Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
107. Maaf.


__ADS_3

"Gimana Tik, kamu mau kan?" tanya Andrew, kemudian menghentikan mobilnya tepat di depan taman kota.


"Gimana ya?" Tika, sambil menggaruk kepala yang tidak gatal karena merasa bisa harus berkata apa.


Jujur saja, sebenarnya Andrew begitu banyak menolong dirinya. Entah kenapa, tiap kali Andrew saat ada di disisinya, Tika merasa kan kenyaman. Andrew, orangnya usil, suka selalu membuat dirinya tertawa.


Tapi entahlah dengan perasaannya, karena Tika belum yakin kalau dirinya sudah mulai jatuh cinta sama Andrew.


"Tika, kamu harus percaya sama aku. Kalau aku tulus sayang sama kamu. Aku tidak pernah memandang statusmu, apalagi kastamu. Dari hatiku yang paling dalam, aku sungguh-sungguh menginginkanmu. Aku mau kamu jadi istriku," ucap Andrew, sambil memegang kedua tangan Tika.


Deg. Tiba-tiba jantung Tika berdetak lebih cepat. Hatinya berdebar-debar tak menentu.


Tika menjadi gugup, dan berusaha untuk bersikap santai. Apalagi kini jantungnya terus berdetak, takut terdengar suara detakan jantungnya oleh Andrew.


Apa-apaan ini? Ada apa dengan perasaanku. Kenapa bisa seperti ini? Apakah aku sudah mulai menyukainya batin Tika.


Kemudian Tika menghempaskan pikirinnya, agar tidak berpikiran yang tidak macam-macam.


"Tika, kenapa kamu diam saja. Jawab dong, perkataanku." ucap Andrew, kemudian meraih dagu Tika sehingga netra mereka saling menatap satu sama lain.


Tika dengan segera melepaskan tangan Andrew, lalu netranya menatap ke depan.


"Kamu tahu sendirikan Ndrew, kalau dulu rumah tanggaku harus kandas karena ulah mantan suamiku sendiri sehingga meninggalkan luka yang sangat mendalam untukku karena sikapnya. Sebenarnya aku masih trauma Ndrew, masih belum siap bila harus membina rumah tangga kembali." ucap Tika, sekilas menatap Andrew, lalu menatap ke depan.


"Tapi percayalah Tika sama aku. Tidak semua pria seperti itu kok. Aku berjanji bila kamu nanti sudah jadi istriku, aku tidak akan membuatmu terluka, dan akan selalu setia. Bila janjiku melanggar, kamu boleh hukum aku, bahkan kamu boleh bunuh aku, Tika." Andrew, mencoba menyakinkan Tika.


"Kenapa kamu berkata seperti itu? Bila ternyata kamu ingkar janji, memangnya aku boleh membunuhmu?" tanya Tika, sambil menatap Andrew.


"Tentu saja boleh, karena itu hukumannya untuk orang yang ingkar janji. Tapi kamu harus percaya, saya akan berusaha untuk selalu membahagiakanmu." ucap Andrew.


Tika tersenyum miring saat Andrew berkata seperti itu.


"Tapi aku butuh waktu untuk semua itu, walapun kamu akan berusaha untuk membahagiakanku. Tak semudah yang kamu pikirkan. Jujur masih ada rasa trauma Ndrew. Maaf ya Ndrew," ucap Tika sambil menatap Andrew, dan berharap mengerti tentang dirinya.


"Iya tidak apa-apa kok Tika, nyantai sajalah. Aku akan selalu menunggumu sampai kapan pun, hingga kamu benar-benar sudah siap, dan mau menjadi istriku." Andrew, sambil tersenyum dan menatap intens Tika.


"Kamu tidak marah Ndrew?" tanya Tika dengan hati-hati.


"Marah? Ngapain harus marah sih? Lagi pula aku mengerti kamu kok. Ini semua tidak bisa dipaksakan, apalagi kamu memiliki rasa trauma di masa lalu. Kecuali jika kamu berobat ke dukun." ucap Andrew, dengan santai.

__ADS_1


"What, dukun? Sebenarnya mau berobat atau mau nyantet sih? Yang benar saja, masa iya harus ke dukun sih," gerutu Tika, sambil memonyongkan bibirnya.


"Tentu saja aku mau nyantet kamu, masa berobat sih." Celetuk Andrew.


"Wah kurang ajar nih ya, jika memang benar kamu akan menyantetku, kamu akan menanggung akibatnya," Tika, sambil memoloti Andrew.


Andrew tertawa terkekeh saat Tika berkata seperti itu.


"Kenapa tertawa? Wah benar berarti ya, kamu serius mau menyantetku kan? Kurang ajar tahu!" Tika, dengan menyubit pinggang Andrew.


