Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
89.Tidak Tahu


__ADS_3

"Jadi gimana Bu, mau kan makan bersama bareng Ayah?" tanya Chika, dengan penuh harapan.


"Tidak!" jawab Tika, sambil menatap putrinya.


"Kirain Chika, Ibu balik lagi akan mengajak Ayah untuk makan bersama." Chika, merasa kecewa.


Tika pun hanya diam saja. Kemudian menarik napasnya, dan membuangnya dengan kasar.


"Oke, baiklah. Ayo kita makan." Ajak Tika terhadap putrinya.


"Maksud Ibu? Ayah boleh makan bersama kita, begitu kah Bu?" tanya Chika terhadap ibunya, karena merasa tidak mengerti.


"Iya." jawab Tika, kemudian melanjutkan langkahnya menuju keluar.


"Asyik, Ayah, kita bisa kumpul makan bersama lagi," ucap Chika, terhadap Chandra dan merasa sangat senang.


"Masa sih?" tanya Chandra, meyakinkan ucapan putrinya.


"Ya ampun Ayah, masa Ayah tidak dengar tadi Ibu mengatakan iya. Berarti Ibu setuju, Ayah ikut makan bersama kita." jawab Chika, merasa gemas terhadap Ayahnya.


"Oh gitu ya." ucap Chandra pura-pura bego.


"Iya Ayah. Ya sudah ayo Ayah, kita susul Ibu," Chika, sambil menatap Tika yang kini sudah berjalan lebih dulu.


"Baiklah." jawab Chandra, lalu pergi bersama Chika untuk menyusul Tika.


Aku tahu, kamu terpaksa melakukan ini demi anakmu kan? Hanya tidak ingin egois, karena Chika. Ternyata kamu tidak pernah berubah, masih sama seperti dulu selalu ingin membuat Chika bahagia batin Chandra, merasa terharu melihat mantan istrinya.


Ada rasa bersalah dan ingin menembus semua kesalahannya, terhadap mantan istri tersebut.


"Ibu, tunggu!" panggil Chika, saat sudah dekat dengan Ibunya.


Tika pun dengan segera memberhentikan langkahnya saat sudah sampai di depan mobil miliknya, lalu menatap putrinya.


"Ya sudah, ayo kita naik mobil," ucap Tika, sambil membukakan pintu mobilnya.


Chika pun dengan segera naik ke dalam mobil.


"Sini, biar saya saja yang nyupirin mobilnya," ucap Chandra, sambil menadahkan tangannya supaya kunci mobilnya diberikan kepada dirinya.

__ADS_1


"Tidak usah!" jawab Tika, dengan datar. Lalu memalingkan wajahnya, dan berjalan masuk ke dalam mobil.


Chandra pun hanya tersenyum, saat melihat tingkah mantan istrinya yang sangat berbeda sekarang, tidak seperti dulu lagi.


Chandra sadar diri, mungkin Tika sangat membencinya karena dulu pernah menggoreskan luka terhadapnya. Lalu dengan segera Chandra masuk ke dalam mobil bagian belakang.


Saat semuanya sudah siap, Tika pun dengan segera menjalankan mobilnya.


"Tunggu dulu Bu." ucap Chika, membuat Tika tidak jadi menjalankan mobilnya.


"Kenapa lagi sayang?" tanya Tika, terhadap putrinya.


"Kok aneh ya Bu?" tanya Chika terhadap Ibunya, lalu menatap ke belakang terhadap Ayahnya.


"Aneh? Maksudnya, aneh kenapa sayang?" tanya Tika, benar-benar tidak mengerti dengn perkataan putrinya.


"Masa Ibu tidak merasa aneh sih. Biasanya kan, Ayah selalu duduk di depan sama Ibu. Nah, sekarang kenapa Ayah jadi duduk di belakang?" lirih Chika, sambil menatap Ibunya.


Tika pun sekilas menatap Chandra, melalui cermin kaca depan. Tanpa sengaja, Chandra pun menatap Tika, sehingga mata hitam mereka saling bertemu. Tika pun dengan segera memalingkan wajahnya.


"Emangnya kenapa, kalau Ayahmu duduk dibelakang?" tanya Tika, terhadap putrinya.


"Aku ingin Ayah, duduk di depan Bu." rengek Chika, terhadap Ibunya.


"Biasanya juga suka bertiga kok, Ibu, Ayah dan Chika."


"Iya kan, itu waktu kamu masih kecil masih bisa duduk di pangkuan Ayahmu. Sekarang kamu sudah besar, jadi duduk di depan harus dua orang." ucap Tika.


