibu enggak di ajak nih?" tanya Tika.
"Kalau Ibu mau ikut, ya sudah ayo Bu. Iya kan Nek, tidak apa-apakan Ibu ikut juga?"
"Tentu saja boleh ikut."
"Tuh kata nenek juga, boleh ikut bu."
"Ibu cuma bercanda kok Nak, lagi pula Ibu ada urusan di kantor nanti siang, jadi maaf tidak bisa ikut," ucap Tika.
"Ya sudah, enggak apa-apa kok. Sudahlah, biar saja Chika jalan-jalan sama Nenek sama Kakek ya, Nak," ucap bu Lily.
"Baik Nek," ucap Chika.
"Ya sudah kalau begitu, Tika mau ke kamar dulu ya," ucap Tika sambil berjalan menuju kamar miliknya.
Bersambung ...
__ADS_1