Andrew meringis kesakitan saat pinggangnya dicubit keras oleh Tika.


"Tika, sakit tahu. Lagi pula aku bercanda kok, kamu malah menganggap serius ih. Bar-bar benar ya jadi orang," gerutu Andrew, sambil mengusap pinggangnya yang sakit.


"Masa bodo, aku tidak peduli!" Tika, sambil menjulurkan lidahnya kepada Andrew.


Andrew menggelengkan kepala saat melihat tingkah Tika yang menurutnya sangat mengemaskan.


Andrew, kemudian mengapit hidung mancung Tika dengan tangannya.


"Ih apa-apaan sih, sakit tau." gerutu Tika, sambil menghempaskan tangan Andrew, lalu mengusap hidungnya sendiri.


"Ih Andrew ... tadi hidungku, sekarang pipiku. Menyebalkan tahu!" Tika dengan menyilangkan kedua tangannya, dan mengembungkan pipinya.


"Jangan marah dong sayang, ayo kita keluar," ucap Andrew sambil tersenyum simpul.


"Ih apa sih, pakai sayang-sayang segala lagi. Emangnya kamu pikir, siapanya aku sih," Tika, tertawa renyah, dan merasa geli.


"Emm ... tadi aku sudah memintamu untuk jadi pendamping hidupku malah enggak mau, ya sudah aku inisiatif saja pingin panggil kamu sayang."


"Bukan begitu maksudnya Ndrew, kamu mah tadi bilang mengerti. Sekarang kenapa bilang begitu? Menyebalkan ternyata kamu, orangnya." gerutu Tika, sambil menatap sebal Andrew.


"Sory Tik, aku cuma bercanda kok," ucap Andrew, dengan cengengesan.


"Enggak lucu tahu bercandanya ah."


"Jangan ngambek dong, ayo kita keluar dari mobil," ajak Andrew dengan membuka saltbet mobinya.


"Loh, emangnya kita mau kemana? Bukannya kita mau mencari Chika ya?" tanya Tika, kepada Andrew.

__ADS_1


"Coba kamu lihat ke depan, tuh ada anakmu sedang main ditaman," ucap Andrew, kedua tangannya memutarkan ke kepala Tika ke kanan, untuk memperlihatkan Chika yang ada di taman.


"Eh iya, itu kan Chika. Ndrew, tanganmu tidak sopan banget sih." ucap Tika, sambil memukul tangan andrew.


"Eh iya, sorry Tika. Ya sudah ayo, kita keluar." Andrew dengan segera keluar dari mobil tersebut.


Andrew dengan segera membuka pintu mobil untuk Tika, yang masih ada di dalam mobil sedang membukakan saltbelt nya.


"Ayo," ajak Andrew, sambil mengulurkan tanganya.


Tika menatap tangan Andrew sebentar, lalu tersenyum.


"Ya sudah ayo," jawab Tika, dengan segera keluar dari mobil tersebut, dan membalas uluran tangan Andrew.


Mereka pun saling menatap, lalu tersenyum satu sama lain, dan kemudian berjalan menghampiri Chika yang berada di taman, saling bergandengan tangan.


Awalnya Tika ingin menolak, dan ogah untuk mengulurkan tangannya. Tapi karena merasa tidak enak hati, tika pun membalas uluran tangan Andrew.


Tika dan Andrew pun kini sudah berada ditaman, dimana Chika berada. Dengan segera Tika, melepaskan tangannya dari tangan Andrew.


"Chika ...." panggil Tika, kepada putrinya.


Karena merasa ada yang memanggil dirinya, Chika pun membalikkan tubuhnya.


"Ibu ...." Chika, merasa tidak percaya Ibunya ada ditaman. Dengan segera Tika berjalan menghampiri Ibunya.


"Om Andrew, ada disini juga ya?" ucap Chika, saat sudah berada di depan Ibunya dan Andrew.


"Iya sayang. OM, nganterin Ibumu untuk mencarimu, katanya takut kalau sendirian, takut ada penculik cinta," canda Andrew, sambil menatap Chika.


Tika merasa kesal mendengar perkataan Andrew, lalu mencubit pinggang Andrew, sehingga membuat Andrew meringis kesakitan.


"Sudahlah sayang, jangan dengerin perkataan dia. Ayo kita pulang, pasti kamu belum makan siang kan?" tanya Tika, kepada putrinya.


"Belum Bu," jawab Tika, sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah ayo kita pulang." ajak Tika.


Tika dan Chika pun berjalan terlebih dahulu meninggalkan Andrew yang masih diam disana.

__ADS_1


Andrew hanya tersenyum saat menatap punggung Tika, dan Chika. Lalu dengan segera Andrew melangkahkan kakinya untuk menyusul Tika, yang sudah lebih dulu berjalan.


__ADS_2