"Tapi Bu-"


"Sudah sayang, jangan banyak protes! Kita tidak ada waktu lagi untuk makan siang." potong Tika, menyela pembicaraan putrinya.


"Baiklah Bu." jawab Chika, dengan perasaan kecewa.


Tika dengan segera menjalankan mobilnya, dan pergi menuju restoran.


Maafkan Ibu sayang, Ibu harus egois. Karena Ibu tidak bisa Ayahmu harus ada disisi Ibu. Karena bagi Ibu, Chandra sekarang bukan siapa-siapanya Ibu, dia sekarang hanya orang lain batin Tika, sambil menatap putrinya yang kini sedang menatap Ayahnya dari cermin depan.


"Ayah ...." panggil Chika terhadap Chandra, dan menatap lewat cermin mobil depan.

__ADS_1


"Iya kenapa sayang?" tanya Chandra terhadap putrinya.


"Oya, Ayah lagi ngapain tadi di kantor?" tanya Chika.


"Tentu saja Ayah lagi bekerja disana." jawab Chandra.


"Bekerja? Emangnya Ayah kerja apaan, di perusahaan Ibu?" tanya Chika.


"Tentu saja Ayah bekerja sebagai Office Boy disana." jawab Chandra.


Tika pun membulatkan matanya, merasa tidak menyangka. Bagaimana bisa, mantan suaminya bekerja sebagai office boy diperusahaannya? Sedangkan tidak ada laporan terhadap dirinya, ada office boy baru.


"Office boy itu apa Ayah?" tanya Chika, terhadap Ayahnya.


"Office boy itu tugasnya bersih-bersih seluruh ruangan yang ada di kantor tersebut oleh laki-laki. Oya sayang, kamu tadi bilang kalau perusahaan itu, milik Ibu?" tanya Chandra untuk menyakinkan agar tidak salah dengar.


"Iya Ayah, kalau perusahaan itu milik Ibu. Masa Ayah tidak tahu sih," ucap Chika, sambil menggelengkan kepala.


Jadi aku bekerja di perusahaan milik mantan istriku? Bagaimana bisa, aku tidak tahu kalau perusahaan tersebut milik Tika. Bukan kah, Ayah Efendy cuma memiliki nama perusahaan P.T Antana ya? Wah, hebat sekali Tika ini mampu mengembangkan perusahaannya batin Chandra, merasa kagum.


"Oh, gitu ya sayang." ucap Chandra, sambil tersenyum terhadap putrinya.


"Iya Ayah. Oya, bukannya Ayah punya perusahaan juga ya? Kenapa Ayah kerja di kantor Ibu?" tanya Tika, tidak mengerti.


"Kamu mau tahu, kenapa alasan Ayah kerja di kantor Ibumu?" tanya Chandra.


"Tentu saja Ayah, Chika pingin tahu."


"Sebenarnya perusahaan Ayah tuh bangkrut. Kamu tahu tidak sayang? Semua aset di perusahaan Ayah di ambil sama orang yang sok punya kekuasaan di negeri ini. Padahalkan, dia banyak hartanya, perusahaan dia ada juga dimana-mana tuh. Tapi tega sekali ngambil aset-aset yang pernah dia beri kepada Ayah." sindir Chandra, sekilas menatap sinis Tika.


"Ya ampun kejam sekali ya Ayah, orang itu. Kalau Chika sih, kalau banyak harta mending kasih saja kepada orang tersebut, enggak usah di ambil lagi. Kan, itung-itung amal. Kan, kata ustad sedekah itu lebih baik." ucap Chika, sambil menatap Chandra, dari cermin depan mobil.


"Nah, pintar sekali kamu sayang, kamu bisa luas berpikiran seperti itu. Lah, dia orang dewasa tapi pikirannya sempit, tidak ada tuh ingin bersedekah," Chandra merasa puas, dengan perkataan putrinya.


Tika pun merasa kesal dengan perkataan Chandra, lalu memberhentikan mobilnya secara mendadak.


Ssttiiiitt .... Suara mobil tiba-tiba berhenti.


Tika segera menahan tubuh putrinya dengan tangan sebelahnya, sedangkan Chandra meringis kesakitan karena kepalanya terbentur ke jok kursi mobil depan, dimana secara kebetulan ada besi tertempel sedikit di jok tersebut.

__ADS_1


Chandra pun merasa geram, lalu mengusap keningnya yang sakit, kemudian menatap Tika dengan perasaan penuh amarah dan kesal.


Bersambung ....


__ADS_2