
'Apakah mungkin, si Chandra sekarang sudah jatuh miskin? Lho kok bisa? Padahal kalau memang iya, ayahku menarik aset-aset miliknya, enggak mungkin sampai jatuh miskin? Karena kan, masih ada sisa saham punya si Chandra. Terus, mobil dia kemana lagi? Lho kok parah banget ya, sampai hidupnya jadi begitu. Miskin banget!' gumam Tika tersenyum meledek, matanya sambil menatap Chandra dan keluarganya yang kini terus berjalan kaki.
'Oh my good. Jangan-jangan kayak di sinetron lagi, si Chandra nge hutang ke bank, gadaian rumahnya, beserta saham perusahaan miliknya. Karena enggak bisa bayar sehingga rumah, mobil dan perusahaannya di sita, sebagai jaminannya. Begituh kah? Miris sekali hidupmu Ndra,' Tika sambil menggelengkan kepala.
Ada rasa iba di dalam hati Tika, saat melihat Chandra dan keluarganya berjalan kaki sambil membawa koper. Apalagi saat melihat Vika yang kini sedang hamil.
'Aku harus menolong mereka, kasihan mereka. Walaupun aku sangat membenci mereka, tapi aku orangnya tidak tegaan bila melihat mereka sampai seperti itu.' Tika menjalankan mobilnya ke pinggir jalan, lalu memberhentikan mobilnya.
Tika dengan segera keluar dari mobilnya, dan berniat untuk menolong Chandra dan keluarganya.
__ADS_1
Langkah Tika terhenti di tengah jalan, saat Tika berpikir kembali.
'Aku ini mau kemana ya? So jadi pahlawan lagi, ingin menolong si Chandra dan keluarganya. Tika ... tika ... lho bodoh ya, mereka orang yang telah menyakitimu? Mereka juga telah membuat hidupmu menjadi down. Dan sekarang kamu, ingin menolong mereka? Apa kata dunia? Sudahlah, masa bodoh Tika, jangan tolongin mereka. Sesekali kasih tuh pelajaran buat si Chandra dan keluarganya, supaya mereka nanti berubah menjadi orang yang bersyukur.' gerutu Tika sambil menatap Chandra, dan keluarganya yang kini terus berjalan.
"Bu, lihat ada kak Tika, ayo kita jalan cepat, sebelum ketauan sama kak Tika. Bisa habis kita, dihina sama dia." ucap Lisa, saat tidak sengaja melihat Tika.
"Oh ya ampun, benar ada si Tika. Ayo semuanya, kita jalan lebih cepat lagi sebelum ketahuan oleh si Tika." bu Lena, beserta yang lainnya sambil berjalan terburu-buru untuk menghindari, agar Tika tidak mengetahui apa yang sudah terjadi pada mereka.
Tika pun berputar balik, dan berjalan kembali menuju mobilnya. Saat sudah sampai di dalam mobil, dengan segera Tika pun menjalankan mobilnya untuk pergi menuju tempat kerjanya.
__ADS_1
'Jam berapa ini?' Tika sambil menatap jam tanggannya menunjukan pukul setengah tujuh pagi.
'Aku harus segera mempercepat melajukan mobilnya, karena waktuku tinggal setengah jam lagi. Aku enggak boleh kesiangan lagi, harus datang tepat waktu. Malu hampir tiap hari kesiangan terus.'
'Oya, dipikir-pikir tadi jahat banget ya ucapanku? Terus malah meledek, dan menghina mereka lagi. Enggak punya hati lho Tik, mereka sudah hidup miskin sekarang, kamu malah tertawa di atas penderitaan mereka.' ucap Tika pada diri sendiri.
'Sudahlah Tika, jangan dipikirin. Masa bodoh sekarang mah terhadap mereka!'
Tika mengusir pikirinnya, yang terus bertolak belakang antara tidak tega dan bersikap masa bodo.
__ADS_1
Tika pun dengan segera menjalankan mobilnya, dengan kecepatan standar agar tidak terlambat masuk kerjanya.